MENGUPAS AMALAN DO’A SAAT BERBUKA PUASA

MENGUPAS AMALAN DO’A SAAT BERBUKA PUASA
(Oleh : Buya Yahya)

Secara umum dihimbau kita untuk memperbanyak do’a dan permohonan kepada Allah SWT. Khususnya disaat – saat yang dijanjikan pengkabulan secara khusus oleh Allah SWT. Seperti saat kita berbuka puasa.
Disebutkan dalam satu riwayat dari Nabi SAW :

Beliau bersabda

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم:” ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالْمَظْلُومُ ( رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ)

“Tiga orang yang tidak ditolak permohonannya oleh Allah SWT : Orang berpuasa hingga berbuka, Imam yang adil dan orang yang didzolimi.”
(HR Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Maka dari itu sangat dihimbau disaat kita hendak berbuka untuk menghadirkan permohonan – permohonan kepada Allah SWT sesuai dengan keinginan kita. Artinya doa apa saja sangat dianjurkan untuk dibaca disaat kita berbuka. Lebih utama lagi jika doa itu adalah doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Adapun doa yang pernah dibaca oleh Rasulullah SAW saat berbuka adalah : 
1. 
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
(حديث صحيح رواه أبو داود.)
“Telah hilang dahaga dan tenggorokan pun tela menjadi basah dan semoga pahala tetap di peroleh. “ (H.R. Abu Daud).

1. Doa yang pernah di baca oleh sayyidina Abdulloh bin Umar ra :

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ.(رواه أبو داوداً)

“Ya Allah untukMu-lah aku berpuasa, dan dengan rizkiMu-lah aku berbuka. “. (H. R. Abu Dawud)

2. Doa yang pernah di baca oleh Sayyidina Abdullah bin Amru bin Ash :

اللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِيْ.
(رواه ابن ماجه من دعاء عبد الله بن عمرو بن العاص، وحسنه ابن حجر)

“Ya Allah sungguh aku memohon kepadaMu dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu agar engkau mengampuni aku. “ (H.R. Ibnu Majah)

Adapun doa yang selama ini kita baca yaitu :

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

“Ya Alloh …Hanya untuk-Mu lah aku berpuasa,kepada-Mu lah aku beriman,dengan rizqi dari-Mu lah aku berbuka. Dengan rahmat-Mu Ya Allah aku bisa melakukan ini semuanya. Wahai Dzat Maha Kasi .”

Memang doa dengan susunan seperti itu tidak ada diriwayatkan dari Nabi SAW , akan tetapi secara makna dalam semua kandungan do’a itu adalah diajarkan oleh Nabi SAW. Bahkan tersimpulkan dari rangkuman beberapa riwayat dari Nabi SAW. Sehingga sangat tepat jika do’a tersebut juga kita baca bersama do’a yang diajarkan oleh Rasulullah SAW secara lafadh. Kalau kita cermati, makna dari doa tersebut sungguh sangat agung :

a. اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ
“Ya Allah hanya untukmulah aku berpuasa.”
Yang tidak lain adalah makna ketulusan dan keikhlasan kepada Allah SWT.

b. وَبِكَ آمَنْتُ
“KepadaMu-lah aku beriman”

Adalah ikrar makna keimanan. Sangat sesuai dengan hadits Nabi SAW :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ” رواه البخاري 38 ومسلم 760

“Barangsiapa berpuasa di bulan Romahon dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT, akan diampuni dosa-dosa di masa lalunya.”(H.R. Bukhri & Muslim)

3. وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
“Dengan rizkiMu-lah aku berbuka.”

Terkandung makna syukur kepada Allah SWT dan tanda patuh kepada
perintah Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُون (البقرة : 172)

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (Q.S. Al-Baqarah : 172)

4. بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
“Dengan rahmat-Mu Ya Allah aku bisa melakukan ini semuanya. Wahai Dzat Yang Maha Kasih.”

Terkandung makna keinsyafan yang agung kepada Allah bahwa kebaikan yang kita lakukan ini semu adalah semata- semata karena kasih sayang Allah SWT.

Inilah sekelumit penjelasan tentang doa – doa saat berbuka puasa. Semoga menjadi bahan untuk kita semakin bersemangat dan khusyu di dalam memohon kepada Allah SWT.
Wallahu a’lamu bisshowab

Shalawat Al-Fatih (Majelis Al-Bahjah Buya Yahya)

Shalawat Al-Fatih (Majelis Al-Bahjah Buya Yahya)

Shalawat Al-Fatih (Majelis Al-Bahjah Buya Yahya)

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ (نِ) الْبَشِيْرِ وَالنَّذِيْرِ الَّذِيْ تَنْفَتِحُ بِهِ اَبْوَابُ الْخَيْرِ وَتَنْغَلِقُ بِهِ أَبْوَابُ الشَّرِّ وَعَلٰى آلِهِ اْلأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ اْلأَخْيَارِ

Artinya :
“ Ya Allah, limpahkan kesejahteraan (shalawat) dan keselamatan (salam) kepada yang mulia Sayyidina Muhammad SAW Pembawa Kabar Kebaikan dan Pembawa Peringatan Akan Kejelekan, yang dengan beliau-lah akan terbuka segala pintu kebaikan dan dengan beliau-lah akan tertutup segala pintu kejelekan, dan juga limpahkan ya Allah shalawat dan salam kepada keluarga beliau yang Engkau sucikan dan sahabat-sahabat beliau yang Engkau beri segala kebaikan “

(Dianjurkan Untuk Dibaca Rutin Sebanyak-banyaknya, Khususnya Disaat Ada Hajat)

Sampaikan kepada yang lain…
Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya.” HR. Imam Muslim.

HUKUM MENGULANG-ULANG UMRAH DALAM SATU BEPERGIAN

HUKUM MENGULANG-ULANG UMRAH DALAM SATU BEPERGIAN

HUKUM MENGULANG – ULANG UMRAH DALAM SATU BEPERGIAN

Oleh : Buya Yahya

Di dalam masalah mangulang – ulang umroh dalam satu bepergian, para ulama berbeda pendapat ;

Pendapat pertama ; Hukumnya adalah sunnah. Yaitu pendapat jumhur ulama dari madzhab Hanafi dan Syafi’i dan itu juga adalah sebagian pendapat dari madzhab imam Malik, juga sebagian pendapat dalam madzhab Hambali.

Pendapat kedua ; Mengulang-ulang umrah dalam satu berpergian hukumnya makruh, itu pendapat yang masyhur dalam mazhab Maliki.  

Pendapat ketiga ; Mengulang-ulang hukumnya sunnah, tapi dengan syarat “tidak berurutan langsung”. Berurutan itu artinya selesai umroh kemudian umroh lagi tanpa ada jeda kegiatan yang lainnya. Menurut pendapat ini bisa mengulang-ulang umroh asalkan antara umroh dengan umroh diadakan kegiatan selain umroh.

Ini beberapa nukilan yang kami ambil dari para ulama 4 madzhab :

  • Dalam madzhab Hanafi. Disebutkan dalam Hasyiyah Ibnu Abidin juz 2 halaman 585 :

لأن تكرار العمرة في سنة واحدة جائز بخلاف الحج …. الخ

(حاشية ابن عابدين 2/585)

 “Mengulang umrah dalam satu tahun adalah boleh, berbeda haji yang tidak boleh.”

  • Dalam madzhab Maliki disebutkan dalam kitab Mawahibul Jalil juz 2 halaman 467 :

ويستحب في كل سنة مرة ويكره تكرارها في العام الواحد على المشهور … الخ

 (مواهب الجليل 2/467)

“Disunnahkan dalam setiap tahun sekali umroh dan makruh untuk mengulanginya dalam satu tahun menurut pendapat yang masyhur.”

Di dalam madzhab Maliki disebutkan oleh imam Al-Qorofi dalam Dzakhirohnya juz 3 halaman 203 pada bab umroh :

وأما العمرة فجميع السنة وقت لها لكن تكره في أيام منى لمن يحج ويكره تكرارها في السنة الواحدة. (الذخيرة 3/203)

“Setiap tahun adalah waktu untuk umroh. Akan tetapi dimakruhkan di hari-hari mina, bagi orang yang haji. Dan dimakruhkan mengulang-ulang nya dalam satu tahun.”

  • Dalam madzhab imam Syafi’i, imam Nawawi menyebutkan dalam kitab Majmu’-nya juz 7 halaman 116:

مذهبنا أنه لا يكره ذلك بل يستحب… (مجموع للنووي 7/116)

 

“Menurut madzhab kami (Syafi’i), tidak dimakruhkan mengulang-ulang umroh, bahkan itu disunnahkan.”

  • Dalam madzhab Hambali.

Ibnu Qudamah dalam kitab Mughni-nya juz 3 halaman 174 :

ولا بأس أن يعتمر في السنة مرارا…. (مغني لابن قدامة 3/174)

“Tidak apa-apa yang ingin berumroh dalam satu tahun berulang-ulang” .

 

Disebutkan juga dalam dalam kitab mubdi, jus 3 halaman 261 :

لا يكره الاعتمار في السنة أكثر من مرة (مبدع 3/261)

“Tidak dimakruhkan umroh, dalam satu tahun, lebih dari sekali.”

Dalam kitab Inshof Fiqih Hambali juz 4 halaman 57 :

لا بأس أن يعتمر في السنة مرارا… (الإنصاف 4/57)

“Tidak apa-apa (boleh) umrah di dalam satu tahun, dengan berulang-ulang.”

Kalau kita amati dari ungkapan para ulama ulama terdahulu, perbedaan disini adalah antara yang pertama mengatakan sunnah mengulang-ulang, dan yang kedua makruh mengulang-ulang. Tidak sampai derajat mengatakan bid’ah. Karena bid’ah adalah kesesatan.

Dalam hal ini hendaknya kalaupun ada perbedaan pendapat, berbedalah yang bijaksana. Jika anda ingin mengulang, mengulanglah tanpa mencaci yang tidak mengulang. Bagi yang tidak mengulang jangan mencaci yang mengulang umroh. Mari kita ikuti para salafuna sholeh, mereka tidak membid’ahkan bagi yang mengulang. Karena yang mengulang pun punya hujjah, bahwasannya mengulang adalah sunnah. Yang mau mengulang umroh dalam satu bepergian mengikuti para ulama dan yang tidak mengulang pun mengikuti para ulama.

Karena di masyarakat kita mayoritas adalah pengikut madzhab imam Syafi’i maka sangat tepat jika kami hadirkan hujjah – hujjah madzhab imam Syafi’i dan jumhur ulama yang mengatakan bahwa mengulang – ulang umroh dalam 1 tahun adalah sunnah. Agar para pengikut madzhab Syafi’i semakin mantap disaat melaksanakan ibadah umroh dan sekaligus jadi pegangan untuk mereka agar tenang batin dan hati mereka disaat melaksanakan ibadah.

Hal ini perlu kami hadirkan karena kadang saat bertemu dengan masyarakat yang berbeda kemudian masyarakat tersebut menyampaikan pendapat yang berbeda dari yang selama ini dianut, lalu timbul keragu – raguan, kemudian berani menyalahkan guru – guru atau siapa pun yang bersamanya di masyarakatnya yang pada akhirnya menjadi sebab ketidaknyamanan di masyarakat tersebut.

1) Pertama adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam bukhari dan muslim.

العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا

“umrah ke umroh penghapus dosa di antara keduanya”.

Ini adalah himbauan kita untuk memperbanyak umroh. Artinya, kalau kita umroh hendaknya kita tumpangi dengan umrah lagi agar diampuni dosa kita, diantara umroh yang pertama dengan umrah yang kedua. Ini sudah sangat cukup untuk mengatakan bahwasanya umroh berulang-ulang adalah boleh. Karena baik di dalam hadits ini atau hadits lainnya tidak pernah ada larangan untuk mengulang umroh dalam 1 bepergian.

2) Kedua kisah Siti Aisyah yang diriwayatkan oleh imam Bukhori.

عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا؛ أَنَّهَا قَالَتۡ : فَلَمَّا قَضَيۡنَا الۡحَجَّ أَرۡسَلَنِي رَسُولُ اللهِ مَعَ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ أَبِي بَكۡرٍ إِلَى التَّنۡعِيمِ، فَاعَتَمَرۡتُ،

 رواه البخاري: كتاب الحج، باب كيف تهلُّ الحائض والنفساء، رقم: ١٥٥٦.

Dan setelah kami melaksanakan Ibadah haji, Rasululloh mengirimku dengan saudaraku Abdurrohman bin Abu Bakar untuk pergi ke Tan’im, kemudian aku melaksanakan umroh. Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Bab Haji No. 1556

Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Rasululloh SAW pernah menyuruh siti Aisyah melakukan umroh setelah umroh. Siti Aisyah umroh dua kali dalam satu bepergian, yaitu waktu haji wada atas perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Yaitu dengan miqat di Tan’im, ditemani oleh saudara beliau yang bernama abdurrohman bin abu bakar.

Setelah penjelasan ini semua, mari kita berlembut hati dengan memahami perbedaan ulama. Khususnya masyarakat di Indonesia yang mayoritas menganut madzhab Safi’i, yang mengatakan bahwa mengulang-ulang umroh dalam 1 tahun adalah sunnah. Adapun jika terjadi kepadatan di Makkah kemudian ada keinginan dari Negara atau yang berwajib untuk meringankan kepadatan tersebut maka sangat boleh pelarangan mengulang umroh dalam 1 bepergian. Akan tetapi tentu dalam irama himbauan.

Bahkan seandainya dalam bentuk larangan tentunya itu adalah larangan yang ada hubungannya dengan kemaslahatan, bukan larangan yang dihadirkan dalam bentuk cacian atau larangan yang dalam bentuk makian kepada mereka yang melakukan umroh berulang – ulang dalam satu tahun. Akan tetapi kalau sudah sampai mencaci dan mengolok, ini adalah bertentangan dengan kebiasaan para salafuna sholeh.

Kesimpulannya adalah ; bagi anda yang mengikuti madzhab Safi’i dan jumhur ulama khususnya masyarakat di Indonesia yang mengatakan bahwa mengulang-ulang  umroh dalam satu tahun dan satu bepergian adalah hal yang diperkenankan bahkan disunnahkan. Maka jalankanlah hal ini dengan penuh keyakinan tanpa keraguan bahwa dibalik amalan ini ada pahal besar dari Allah dan anda pun tidak perlu sibuk menyalahkan mereka yang tidak mau mengulang umroh.

Jika anda termasuk penganut sebagian dari madzhab Maliki yang mengatakan mengulang – ulang umroh adalah makruh anda bisa menggunakan waktu anda untuk tawaf dan itikaf di masjid sebanyak – banyaknya tanpa harus mencaci dan mengolok-olok mereka yang mengulang – ulang umroh dalam satu tahun atau satu bepergian, karena pendapat ini adalah pendapat para ulama dan mereka pun mempunyai hujjah dalam pendapatnya.

Semoga Allah menjaga hati kita, dengan adanya perbedaan pendapat tidak menjadi sebab permusuhan. Semoga Allah menjadikan kita hamba – hamba yang saling mencintai karena Allah dan Nabi Muhammad SAW. Wallahu a’lam bishawab

 

 

DOA AKHIR TAHUN HIJRIYAH & DOA AWAL TAHUN HIJRIYAH

DOA AKHIR TAHUN HIJRIYAH & DOA AWAL TAHUN HIJRIYAH

DOA AKHIR TAHUN HIJRIYAH & DOA AWAL TAHUN HIJRIYAH

Berikut kami hadirkan doa awal tahun dan akhir tahun yang disusun oleh Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah…

Doa akhir tahun dianjurkan dibaca ketika menjelang maghrib 1 Muharrom dan Doa Awal tahun dianjurkan dibaca saat selesai sholat Magrib 1 Muharrom

DOA AKHIR TAHUN HIJRIYAH

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ, اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِيْ هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِيْ عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ. وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ ,
اَللّٰهُمَّ إِنِّي اَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِيْ, وَمَا عَمِلْتُهُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللّٰهُمَّ يَا كَرِيْمُ. يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّيْ وَلاَ تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ, وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

DOA AWAL TAHUN HIJRIYAH

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ, اَللّٰهُمَّ أَنْتَ اْلأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الأَوَّلُ, وَعَلَى فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ وَجُوْدِكَ الْمُعَوَّلِ, وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ, نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ وَجُنُوْدِهِ, وَاْلعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ, وَاْلاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ, وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Sampaikan kepada yang lain…
Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya.” HR. Imam Muslim

KEUTAMAAN AMALAN PUASA BULAN MUHARRAM

KEUTAMAAN AMALAN PUASA BULAN MUHARRAM
Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah

Bulan Muharrom adalah salah satu dari empat bulan mulia yang disebutkan dalam Al-Quran. Amalan yang di anjurkan adalah semua amalan yang di anjurkan di bulan lain sangat di anjurkan di bulan ini, hanya saja ada amalan yang sangat dianjurkan secara khusus di bulan ini yaitu :

1. Puasa tanggal 10 yang disebut dengan puasa ‘Asyuro, seperti yang telah disebutkan dalam hadits :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبْ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وَأَنَا صَائِمٌ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ )

Rosulullah SAW bersabda : “Ini (10 Muharrom) adalah hari ‘Asyuro dan Allah tidak mewajibkan puasa atas kalian dan sekarang aku berpuasa, maka siapa yang mau silahkan berpuasa dan siapa yang tidak mau silahkan berbuka (tidak berpuasa) “ (Bukhori :1899 dan Muslim : 2653)

2. Dengan pahala akan diampuni dosa tahun yang lalu :

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاء، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“ Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu “. (Muslim : 2746).

3. Sangat dianjurkan untuk ditambah agar bisa berpuasa di hari yang ke-Sembilan, seperti yang telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

عَنْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ حِيْنَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berpuasa di hari ‘Asyura’ dan memerintahkan (perintah sunnah) manusia untuk berpuasa, para sahabat pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ‘Apabila datang tahun depan Insya Allah kami akan berpuasa pada tanggal 9 (Muharram). Berkata Abdullah bin Abbas “ Belum sempat tahun depan tersebut datang, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.” ( Muslim : 1134/2666)

4. Lebih bagus lagi jika ditambah hari yang ke-Sebelas seperti disebutkan dalan sebuah riwayat dari sahabat Abdullah ibn Abbas :

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاء، وَخَالِفُوا اليَهُودَ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا

“Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyuro` dan berbedalah dengan orang Yahudi, (yaitu) berpuasalah kalian sehari sebelumnya atau sehari setelahnya” (Ibnu Khuzaimah: 2095).

5. Lebih dari itu berpuasa disepanjang bulan Muharom adalah sebaik baik bulan untuk puasa seperti disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits yang disebutkan Imam Muslim :

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ اْلمُحَرَّمِ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

”Sebaik baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharom, dan sebaik-baiknya sholat setelah sholat fardhu adalah Sholat malam” (Muslim No: 2755).

Kesimpulannya :
1) Bahwa puasa sepanjang bulan Muharrom adalah puasa yang sangat dianjurkan seperti disebutkan dalam Hadits tersebut di atas.

2) Sebaik-baik hari dari bulan Muharom tersebut adalah tanggal 10 Muharrom.

3) Dan setelah 10 Muharrom akan menjadi lebih baik lagi jika ditambah dengan tanggal 9 (sembilan) seperti yang disebutkan dalam hadits tersebut di atas.

4) Dan akan lebih baik lagi jika ditambah dengan sehari di tanggal 11 untuk berbeda dengan orang Yahudi dan Nasrani.

5) Dan untuk lebih baiknya lagi adalah menambah hari di sepanjang bulan Muharrom hingga sempurna.

Catatan Penting :
Berpuasa penuh sepanjang bulan Muharrom adalah
sunnah, seperti disebutkan dengan sangat jelas dalam hadits Nabi SAW tersebut di atas. Wallohu a’lam bishshowab

HUKUM TAKBIR HARI RAYA BERJAMAAH

HUKUM TAKBIR HARI RAYA BERJAMAAH

HUKUM TAKBIR HARI RAYA BERJAMAAH

الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على رسول الله سيدنا محمد بن عبد الله و على أله و صحبه و من والاه. أما بعد

1. Takbir di Malam Hari Raya
Bertakbir di malam hari raya adalah merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW yang amat perlu untuk dilestarikan dalam menampakkan dan mengangkat syiar Islam. Para ulama dari masa ke masa sudah biasa mengajak ummat untuk melakukan takbir, baik setelah shalat (takbir muqayyad) atau di luar shalat (takbir mursal).

Lebih lagi takbir dengan mengangkat suara secara kompak yang bisa menjadikan suara semakin bergema dan berwibawa adalah yang biasa dilakukan ulama dan umat dari masa ke masa.
Akan tetapi ada sekelompok kecil dari orang yang hidup di akhir zaman ini begitu berani mencaci dan membid’ahkan takbir bersama-sama. Dan sungguh pembid’ahan ini tidak pernah keluar dari mulut para salaf (ulama terdahulu).

Mari kita cermati riwayat-riwayat berikut ini yang menjadi sandaran para ulama dalam mengajak bertakbir secara kompak dan bersama-sama.

A. Berdasarkan Hadits dalam Shohih Imam Bukhori No 971 yang diriwayatkan oleh Ummi Athiyah, beliau berkata:

كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ، حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا، حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيّاَضَ، فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ، وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ.(رواه البخاري

Artinya: “Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya sehingga para wanita-wanita yang masih gadis pun diperintah keluar dari rumahnya, begitu juga wanita-wanita yang sedang haidz dan mereka berjalan di belakang para manusia (kaum pria) kemudian para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia (kaum pria) dan berdoa dengan doanya para manusia serta mereka semua mengharap keberkahan dan kesucian hari raya tersebut.”
Di sebutkan dalam hadits tersebut:
فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيْرِهِمْ
“Para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia.”

Itu menunjukan takbir terjadi secara berjamaah atau bersamaan. Bahkan dalam riwayat Imam Muslim dengan kalimat:
”para wanita bertakbir bersama-sama orang-orang yang bertakbir”
يُكَبِّرْنَ مَعَ النَّاس
B. Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Sayyidina Umar bin Khattab dalam bab Takbir saat di Mina.

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا

Artinya: “Sahabat Umar bertakbir di qubahnya yang berada di tanah Mina, lalu penduduk masjid mendengarnya dan kemudian mereka bertakbir begitu penduduk pasar bertakbir, sehingga tanah Mina bergema dengan suara takbir.”

Ibnu Hajar Al Asqalani (pensyarah besar kitab Shohih Bukhari) mengomentari kalimat:
حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا
dengan

أي يَضْطَرِّبُ وَتَتَحَرَّكُ, وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رَفْعِ الصَّوْتِ

“Bergoncang dan bergerak, bergetar yaitu menunjukan kuatnya suara yang bersama-sama.”

C. Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i RA dalam kitab Al-Umm 1/264:

أَحْبَبْتُ أَنْ يَكُبِّرَ النَّاسُ جَمَاعَةً وَفُرَادًى فِي المَسْجِدِ وَالْأَسْوَاقِ وَالْطُرُقِ وَالْمَنَازِلِ والْمُسَافِرِيْنَ والْمُقِيْمِيْنَ فِي كُلِّ حَالٍ وَأَيْنَ كَانُوْا وَأَنَ يَظْهَرُوْا الْتَكْبِيْرَ

Artinya: “ Aku senang (maksudnya adalah sunnah) orang-orang pada bertakbir secara bersama dan sendiri-sendiri, baik di masjid, pasar, rumah, saat bepergian atau mukim dan setiap keadaan dan dimana pun mereka berada agar mereka menampakkan (syiar) takbir.”

Tidak pernah ada dari ulama terdahulu yang mengatakan takbir secara berjamaah adalah bid’ah. Justru sebaliknya ada anjuran dan contoh takbir bersama-sama dari ulama terdahulu.

2. Kesimpulan Tentang Takbir Bersama-sama

1. Pernah terjadi takbir barsama-sama pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabat.
2. Anjuran dari Imam Syafi’i RA mewakili ulama salaf.
3. Tidak pernah ada larangan takbir bersama-sama dan juga tidak ada perintah takbir harus sendiri-sendiri. Yang ada adalah anjuran takbir dan dzikir secara mutlaq, baik secara sendirian atau berjamaah.
4. Adanya pembid’ahan dan larangan takbir bersama-sama hanya terjadi pada orang-orang akhir zaman yang sangat bertentangan dengan salaf.

3. Menghidupkan Malam Hari Raya dengan Ibadah
Hukum menghidupkan malam hari raya dengan amal ibadah. Sudah disepakati oleh para ulama 4 mazhab bahwa disunnahkan untuk kita menghidupkan malam hari raya dengan memperbanyak ibadah.

Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ berkata: “Sudah disepakati oleh ulama bahwa dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan ibadah dan pendapat seperti ini juga yang ada dalam semua kitab fiqh 4 madzhab.”

Artinya, kita dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan shalat, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an khususnya bertakbir. Karena malam hari raya adalah malam bergembira. Banyak sekali hamba-hamba yang lalai pada saat itu, maka sungguh sangat mulia yang bisa mengingat Allah di saat hamba-hamba pada lalai.

4. Yang Dilakukan Santri dan Jamaah Al-Bahjah
a. Takbir keliling dalam upaya membesarkan syiar takbir.
b. Berkunjung dari masjid ke masjid untuk melakukan shalat sunnah.
c. Menyimak tausiyah di beberapa masjid yang dikunjungi.

Semua itu dalam upaya menjalankan sunnah yang dijelaskan oleh para ulama tersebut di atas.

Wallahu a’lam bish-showab.

FIQIH QURBAN

FIQIH QURBAN

Berqurban adalah amal ibadah yang amat agung karena punya makna pembenahan hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia dan pada kesempatan ini, kami hadirkan risalah kecil tentang qurban demi kesempurnaan kita dalam memahami dan mengamalkan qurban.

Semoga Alloh memudahkan kita untuk mengamalkan ilmu dan Allah menerima amal baik kita dan mengampuni segala dosa kita serta dosa orangtua kita dan para guru-guru mulia dan kaum muslimin semuanya

Buya Yahya
(Pengasuh LPD Al-Bahjah)

[gview file=”https://buyayahya.org/wp-content/uploads/2018/08/FIQIH-QURBAN.pdf”]

Fiqih Qurban

Fiqih Qurban

MUQADDIMAH

بسم الله الرّحمن الرّحيم
الْحمد ِللهِ رب العـــالمين وبه نستعين على أمور الدنيا والدين. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ (نِ) الْبَشِيْرِ وَالنَّذِيْرِ الَّذِيْ تَنْفَتِحُ بِهِ اَبْوَابُ الْخَيْرِ وَتَنْغَلِقُ بِهِ أَبْوَابُ الشَّرِّ وَعَلٰى آلِهِ اْلأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ اْلأَخْيَار ولاحول ولاقوّة إِلا بالله الـــعلي العظيم. (أمابعد)

Berqurban adalah amal ibadah yang amat agung karena punya makna pembenahan hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia dan pada kesempatan ini, kami hadirkan risalah kecil tentang qurban demi kesempurnaan kita dalam memahami dan mengamalkan qurban.

Semoga Alloh memudahkan kita untuk mengamalkan ilmu dan Allah menerima amal baik kita dan mengampuni segala dosa kita serta dosa orangtua kita dan para guru-guru mulia dan kaum muslimin semuanya

Buya Yahya
(Pengasuh LPD Al-Bahjah)

 

QURBAN DI DALAM ISLAM

Pengertian
Qurban bahasa arabnya adalah (al-udhiyah) diambil dari kata (adh-ha). Makna (adh-ha) adalah permulaan siang setelah terbitnya matahari dan dhuha yang selama ini sering kita gunakan untuk sebuah nama sholat, yaitu sholat dhuha di saat terbitnya matahari hingga menjadi putih cemerlang.

Adapun (al-udhiyah/qurban) menurut syariat adalah sesuatu yang disembelih dari binatang ternak yang berupa unta, sapi dan kambing untuk mendekatkan diri kepada Allah yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan Hari Tasyrik. Hari Tasyrik adalah hari ke 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ (رواه الدارقطنى و البيهقى)

“Semua hari-hari Tasyriq adalah (waktu) menyembelih qurban” (HR. Ad-Daruquthni dan Al Baihaqi di dalam As-Sunanul Kubro).

 

Hukum Qurban

Qurban adalah amalan yang dianjurkan setiap tahun sekali seperti puasa Arafah, yaitu amalan yang dianjurkan setiap tahun sekali.

Artinya setiap kali datang bulan haji, maka setiap dari kita diperintahkan untuk berqurban. Bukan seperti pemahaman sebagian orang yang menganggap bahwa qurban itu dianjurkan sekali seumur hidup.

Pendapat pertama ; Hukum menyembelih qurban menurut madzhab Imam Syafi’i dan jumhur Ulama adalah sunnah yang sangat diharap dan dikukuhkan. Ibadah Qurban adalah termasuk syiar agama yang memupuk makna kasih sayang dan peduli kepada sesama yang harus digalakkan.

Sunnah disini ada 2 macam :
1. Sunnah ‘Ainiyah, yaitu : Sunnah yang dilakukan oleh setiap orang yang mampu.

2. Sunnah Kifayah, yaitu : Disunnahkan dilakukan oleh sebuah keluarga dengan menyembelih 1 ekor atau 2 ekor atau lebih untuk semua keluarga yang ada di dalam rumah.

ثم إن تعدد أهل البيت كانت سنة كفاية فتجزئ من واحد رشيد منهم لما صح عن أبي أيوب الأنصاري رضي الله عنه كنا نضحي بالشاة الواحدة يذبحها الرجل عنه وعن أهل بيته, وإلا فسنة عين

Imam ibnu Hajar alhaitami menjelaskan; Jika anggota keluarga berbilang maka qurban adalah sunnah kifayah artinya qurban dari salah satu anggota keluarga yang “rosyid” (memenuhi syarat untuk qurban), sudah mencukupi untuk keluaraga yang lainya berdasar riwayat yang benar dari Abu Ayyub Alanshori RA, “Kami menyembelih qurban 1 kambing dengan cara seorang laki-laki menyemblih untuk drinya sendiri dan anggota keluarganya” dan jika tidak seperti itu (yakni jika tidak berbilang anggota keluarga atau berbilang tapi kambingnya sama dengan bilangan anggota keluarga) maka menjadi sunnah ainiyyah. (tuhfah 9/345)

Pendapat kedua; Hukum Qurban menurut Imam Abu Hanifah adalah wajib bagi yang mampu.

Perintah qurban datang pada tahun ke-2 (dua) Hijriyah. Adapun qurban bagi Nabi Muhammad SAW adalah wajib, dan ini adalah hukum khusus bagi beliau.

 

Kapan Qurban Menjadi Wajib Dalam Madzhab Imam Syafi’i dan Jumhur Ulama?

Qurban akan menjadi wajib dengan 2 hal :
1. Dengan bernadzar, seperti : Seseorang berkata: “Aku wajibkan atasku qurban tahun ini.” Atau “Aku bernadzar qurban tahun ini.” Maka saat itu qurban menjadi wajib bagi orang tersebut.

2. Dengan menentukan, maksudnya: Jika seseorang mempunyai seekor kambing lalu berkata: “Kambing ini aku pastikan menjadi qurban atau Aku jadikan kambing ini kambing kurban”. Maka saat itu qurban dengan kambing tersebut adalah wajib.

Dalam hal ini sangat berbeda dengan ungkapan seseorang: “Aku mau berqurban dengan kambing ini.” Maka dengan ungkapan ini tidak akan menjadi wajib karena dia belum memastikan dan menentukan. Dan sangat berbeda dengan kalimat yang sebelumnya, yaitu “Aku jadikan kambing ini kambing qurban.”

Qurban Wajib :
Jika qurban telah menjadi wajib karena di nadzarkan maka orang yang berqurban tidak boleh mengambil dari daging qurban biarpun sedikit. Dan semua daging qurban harus dibagikan dan diantara orang yang menerima daging qurban, harus ada orang fakirnya.

 

Hukum Bergabung Dalam Satu Qurban

♦ Bergabung dalam satu qurban tidak diperkenankan di dalam qurban kambing, akan tetapi jika yang dijadikan qurban adalah sapi atau unta maka boleh bergabung 7 orang. Artinya boleh 7 orang mengumpulkan uang kemudian membeli 1 unta / sapi dan dari sapi tersebut diniatkan qurban untk 7 orang tersebut. Ini adalah pendapat yang ada di dalam Madzhab Imam Syafii, Hanbali dan Hanafi. Ini sesuai dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما قَالَ : نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ ، وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ .

“Kami menyembelih qurban bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Hudaibiyah 1 unta untuk 7 orang dan 1 sapi untuk 7 orang.”

Dalam hadits Nabi SAW disebutkan :

وفي رواية : عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : حَجَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحَرْنَا الْبَعِيرَ عَنْ سَبْعَةٍ ، وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَة

“Sesungguhnya Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggabungkan saat haji diantara kaum Muslimin setiap sapi 1 ekor untuk 7 orang.”

♦ Dalam madzhab Imam Malik tidak boleh menggabungkan qurban dalam satu sembelihan, termasuk di dalamnya adalah sapi. Artinya menggabungkan qurban tidak sah jika ada 7 orang bergabung di dalam 1 unta. Akan tetapi seseorang kalau ingin berqurban yaitu dengan cara setiap 1 orang dengan 1 kambing atau setiap 1 orang dengan 1 sapi atau 1 unta.

♦ Begitu juga didalam madzhab Imam Syafi’i, jika ada orang ingin berqurban dengan 1 unta atau sapi adalah diperkenankan. Artinya dalam madzhab Imam Syafi’i, 1 unta atau 1 sapi bisa dijadikan qurban untuk 1 orang atau lebih hingga 7 orang.

 

1 Kambing untuk Banyak Orang

Satu kambing hanya untuk 1 orang. Jika ada orang bergabung 2 atau 3 akan tetapi menyembelihnya adalah 1 kambing maka hal tersebut adalah tidak sah.

Sangat berbeda dengan jika sebuah keluarga terdiri dari 10 orang dengan rincian 2 suami istri dan 8 anak-anak. Kemudian mereka hanya memiliki 1 kambing sehingga mereka hanya menyembelih 1 kambing untuk salah satu dari mereka yang rosyid (yang memenuhi syarat qurban) maka yang menyembelih 1 kambing tersebut telah melaksanakan sunnah ainiyah dan yang lainya secara otomatis terikutkan dalam sunnah kifayah.

 

Arti Sunnah Kifayah Dalam Qurban

Dari keterangan hadits di atas sudah sangat jelas bahwa kambing 1 adalah untuk 1 orang. Sapi 1 adalah untuk 7 orang. Akan tetapi ada hal yang harus diluruskan ada sebagian orang belum memahami sunnah kifayah lalu beranggapan bahwa 1 kambing bisa digunakan untuk 1 keluarga.

Sunnah kifayah adalah Jika ada sebuah keluarga terdiri dari 8 orang dan kemudian salah satu dari mereka telah menyembelih 1 qurban, maka karena sudah ada 1 yang menyembelih maka gugurlah tuntutan kesunnahan bagi yang lainnya. Artinya ini bukan 1 kambing untuk 8 orang, akan tetapi ini adalah 1 kambing untuk 1 orang dan bagi yag lainnya telah gugur tuntutan sunnah qurban.

Bisa di fahami bahwa begitu pentingnya kita untuk menghidupkan syiar qurban hingga hari itu benar-benar menjadi hari raya ,hari makan dan minum,hari bergembira.sehingga jangan sampai sebuah keluarga sama sekali tidak ada yang berkorban untuk merayakan hari raya.

Bunyi sunnah kifayah adalah seperti ini :

Qurban disunnahkan bagi setiap anggota keluarga yang mampu dengan 1 kambing untuk 1 orang atau 1 unta untuk 7 orang. Artinya setiap orang per-orang disunnahkan dengan sunnah ‘ainiyah untuk menyembelih qurban. Akan tetapi jika ada salah satu anggota keluarga yang sudah menyembelih 1 kambing misalnya, maka gugurlah tuntutan sunnah qurban untuk yang lainnya, biarpun jika mereka semua ingin berqurban tetap mendapatkan pahala kesunnahaan.

Seperti halnya fardu kifayah, jika ada orang Muslim meninggal dunia di kampung kita, maka wajib atas kita semua untuk mensholatinya. Akan tetapi jika sudah ada segelintir orang yang mensholatinya maka gugurlah tuntutan kewajiban bagi yang lainnnya. Biarpun bagi yang lain jika ingin melakukan sholat jenazah tetap mendapatkan pahala biarpun sudah ada yang melakukannya. Perbedaannya adalah jika dalam qurban merupakan sunnah kifayah dan di dalam shalat jenazah adalah fardu kifayah.

 

Waktu Menyembelih Qurban

Waktu menyembelih qurban itu diperkirakan dimulai dari setelah terbitnya matahari di hari raya qurban dan setelah selesai 2 roka’at sholat hari raya idul adha dan 2 khutbah ringan (mulai matahari terbit + 2 rokaat + 2 khutbah), maka tibalah waktu untuk menyembelih qurban. Bagi yang tidak melakukan sholat hari raya, ia harus memperkirakan dengan perkiraan tersebut atau menunggu selesainya sholat dan khutbah dari masjid yang ada di daerah tersebut atau disekitarnya. Waktu menyembelih qurban berakhir saat terbenamnya matahari di hari ketiga hari tasyrik tanggal 13 Dzulhijjah.

Sebaik-baik waktu menyembelih qurban adalah setelah sholat dan khutbah hari Idul Adha.

عَنِ البَرَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ تَمَّ نُسُكُهُ، وَأَصَابَ سُنَّةَ المُسْلِمِينَ (رواه البخارى : 5545 )

Dari Barra’ bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Barangsiapa menyembelih hewan kurban setelah shalat Idul Adha, maka sembelihannya telah sempurna dan ia sesuai dengan sunnah kaum muslimin.” (HR. Bukhari no. 5545)

 

Menyembelih di Malam hari Raya & Setelah hari Tasyrik

Jika seseorang menyembelih sebelum waktunya, atau sudah kelewat waktunya, misalnya : menyembelih di malam hari raya Idul Adha atau menyembelih setelah terbenamnya matahari tanggal 13 hari tasryik maka sembelihan itu tidak menjadi qurban akan tetapi menjadi sedekah biasa. Maka hendaknya bagi panitia qurban untuk memperhatikan masalah ini.

عَنِ البَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ، ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا، وَمَنْ نَحَرَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ، لَيْسَ مِنَ النُّسْكِ فِي شَيْءٍ (رواه البخارى : 965 )

Dari Barra’ bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sesungguhnya hal pertama yang kita mulai pada hari ini adalah kita melaksanakan shalat (Idul Adha), kemudian kita pulang dan menyembelih. Barangsiapa melakukan hal itu niscaya ia telah sesuai dengan as-sunnah. Adapun barangsiapa menyembelih hewan sebelum shalat Idul Adha, maka sembelihannya tersebut adalah daging yang ia berikan untuk keluarganya, bukan termasuk daging hewan kurban (untuk mendekatkan diri kepada Allah).” (HR. Bukhari no. 965)

 

Syarat Orang Yang Berqurban

Sangat dikukuhkan dan dianjurkan untuk melakukan qurban bagi orang yang telah memenuhi syarat berikut ini:
1. Seorang muslim / muslimah
2. Usia baligh
Baligh ada 3 tanda, yaitu :
1) Keluar mani (bagi anak laki-laki dan perempuan) pada usia 9 tahun hijriah.
2) Keluar darah haid usia 9 tahun hijriah (bagi anak perempuan)
3) Jika tidak keluar mani dan tidak haid maka di tunggu
hingga umur 15 tahun. Dan jika sudah genap 15
tahun maka ia telah baligh dengan usia yaitu usia 15
tahun.
3. Berakal
Maka orang gila tidak diminta untuk melakukan qurban, akan tetapi sunnah bagi walinya untuk berqurban atas nama orang gila tersebut atau diambilkan dari harta orang gila tersebut jika walinya adalah ayah atau kakeknya.
4. Merdeka
Seorang budak tidak di tuntut untuk melakukan qurban.
5. Mampu
Mampu disini adalah punya kelebihan dari makanan pokok, pakaian dan tempat tinggal untuk dirinya dan keluarganya di hari raya Idul Adha dan hari Tasyrik.
6. Rosyid
Bukan orang yang Mahjur Alaih (orang yang tidak diperkenankan bertransaksi dengan hartanya baik karena tidak sempurna akalnya atau karena pailit, terlilit hutang, hingga semua hartanya pun tidak akan cukup untuk membayar hutangnya).

Maka bagi siapapun yang memenuhi syarat-syarat tersebut telah masuk dalam golongan orang yang dianjurkan untuk bisa berqurban dan akan menggugurkan sunnah kifayah bagi yang lainnya.

Jika ada anak yang belum baligh maka tidak diminta untuk melakukan qurban, akan tetapi sunnah bagi walinya untuk berqurban atas nama anak tersebut dari harta walinya atau dari harta anak tersebut jika walinya adalah ayah atau kakek. Akan tetapi tidak menggugurkan sunnah kifayah bagi yang lainnya.

 

Macam-Macam Binatang Yang Boleh Dijadikan Qurban

1. Unta, diperkiraan umurnya 5 – 6 tahun.
2. Sapi, atau kerbau diperkirakan umurnya 2 tahun ke atas.
3. Kambing / domba dengan bermacam – macam jenisnya, diperkirakan umurnya 1 – 2 tahun.
Jika belum sampai pada umur tersebut di atas akan tetapi secara fisik menyamai atau lebih besar dari yang sampai umur maka hal tersebut diperkenankan.

Himbauan Pemilihan Binatang Qurban
Dihimbau agar berqurban dengan binatang yang gemuk dan Sehat, dengan warna apapun, dan jenis kelamin apapun.

 

Sifat-sifat Binatang yang Tidak Boleh Dijadikan Qurban

1. Bermata sebelah / buta
2. Pincang yang sangat
3. Yang amat kurus, karena penyakit.
4. Berpenyakit yang parah

وَعَنِ اَلْبَرَاءِ بنِ عَازِبٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ: – “أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي اَلضَّحَايَا: اَلْعَوْرَاءُ اَلْبَيِّنُ عَوَرُهَا, وَالْمَرِيضَةُ اَلْبَيِّنُ مَرَضُهَا, وَالْعَرْجَاءُ اَلْبَيِّنُ ظَلْعُهَ وَالْكَسِيرَةُ اَلَّتِي لَا تُنْقِي”
( رَوَاهُ اَلْخَمْسَة. وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّان )

Dari Al Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam pernah berdiri di tengah-tengah kami dan berkata, “Ada empat cacat yang tidak dibolehkan pada hewan kurban: (1) buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya, (2) sakit dan tampak jelas sakitnya, (3) pincang dan tampak jelas pincangnya, (4) sangat kurus sampai-sampai seolah tidak berdaging dan bersum-sum.”
(Dikeluarkan oleh yang lima (empat penulis kitab sunan ditambah dengan Imam Ahmad). Dishahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Hibban )

Catatan :
1. Boleh dan sah berqurban dengan kambing/sapi/unta BETINA.
2. Boleh dan sah berqurban dengan binatang qurban dengan warna apapun.
2. Jika berqurban dengan binatang dengan kekurangan tersebut di atas tidak sah jadi qurban akan tetapi menjadi sedekah biasa yang diterima oleh Allah.

Catatan:
Binatang qurban yang tidak memenuhi syarat tidak sah menjadi qurban akan tetapi menjadi sedekah biasa yang diterima oleh Allah.

Artinya, jika kita tidak menemukan kambing qurban yang tidak memenuhi syarat, kita bisa menyembelih kambing apa saja sebagai hidangan kegembiraan di hari raya Idul Adha untuk mempererat silaturahim dan mendapatkan pahala sedekah.

Dan bagi siapapun yang tidak mempunyai kambing qurban, hendaknya membuat kegembiraan ditengah-tengah keluarganya dengan membuat hidangan yang pantas dengan keadaan hari raya, baik dengan ikan atau hanya telur dadar, sesuai dengan kemampuannya.

 

Kesunahan Dalam Berqurban atau Menyembelih Qurban

1. Hendaknya mulai awal bulan Dzulhijjah tanggal 1 hingga saat menyembelih qurban di sunnahkan agar tidak memotong / mencabut rambut atau kukunya, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ (رواه مسلم)

“Jika masuk bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih qurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.” (H.R. Muslim)
2. Jika bisa, menyembelih sendiri bagi yang mampu
3. Dalam keadaan bersuci
4. Menghadap qiblat
5. Mempertajam kembali pisau
6. Membaca “bismillah”
7. Membaca :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم
“بِسْمِ اللهِ، واللهُ أَكْبَرُ، اللهُمَّ هذا منْكَ، وَلَكَ

Dan setelah itu berdoa :

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّى

Artinya: “Ya Allah terimalah qurban dariku ini.”
(Ini jika menyembelih sendiri)

Kalau untuk mewakili nama orang :

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ

Artinya: “Ya Allah terimalah qurban ini dari hambu-Mu (disebut namanya).”

8. Mempercepat cara penyembelihan
9. Di depan warga, agar semakin banyak yang mendo’akannya.
10. Untuk qurban yang sunnah (bukan nadzar) disunnahkan bagi yang nadzar untuk mengambil bagian dari daging qurban biarpun hanya sedikit.

 

Cara Membagi Daging Qurban

Jika qurban wajib karena nadzar. Maka semua dari daging qurban harus dibagikan, dan diantara mereka yang menerima harus ada fakir miskinnya dan tidak harus semuanya fakir miskin. Jika orang yang berqurban atau orang yang wajib dinafkahinya ikut makan, maka wajib baginya untuk menggantinya sesuai dengan yang dimakannya.

Adapun jika qurban sunnah : Maka tidak disyaratkan sesuatu apapun dalam pembagiannya, asalkan ada bagian untuk orang fakir miskin, seberapapun bagian tersebut. Dan dianjurkan untuk bisa membagi menjadi 3 bagian. 1/3 untuk keluarga, 1/3 untuk dihidangkan tamu, 1/3 untuk dibagikan kepada fakir miskin. Pembagian seperti ini tidaklah harus, Semakin banyak yang dikeluarkan, semakin banyak pahalanya.

Disebutkan dalam hadits :

كلوا وأطعموا وادخروا . رواه البخاري

Artinya: “Makanlah, hidangkanlah dan simpanlah untuk keluargamu”. (HR. Bukhori).

كلوا وادخروا وتصدقوا “. رواه مسلم

Artinya: “Makanlah dan simpanlah untuk keluargamu, dan sedekahkanlah”. (HR. Muslim).

Dipahami dari hadits tersebut :
1. Ada bagian yang dimakan dan disimpan untuk keluarga.
2. Ada bagian yang dihidangkan untuk tamu
3. ada bagian yang disedekahkan

Ini adalah dalam qurban yang sunnah, bukan dalam qurban yang menjadi wajib.

 

Hukum Menjual Daging dan Kulit Binatang Qurban

Hukum menjual daging qurban
Menjual daging qurban adalah haram sebelum dibagikan. Adapun jika daging qurban sudah dibagi dan diterima, maka bagi yang menerima daging tersebut boleh menjualnya dan juga boleh menyimpannya. Begitu juga kulitnya, tidak diperkenankan untuk dijual atau dijadikan upah bagi yang menyembelih, akan tetapi bagi seorang tukang sembelih boleh menerima kulit serta daging qurban sebagai bagian haknya akan tetapi tidak boleh daging dan kulit tersebut dijadikan upah.

 

Hukum menjadikan Kulit, Kaki dan Kepala Kambing Sebagai Upah Yang Menyembelih

Jumhur Ulama (kebanyakan para Ulama) mengatakan bahwa: “Karena kambing Qurban itu memang kambing yang sudah diniatkan untuk Allah SWT maka tidak diperkenankan bagian dari binatang tersebut untuk dijadikan upah bagi yang menyembelih dan tidak boleh dijual dari seluruh anggota tubuh binatang tersebut termasuk kulit, kaki dan kepala.

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, lafadznya adalah di kitab Shohih Muslim, yang berbunyi :

أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لاَ أُعْطِىَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ : نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

Kata Sayyidina Ali bin Abi Tholib “Rasulullah SAW menyuruhku untuk menyembelih onta dan disedekahkanlah daging, kulit dan semuanya dan tidak boleh memberi kepada yang menyembelih dari daging tersebut (maksudnya memberi sebagai upah) akan tetapi hendaknya kita memberi upah dari diri kami sendiri.
Artinya, upah untuk yang menyembelih diambil dari orang yang berqurban atau yang lainnya. Yang jelas tidak boleh dimbil dari bagian binatang qurban.
Menjual dari bagian daging qurban juga tidak diperbolehkan. Barang siapa menjual kulit binatang qurban maka seperti dia tidak berqurban.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Nabi SAW, bahwasannya ada dengan jelas :

ومَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَتِهِ فَلاَ أُضْحِيَّةَ لَهُ

Maka kulit binatang qurban harus diberikan kepada yang berhak menerima qurban tersebut. Dan seorang penyembelih qurban boleh menerima kulit sebagai jatahnya, sebagai orang yang berhak menerimanya. Bukan sebagai upah penyembelihan.
Adapun jika binatang qurbannya banyak, dan kulitnya terlalu banyak kemudian susah untuk di manfaatkannya.

Ada keringanan pendapat dari Imam Ahmad bin Hanbal dan sebagian madzhab Hanafi mengatakan, “Boleh kulit itu dijual akan tetapi uangnya tetap disalurkan kepada yang berhak dan diutamakan kepada fakir miskin”.

Dalam keadaan tertentu, pendapat ini bisa saja kita hadirkan jika dipandang akan lebih manfaat dengan cara menjual kulit kemudian uangnya dikembalikan kepada yang berhak menerima qurban.

Akan tetapi selagi masih bisa dibagi secara langsung dan yakin bermanfaat maka dibagi secara langsung dan tidak dijual terlebih dahulu itu lebih baik.

 

Mana Yang Didahulukan, Qurban Atau Aqiqah?

Yang didahulukan adalah qurban, karena:
1. Tidak ada perbedaan pendapat dalam kesunnahannya. Bahkan ada yang mengatakan qurban adalah wajib.
2. Waktu qurban terbatas yaitu 4 hari. Sementara waktu aqiqah terbentang dari lahir hingga sang anak dewasa (aqil baligh).

Jika masih Belum aqil (baligh), maka yang dianjurkan untuk mengaqiqahinya adalah kedua orang tuanya. Akan tetapi jika tidak mampu sampai anak tersebut aqil baligh (dewasa) maka gugurlah tuntutan sunnah atas orangtua tersebut.

Ada pendapat Imam Romli dari madzhab Imam Syafi’i: “Jika ada orang berqurban di hari yang diperkenankan aqiqah dengan niat qurban maka yang berqurban akan mendapatkan sunnah aqiqah juga”.

Akan tetapi, tetap kami himbau agar mengikuti pendapat kebanyakan ulama, yaitu agar tidak digabungkan antara Qurban dan Aqiqah. Wallahu a’lam bish-shawab

وصلى الله على سيدنـا محمد و على أله وصحبه أجمعين والْحمد ِللهِ رب العـــالمين

KEUTAMAAN PUASA AROFAH

KEUTAMAAN PUASA AROFAH

KEUTAMAAN PUASA AROFAH
Oleh : Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)

Sebentar lagi kita akan memasuki hari agung dan mulia yaitu Hari Arofah. Hari yang dipilih oleh Allah sebagai hari yang penuh dengan amalan-amalan ibadah di dalamnya. Bagi orang yang haji mereka melakukan wukuf di Padang Arofah dan bagi yang diluar atau bagi orang yang tidak melaksanakan ibadah haji disunnahkan untuk melakukan puasa di Hari Arofah. Secara umum di sepuluh awal Dzulhijjah disunnahkan kita untuk meningkatkan amalan-amalan yang sunnah yang biasa dilakukan di hari-hari yang lain. Lebih khusus lagi di Hari Arofah yaitu hari ke-9 Dzulhijjah.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Abu Daud Rasulullah saw bersabda :

عن ابن عباس -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام) -يعني أيام العشر- قالوا: يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: (ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء)>
رواه أبو داود (2438) والترمذي (757)

Diriwayatkan oleh Abu Daud , dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Tidak ada hari untuk beramal shalih yang lebih dicintai oleh Allah melebihi dari pada hari-hari ini (Sepuluh hari awal dari bulan Dzulhijjah). Mereka bertanya : Ya Rasulullah, Apakah jihad fi sabilillah tidak bisa menyamainya? Beliau menjawab : Jihad fi sabilillah tidak bisa menyamainya, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.

Berpuasa adalah sebaik-baik amalan yang bisa dilakukan seorang hamba. Maka hendaknya kita rajin berpuasa di hari-hari seperti itu kemudian puncaknya adalah di hari arofah yang Nabi saw menyebutkan dalam hadits yang diriwayatkan imam muslim :

صيام يوم عرفه أحتسب على الله أنه يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده ) رواه مسلم(

“ Aku berharap kepada Allah semoga dengan Puasa Arofah Allah akan mengampuni dosa yang lalu dan dosa yang akan datang. “

Ini menunjukkan begitu pentingnya dan agungnya hari arofah. Disamping pahalanya besar akan tetapi juga menjadi sebab dosa kita diampuni oleh Allah SWT.

Kemudian yang harus kita ketahui juga bahwasanya, puasa arofah ini disunahkan bagi orang yang tidak melaksanakan ibadah haji. Adapun bagi orang yang melaksanakan ibadah haji disunnahkan bagi mereka dianjurkan dan dihimbau untuk memperbanyak dzikir memohon kepada Allah SWT di Arofah, kemudian bagi siapapun baik yang berada dipadang arofah atau yang diluar padang Arofah selain berpuasa hendaknya di hari arofah ini memperbanyak bersedekah, silaturrahmi terlebih lagi berdzikir kepada Allah SWT. Seperti disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal :

روى أحمد عن ابن عمر مرفوعاً :ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد.

“Tidak ada hari yang lebih agung di hadapan Allah dan lebih dicintai oleh Allah melebihi dari pada hari-hari 10 awal dzulhijjah ini. Maka perbanyaklah di hari-hari tersebut dari takbir, tahlil dan tahmid”

Dzikir tersebut yang selama ini kita kenal dengan takbir :

اَللهُ أَكْبَرُ – اَللهُ أَكْبَرُ – اَللهُ أَكْبَرُ – اَللهُ أَكْبَرُ – اَللهُ أَكْبَرُ – اَللهُ أَكْبَرُ – اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Bagi orang yang ingin berpuasa di Hari Arofah atau di hari selainnya bagi yang masih hutang. Disini banyak Ulama berbeda pendapat. Menurut Imam Abu Hanifah bagi orang yang mempunyai utang yang utangnya adalah karena udzur seperti sakit, berpergian atau udzur-udzur yang menjadikan dia boleh berbuka puasa kemudian dia memasuki hari yang disunnahkan untuk berpuasa seperti hari arofah. Menurut madzhab imam abu hanifah orang tersebut tetap disunnahkan berpuasa dan tidak ada makruh sama sekali.

Adapun menurut madzhab Imam Malik dan Imam Syafi’i bagi orang yang masih mempunyai hutang kemudian dia berpuasa sunnah maka hukumnya makruh. Hendaknya didahulukan membayar hutang puasa wajibnya terlebih dahulu sebelum berpuasa sunnah.

Akan tetapi disitu juga dijelaskan oleh para ulama madzhab Syafi’i yaitu di saat kita membayar hutang puasa wajib, cukup dengan niat puasa wajib saja disaat seperti itu Allah akan memberikan kita pahala sunnah juga. Itulah kemurahan dari Allah SWT akan tetapi dengan catatan tidak boleh digabungkan niat antara puasa sunnah dengan niat puasa wajib untuk mengqodho’ tadi, akan tetapi cukup dengan niat fardhu maka pahala sunnah akan didapat. Jika menggabungkan niat puasa sunnah dengan niat hutang puasa wajib puasanya menjadi tidak sah.

Jika menggabungkan puasa sunnah dengan puasa sunnah hal itu diperbolehkan dan mendapatkan pahala sesuai yang diniatkan. Misalnya puasa Arofah bertepatan hari Senen lalu kita menggabung Puasa Senen dan Arafoh maka kita akan mendapatkan pahala dua-duanya . Adapun cara niat berpuasa Arofah adalah cukup kita melintaskan di hati “Aku berpuasa arofah” itu sudah sah dan lebih baik lagi jika dikuatkan dengan lisan kita. Mari di 10 awal Dzulhijjah ini khususnya 9 Dzulhijjah kita berlomba-lomba melakukan kebaikan dengan segala bentuk kebaikan. Wallahu A’lam Bisshowab.