SOLUSI SHALAT DI JALAN MACET

SOLUSI SHALAT DI JALAN MACET


Masalah menjama’ shalat karena macet di perjalanan adalah kemudahan untuk menghindari seseorang dari meninggalkan Shalat di saat macet.

Ini adalah pendapat Ulama-Ulama besar khususnya di dalam Madzhab kita Imam Syafi’i, seperti pendapat Imam Syafii saat beliau di Iraq, juga pendapat Qoffal Asy-Syasi dan Ibnul Mundzir.

Artinya kita tidak boleh ragu dalam mengamalkan pendapat ini demi menjaga umat agar terhindar dari dosa besar karena meninggalkan sholat.

Download PDF file:
Solusi Shalat Di Jalan Macet – Buya Yahya

MENGUPAS AMALAN DO’A SAAT BERBUKA PUASA

MENGUPAS AMALAN DO’A SAAT BERBUKA PUASA
(Oleh : Buya Yahya)

Secara umum dihimbau kita untuk memperbanyak do’a dan permohonan kepada Allah SWT. Khususnya disaat – saat yang dijanjikan pengkabulan secara khusus oleh Allah SWT. Seperti saat kita berbuka puasa.
Disebutkan dalam satu riwayat dari Nabi SAW :

Beliau bersabda

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم:” ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالْمَظْلُومُ ( رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ)

“Tiga orang yang tidak ditolak permohonannya oleh Allah SWT : Orang berpuasa hingga berbuka, Imam yang adil dan orang yang didzolimi.”
(HR Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Maka dari itu sangat dihimbau disaat kita hendak berbuka untuk menghadirkan permohonan – permohonan kepada Allah SWT sesuai dengan keinginan kita. Artinya doa apa saja sangat dianjurkan untuk dibaca disaat kita berbuka. Lebih utama lagi jika doa itu adalah doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Adapun doa yang pernah dibaca oleh Rasulullah SAW saat berbuka adalah : 
1. 
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
(حديث صحيح رواه أبو داود.)
“Telah hilang dahaga dan tenggorokan pun tela menjadi basah dan semoga pahala tetap di peroleh. “ (H.R. Abu Daud).

1. Doa yang pernah di baca oleh sayyidina Abdulloh bin Umar ra :

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ.(رواه أبو داوداً)

“Ya Allah untukMu-lah aku berpuasa, dan dengan rizkiMu-lah aku berbuka. “. (H. R. Abu Dawud)

2. Doa yang pernah di baca oleh Sayyidina Abdullah bin Amru bin Ash :

اللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِيْ.
(رواه ابن ماجه من دعاء عبد الله بن عمرو بن العاص، وحسنه ابن حجر)

“Ya Allah sungguh aku memohon kepadaMu dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu agar engkau mengampuni aku. “ (H.R. Ibnu Majah)

Adapun doa yang selama ini kita baca yaitu :

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

“Ya Alloh …Hanya untuk-Mu lah aku berpuasa,kepada-Mu lah aku beriman,dengan rizqi dari-Mu lah aku berbuka. Dengan rahmat-Mu Ya Allah aku bisa melakukan ini semuanya. Wahai Dzat Maha Kasi .”

Memang doa dengan susunan seperti itu tidak ada diriwayatkan dari Nabi SAW , akan tetapi secara makna dalam semua kandungan do’a itu adalah diajarkan oleh Nabi SAW. Bahkan tersimpulkan dari rangkuman beberapa riwayat dari Nabi SAW. Sehingga sangat tepat jika do’a tersebut juga kita baca bersama do’a yang diajarkan oleh Rasulullah SAW secara lafadh. Kalau kita cermati, makna dari doa tersebut sungguh sangat agung :

a. اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ
“Ya Allah hanya untukmulah aku berpuasa.”
Yang tidak lain adalah makna ketulusan dan keikhlasan kepada Allah SWT.

b. وَبِكَ آمَنْتُ
“KepadaMu-lah aku beriman”

Adalah ikrar makna keimanan. Sangat sesuai dengan hadits Nabi SAW :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ” رواه البخاري 38 ومسلم 760

“Barangsiapa berpuasa di bulan Romahon dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT, akan diampuni dosa-dosa di masa lalunya.”(H.R. Bukhri & Muslim)

3. وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
“Dengan rizkiMu-lah aku berbuka.”

Terkandung makna syukur kepada Allah SWT dan tanda patuh kepada
perintah Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُون (البقرة : 172)

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (Q.S. Al-Baqarah : 172)

4. بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
“Dengan rahmat-Mu Ya Allah aku bisa melakukan ini semuanya. Wahai Dzat Yang Maha Kasih.”

Terkandung makna keinsyafan yang agung kepada Allah bahwa kebaikan yang kita lakukan ini semu adalah semata- semata karena kasih sayang Allah SWT.

Inilah sekelumit penjelasan tentang doa – doa saat berbuka puasa. Semoga menjadi bahan untuk kita semakin bersemangat dan khusyu di dalam memohon kepada Allah SWT.
Wallahu a’lamu bisshowab

Shalawat Al-Fatih (Majelis Al-Bahjah Buya Yahya)

Shalawat Al-Fatih (Majelis Al-Bahjah Buya Yahya)

Shalawat Al-Fatih (Majelis Al-Bahjah Buya Yahya)

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ (نِ) الْبَشِيْرِ وَالنَّذِيْرِ الَّذِيْ تَنْفَتِحُ بِهِ اَبْوَابُ الْخَيْرِ وَتَنْغَلِقُ بِهِ أَبْوَابُ الشَّرِّ وَعَلٰى آلِهِ اْلأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ اْلأَخْيَارِ

Artinya :
“ Ya Allah, limpahkan kesejahteraan (shalawat) dan keselamatan (salam) kepada yang mulia Sayyidina Muhammad SAW Pembawa Kabar Kebaikan dan Pembawa Peringatan Akan Kejelekan, yang dengan beliau-lah akan terbuka segala pintu kebaikan dan dengan beliau-lah akan tertutup segala pintu kejelekan, dan juga limpahkan ya Allah shalawat dan salam kepada keluarga beliau yang Engkau sucikan dan sahabat-sahabat beliau yang Engkau beri segala kebaikan “

(Dianjurkan Untuk Dibaca Rutin Sebanyak-banyaknya, Khususnya Disaat Ada Hajat)

Sampaikan kepada yang lain…
Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya.” HR. Imam Muslim.

HUKUM MENGULANG-ULANG UMRAH DALAM SATU BEPERGIAN

HUKUM MENGULANG-ULANG UMRAH DALAM SATU BEPERGIAN

HUKUM MENGULANG – ULANG UMRAH DALAM SATU BEPERGIAN

Oleh : Buya Yahya

Di dalam masalah mangulang – ulang umroh dalam satu bepergian, para ulama berbeda pendapat ;

Pendapat pertama ; Hukumnya adalah sunnah. Yaitu pendapat jumhur ulama dari madzhab Hanafi dan Syafi’i dan itu juga adalah sebagian pendapat dari madzhab imam Malik, juga sebagian pendapat dalam madzhab Hambali.

Pendapat kedua ; Mengulang-ulang umrah dalam satu berpergian hukumnya makruh, itu pendapat yang masyhur dalam mazhab Maliki.  

Pendapat ketiga ; Mengulang-ulang hukumnya sunnah, tapi dengan syarat “tidak berurutan langsung”. Berurutan itu artinya selesai umroh kemudian umroh lagi tanpa ada jeda kegiatan yang lainnya. Menurut pendapat ini bisa mengulang-ulang umroh asalkan antara umroh dengan umroh diadakan kegiatan selain umroh.

Ini beberapa nukilan yang kami ambil dari para ulama 4 madzhab :

  • Dalam madzhab Hanafi. Disebutkan dalam Hasyiyah Ibnu Abidin juz 2 halaman 585 :

لأن تكرار العمرة في سنة واحدة جائز بخلاف الحج …. الخ

(حاشية ابن عابدين 2/585)

 “Mengulang umrah dalam satu tahun adalah boleh, berbeda haji yang tidak boleh.”

  • Dalam madzhab Maliki disebutkan dalam kitab Mawahibul Jalil juz 2 halaman 467 :

ويستحب في كل سنة مرة ويكره تكرارها في العام الواحد على المشهور … الخ

 (مواهب الجليل 2/467)

“Disunnahkan dalam setiap tahun sekali umroh dan makruh untuk mengulanginya dalam satu tahun menurut pendapat yang masyhur.”

Di dalam madzhab Maliki disebutkan oleh imam Al-Qorofi dalam Dzakhirohnya juz 3 halaman 203 pada bab umroh :

وأما العمرة فجميع السنة وقت لها لكن تكره في أيام منى لمن يحج ويكره تكرارها في السنة الواحدة. (الذخيرة 3/203)

“Setiap tahun adalah waktu untuk umroh. Akan tetapi dimakruhkan di hari-hari mina, bagi orang yang haji. Dan dimakruhkan mengulang-ulang nya dalam satu tahun.”

  • Dalam madzhab imam Syafi’i, imam Nawawi menyebutkan dalam kitab Majmu’-nya juz 7 halaman 116:

مذهبنا أنه لا يكره ذلك بل يستحب… (مجموع للنووي 7/116)

 

“Menurut madzhab kami (Syafi’i), tidak dimakruhkan mengulang-ulang umroh, bahkan itu disunnahkan.”

  • Dalam madzhab Hambali.

Ibnu Qudamah dalam kitab Mughni-nya juz 3 halaman 174 :

ولا بأس أن يعتمر في السنة مرارا…. (مغني لابن قدامة 3/174)

“Tidak apa-apa yang ingin berumroh dalam satu tahun berulang-ulang” .

 

Disebutkan juga dalam dalam kitab mubdi, jus 3 halaman 261 :

لا يكره الاعتمار في السنة أكثر من مرة (مبدع 3/261)

“Tidak dimakruhkan umroh, dalam satu tahun, lebih dari sekali.”

Dalam kitab Inshof Fiqih Hambali juz 4 halaman 57 :

لا بأس أن يعتمر في السنة مرارا… (الإنصاف 4/57)

“Tidak apa-apa (boleh) umrah di dalam satu tahun, dengan berulang-ulang.”

Kalau kita amati dari ungkapan para ulama ulama terdahulu, perbedaan disini adalah antara yang pertama mengatakan sunnah mengulang-ulang, dan yang kedua makruh mengulang-ulang. Tidak sampai derajat mengatakan bid’ah. Karena bid’ah adalah kesesatan.

Dalam hal ini hendaknya kalaupun ada perbedaan pendapat, berbedalah yang bijaksana. Jika anda ingin mengulang, mengulanglah tanpa mencaci yang tidak mengulang. Bagi yang tidak mengulang jangan mencaci yang mengulang umroh. Mari kita ikuti para salafuna sholeh, mereka tidak membid’ahkan bagi yang mengulang. Karena yang mengulang pun punya hujjah, bahwasannya mengulang adalah sunnah. Yang mau mengulang umroh dalam satu bepergian mengikuti para ulama dan yang tidak mengulang pun mengikuti para ulama.

Karena di masyarakat kita mayoritas adalah pengikut madzhab imam Syafi’i maka sangat tepat jika kami hadirkan hujjah – hujjah madzhab imam Syafi’i dan jumhur ulama yang mengatakan bahwa mengulang – ulang umroh dalam 1 tahun adalah sunnah. Agar para pengikut madzhab Syafi’i semakin mantap disaat melaksanakan ibadah umroh dan sekaligus jadi pegangan untuk mereka agar tenang batin dan hati mereka disaat melaksanakan ibadah.

Hal ini perlu kami hadirkan karena kadang saat bertemu dengan masyarakat yang berbeda kemudian masyarakat tersebut menyampaikan pendapat yang berbeda dari yang selama ini dianut, lalu timbul keragu – raguan, kemudian berani menyalahkan guru – guru atau siapa pun yang bersamanya di masyarakatnya yang pada akhirnya menjadi sebab ketidaknyamanan di masyarakat tersebut.

1) Pertama adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam bukhari dan muslim.

العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا

“umrah ke umroh penghapus dosa di antara keduanya”.

Ini adalah himbauan kita untuk memperbanyak umroh. Artinya, kalau kita umroh hendaknya kita tumpangi dengan umrah lagi agar diampuni dosa kita, diantara umroh yang pertama dengan umrah yang kedua. Ini sudah sangat cukup untuk mengatakan bahwasanya umroh berulang-ulang adalah boleh. Karena baik di dalam hadits ini atau hadits lainnya tidak pernah ada larangan untuk mengulang umroh dalam 1 bepergian.

2) Kedua kisah Siti Aisyah yang diriwayatkan oleh imam Bukhori.

عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا؛ أَنَّهَا قَالَتۡ : فَلَمَّا قَضَيۡنَا الۡحَجَّ أَرۡسَلَنِي رَسُولُ اللهِ مَعَ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ أَبِي بَكۡرٍ إِلَى التَّنۡعِيمِ، فَاعَتَمَرۡتُ،

 رواه البخاري: كتاب الحج، باب كيف تهلُّ الحائض والنفساء، رقم: ١٥٥٦.

Dan setelah kami melaksanakan Ibadah haji, Rasululloh mengirimku dengan saudaraku Abdurrohman bin Abu Bakar untuk pergi ke Tan’im, kemudian aku melaksanakan umroh. Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Bab Haji No. 1556

Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Rasululloh SAW pernah menyuruh siti Aisyah melakukan umroh setelah umroh. Siti Aisyah umroh dua kali dalam satu bepergian, yaitu waktu haji wada atas perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Yaitu dengan miqat di Tan’im, ditemani oleh saudara beliau yang bernama abdurrohman bin abu bakar.

Setelah penjelasan ini semua, mari kita berlembut hati dengan memahami perbedaan ulama. Khususnya masyarakat di Indonesia yang mayoritas menganut madzhab Safi’i, yang mengatakan bahwa mengulang-ulang umroh dalam 1 tahun adalah sunnah. Adapun jika terjadi kepadatan di Makkah kemudian ada keinginan dari Negara atau yang berwajib untuk meringankan kepadatan tersebut maka sangat boleh pelarangan mengulang umroh dalam 1 bepergian. Akan tetapi tentu dalam irama himbauan.

Bahkan seandainya dalam bentuk larangan tentunya itu adalah larangan yang ada hubungannya dengan kemaslahatan, bukan larangan yang dihadirkan dalam bentuk cacian atau larangan yang dalam bentuk makian kepada mereka yang melakukan umroh berulang – ulang dalam satu tahun. Akan tetapi kalau sudah sampai mencaci dan mengolok, ini adalah bertentangan dengan kebiasaan para salafuna sholeh.

Kesimpulannya adalah ; bagi anda yang mengikuti madzhab Safi’i dan jumhur ulama khususnya masyarakat di Indonesia yang mengatakan bahwa mengulang-ulang  umroh dalam satu tahun dan satu bepergian adalah hal yang diperkenankan bahkan disunnahkan. Maka jalankanlah hal ini dengan penuh keyakinan tanpa keraguan bahwa dibalik amalan ini ada pahal besar dari Allah dan anda pun tidak perlu sibuk menyalahkan mereka yang tidak mau mengulang umroh.

Jika anda termasuk penganut sebagian dari madzhab Maliki yang mengatakan mengulang – ulang umroh adalah makruh anda bisa menggunakan waktu anda untuk tawaf dan itikaf di masjid sebanyak – banyaknya tanpa harus mencaci dan mengolok-olok mereka yang mengulang – ulang umroh dalam satu tahun atau satu bepergian, karena pendapat ini adalah pendapat para ulama dan mereka pun mempunyai hujjah dalam pendapatnya.

Semoga Allah menjaga hati kita, dengan adanya perbedaan pendapat tidak menjadi sebab permusuhan. Semoga Allah menjadikan kita hamba – hamba yang saling mencintai karena Allah dan Nabi Muhammad SAW. Wallahu a’lam bishawab

 

 

DOA AKHIR TAHUN HIJRIYAH & DOA AWAL TAHUN HIJRIYAH

DOA AKHIR TAHUN HIJRIYAH & DOA AWAL TAHUN HIJRIYAH

DOA AKHIR TAHUN HIJRIYAH & DOA AWAL TAHUN HIJRIYAH

Berikut kami hadirkan doa awal tahun dan akhir tahun yang disusun oleh Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah…

Doa akhir tahun dianjurkan dibaca ketika menjelang maghrib 1 Muharrom dan Doa Awal tahun dianjurkan dibaca saat selesai sholat Magrib 1 Muharrom

DOA AKHIR TAHUN HIJRIYAH

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ, اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِيْ هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِيْ عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ. وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ ,
اَللّٰهُمَّ إِنِّي اَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِيْ, وَمَا عَمِلْتُهُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللّٰهُمَّ يَا كَرِيْمُ. يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّيْ وَلاَ تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ, وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

DOA AWAL TAHUN HIJRIYAH

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ, اَللّٰهُمَّ أَنْتَ اْلأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الأَوَّلُ, وَعَلَى فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ وَجُوْدِكَ الْمُعَوَّلِ, وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ, نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ وَجُنُوْدِهِ, وَاْلعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ, وَاْلاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ, وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Sampaikan kepada yang lain…
Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya.” HR. Imam Muslim

KEUTAMAAN AMALAN PUASA BULAN MUHARRAM

KEUTAMAAN AMALAN PUASA BULAN MUHARRAM
Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah

Bulan Muharrom adalah salah satu dari empat bulan mulia yang disebutkan dalam Al-Quran. Amalan yang di anjurkan adalah semua amalan yang di anjurkan di bulan lain sangat di anjurkan di bulan ini, hanya saja ada amalan yang sangat dianjurkan secara khusus di bulan ini yaitu :

1. Puasa tanggal 10 yang disebut dengan puasa ‘Asyuro, seperti yang telah disebutkan dalam hadits :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبْ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وَأَنَا صَائِمٌ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ )

Rosulullah SAW bersabda : “Ini (10 Muharrom) adalah hari ‘Asyuro dan Allah tidak mewajibkan puasa atas kalian dan sekarang aku berpuasa, maka siapa yang mau silahkan berpuasa dan siapa yang tidak mau silahkan berbuka (tidak berpuasa) “ (Bukhori :1899 dan Muslim : 2653)

2. Dengan pahala akan diampuni dosa tahun yang lalu :

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاء، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“ Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu “. (Muslim : 2746).

3. Sangat dianjurkan untuk ditambah agar bisa berpuasa di hari yang ke-Sembilan, seperti yang telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

عَنْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ حِيْنَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berpuasa di hari ‘Asyura’ dan memerintahkan (perintah sunnah) manusia untuk berpuasa, para sahabat pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ‘Apabila datang tahun depan Insya Allah kami akan berpuasa pada tanggal 9 (Muharram). Berkata Abdullah bin Abbas “ Belum sempat tahun depan tersebut datang, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.” ( Muslim : 1134/2666)

4. Lebih bagus lagi jika ditambah hari yang ke-Sebelas seperti disebutkan dalan sebuah riwayat dari sahabat Abdullah ibn Abbas :

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاء، وَخَالِفُوا اليَهُودَ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا

“Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyuro` dan berbedalah dengan orang Yahudi, (yaitu) berpuasalah kalian sehari sebelumnya atau sehari setelahnya” (Ibnu Khuzaimah: 2095).

5. Lebih dari itu berpuasa disepanjang bulan Muharom adalah sebaik baik bulan untuk puasa seperti disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits yang disebutkan Imam Muslim :

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ اْلمُحَرَّمِ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

”Sebaik baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharom, dan sebaik-baiknya sholat setelah sholat fardhu adalah Sholat malam” (Muslim No: 2755).

Kesimpulannya :
1) Bahwa puasa sepanjang bulan Muharrom adalah puasa yang sangat dianjurkan seperti disebutkan dalam Hadits tersebut di atas.

2) Sebaik-baik hari dari bulan Muharom tersebut adalah tanggal 10 Muharrom.

3) Dan setelah 10 Muharrom akan menjadi lebih baik lagi jika ditambah dengan tanggal 9 (sembilan) seperti yang disebutkan dalam hadits tersebut di atas.

4) Dan akan lebih baik lagi jika ditambah dengan sehari di tanggal 11 untuk berbeda dengan orang Yahudi dan Nasrani.

5) Dan untuk lebih baiknya lagi adalah menambah hari di sepanjang bulan Muharrom hingga sempurna.

Catatan Penting :
Berpuasa penuh sepanjang bulan Muharrom adalah
sunnah, seperti disebutkan dengan sangat jelas dalam hadits Nabi SAW tersebut di atas. Wallohu a’lam bishshowab

HUKUM TAKBIR HARI RAYA BERJAMAAH

HUKUM TAKBIR HARI RAYA BERJAMAAH

HUKUM TAKBIR HARI RAYA BERJAMAAH

الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على رسول الله سيدنا محمد بن عبد الله و على أله و صحبه و من والاه. أما بعد

1. Takbir di Malam Hari Raya
Bertakbir di malam hari raya adalah merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW yang amat perlu untuk dilestarikan dalam menampakkan dan mengangkat syiar Islam. Para ulama dari masa ke masa sudah biasa mengajak ummat untuk melakukan takbir, baik setelah shalat (takbir muqayyad) atau di luar shalat (takbir mursal).

Lebih lagi takbir dengan mengangkat suara secara kompak yang bisa menjadikan suara semakin bergema dan berwibawa adalah yang biasa dilakukan ulama dan umat dari masa ke masa.
Akan tetapi ada sekelompok kecil dari orang yang hidup di akhir zaman ini begitu berani mencaci dan membid’ahkan takbir bersama-sama. Dan sungguh pembid’ahan ini tidak pernah keluar dari mulut para salaf (ulama terdahulu).

Mari kita cermati riwayat-riwayat berikut ini yang menjadi sandaran para ulama dalam mengajak bertakbir secara kompak dan bersama-sama.

A. Berdasarkan Hadits dalam Shohih Imam Bukhori No 971 yang diriwayatkan oleh Ummi Athiyah, beliau berkata:

كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ، حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا، حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيّاَضَ، فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ، وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ.(رواه البخاري

Artinya: “Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya sehingga para wanita-wanita yang masih gadis pun diperintah keluar dari rumahnya, begitu juga wanita-wanita yang sedang haidz dan mereka berjalan di belakang para manusia (kaum pria) kemudian para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia (kaum pria) dan berdoa dengan doanya para manusia serta mereka semua mengharap keberkahan dan kesucian hari raya tersebut.”
Di sebutkan dalam hadits tersebut:
فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيْرِهِمْ
“Para wanita tersebut mengumandangkan takbir bersama takbirnya manusia.”

Itu menunjukan takbir terjadi secara berjamaah atau bersamaan. Bahkan dalam riwayat Imam Muslim dengan kalimat:
”para wanita bertakbir bersama-sama orang-orang yang bertakbir”
يُكَبِّرْنَ مَعَ النَّاس
B. Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Sayyidina Umar bin Khattab dalam bab Takbir saat di Mina.

وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا

Artinya: “Sahabat Umar bertakbir di qubahnya yang berada di tanah Mina, lalu penduduk masjid mendengarnya dan kemudian mereka bertakbir begitu penduduk pasar bertakbir, sehingga tanah Mina bergema dengan suara takbir.”

Ibnu Hajar Al Asqalani (pensyarah besar kitab Shohih Bukhari) mengomentari kalimat:
حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا
dengan

أي يَضْطَرِّبُ وَتَتَحَرَّكُ, وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رَفْعِ الصَّوْتِ

“Bergoncang dan bergerak, bergetar yaitu menunjukan kuatnya suara yang bersama-sama.”

C. Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i RA dalam kitab Al-Umm 1/264:

أَحْبَبْتُ أَنْ يَكُبِّرَ النَّاسُ جَمَاعَةً وَفُرَادًى فِي المَسْجِدِ وَالْأَسْوَاقِ وَالْطُرُقِ وَالْمَنَازِلِ والْمُسَافِرِيْنَ والْمُقِيْمِيْنَ فِي كُلِّ حَالٍ وَأَيْنَ كَانُوْا وَأَنَ يَظْهَرُوْا الْتَكْبِيْرَ

Artinya: “ Aku senang (maksudnya adalah sunnah) orang-orang pada bertakbir secara bersama dan sendiri-sendiri, baik di masjid, pasar, rumah, saat bepergian atau mukim dan setiap keadaan dan dimana pun mereka berada agar mereka menampakkan (syiar) takbir.”

Tidak pernah ada dari ulama terdahulu yang mengatakan takbir secara berjamaah adalah bid’ah. Justru sebaliknya ada anjuran dan contoh takbir bersama-sama dari ulama terdahulu.

2. Kesimpulan Tentang Takbir Bersama-sama

1. Pernah terjadi takbir barsama-sama pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabat.
2. Anjuran dari Imam Syafi’i RA mewakili ulama salaf.
3. Tidak pernah ada larangan takbir bersama-sama dan juga tidak ada perintah takbir harus sendiri-sendiri. Yang ada adalah anjuran takbir dan dzikir secara mutlaq, baik secara sendirian atau berjamaah.
4. Adanya pembid’ahan dan larangan takbir bersama-sama hanya terjadi pada orang-orang akhir zaman yang sangat bertentangan dengan salaf.

3. Menghidupkan Malam Hari Raya dengan Ibadah
Hukum menghidupkan malam hari raya dengan amal ibadah. Sudah disepakati oleh para ulama 4 mazhab bahwa disunnahkan untuk kita menghidupkan malam hari raya dengan memperbanyak ibadah.

Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ berkata: “Sudah disepakati oleh ulama bahwa dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan ibadah dan pendapat seperti ini juga yang ada dalam semua kitab fiqh 4 madzhab.”

Artinya, kita dianjurkan untuk menghidupkan malam hari raya dengan shalat, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an khususnya bertakbir. Karena malam hari raya adalah malam bergembira. Banyak sekali hamba-hamba yang lalai pada saat itu, maka sungguh sangat mulia yang bisa mengingat Allah di saat hamba-hamba pada lalai.

4. Yang Dilakukan Santri dan Jamaah Al-Bahjah
a. Takbir keliling dalam upaya membesarkan syiar takbir.
b. Berkunjung dari masjid ke masjid untuk melakukan shalat sunnah.
c. Menyimak tausiyah di beberapa masjid yang dikunjungi.

Semua itu dalam upaya menjalankan sunnah yang dijelaskan oleh para ulama tersebut di atas.

Wallahu a’lam bish-showab.

KEUTAMAAN PUASA AROFAH

KEUTAMAAN PUASA AROFAH

KEUTAMAAN PUASA AROFAH
Oleh : Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)

Sebentar lagi kita akan memasuki hari agung dan mulia yaitu Hari Arofah. Hari yang dipilih oleh Allah sebagai hari yang penuh dengan amalan-amalan ibadah di dalamnya. Bagi orang yang haji mereka melakukan wukuf di Padang Arofah dan bagi yang diluar atau bagi orang yang tidak melaksanakan ibadah haji disunnahkan untuk melakukan puasa di Hari Arofah. Secara umum di sepuluh awal Dzulhijjah disunnahkan kita untuk meningkatkan amalan-amalan yang sunnah yang biasa dilakukan di hari-hari yang lain. Lebih khusus lagi di Hari Arofah yaitu hari ke-9 Dzulhijjah.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Abu Daud Rasulullah saw bersabda :

عن ابن عباس -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام) -يعني أيام العشر- قالوا: يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: (ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء)>
رواه أبو داود (2438) والترمذي (757)

Diriwayatkan oleh Abu Daud , dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Tidak ada hari untuk beramal shalih yang lebih dicintai oleh Allah melebihi dari pada hari-hari ini (Sepuluh hari awal dari bulan Dzulhijjah). Mereka bertanya : Ya Rasulullah, Apakah jihad fi sabilillah tidak bisa menyamainya? Beliau menjawab : Jihad fi sabilillah tidak bisa menyamainya, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.

Berpuasa adalah sebaik-baik amalan yang bisa dilakukan seorang hamba. Maka hendaknya kita rajin berpuasa di hari-hari seperti itu kemudian puncaknya adalah di hari arofah yang Nabi saw menyebutkan dalam hadits yang diriwayatkan imam muslim :

صيام يوم عرفه أحتسب على الله أنه يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده ) رواه مسلم(

“ Aku berharap kepada Allah semoga dengan Puasa Arofah Allah akan mengampuni dosa yang lalu dan dosa yang akan datang. “

Ini menunjukkan begitu pentingnya dan agungnya hari arofah. Disamping pahalanya besar akan tetapi juga menjadi sebab dosa kita diampuni oleh Allah SWT.

Kemudian yang harus kita ketahui juga bahwasanya, puasa arofah ini disunahkan bagi orang yang tidak melaksanakan ibadah haji. Adapun bagi orang yang melaksanakan ibadah haji disunnahkan bagi mereka dianjurkan dan dihimbau untuk memperbanyak dzikir memohon kepada Allah SWT di Arofah, kemudian bagi siapapun baik yang berada dipadang arofah atau yang diluar padang Arofah selain berpuasa hendaknya di hari arofah ini memperbanyak bersedekah, silaturrahmi terlebih lagi berdzikir kepada Allah SWT. Seperti disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal :

روى أحمد عن ابن عمر مرفوعاً :ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد.

“Tidak ada hari yang lebih agung di hadapan Allah dan lebih dicintai oleh Allah melebihi dari pada hari-hari 10 awal dzulhijjah ini. Maka perbanyaklah di hari-hari tersebut dari takbir, tahlil dan tahmid”

Dzikir tersebut yang selama ini kita kenal dengan takbir :

اَللهُ أَكْبَرُ – اَللهُ أَكْبَرُ – اَللهُ أَكْبَرُ – اَللهُ أَكْبَرُ – اَللهُ أَكْبَرُ – اَللهُ أَكْبَرُ – اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Bagi orang yang ingin berpuasa di Hari Arofah atau di hari selainnya bagi yang masih hutang. Disini banyak Ulama berbeda pendapat. Menurut Imam Abu Hanifah bagi orang yang mempunyai utang yang utangnya adalah karena udzur seperti sakit, berpergian atau udzur-udzur yang menjadikan dia boleh berbuka puasa kemudian dia memasuki hari yang disunnahkan untuk berpuasa seperti hari arofah. Menurut madzhab imam abu hanifah orang tersebut tetap disunnahkan berpuasa dan tidak ada makruh sama sekali.

Adapun menurut madzhab Imam Malik dan Imam Syafi’i bagi orang yang masih mempunyai hutang kemudian dia berpuasa sunnah maka hukumnya makruh. Hendaknya didahulukan membayar hutang puasa wajibnya terlebih dahulu sebelum berpuasa sunnah.

Akan tetapi disitu juga dijelaskan oleh para ulama madzhab Syafi’i yaitu di saat kita membayar hutang puasa wajib, cukup dengan niat puasa wajib saja disaat seperti itu Allah akan memberikan kita pahala sunnah juga. Itulah kemurahan dari Allah SWT akan tetapi dengan catatan tidak boleh digabungkan niat antara puasa sunnah dengan niat puasa wajib untuk mengqodho’ tadi, akan tetapi cukup dengan niat fardhu maka pahala sunnah akan didapat. Jika menggabungkan niat puasa sunnah dengan niat hutang puasa wajib puasanya menjadi tidak sah.

Jika menggabungkan puasa sunnah dengan puasa sunnah hal itu diperbolehkan dan mendapatkan pahala sesuai yang diniatkan. Misalnya puasa Arofah bertepatan hari Senen lalu kita menggabung Puasa Senen dan Arafoh maka kita akan mendapatkan pahala dua-duanya . Adapun cara niat berpuasa Arofah adalah cukup kita melintaskan di hati “Aku berpuasa arofah” itu sudah sah dan lebih baik lagi jika dikuatkan dengan lisan kita. Mari di 10 awal Dzulhijjah ini khususnya 9 Dzulhijjah kita berlomba-lomba melakukan kebaikan dengan segala bentuk kebaikan. Wallahu A’lam Bisshowab.

*DO’A KHUSUS BULAN RAMADHAN* Oleh : Buya Yahya

*DO’A KHUSUS BULAN RAMADHAN*
Oleh : Buya Yahya
(Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه.

Tentang doa di bulan Ramadhan yaitu doa :

اَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله. اَسْتَغْفِرُ الله, أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ (3x) اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ, تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ (3x)

Untuk menjelaskan tentang doa tersebut, yang pertama adalah :

Doa tersebut diatas adalah doa yang diambil dari gabungan beberapa riwayat dari Nabi SAW. Telah datang riwayat – riwayat yang banyak agar kita memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan, termasuk di dalamnya adalah beristighfar, berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT. Masalah doa yang biasa dibaca di bulan Ramadhan, mari kita rinci satu persatu.

1. Mengucapkan : لا اله الا الله (Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan
selain Allah) adalah kalimat Thoyyibah.
Dalam hal ini telah datang riwayat yang sangat banyak dari Nabi SAW tentang لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ .

Laa ilaaha illallah ( لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ) adalah kalimat thoyyibah yang Nabi SAW menghimbau untuk selalu memperbanyak لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, seperti disebutkan oleh Rasulullah SAW :

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( مَنْ كَانَ آخِرُ كَلامِهِ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ ) .رواه أبو داود )
“Barangsiapa di akhir hayatnya membaca laa ilaaha illallah maka ia
masuk surga.” (H.R. Abu Daud)

Juga himbauan Nabi SAW :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: جَدِّدُوا إِيْمَانَكُمْ . قِيْلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيْمَانَنَا ؟ قَالَ : أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ) ( مسند أحمد ” (2/359))

Artinya :
Nabi SAW bersabda : “ Perbaharuilah iman kalian”. Sahabat menjawab : “ Yaa Rasulallah ! Bagaimana kami memperbaharui iman kami?” Rasulullah SAW menjawab : “Perbanyaklah engkau untuk membaca : ” لاَ إِلَهَ إِلا الله” َّ
Musnad Ahmad : 2 / 359)

Bahkan juga dikatakan :

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : أَفْضَلُ الذِّكْرِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ للهِ (رواه الترمذي)

Dari Jabir bin Abdillah r.a. berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW berkata : “ Sebaik – baik dzikir adalah : Kalimat : “Laa ilaa illallah” dan sebaik – baik do’a : “Alhamdulillah”. (H.R. At-Tirmidz)

2. Masalah Istighfar

Sangat banyak perintah dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi agar kita memperbanyak istighfar.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُمْ مَدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَ بَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) (نوح : 10 – 12)
Artinya :
“ Maka aku katakan kepada mereka : ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak – anakmu, dan mengadakan untukmu kebun – kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai – sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah SWT”. (Q.S. Nuh : 10 – 12)

Dalam Al-Qur’an disebutkan :

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ (هود:52)
Artinya :
Dan (dia) berkata : “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambah kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”
(Q.S. Hud : 52)

Allah juga menolak bala bencana dengan istighfar :

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (الأنفال : 33)
Artinya :
“ Dan Allah SWT sekali – kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada diantara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.” (Q.S. Al-Anfal : 33)

Dan Allah juga menurunkan rahmat :

قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُوْنَ بِا لسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (النمل : 46)

Artinya :
“Dia berkata : ‘Hai kaumku, mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah SWT agar kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Naml : 46)

Ini adalah tentang keutamaan istighfar di dalam Al-Qur’an, yaitu : Disamping pengampunan Allah SWT, dengan istighfar kita akan mendapatkan curahan hujan, keturunan, rizqi, dijauhkan dari bencana dan diberi curahan rahmat dari Allah SWT

Adapun hadits Nabi tentang keutamaan istighfar.

Disebutkan dalam riwayat yang banyak tentang istighfar diantaranya :
1.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول: (( والله إني لاستغفر الله وأتوب إليه في اليوم أكثر من سبعين مرة))(57) ( رواه البخاري)

“ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih dari 70 kali.” (HR.Bukhari)

2.
2- وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ (رواه النسائي في “السنن الكبرى” (6/114)
Artinya :
Dari Abu Hurairah r.a. : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah Azza Wa Jalla dan bertaubat kepadanya setiap hari seratus kali.” (H.R. An-Nasa’i)

Nabi SAW tidak pernah meninggalkan suatu tempat kecuali beristighfar 70 kali .

3. Masalah Keutamaan Memohon Kepada Allah Agar Diberi Surga

Adapun masalah keutamaan memohon kepada Allah agar diberi surga telah
banyak riwayat yang datang dari Nabi SAW, diantaranya :

a. Hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidina Annas bin Malik, beliau berkata :

عن أنس بن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما سأل رجل مسلم الله عز وجل الجنة ثلاثاً إلا قالت الجنة: اللهم أدخله الجنة، ولا استجار من النار مستجير ثلاث مرات إلا قالت النار: اللهم أجره من النار

“Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah seorang muslim meminta kepada Allah SWT surga 3 kali kecuali surga akan berkata” Ya Allah masukkan dia ke surga. Dan tidak meinta perlindungan kepada Allah dari api neraka kecuali api neraka mengatakan “Jauhkan mereka dariku Ya Allah” (H.R Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Nasai, Imam Ahmada, Imam Hakim.

b. Imam Bukhari juga meriwayatkan : Rasulullah SAW bersabda :

إذا سألتم اللَّه فاسألوه الفردوس (البخاري برقم 2790)
“Jika memina (berdo’a. ” (H.R. Bukhori)

Kita minta kepada Allah surga, dianjurkan oleh Allah SWT dan ini tidak ada terikat dengan waktu, kapan saja. Memang disana ada himbauan agar kita minta kepada Allah dijauhkan dari fitnah api neraka.

c. Imam Muslim juga meriwayatkan tentang doa saat kita membaca tasyahud :

إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ. (رواه مسلم)

“Jika salah satu dari kalian membaca tasyahud hendaknya memohon perlindungan kepada Allah SWT dari 4hal. Ya Alloh sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari sikas neraka jahannam, dari siksa kubur, fitnah dalam hidup dan setelah mati dan dari fitnahnya dajjal.”

Inilah sekelumit riwayat – riwayat tentang keutamaan mengucapkan kalimat Laailaah illallah (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ), beristighfar, dan himbauan kepada kita agar memohon surga dan dijauhkan dari api neraka.

Himbauan doa Khusus di Bulan Ramadhan

Kalau seandainya tanpa riwayat – riwayat yang khusus. Sungguh dzikir dan doa tersebut di atas bukanlah sesuatu yang dilarang bahkan tetap dihimbau dan dianjurkan untuk kita mengucapkan kalimat syahadat, membaca لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , memperbanyak istighfar, memohon kepada Allah SWT surga dan meminta perlindungan dari api neraka.

Adapun tentang kekhususan doa tersebut di bulan Romadhon. Yaitu hadits Nabi SAW yang berbunyi :

وَاسْتَكْثَرُوْا فِيْهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ خَصْلَتَيْنِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ وَخَصْلَتَيْنِ لاَ غِنًى بِكُمْ عَنْهُمَا فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ فَشَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَتَسْتَغْفِرُوْنَهُ وَأَمَّا اللَّتَانِ لاَ غِنًى بِكُمْ عَنْهَا فَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الْجَنَّةَ وَتَعُوْذُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ

“Perbanyaklah di bulan romadhon dengan 4 hal. Dua hal akan menjadi sebab keridhoan Alloh kepadamu.dua hla yang engkau sangat membutuhkanya.bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh dan memohon ampun kepadaNya.engkau memohon surga dan agar di jauhkan dari neraka.”

Ini adalah hadits khusus, dan hadits tersebut memang sebagian Ulama mengatakan hadits itu dhoif. Akan tetapi kita harus tahu bahwasanya : “ Tidak semua hadits yang dikatakan Ulama itu dhoif lalu dikatakan oleh Ulama lain juga juga dhoif. ” Sebab dikalangan ulama ada perbedaan pendapat di dalam menilai sebuah hadits. Sangat mungkin sekali sebuah hadits dikatakan shohih oleh seorang pakar hadits, akan tetepi dikatakan dhoif atau lemah oleh yang lainnya. Itu sudah umum di dalam masalah pemahaman tentang kekuatan atau derajat keshohihan sebuah Hadits. Maka bagi yang mengatakan tidak shohih mereka tidak mengambil, bagi yang mengatakan hadits itu shohih atau hasan maka itu diambil. Dari sinilah diantara sebab adanya masalah khilafiyah yaitu yang bermula dari Perbedaan diantara Para Ulama di dalam menilai sebuah Hadits.

Dalam hadits tersebut di atas sebagian Ulama mengatakan hadits ini shohih. Kalaupun Anda mendengar dari ulama hadits yang lainnya mengatakan hadits itu adalah dhoif, jika Anda mempercayai itu Anda tetap bisa membaca doa tersebut dengan hadits yang lainnya yaitu berdasarkan hadits – hadits yang umum tadi.

Adapun bagi yang mengatakan hadits itu adalah benar derajatnya, bukan dhoif dan palsu yaitu seperti penilain sebagian para ulama hadits bahwa hadits tersebut adalah hadits hasan dan hasan shohih. Seperti Ibnu Huzaimah memasukkan Hadits dalam kitab Shohihnya biarpun di akhirnya mengatakan ini Shohhal Khobar. Kalimat In Shohhal khobar artinya jika berita ini benar itu adalah kalimat yang sangat wajar di ungkapkan oleh ulama hadits. Kalimat itu bukan untuk menghukumi kalau hadits itu adalah lemah.

Kemudian ulama yang mengatakan hadits ini dhoif adalah karena hadits ini diriwayatkan melalui seorang perawi yang bernama Ali Ibn Zaid Ibn Jud’an. Yang mengatakan riwayat Ali Ibn Zaid Ibn Jud’an adalah lemah mereka langsung melemahkan hadits tersebut. Harus diketahui bahwasanya kelemahan Ali Ibn Zaid Ibn Jud’an bagi yang mengatakan itu lemah bukan karena beliau seorang pendusta. Selagi kelemahan hadits bukan karena dusta maka dianggap tidak parah kelemahannya.

Adapun bagi yang mengatakan bahwasanya Ali Ibn Zaid Ibn Jud’an bukanlah orang yang dikatakan lemah. Seperti yang dikatakan oleh Al-Haitsami, kemudian juga Imam Al-Bazzar. Imam Bazzar mengatakan bahwa hadits ini adalah hasan. Kemudian juga Imam Al-Haitsami dalam Majma’ Zawaidnya mengatakan bahwasanya hadits ini juga hasan. Hadits yang melalui orang ini (Ali bin Zaid bin Jud’an) adalah hasan. Kemudian juga Imam At-Tirmidzi mengatakan orang ini adalah Shoduuq, bisa dipercaya dalam urusan hadits. Bahkan beliau menghukumi hadits yang perawinya melalui Ali Ibn Zaid Ibn Jud’an adalah hadits hasan. Ini adalah perbedaan diantara para Ulama Muhadditsin.

4. Do’a Menyambut Lailatul Qodar

Nabi SAW mengajarkan kepada Sayyidatina Siti Aisyah r.a. bacaan untuk menyambut malam Lailatul Qodar yaitu :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: قُلْتُ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟”، قَالَ: “قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي”(أخرجه الترمذي))

Diriwayaytkan dari Sayyidatina Aisyah r.a.h. Beliau berkata : “ Wahai Rasulallah, jika aku melihat Lailatul Qodar apa kiranya yang aku baca di malam itu?” Nabi SAW menjawab : “ Bacalah : Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Pemurah, Dzat yang senang member pengampunan. Maka ampunilah aku Ya Allah ” . (H.R. At-Tirmidzi)

Ini adalah sekelumit doa doa yang dianjurkan atau dibaca di bulan Ramadhan dan disana masih ada doa – doa yang sangat banyak yang bisa dibaca di bulan Ra,amdhan. Intinya adalah mari kita perbanyak di bulan Ramadhan ini amal baik, dari dzikir, istighfarm doa, sholat, membaca Al-Qur’an, sedekah dan lain-lainya sebagai bukti kerindua kita untuk menjadi orang yang Berjaya di bulan Ramadhan.

Semoga Allah memberikan kepada kita pemahaman yang benar, ilmu yang manfaat dan menjadikan kita hamba yang kembali kepada Allah SWT dengan pengampunan di bulan Ramadhan dan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
Wallahu a’lamu bisshowab