TUGAS ULAMA DI HADAPAN PARA CALON PEMIMPIN

TUGAS ULAMA DI HADAPAN PARA CALON PEMIMPIN
Oase Iman : Buya Yahya

Wahai para Ulama, anda di tengah-tengah umat adalah lentera yang harus menerangi jalan mereka. Penentu di tengah kebingungan mereka, seteguk air disaat dahaga mereka dan penyejuk hati dikala mereka gundah. Maka anda pun tidak boleh membuat mereka bingung, tak menentu arah, sesak dada dan akhirnya saling bermusuhan.

Di hadapan anda adalah para calon pemimpin yang siap beradu dan bersaing mencari pendukung demi kemenangan mereka. Tidak semua yang mereka lakukan adalah benar dan tidak semua yang mereka lakukan adalah salah. Disaat para calon pemimpin itu berbuat benar dalam meraih kemenangan tidaklah ada suatu kekhawatiran terhadap umat ini.

Akan tetapi, disaat mereka melakukan kesalahan maka korbannya adalah ummat. Maka disini fungsi ulama harus jelas sebagai guru umat dan guru semua para calon pemimpin tanpa terkecuali.

Anda bertanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu wata’ala jika teledor kepada langkah mereka. Anda harus tampil sebagai guru yang sesungguhnya. Nilai anda sangat mahal, fungsi anda tidak bisa ditukar dengan rupiah, bangunan atau janji-janji para calon pemimpin.

Semestinyalah anda menjadi pembimbing mereka semua menuju kepemimpinan yang baik. Anda harus dekat kepada semuanya. Sebab mereka semua adalah hamba-hamba Allah Subhanahu wata’ala yang juga rindu surga Allah Subhanahu wata’ala.

Akan tetapi kadang buta jalan menujunya. Anda jangan menjadikan mereka semakin jauh dari ulama, karena fungsi anda tertutup oleh sikap dukung mendukung anda yang salah. Apalagi jika dukungan yang anda berikan adalah imbalan dari sebuah materi. Anda tidak boleh membuat dinding pemisah dengan peran memihak. Apalagi jika memihaknya anda karena kepentingan pribadi atau pesantren dan yayasan anda. Anda memihak bukan karena kebaikan yang anda lihat demi umat dan calon pemimpin.

Ajarilah mereka kejujuran dan ketulusan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sayangilah mereka, sebab jalan mereka amat terjal dan penuh godaan. Jika mereka atau siapapun dari mereka yang menjadi pemimpin jauh dari anda, maka sungguh dikhawatikan mereka benar-benar terjerumus dalam ketersesatan.

Ulama dan pemimpin harus dekat. Dekat dalam irama rindu kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ulama dekat dengan pemimpin karena ingin membimbing mereka dan bukan karena tamak pemberian dari mereka. Para pemimpin harus dekat dengan para ulama dalam irama mencari bimbingan menuju ridho Allah Subhanahu wata’ala dan bukan karena membeli ulama demi rencana busuk yang tersimpan di hatinya.

Marilah kita bersama-sama menghadap kepada Allah Subhanahu wata’ala, memohon dengan sungguh-sungguh dan penuh kekhusyu’an agar kita diberi pemimpin yang cinta kebaikaan dan semoga Allah Subhanahu wata’ala menjaga kita semua dari terjerumus dalam pengkhianatan. Khianat dari para pemimpin, khianat dari ummat yang memilih pemimpin dan khianat dari ulama yang tidak tulus membimbing umat dan para pemimpin.

Wallahu a’lam Bish-Showab.

ZIARAH CINTA


ZIARAH CINTA
Oase Iman : Buya yahya

Semarak hari raya Idul Fitri kita saksikan. Tradisi mudik, saling berziarah dan halal bi halal mewarnai suasana Idul Fitri di negeri tercinta ini yang sungguh membutuhkan biaya yang amat besar. Ada yang mereka cari, akan tetapi tidak semua dari mereka menemukan apa yang mereka cari. Ada yang mereka rindukan, akan tetapi tidak semua dari mereka menemukan apa yang mereka rindukan. Mereka mencari cinta di sela-sela kesibukannya. Mereka merindukan cinta di tengah-tengah kekerasan dan kebejatan sebagian bangsa manusia. Mereka tidak butuh gebyar lahir, marak hari raya dan berbagai tradisi yang tidak menghadirkan makna cinta.

Ada yang perlu dicermati, apa yang menjadikan cinta tidak kunjung terwujud dalam kebersamaan bangsa ini, kendati aktivitas lahir penyambung hati sudah dilaksanakan. Cinta tersembunyi dibalik tabir kedengkian, kesombongan dan kerakusan yang tak terkendalikan. Maka sesemarak apapun gebyar silaturahim lahir kita adakan, jika tabir-tabir tersebut tidak disingkap dan disingkirkan sungguh sinar cinta tidak kunjung memancar di hati kita.

Silaturahim adalah kalimat yang sering kita dengar, khususnya adalah disaat kita memasuki bulan fitri, dihari raya idul fitri. Sehingga apa yang kita dengar dengan arus mudik, berbondong-bondongnya orang pindah dari satu tempat ke tempat lain, berziarah kesana kemari adalah dalam irama mewujudkan makna silaturahim ini. Akan tetapi amal perbuatan seperti apapun besarnya, jika tidak diikuti dengan renungan dan niat yang baik, maka semuanya akan sia-sia.

Untuk melengkapi apa yang pernah kita lakukan dari tradisi yang mulia ini yaitu silaturahim, maka perlu dikukuhkan makna bahwa silaturahim ini adalah menghadirkan makna kerinduan saling cinta diantara sesama manusia, yang tidak cukup hanya dengan sekedar basa-basi. Akan tetapi jika silaturahim kita ini hanya terbatas kepada basa-basi dzahir, hanya saling mengunjungi dan lain sebagainya, maka sesungguhnya belumlah ia sampai kepada silaturahim yang sesungguhnya.

Silaturahim itu adalah hal yang mendekatkan hati seseorang kepada orang lain, mendekatkan antara orang yang saling bermusuhan menjadi orang yang saling mencintai, orang yang saling dendam menjadi orang yang saling merelakan. Silaturahim yang benar adalah jika memang telah menumbuhkan rasa cinta diantara sesama. Sehingga hal yang demikian itu tidak cukup hanya dengan basa-basi sosial saling kunjung dan memberi hadiah, akan tetapi harus diikuti dengan renungan yang sesungguhnya.

Pertemuan itu bukan jaminan bersambungnya hati akan tetapi ternyata silaturahim yang sesungguhnya adalah seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya agar mendapatkan derajat yang besar di hadapan Allah Subhanahu wata’ala seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam “Demi Allah kalian tidak akan masuk surga kecuali sudah beriman dan tidak akan beriman secara sesungguhnya diantara kalian sehingga kalian saling mencintai”.

Saling mencintai itulah yang menghantarkan keindahan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala. Yang sering berziarah kesana kemari jika tidak menghadirkan makna cinta adalah pekerjaan sia-sia. Maka yang harus kita tekankan saat ini adalah ziarah yang kita lakukan secara lahir harus ada buahnya, yaitu bertemunya hati dan saling cinta, dan cinta ini mempunyai tanda, diantaranya kita mudah untuk memaafkan kesalahan saudara kita, ikut merasakan sakit yang mereka rasakan dan merasa senang atas kegembiraan mereka. Ini semua adalah makna yang akan hadir setelah ada makna cinta di dalam hati.

Sungguh dua orang sahabat yang saling berziarah, dua-duanya adalah orang yang berkhianat jika ternyata tidak ada cinta di dalam hatinya. Untuk menumbuhkan rasa cinta ini adalah disamping kita berziarah secara dzahir, harus disertai dengan berziarah secara batin.

Ziarah secara batin ini lebih penting daripada ziarah secara dzahir. Ziarah secara batin ini adalah saling mendoakan kepada sesama kita disaat sesama kita itu tidak ada di hadapan kita. Mendoakan kepada sesama kita dengan doa-doa yang baik biarpun untuk orang yang memusuhi kita, itulah hakikat silaturahim.

Seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Bukanlah menyambung persaudaraan itu adalah membalas kebaikan seseorang, akan tetapi yang dimaksud menyambung silaturahim itu adalah jika hubungannya diputus ia memulai untuk menyambungnya, jika dia didzalimi sabar dan memohon maaf terlebh dahulu”. Ini adalah makna silaturahim.

Maka dari itu marilah kita hadirkan makna doa, doa baik yang sesungguhnya dengan tulus kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk orang yang kita cintai dan orang-orang yang membenci dan mendengki kita sekalipun. Dengan inilah kebersihan hati akan segera kita rasakan dan akan terwujud hakikat silaturahim diantara kita.

Dengan hidup dalam kebersamaan dengan penuh kasih dan cinta tanpa dengki dan dendam. Begitu sebaliknya biarpun ziarah dzahir kita lakukan seribu kali dalam sehari tanpa diikuti dengan ziarah hati yang kami maksud maka tidaklah kita sampai kepada silaturahim yang sesungguhnya.

Wallahu A’lam Bishshowab.

KEPADA CALON PEMIMPIN


KEPADA CALON PEMIMPIN
Oase Iman : Buya Yahya

Anda yang berada dalam sebuah persaingan menuju sebuah kedudukan. Apakah anda sudah siap untuk mendapatkan kemenangan? Apakah anda sudah siap untuk berkuasa dan mengatur? Apakah anda sudah sadari bahwa disaat anda berkuasa, itu artinya anda berada pada suatu tempat yang anda amat leluasa untuk berbuat baik atau sebaliknya.

Satu keputusan yang anda ambil jika anda lintaskan kerinduan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan rasa takut kepada siksa Allah Subhanahu wata’ala, itu artinya anda berada pada satu kejayaan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala. Jika nyawa anda dicabut saat itu anda akan mati di jalan keridhaan Allah Subhanahu wata’ala dan jika anda masih diberi kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, maka anda akan hidup dalam pengabdian kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Begitu sebaliknya jika anda lintaskan rencana-rencana busuk, itu artinya anda menuju kehinaan dihadapan Allah Subhanahu wata’ala. Jika anda mati disaat itu, maka anda mati dalam menuju murka Allah Subhanahu wata’ala, dan jika anda diberi umur panjang, maka umur anda adalah bekal memperbesar amarah Allah Subhanahu wata’ala.

Oleh sebab itu, sebagai “tanda cinta” kami ingin mengajak anda untuk senantiasa merenungi kekuasaan yang anda cari. Jika dihari-hari yang lalu dan hari ini hati anda diliputi kerakusan pangkat dan kebusukan niat, maka tidak ada kata terlambat untuk merubah rencana dan niat. Anda bisa menjadi kekasih Allah Subhanahu wata’ala dengan pangkat yang disertai ketulusan anda kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ketahuilah bahwa kemenangan anda belum tentu ridho Allah Subhanahu wata’ala, akan tetapi ridha Allah Subhanahu wata’ala adalah keberuntungan biarpun anda kalah.

Langkah dan cara kotor adalah dosa sebelum anda berhasil meraih kekuasaan. Ketulusan dan cara yang benar adalah kemuliaan dan keberhasilan, biarpun anda dalam kekalahan. Jika anda adalah yang harus memimpin semoga anda menjadi pemimpin yang senantiasa dibimbing oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu A’lam Bishshowab

FITNAH KEMUNAFIKAN


FITNAH KEMUNAFIKAN
Oase Iman : Buya Yahya

Agama Islam adalah agama yang mengajari keindahan. Saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam merintis persatuan dan kebersamaan di dalam komunitas kaum muslimin. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menawarkan kepada orang-orang di luar Islam untuk hidup dengan tenang bersama kaum muslimin. Maka dibuatlah perjanjian dan kesepakatan untuk hidup berdampingan dengan agama yang berbeda-beda.

Bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, hal ini tidak menghawatirkan kaum muslimin, sebab keberadaan mereka sangat bisa dikenali dengan simbol-simbol keagamaan mereka dan pengakuan mereka dari semula yang berbeda dengan kaum muslimin, dan disaat terjadi pengkhianatan dari orang-orang di luar Islam tersebut akan dengan mudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membuat suatu peringatan atau teguran kepada mereka.

Akan tetapi akan menjadi rumit permasalahannya jika hal itu telah ada campur tangan orang-orang yang seolah mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan tetapi mereka lebih dekat dengan orang di luar Islam. Mereka itu adalah orang-orang munafik yang secara dzohir shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di siang hari akan tetapi jika malam tiba mereka berkumpul dengan orang-orang kafir.

Ada pertanda yang amat jelas pada orang-orang munafik tersebut, yaitu di saat umat Islam terlukai dan dibohongi mereka seolah-olah tidak tahu atau bahkan malah memancing di air keruh, Sehingga keberadaannya benar-benar bagai duri di dalam daging bagi muslimin.

Untuk memperkuat fitnah yang dihembuskan mereka akan membungkus kejahatan dengan berbagai sampul indah beraroma Islam namun di dalamnya adalah segala macam kebusukan. Diantara yang dijadikan pembungkus fitnah saat itu adalah masjid. Orang-orang munafik membangun masjid dengan tujuan memecah belah umat Islam. Pembangunan masjid itu dibantu oleh orang-orang diluar Islam (Yahudi saat itu) yang sangat dendam dengan kaum muslimin. Mereka dengan sangat mudah membantu orang-orang munafik untuk membangun masjid. Benar, dari masjid ini tersebar fitnah diantara kaum muslimin. Hal itu sangat dipahami oleh orang-orang pilihan seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat setia Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka dengan tegas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar menghancurkan masjid yang dibangun oleh orang munafik bersama orang yahudi itu. Itulah masjid Dhiror, masjid yang penuh fitnah yang membahayakan kaum muslimin.

Yang terjadi di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini akan terus terulang-ulang hingga ahli iman masuk surga dan orang munafik dan orang kafir masuk neraka. Di zaman ini pun tidak lepas dari orang-orang beriman yang senantiasa memperjuangkan agama Allah menghadapi orang-orang kafir. Begitu juga ada ahli fitnah yang berkedok Islam namun sepak terjangnya selalu merugikan kaum muslimin.

Ada sekelompok orang yang mereka itu keluar dari agama Islam karena mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi palsu tersebut mengatakan dengan tegas bahwa yang tidak beriman kepadanya adalah tergolong orang kafir dan belum bisa disebut sebagai orang Islam.

Disaat seperti ini orang-orang pilihan Allah akan segera paham akan kekafiran ini. Maka terlihat di wajah mereka kasih sayang kepada kaum muslimin. Tidak rela jika ada kaum muslimin yang terjerumus dalam akidah kafir ini. Maka mereka terus berusaha untuk menghentikan kekafiran agar tidak menjangkit kaum muslimin.

Akan tetapi disaat ini juga muncul orang-orang munafik yang disaat kaum muslimin dianiaya di beberapa wilayah Indonesia mereka tidak tergerak untuk menolong mereka. Akan tetapi disaat ada gerakan dari ahli Iman untuk menghentikan kebohongan orang kafir yang berkedok Islam itu, orang-orang munafik ini bangkit membela kebathilan dan menentang bahkan dengan terang-terangan mengadakan permusuhan kepada kaum muslimin demi membela kekafiran. Tidak beda ciri-ciri orang munafik ini dengan apa yang ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu membuat proyek fitnah yang berkedok Islam, hanya bentuknya saja yang berbeda.

Jika di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mereka membuat masjid fitnah, maka di zaman ini mereka membuat kelompok dan jaringan Islam yang penuh dengan fitnah, dan yang membiayai pun tidak beda dengan apa yang ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu musuh-musuh Islam.

Muatan jaringan dan perkumpulan ini adalah memfitnah dan merendahkan Islam yang dikemas dengan kajian-kajian keislaman. Bisa disaksikan, setiap yang bergabung dengan perkumpulan ini akan lebih senang membela orang di luar Islam daripada membela sesama orang Islam. Semoga Allah menjaga Iman kita semua. Aamiin yarabbal’alamin.

Wallahu A’lam Bishshowab

AGAR ANAK BERBAHAGIA


AGAR ANAK BERBAHAGIA

Anak adalah nikmat besar yang dikaruniakan Allah Subhanahu wata’ala kepada kita. Akan tetapi tidak semua dari kita mengerti bagaimana menjaga nikmat tersebut, menjaga akhlaq dan keimanan mereka adalah yang harus diutamakan. Itulah yang diharap dan diinginkan oleh anak yang tidak terucap oleh lidah mereka.

Orang tua cerdas dan bijak adalah orang yang senantiasa tahu apa yang diperlukan oleh anak-anaknya. Diantara hal yang diperlukan oleh anak tidak ada yang lebih penting dari keselamatannya kelak setelah kehidupan di alam dunia ini.

Jika ada orang tua yang begitu semangat menyekolahkan anaknya dipendidikan tinggi dengan harapan agar anaknya kelak mendapatkan pekerjaan yang layak dan menguntungkan dari segi materi atau ada orang tua yang membekali anaknya modal besar agar bisa mandiri dan makmur dalam kehidupannya di dunia ini. Sungguh ia adalah orang tua yang cerdas, senantiasa berpikir akan masa depan sang anak. Akan tetapi orang tua tersebut akan menjadi tidak bijak lagi jika ternyata melupakan masa depan yang lebih lama lagi yaitu kehidupan abadi setelah kehidupan di dunia ini.

Ada masa depan nanti di alam Barzakh yang tidak hanya enam puluh atau seratus tahun akan tetapi ribuan tahun. Bersama penantian itu sang anak akan menuai apa yang diperbuat saat di dunia dulu. kemudian setelah kehidupan alam Barzakh akan dilanjutkan menuju kebahagiaan yang hakiki atau kesengsaraan yang hakiki di surga atau neraka.

Tidak ada yang rela jika anaknya disiksa di alam Barzakh dan di akhirat nanti. Disiksa karena orang tua tidak pernah memikirkan masa depan mereka setelah kehidupan ini. Disiksa karena orang tua telah tidak memikirkan bekal anak-anaknya di kehidupan akherat setelah kehidupan di dunia ini.

Kita mungkin akan mudah tanggap jika anak kita gagal dalam ujian akhir di sekolah atau universitas atau gagal dalam sebuah usaha dagangnya. Akan tetapi kenapa kita tidak mudah tanggap dengan anak kita yang malas melakukan shalat atau mulaimelakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala? Sungguh bahasa cinta adalah amat indah dan akan menghadirkan keindahan

Cinta yang sesungguhnya kepada anak akan diterjemahkan dengan kepedulian terhadap masa depan anak. Tidak ada masa depan yang sesungguhnya selain masa depan di akhirat yang abadi. Bukan cinta yang sesungguhnya bagi orang tua yang hanya ingin membahagiakan anaknya selama enam puluh tahun sepanjang hidupnya di dunia lalu melupakan kehidupan yang lebih lama setelah di dunia ini.

Yang berani membiayai sekolah anaknya untuk mencari ilmu dunia dengan biaya mahal tentu akan rela membiayai anaknya untuk mengambil bekal di akhirat dengan biaya yang lebih mahal. Jika masih ragu untuk yang demikian itu maka sangat diragukan kecintaan orang tua tersebut terhadap anaknya bahkan sangat mungkin diragukan keimanannya kepada kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.

Dan tidak sampai disini, orang tua yang lalai memikirkan kebahagian anaknya kelak di akhirat akan menemukan kesengsaraan yang amat sangat seperti yang pernah dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kisah seorang ahli ibadah yang hendak menuju ke surga akan tetapi tiba-tiba ada yang menyeru dari dasar neraka jahannam menginginkan agar orang yang hendak masuk surga itu di masukkan ke neraka bersamanya

Melihat kejadian seperti ini, Malaikat menghadap kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan Malaikat agar menggiring orang tersebut ke neraka. Ia adalah orang tua yang ahli ibadah, ahli sedekah dan ahli kebaikan akan tetapi telah membiarkan sang anak tanpa ada bimbingan agar semakin dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan tanpa pembekalan untuk di akhirat. Maka disebabkan keteledorannya dalam mempersiapkan masa depan anaknya di akhirat maka ia pun ikut rugi bersama sang anak di neraka jahannam. Wallahu a’lam Bish-Showab

 

SEORANG HAMBA NAMUN TERAMAT MULIA

SEORANG HAMBA NAMUN TERAMAT MULIA

SEORANG HAMBA NAMUN TERAMAT MULIA
Oase Iman Buya Yahya

Satu ayat Al-Quran bercerita tentang Isro’nya Rasulullah SAW, dan ketika itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW itu adalah seorang hamba “bi’abdihi”. Begitu juga tentang Mi’raj nya Rasulullah SAW beliau sendiri bercerita dengan ungkapan hamba “faauha ila abdihi”.

Sebuah ungkapan pendidikan iman kepada Allah SWT Sang Pencipta dan iman kepada Rasulullah SAW yang seorang hamba namun amat dicintai dan dimulyakan oleh Allah SWT. Pendidikan iman yang amat halus dan cermat. Ungkapan yang mengingatkan kita kepada keberadaan Rasulullah SAW yang sebenarnya yaitu seorang hamba pilihan.

Makna yang tersirat dalam ungkapan indah itu adalah: Rasulullah SAW menjalani Isra dan Mi’raj. Setinggi apapun Rasulullah meniti perjalanan Mi’raj, dan semulia apapun tempat yang beliau kunjungi, akan tetapi tetaplah Rasulullah SAW adalah seorang hamba yang tidak akan berubah menjadi selain hamba Allah SWT. Itulah Rasulllah SAW yang dalam pengalaman istimewa ini Allah SWT dengan sengaja menggelarinya sebagai hamba.

Ini sangat sesuai dengan apa yang pernah diperingatkan oleh Rasulullah SAW “laatuhhruuni kamaa athratinnasooro ‹Iisaa ibna Maryama” (artinya : Jangan engkau kultuskan aku seperti orang nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam). Pendidikan dari Rasulullah SAW agar kita tidak menyanjung berlebihan kepada Rasulullah SAW seperti yang dilakukan kaum nasrani dalam menyanjung Nabi Isa AS. Yaitu dengan menyanjung dan mengangkat Nabi Isa hingga sampai derajat ketuhanan.

Artinya Rasulullah SAW biarpun telah melampaui tempat mulya Sidratul Muntaha akan tetapi beliau tetaplah hamba Alah SWT. Hamba Allah SWT saat di bumi dan hamba Allah SWT saat di atas langit. Dan sungguh gelar hamba itulah gelar yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW.

Makna lain yang bisa dimengerti adalah : Rasulullah SAW biarpun seorang hamba akan tetapi beliau telah diagungkan dan dimuliakan oleh Sang Pencipta, Allah SWT. Dan kita pun diperintahkan untuk memuliakannya. Allah SWT sangat menganjurkan kita agar menyanjung makhluk paling agung dan mulia ini dalam kesehari-harian kita. Sanjungan ini tidak ada batasnya. Kita boleh mengagungkan dan memuliakan Rasulullah SAW dengan pengagungan sepuas hati kita. Sebab semua kemuliaan dan keagungan yang ada pada semua makhluk Allah SWT adalah di bawah kemuliaan dan keagungan yang ada pada Rasulullah SAW. Kita boleh mengangkat Rasulullah SAW setinggi-tingginya karena hanya beliaulah yang mencapai pangkat dan tempat tertinggi. Akan tetapi dengan catatan jangan sampai kita mencabut sifat “kehambaan” dari Rasulullah SAW.

Suatu kepincangan dalam keimanan adalah yang mempercayai Rasulullah SAW sebagai seorang hamba yang diangkat tinggi-tinggi oleh Allah SWT dalam tempat dan pangkat akan tetapi begitu keberatan jika ada sanjungan diberikan kepada Rasulullah SAW. Begitu juga suatu pemusnahan terhadap iman adalah menyanjung Rasulullah SAW dengan sanjungan yang menghilangkan sifat kehambaan Rasulullah SAW. Wallahu a’lam Bish-Showab.

TIPS MEMILIH CALON PEMIMPIN

TIPS MEMILIH CALON PEMIMPIN

TIPS MEMILIH CALON PEMIMPIN
(Oase Iman Buya Yahya)

Wahai saudaraku, Anda di ambang pemilihan calon pemimpin. Tidak ada yang menyelamatkan Anda dari fitnah kecuali jika Anda menjalani proses pemilihan ini dengan penuh kerinduan kepada Allah SWT dan merasakan sebuah tanggung jawab besar dihadapan Allah SWT.

Jangan memilih siapapun kecuali terbetik di hati Anda makna kejayaan Islam dan umat Islam di bawah pengayoman pemimpin yang Anda pilih, sekaligus sadari bahwa peran hati sangatlah menentukan pilihan Anda. Hati inilah yang akan menumbuhkan amanat dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Amanah yang ada di pundak Anda adalah amat besar. Sekali Anda memilih seorang calon sementara Anda sadar secara lahir ada tanda-tanda ketidakbaikan padanya dan Anda pun tetap memilihnya. Apalagi jika pilihan Anda berangkat dari kepentingan Anda pribadi atau imbalan materi.

Jika ternyata pemimpin itu adalah benar-benar pemimpin yang culas, korup dan berkhianat kepada Allah SWT dan agama Allah SWT, maka Anda adalah salah satu orang yang mempunyai saham dalam dosa-dosa bersama pemimpin tersebut. Setiap dosa yang dilakukan pemimpin tersebut jika dilakukan atas dasar kepemimpinan yang Anda berikan kepadanya adalah tabungan dosa buat Anda yang telah memilihnya. Menjaga amanat yang dibebankan kepada Anda adalah kejernihan pikir dan hati Anda disaat memilih dengan tidak terpengaruh oleh rupiah, hadiah dan janji jabatan yang di berikan kepada Anda atau hubungan persaudaraan atau organisasi dan partai. Hadirkan dihati Anda kejayaan Islam dan umat Islam di saat hendak memilih. Jauhkan kepentingan-kepentingan yang tidak karena Allah SWT.

Jadikan lima hal untuk bekal hati dalam memilih :

Pertama : Niat yang mulia yang dibarengi shalat hajat, istikhoroh dan permohonan kepada Allah SWT.

Kedua : Tentang kedekatan calon pemimpin kepada Allah SWT.

Ketiga : Kedekatan calon dengan hamba-hamba Allah SWT, dalam arti telah terbukti dalam hidupnya ada perjuangan untuk umat agar semakin dekat kepada Allah SWT.

Keempat : Siapa saja yang berada di sekitar calon tersebut. Pemimpin yang baik jika yang menemaninya adalah orang yang tidak takut kepada Allah SWT, maka amat sulit baginya untuk menegakkan sebuah kebenaran atau menghentikan kemungkaran.

Kelima : Tawakkal, berserah kepada Allah SWT yang Maha Memberi petunjuk dan bimbingan.

Wallahu a’lam bissawab.

ISRA MI’RAJ UNTUK KEINDAHAN

ISRA MI’RAJ UNTUK KEINDAHAN
Oase Iman: Buya Yahya

Diantara saat teramat indah yang dilalui oleh Rasulullah SAW adalah saat Isra Mi’raj, saat Rasulullah SAW berdialog khusus dengan Allah SWT. Sebuah kejadian yang tidak bisa disifati oleh siapa pun kecuali oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW melihat Allah SWT, Dzat yang tidak menyerupai apa dan siapapun. Sehingga cara melihatnya pun bukan urusan akal untuk memikirkanya, akan tetapi itu urusan hati untuk mengimaninya. Yang jelas hal itu pernah terjadi pada Rasulullah SAW dan yang pasti Rasulullah SAW melihat dengan mata hatinya.

Dimulai dari kebingungan Rasulullah SAW untuk bersalam kepada Allah SWT, hingga Allah SWT mewahyukan salam yang tepat dari hamba untuk-Nya yaitu “Attahiyyatul mubarokatush sholawaatuth thoyyibaatu lillah” (salam sejahtera yang penuh barokah dan salam sejahtera yang amat baik adalah milik Allah SWT). Saat itu pun Allah menjawab “Assalamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarokatuh” (Salam sejahtera, barokah dan rahmat Allah dilimpahkan kepadamu wahai Nabi Muhammad SAW). Kemudian salam itu diabadikan dalam perintah shalat yang dibawa oleh Rasulullah SAW dari perjalanan Isra Mi’raj.

Pesan yang bisa dibaca dari bacaan tasyahud ini adalah seorang hamba yang melakukan shalat sebenarnya adalah melakukan perjalanan menuju Allah SWT dengan berbekal diri dengan 3 bentuk kebaikan. Yang pertama: adalah hubungan baik dengan Allah SWT. Kedua: hubungan baik dengan Rasulullah SAW. Ketiga: hubungan baik dengan sesama manusia.

Seorang hamba yang benar-benar menghadap kepada Allah SWT dan berusaha menjalin hubungan baik kepada Allah SWT ternyata tidak cukup, akan tetapi ia harus menjalin hubungan baik kepada Rasulullah SAW.

Digambarkan dalam tasyahud tersebut seorang hamba yang menghadap kepada Allah SWT di dalam shalat ia harus mengucapkan salam kepada Rasulillah SAW untuk keabsahan sebuah penghambaan dan penghadapan.

Shalat yang merupakan ibadah yang digambarkan sebagai penghadapan khusus seorang hamba kepada Allah SWT akan tetapi justru disaat lagi khusuk-khusuknya kepada Allah SWT, seorang hamba harus mengingat makhluk agung Rasulullah SAW di dalam shalatnya. “Ya Rasulullah SAW alangkah agungnya dirimu disaat kami menghadap Penciptamu ternyata penghadapan kami pun tidak dianggap benar jika kami tidak mengingatmu”. Ternyata tidak cukup hanya mengingat akan tetapi harus mengucapkan salam dengan salam yang seolah-olah berdialog langsung dengan Rasulullah SAW.

Artinya sebanyak apapun seseorang beribadah kepada Allah SWT dengan sujud puasa dan haji yang tidak terhitung ternyata tidak ada maknanya jika tidak diiringi makna kecintaan kepada Rasulullah SAW dan banyak membaca shalawat untuknya.

Pesan selanjutnya, yang sudah baik kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW saja ternyata belum dianggap benar seperti yang digambarkan dalam bacaan tasyahud. Yaitu jika seorang hamba dalam shalatnya berhenti pada salam kepada Rasulullah SAW dan tidak melanjutkannya maka penghadapannya kepada Allah SWT ini pun tidak dianggap sah.

Maka demi kesempurnaan shalatnya seorang hamba harus mengucapkan “Assalamu alaina wa’ala ’ibadillahish sholihin” (Kesejahteraan semoga terlimpah kepada kami semua hamba Allah SWT dan hamba-hambaNya yang sholih). Maknanya ini adalah sebuah upaya menciptakan keindahan kepada sesama yang diikrarkan oleh seorang hamba disaat seorang hamba lagi khusuk menghadap kepada Allah SWT. Hal itu menunjukkan begitu besarnya kewajiban kita kepada sesama manusia. Sehingga belum dianggap baik seorang hamba yang banyak shalat, puasa dan membaca sholawat kepada Rasulullah SAW jika belum bisa menjalin hubungan baik kepada orang tua, saudara, tetangga dan masyarakatnya.

Kemudian disaat kita hendak keluar dari shalatpun kita harus mengucapkan kalimat “Assalamualaikum” dan bukan dzikir-dzikir yang lainya, seperti Laailaaha illallah dan Subhanallah. Itu artinya kita diingatkan kembali bahwa setelah kita shalat kita akan berhadapan dengan sesama kita. Sudahkah kita siap untuk menjalin keindahan dengan sesama tanpa dusta, gunjingan, aniaya dan perbuatan yang merugikan orang lain?

Itulah pendidikan keindahan yang bisa dipetik dari makna shalat dan kisah Isro Mi’raj, yaitu pendidikan keindahan yang sesungguhnya indah kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan sesama manusia. Sungguh benar orang yang telah shalat dengan benar akan terhindar dari kekejian dan kemungkaran. Wallahu a’lam Bish-Showab.

SEORANG HAMBA, NAMUN TERAMAT MULIA

SEORANG HAMBA, NAMUN TERAMAT MULIA

SEORANG HAMBA, NAMUN TERAMAT MULIA
(Oase Iman Buya Yahya)

Satu ayat Al-Quran bercerita tentang “Isro’”nya Rasulullah SAW, dan ketika itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW itu adalah seorang hamba “bi ‘abdihi”. Begitu juga tentang “Mi’raj”nya Rasulullah SAW beliau sendiri bercerita dengan ungkapan hamba “faauha ila abdihi”.

Sebuah ungkapan pendidikan iman kepada Allah SWT Sang Pencipta dan iman kepada Rasulullah SAW yang seorang hamba namun amat dicintai dan dimulyakan oleh Allah SWT. Pendidikan iman yang amat halus dan cermat. Ungkapan yang mengingatkan kita kepada keberadaan Rasulullah SAW yang sebenarnya yaitu seorang hamba pilihan.

Makna yang tersirat dalam ungkapan indah itu adalah ; Rasulullah SAW menjalani Isra dan Mi’raj. Setinggi apapun Rasulullah meniti perjalanan Mi’raj, dan semulia apapun tempat yang beliau kunjungi, akan tetapi tetaplah Rasulullah SAW adalah seorang hamba yang tidak akan berubah menjadi selain hamba Allah SWT. Itulah Rasulllah SAW yang dalam pengalaman istimewa ini Allah SWT dengan sengaja menggelarinya sebagai ‘hamba’.

Ini sangat sesuai dengan apa yang pernah diperingatkan oleh Rasulullah SAW “laatuhhruuni kamaa athratinnasooro ‘Iisaa ibna Maryama” (artinya : Jangan engkau kultuskan aku seperti orang nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam). Pendidikan dari Rasulullah SAW agar kita tidak menyanjung berlebihan kepada Rasulullah SAW seperti yang dilakukan kaum nasrani dalam menyanjung Nabi Isa AS. Yaitu dengan menyanjung dan mengangkat Nabi Isa hingga sampai derajat ketuhanan.

Artinya Rasulullah SAW biarpun telah melampaui tempat mulya Sidratul Muntaha akan tetapi beliau tetaplah hamba Alah SWT. Hamba Allah SWT saat di bumi dan hamba Allah SWT saat di atas langit. Dan sungguh gelar hamba itulah gelar yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW.

Makna lain yang bisa dimengerti adalah : Rasulullah SAW biarpun seorang hamba akan tetapi beliau telah diagungkan dan dimuliakan oleh Sang Pencipta, Allah SWT. Dan kita pun diperintahkan untuk memuliakannya. Allah SWT sangat menganjurkan kita agar menyanjung makhluk paling agung dan mulia ini dalam kesehari-harian kita. Sanjungan ini tidak ada batasnya. Kita boleh mengagungkan dan memuliakan Rasulullah SAW dengan pengagungan sepuas hati kita. Sebab semua kemuliaan dan keagungan yang ada pada semua makhluq Allah SWT adalah di bawah kemuliaan dan keagungan yang ada pada Rasulullah SAW. Kita boleh mengangkat Rasulullah SAW setinggi-tingginya karena hanya beliaulah yang mencapai pangkat dan tempat tertinggi. Akan tetapi dengan catatan jangan sampai kita mencabut sifat “kehambaan” dari Rasulullah SAW.

Suatu kepincangan dalam keimanan adalah yang mempercayai Rasulullah SAW sebagai seorang hamba yang diangkat tinggi-tinggi oleh Allah SWT dalam tempat dan pangkat akan tetapi begitu keberatan jika ada sanjungan diberikan kepada Rasulullah SAW. Begitu juga suatu pemusnahan terhadap iman adalah menyanjung Rasulullah SAW dengan sanjungan yang menghilangkan sifat kehambaan Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bishshowab.

RABIUL AWAL, BULAN RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM

RABIUL AWAL, BULAN RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM

RABIUL AWAL, BULAN RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM
Oase Iman Buya Yahya

Allah SWT menjelaskan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang bercerita tentang nabi-nabi terdahulu. Inilah yang diajarkan oleh Allah agar kita senantiasa membaca dan mengambil hikmah di balik cerita Nabi-Nabi terdahulu. Memang cerita orang-orang besar sungguh sangat mempengaruhi jiwa seseorang yang membacanya khususnya kepada anak-anak. Jika cerita tersebut adalah cerita perjuangan maka hal itu akan mengilhami semangat perjuangan sehingga ia akan rindu untuk menjadi sosok pejuang. Jika cerita tersebut adalah tentang moral maka ia akan banyak mengetahui tentang moral dan bagaimana menjadi manusia berakhlak. Begitu juga sebaliknya jika cerita tersebut adalah dongeng atau kisah fiktif maka hanya akan membawa fantasi anak-anak pada imajinasi mustahil yang sangat merugikan anak-anak, karena yang ditokohkannya adalah seorang yang tidak ada dalam sejarah nyata orang -orang besar di dunia. Atau jika cerita yang dibaca adalah kebejatan dan kekotoran budi pakerti, maka akan mudah ia terbawa kepada kehancuran moral.

Apabila kita membaca sejarah orang-orang besar dunia, maka sepanjang sejarah yang terbesar sampai akhir zaman adalah sejarah yang terbesar dan termulia, cerita Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah orang paling agung dan paling mulia yang terlahir sebagai Nabi Akhir Zaman yang merupakan Rahmat dari Allah bagi seluruh alam.

Bulan Rob’iul Awal adalah bulan kelahiran nabi rahmat bagi semesta alam, maka secara otomatis bulan Rabiul Awal adalah bulan termulia dan bulan rahmat bagi alam semesta, bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Maka sungguh sangat tepat jika kita jadikan bulan tersebut sebagai momen untuk menghantarkan anak-anak, keluarga dan sahabat untuk semakin dekat, kenal dan cinta kepada Nabi Muhammad SAW dengan membuat gebyar peringatan dan pengagungan kepada Nabi Muhammad SAW. Peringatan yang menampilkan dengan mengadakan acara yang menampilkan gebyar dan syi’ar agama Islam yang dibawanya. Kita perkenalkan kepada mereka sejarah Nabi Muhammad SAW dari yang sangat sederhana hingga sejarah lengkapnya. Kita tanamkan dalam hati kita, dalam hati mereka bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW adalah yang akan menghantarkan kita untuk bersamanya di dunia dan di akhirat dalam ridho Allah SWT. Sebab tidak ada kecintaan dan ridho Allah kecuali harus dimulai dari cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Sungguh alangkah indahnya jika sepanjang hidup kita senantiasa kita hiasi / kita warnai dengan membaca, mendengar dan merenungi kisah teladannya. Setiap tahun, setiap bulan, setiap minggu, setiap hari, bahkan setiap saat dalam waktu yang tidak berbatas, hendaknya kita jangan pernah bosan untuk membaca dan merenungi sejarah Nabi Muhammad SAW, agar terpercik di hati kita makna kerinduan dan kecintaan kepadanya yang akan membuahkan kebersamaan dengannya kelak di surga Allah SWT.

Renungkanlah! Kesalahan terbesar kita adalah kurang perhatian kita kepada keluarga dan anak-anak dalam mengenalkan figur yang menjadi panutan. Karena figur amat mempengaruhi perilaku seseorang khususnya anak-anak. Demoralisasi yang terjadi tidak terlepas dari pengaruh pendidikan, pergaulan dan siapa tokoh yang ditokohkannya. Sebelum anak-anak mencari figur dalam hidupnya, maka semestinyalah orang tua, guru dan pembimbing berusaha mencarikannya figur panutan anak-anaknya sebelum anak-anak tersebut memilih figur yang salah dalam hidupnya. Maka mentradisikan membaca sejarah Nabi Muhammad SAW adalah keharusan di tengah keluarga kita, supaya mereka semakin cinta kepada Nabi Muhammad SAW dan menjadikannya sebagai figur istimewa yang diteladaninya. Beraneka ragam gebyar yang dilakukan oleh ummat Nabi Muhamad SAW mulai dari peringatan Maulid Nabi, festival, sejarah nabi, lomba puisi untuk Rasulullah SAW dan lain sebagainya, dan apa yang ada di dalamnya menjadi upaya dalam menumbuh suburkan cinta masyarakat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sosok Rahmatan lil ‘Alamin.

Wallahu A’lam Bishshowab.