SEORANG HAMBA NAMUN TERAMAT MULIA

SEORANG HAMBA NAMUN TERAMAT MULIA

SEORANG HAMBA NAMUN TERAMAT MULIA
Oase Iman Buya Yahya

Satu ayat Al-Quran bercerita tentang Isro’nya Rasulullah SAW, dan ketika itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW itu adalah seorang hamba “bi’abdihi”. Begitu juga tentang Mi’raj nya Rasulullah SAW beliau sendiri bercerita dengan ungkapan hamba “faauha ila abdihi”.

Sebuah ungkapan pendidikan iman kepada Allah SWT Sang Pencipta dan iman kepada Rasulullah SAW yang seorang hamba namun amat dicintai dan dimulyakan oleh Allah SWT. Pendidikan iman yang amat halus dan cermat. Ungkapan yang mengingatkan kita kepada keberadaan Rasulullah SAW yang sebenarnya yaitu seorang hamba pilihan.

Makna yang tersirat dalam ungkapan indah itu adalah: Rasulullah SAW menjalani Isra dan Mi’raj. Setinggi apapun Rasulullah meniti perjalanan Mi’raj, dan semulia apapun tempat yang beliau kunjungi, akan tetapi tetaplah Rasulullah SAW adalah seorang hamba yang tidak akan berubah menjadi selain hamba Allah SWT. Itulah Rasulllah SAW yang dalam pengalaman istimewa ini Allah SWT dengan sengaja menggelarinya sebagai hamba.

Ini sangat sesuai dengan apa yang pernah diperingatkan oleh Rasulullah SAW “laatuhhruuni kamaa athratinnasooro ‹Iisaa ibna Maryama” (artinya : Jangan engkau kultuskan aku seperti orang nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam). Pendidikan dari Rasulullah SAW agar kita tidak menyanjung berlebihan kepada Rasulullah SAW seperti yang dilakukan kaum nasrani dalam menyanjung Nabi Isa AS. Yaitu dengan menyanjung dan mengangkat Nabi Isa hingga sampai derajat ketuhanan.

Artinya Rasulullah SAW biarpun telah melampaui tempat mulya Sidratul Muntaha akan tetapi beliau tetaplah hamba Alah SWT. Hamba Allah SWT saat di bumi dan hamba Allah SWT saat di atas langit. Dan sungguh gelar hamba itulah gelar yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW.

Makna lain yang bisa dimengerti adalah : Rasulullah SAW biarpun seorang hamba akan tetapi beliau telah diagungkan dan dimuliakan oleh Sang Pencipta, Allah SWT. Dan kita pun diperintahkan untuk memuliakannya. Allah SWT sangat menganjurkan kita agar menyanjung makhluk paling agung dan mulia ini dalam kesehari-harian kita. Sanjungan ini tidak ada batasnya. Kita boleh mengagungkan dan memuliakan Rasulullah SAW dengan pengagungan sepuas hati kita. Sebab semua kemuliaan dan keagungan yang ada pada semua makhluk Allah SWT adalah di bawah kemuliaan dan keagungan yang ada pada Rasulullah SAW. Kita boleh mengangkat Rasulullah SAW setinggi-tingginya karena hanya beliaulah yang mencapai pangkat dan tempat tertinggi. Akan tetapi dengan catatan jangan sampai kita mencabut sifat “kehambaan” dari Rasulullah SAW.

Suatu kepincangan dalam keimanan adalah yang mempercayai Rasulullah SAW sebagai seorang hamba yang diangkat tinggi-tinggi oleh Allah SWT dalam tempat dan pangkat akan tetapi begitu keberatan jika ada sanjungan diberikan kepada Rasulullah SAW. Begitu juga suatu pemusnahan terhadap iman adalah menyanjung Rasulullah SAW dengan sanjungan yang menghilangkan sifat kehambaan Rasulullah SAW. Wallahu a’lam Bish-Showab.

TIPS MEMILIH CALON PEMIMPIN

TIPS MEMILIH CALON PEMIMPIN

TIPS MEMILIH CALON PEMIMPIN
(Oase Iman Buya Yahya)

Wahai saudaraku, Anda di ambang pemilihan calon pemimpin. Tidak ada yang menyelamatkan Anda dari fitnah kecuali jika Anda menjalani proses pemilihan ini dengan penuh kerinduan kepada Allah SWT dan merasakan sebuah tanggung jawab besar dihadapan Allah SWT.

Jangan memilih siapapun kecuali terbetik di hati Anda makna kejayaan Islam dan umat Islam di bawah pengayoman pemimpin yang Anda pilih, sekaligus sadari bahwa peran hati sangatlah menentukan pilihan Anda. Hati inilah yang akan menumbuhkan amanat dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Amanah yang ada di pundak Anda adalah amat besar. Sekali Anda memilih seorang calon sementara Anda sadar secara lahir ada tanda-tanda ketidakbaikan padanya dan Anda pun tetap memilihnya. Apalagi jika pilihan Anda berangkat dari kepentingan Anda pribadi atau imbalan materi.

Jika ternyata pemimpin itu adalah benar-benar pemimpin yang culas, korup dan berkhianat kepada Allah SWT dan agama Allah SWT, maka Anda adalah salah satu orang yang mempunyai saham dalam dosa-dosa bersama pemimpin tersebut. Setiap dosa yang dilakukan pemimpin tersebut jika dilakukan atas dasar kepemimpinan yang Anda berikan kepadanya adalah tabungan dosa buat Anda yang telah memilihnya. Menjaga amanat yang dibebankan kepada Anda adalah kejernihan pikir dan hati Anda disaat memilih dengan tidak terpengaruh oleh rupiah, hadiah dan janji jabatan yang di berikan kepada Anda atau hubungan persaudaraan atau organisasi dan partai. Hadirkan dihati Anda kejayaan Islam dan umat Islam di saat hendak memilih. Jauhkan kepentingan-kepentingan yang tidak karena Allah SWT.

Jadikan lima hal untuk bekal hati dalam memilih :

Pertama : Niat yang mulia yang dibarengi shalat hajat, istikhoroh dan permohonan kepada Allah SWT.

Kedua : Tentang kedekatan calon pemimpin kepada Allah SWT.

Ketiga : Kedekatan calon dengan hamba-hamba Allah SWT, dalam arti telah terbukti dalam hidupnya ada perjuangan untuk umat agar semakin dekat kepada Allah SWT.

Keempat : Siapa saja yang berada di sekitar calon tersebut. Pemimpin yang baik jika yang menemaninya adalah orang yang tidak takut kepada Allah SWT, maka amat sulit baginya untuk menegakkan sebuah kebenaran atau menghentikan kemungkaran.

Kelima : Tawakkal, berserah kepada Allah SWT yang Maha Memberi petunjuk dan bimbingan.

Wallahu a’lam bissawab.

ISRA MI’RAJ UNTUK KEINDAHAN

ISRA MI’RAJ UNTUK KEINDAHAN
Oase Iman: Buya Yahya

Diantara saat teramat indah yang dilalui oleh Rasulullah SAW adalah saat Isra Mi’raj, saat Rasulullah SAW berdialog khusus dengan Allah SWT. Sebuah kejadian yang tidak bisa disifati oleh siapa pun kecuali oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW melihat Allah SWT, Dzat yang tidak menyerupai apa dan siapapun. Sehingga cara melihatnya pun bukan urusan akal untuk memikirkanya, akan tetapi itu urusan hati untuk mengimaninya. Yang jelas hal itu pernah terjadi pada Rasulullah SAW dan yang pasti Rasulullah SAW melihat dengan mata hatinya.

Dimulai dari kebingungan Rasulullah SAW untuk bersalam kepada Allah SWT, hingga Allah SWT mewahyukan salam yang tepat dari hamba untuk-Nya yaitu “Attahiyyatul mubarokatush sholawaatuth thoyyibaatu lillah” (salam sejahtera yang penuh barokah dan salam sejahtera yang amat baik adalah milik Allah SWT). Saat itu pun Allah menjawab “Assalamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarokatuh” (Salam sejahtera, barokah dan rahmat Allah dilimpahkan kepadamu wahai Nabi Muhammad SAW). Kemudian salam itu diabadikan dalam perintah shalat yang dibawa oleh Rasulullah SAW dari perjalanan Isra Mi’raj.

Pesan yang bisa dibaca dari bacaan tasyahud ini adalah seorang hamba yang melakukan shalat sebenarnya adalah melakukan perjalanan menuju Allah SWT dengan berbekal diri dengan 3 bentuk kebaikan. Yang pertama: adalah hubungan baik dengan Allah SWT. Kedua: hubungan baik dengan Rasulullah SAW. Ketiga: hubungan baik dengan sesama manusia.

Seorang hamba yang benar-benar menghadap kepada Allah SWT dan berusaha menjalin hubungan baik kepada Allah SWT ternyata tidak cukup, akan tetapi ia harus menjalin hubungan baik kepada Rasulullah SAW.

Digambarkan dalam tasyahud tersebut seorang hamba yang menghadap kepada Allah SWT di dalam shalat ia harus mengucapkan salam kepada Rasulillah SAW untuk keabsahan sebuah penghambaan dan penghadapan.

Shalat yang merupakan ibadah yang digambarkan sebagai penghadapan khusus seorang hamba kepada Allah SWT akan tetapi justru disaat lagi khusuk-khusuknya kepada Allah SWT, seorang hamba harus mengingat makhluk agung Rasulullah SAW di dalam shalatnya. “Ya Rasulullah SAW alangkah agungnya dirimu disaat kami menghadap Penciptamu ternyata penghadapan kami pun tidak dianggap benar jika kami tidak mengingatmu”. Ternyata tidak cukup hanya mengingat akan tetapi harus mengucapkan salam dengan salam yang seolah-olah berdialog langsung dengan Rasulullah SAW.

Artinya sebanyak apapun seseorang beribadah kepada Allah SWT dengan sujud puasa dan haji yang tidak terhitung ternyata tidak ada maknanya jika tidak diiringi makna kecintaan kepada Rasulullah SAW dan banyak membaca shalawat untuknya.

Pesan selanjutnya, yang sudah baik kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW saja ternyata belum dianggap benar seperti yang digambarkan dalam bacaan tasyahud. Yaitu jika seorang hamba dalam shalatnya berhenti pada salam kepada Rasulullah SAW dan tidak melanjutkannya maka penghadapannya kepada Allah SWT ini pun tidak dianggap sah.

Maka demi kesempurnaan shalatnya seorang hamba harus mengucapkan “Assalamu alaina wa’ala ’ibadillahish sholihin” (Kesejahteraan semoga terlimpah kepada kami semua hamba Allah SWT dan hamba-hambaNya yang sholih). Maknanya ini adalah sebuah upaya menciptakan keindahan kepada sesama yang diikrarkan oleh seorang hamba disaat seorang hamba lagi khusuk menghadap kepada Allah SWT. Hal itu menunjukkan begitu besarnya kewajiban kita kepada sesama manusia. Sehingga belum dianggap baik seorang hamba yang banyak shalat, puasa dan membaca sholawat kepada Rasulullah SAW jika belum bisa menjalin hubungan baik kepada orang tua, saudara, tetangga dan masyarakatnya.

Kemudian disaat kita hendak keluar dari shalatpun kita harus mengucapkan kalimat “Assalamualaikum” dan bukan dzikir-dzikir yang lainya, seperti Laailaaha illallah dan Subhanallah. Itu artinya kita diingatkan kembali bahwa setelah kita shalat kita akan berhadapan dengan sesama kita. Sudahkah kita siap untuk menjalin keindahan dengan sesama tanpa dusta, gunjingan, aniaya dan perbuatan yang merugikan orang lain?

Itulah pendidikan keindahan yang bisa dipetik dari makna shalat dan kisah Isro Mi’raj, yaitu pendidikan keindahan yang sesungguhnya indah kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan sesama manusia. Sungguh benar orang yang telah shalat dengan benar akan terhindar dari kekejian dan kemungkaran. Wallahu a’lam Bish-Showab.

SEORANG HAMBA, NAMUN TERAMAT MULIA

SEORANG HAMBA, NAMUN TERAMAT MULIA

SEORANG HAMBA, NAMUN TERAMAT MULIA
(Oase Iman Buya Yahya)

Satu ayat Al-Quran bercerita tentang “Isro’”nya Rasulullah SAW, dan ketika itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW itu adalah seorang hamba “bi ‘abdihi”. Begitu juga tentang “Mi’raj”nya Rasulullah SAW beliau sendiri bercerita dengan ungkapan hamba “faauha ila abdihi”.

Sebuah ungkapan pendidikan iman kepada Allah SWT Sang Pencipta dan iman kepada Rasulullah SAW yang seorang hamba namun amat dicintai dan dimulyakan oleh Allah SWT. Pendidikan iman yang amat halus dan cermat. Ungkapan yang mengingatkan kita kepada keberadaan Rasulullah SAW yang sebenarnya yaitu seorang hamba pilihan.

Makna yang tersirat dalam ungkapan indah itu adalah ; Rasulullah SAW menjalani Isra dan Mi’raj. Setinggi apapun Rasulullah meniti perjalanan Mi’raj, dan semulia apapun tempat yang beliau kunjungi, akan tetapi tetaplah Rasulullah SAW adalah seorang hamba yang tidak akan berubah menjadi selain hamba Allah SWT. Itulah Rasulllah SAW yang dalam pengalaman istimewa ini Allah SWT dengan sengaja menggelarinya sebagai ‘hamba’.

Ini sangat sesuai dengan apa yang pernah diperingatkan oleh Rasulullah SAW “laatuhhruuni kamaa athratinnasooro ‘Iisaa ibna Maryama” (artinya : Jangan engkau kultuskan aku seperti orang nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam). Pendidikan dari Rasulullah SAW agar kita tidak menyanjung berlebihan kepada Rasulullah SAW seperti yang dilakukan kaum nasrani dalam menyanjung Nabi Isa AS. Yaitu dengan menyanjung dan mengangkat Nabi Isa hingga sampai derajat ketuhanan.

Artinya Rasulullah SAW biarpun telah melampaui tempat mulya Sidratul Muntaha akan tetapi beliau tetaplah hamba Alah SWT. Hamba Allah SWT saat di bumi dan hamba Allah SWT saat di atas langit. Dan sungguh gelar hamba itulah gelar yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW.

Makna lain yang bisa dimengerti adalah : Rasulullah SAW biarpun seorang hamba akan tetapi beliau telah diagungkan dan dimuliakan oleh Sang Pencipta, Allah SWT. Dan kita pun diperintahkan untuk memuliakannya. Allah SWT sangat menganjurkan kita agar menyanjung makhluk paling agung dan mulia ini dalam kesehari-harian kita. Sanjungan ini tidak ada batasnya. Kita boleh mengagungkan dan memuliakan Rasulullah SAW dengan pengagungan sepuas hati kita. Sebab semua kemuliaan dan keagungan yang ada pada semua makhluq Allah SWT adalah di bawah kemuliaan dan keagungan yang ada pada Rasulullah SAW. Kita boleh mengangkat Rasulullah SAW setinggi-tingginya karena hanya beliaulah yang mencapai pangkat dan tempat tertinggi. Akan tetapi dengan catatan jangan sampai kita mencabut sifat “kehambaan” dari Rasulullah SAW.

Suatu kepincangan dalam keimanan adalah yang mempercayai Rasulullah SAW sebagai seorang hamba yang diangkat tinggi-tinggi oleh Allah SWT dalam tempat dan pangkat akan tetapi begitu keberatan jika ada sanjungan diberikan kepada Rasulullah SAW. Begitu juga suatu pemusnahan terhadap iman adalah menyanjung Rasulullah SAW dengan sanjungan yang menghilangkan sifat kehambaan Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bishshowab.

RABIUL AWAL, BULAN RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM

RABIUL AWAL, BULAN RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM

RABIUL AWAL, BULAN RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM
Oase Iman Buya Yahya

Allah SWT menjelaskan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang bercerita tentang nabi-nabi terdahulu. Inilah yang diajarkan oleh Allah agar kita senantiasa membaca dan mengambil hikmah di balik cerita Nabi-Nabi terdahulu. Memang cerita orang-orang besar sungguh sangat mempengaruhi jiwa seseorang yang membacanya khususnya kepada anak-anak. Jika cerita tersebut adalah cerita perjuangan maka hal itu akan mengilhami semangat perjuangan sehingga ia akan rindu untuk menjadi sosok pejuang. Jika cerita tersebut adalah tentang moral maka ia akan banyak mengetahui tentang moral dan bagaimana menjadi manusia berakhlak. Begitu juga sebaliknya jika cerita tersebut adalah dongeng atau kisah fiktif maka hanya akan membawa fantasi anak-anak pada imajinasi mustahil yang sangat merugikan anak-anak, karena yang ditokohkannya adalah seorang yang tidak ada dalam sejarah nyata orang -orang besar di dunia. Atau jika cerita yang dibaca adalah kebejatan dan kekotoran budi pakerti, maka akan mudah ia terbawa kepada kehancuran moral.

Apabila kita membaca sejarah orang-orang besar dunia, maka sepanjang sejarah yang terbesar sampai akhir zaman adalah sejarah yang terbesar dan termulia, cerita Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah orang paling agung dan paling mulia yang terlahir sebagai Nabi Akhir Zaman yang merupakan Rahmat dari Allah bagi seluruh alam.

Bulan Rob’iul Awal adalah bulan kelahiran nabi rahmat bagi semesta alam, maka secara otomatis bulan Rabiul Awal adalah bulan termulia dan bulan rahmat bagi alam semesta, bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Maka sungguh sangat tepat jika kita jadikan bulan tersebut sebagai momen untuk menghantarkan anak-anak, keluarga dan sahabat untuk semakin dekat, kenal dan cinta kepada Nabi Muhammad SAW dengan membuat gebyar peringatan dan pengagungan kepada Nabi Muhammad SAW. Peringatan yang menampilkan dengan mengadakan acara yang menampilkan gebyar dan syi’ar agama Islam yang dibawanya. Kita perkenalkan kepada mereka sejarah Nabi Muhammad SAW dari yang sangat sederhana hingga sejarah lengkapnya. Kita tanamkan dalam hati kita, dalam hati mereka bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW adalah yang akan menghantarkan kita untuk bersamanya di dunia dan di akhirat dalam ridho Allah SWT. Sebab tidak ada kecintaan dan ridho Allah kecuali harus dimulai dari cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Sungguh alangkah indahnya jika sepanjang hidup kita senantiasa kita hiasi / kita warnai dengan membaca, mendengar dan merenungi kisah teladannya. Setiap tahun, setiap bulan, setiap minggu, setiap hari, bahkan setiap saat dalam waktu yang tidak berbatas, hendaknya kita jangan pernah bosan untuk membaca dan merenungi sejarah Nabi Muhammad SAW, agar terpercik di hati kita makna kerinduan dan kecintaan kepadanya yang akan membuahkan kebersamaan dengannya kelak di surga Allah SWT.

Renungkanlah! Kesalahan terbesar kita adalah kurang perhatian kita kepada keluarga dan anak-anak dalam mengenalkan figur yang menjadi panutan. Karena figur amat mempengaruhi perilaku seseorang khususnya anak-anak. Demoralisasi yang terjadi tidak terlepas dari pengaruh pendidikan, pergaulan dan siapa tokoh yang ditokohkannya. Sebelum anak-anak mencari figur dalam hidupnya, maka semestinyalah orang tua, guru dan pembimbing berusaha mencarikannya figur panutan anak-anaknya sebelum anak-anak tersebut memilih figur yang salah dalam hidupnya. Maka mentradisikan membaca sejarah Nabi Muhammad SAW adalah keharusan di tengah keluarga kita, supaya mereka semakin cinta kepada Nabi Muhammad SAW dan menjadikannya sebagai figur istimewa yang diteladaninya. Beraneka ragam gebyar yang dilakukan oleh ummat Nabi Muhamad SAW mulai dari peringatan Maulid Nabi, festival, sejarah nabi, lomba puisi untuk Rasulullah SAW dan lain sebagainya, dan apa yang ada di dalamnya menjadi upaya dalam menumbuh suburkan cinta masyarakat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sosok Rahmatan lil ‘Alamin.

Wallahu A’lam Bishshowab.

KEMBALIKAN IMAN DI TAHUN BARU

KEMBALIKAN IMAN DI TAHUN BARU

KEMBALIKAN IMAN DI TAHUN BARU

Hari demi hari berganti, minggu demi minggupun terlewati, bulan demi bulan kita lalui, tidak lama lagi kitapun akan melewati pergantian tahun. Sesaat lagi kita akan memasuki tahun baru 1 Muharram.

Sadarkah kita bahwa ketika tahun berganti itu artinya usia kita telah bertambah dan disaat itu semakin banyak hal yang akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT. Kita punya segunung amanat yang kita pikul di pundak kita. Amanat sebagai orang tua, amanat sebagai anak, amanat sebagai Ustadz, amanat sebagai pejabat, amanat sebagai orang kaya, dan masih banyak lagi status dan gelar yang kita sandang yang semua itu sebenarnya adalah amanat.

Akhir tahun adalah saat saat yang seharusnya dihadapi dengan sebuah evaluasi, introspeksi dan sadar diri akan masa-masa yang telah lalu. Perubahan apa yang kita alami selama ini. Semakin baikkah kita atau semakin kita terpuruk dan lupa diri? Apakah kita semakin kenal kepada Allah dan Rosul-Nya? Atau semakin terpedaya kita dengan hawa nafsu kita? Betapa banyak kita telah lewati umur untuk hal hal yang tidak berguna. Alangkah seringnya kita melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya.

Sadarkah kita yang telah butakan mata hati dari yang haq, kita tulikan telinga kita dari kebenaran, kita terpesona oleh tahta dan harta. Kita jerumuskan putra putri kita pada sarana sarana kehancuran dan kebobrokan moral dari media informasi dan hiburan yang tidak kita kontrol. Dan masih banyak hal lagi dengan aneka ragam kesalahan yang kita lakukan.

Awal tahun hendaknya dihadapi dengan sebuah harapan kepada Allah SWT. Harapan yang terencanakan dan terarah. Ada tujuan yang harus dijelaskan titik bidiknya, yaitu tahun yang akan datang harus lebih baik dari tahun yang sekarang. Iman harus semakin bertambah, akhlaq semakin mulia, sahabat dari orang-orang baik semakin banyak, hati bertambah lembut, jiwa semakin bersyukur dan tidak rakus dan hidup semakin mesra dengan sesama dan semakin khusuk kepada Allah SWT.

Tahun baru Hijriyah bukan sekedar pergantian tahun akan tetapi ada makna yang terkandung di balik tahun baru hijriyah. Tahun baru maknanya kita menuju perubahan seperti hijrahnya Rasululloh SAW adalah menuju sebuah perubahan.

Dan tahun baru adalah iman karena kelalaian kita kepada tahun baru hijriyah menjadikan syi’ar hamba-hamba yang tidak beriman marak terangkat dengan budaya tahun baru masehi yang diwarnai dengan bermacam-macam kemaksiatan.

Mari kita kita cermati sinar keimanan dengan membaca wajah-wajah kita di tahun baru Hijriyah. Lihatlah wajah-wajah itu disaat menyambut tahun baru Hijriyah. Adakah wajah wajah itu adalah yang berbinar dan berseri-seri dengan tahun baru Hijriyah tanda adanya sebuah jalinan tersembunyi di dalam kalbunya dengan Rasulullah sang pelaku sejarah hijrah, tanda ada kebanggaan di dalam hatinya kepada Islam.

Sungguh yang amat kita khawatirkan adalah jika ternyata wajah kita adalah wajah yang suram dengan tahun baru Hijriyah dan giliran kedatangan tahun baru masehi ternyata wajah-wajah kita dan anak kita adalah wajah yang berbangga akan kedatanganya, hingga kita rela berkorban harta, waktu, dan tenaga hanya untuk menanti pukul 00.00 di tahun baru masehi.

Pernahkah kita sadar dan berfikir disaat kita dan anak-anak kita ikut-ikutan mengagungkan syi’arnya hamba yang tidak beriman. Relakah kita saat merayakan tahun baru masehi tiba-tiba nyawa kita dan anak-anak kita dicabut. Artinya mati di saat berbangga dengan budaya orang yang tidak kenal Rasulullah SAW. Sungguh itulah kematian yang sia-sia, mati dalam sejelek-jeleknya kematian, mati dengan su’ul khotimah.

Pergeseran nilai keimanan amatlah halus, tanpa disadari tiba-tiba seseorang telah berada di luar wilayah iman. Mulai dari berbangga dengan budaya dan tradisi orang-orang yang tidak beriman tiba-tiba suatu saat pada akhirnya tanpa disadari sebuah hati telah mati kekagumanya kepada nilai-nilai Islam. Malu dengan semua yang berlebel Islam, merasa minder dengan budaya Islam dan itulah tercabutnya Iman.

Dan di tahun ini, akankah kita biarkan diri kita dan anak-anak kita hanyut dalam trad
isi tahun baru masehi hingga pada akhirnya nanti anak-anak kita akan hanyut dalam suasana bangga kepada selain Islam ? Sungguh Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa “Siapapun yang berbangga kepada selain Islam ia akan dibangkitkan nanti bersama yang dibanggakan”.

Kita punya tahun baru yang perlu kita banggakan, tahun baru hijriyah. Jadikanlah tahun baru hijriyah adalah tahun introspeksi, tahun perubahan, tahun mengagungkan syi’ar Islam, tahun memupuk kebanggaan dan kekaguman pada Islam, tahun memperbaharui jalinan dan cinta kita kepada Rasulullah SAW. Dengan harapan kelak kita bisa dibangkitkan lalu dikumpulkan di surga bersama Rasulullah SAW.

Inilah renungan singkat di tahun baru Hijriyah untuk menggapai hari esok yang lebih bermakna, penuh dengan rahmat dan ridho Allah SWT.

Wallahu A’lam Bishshowab

TUGAS ULAMA DI HADAPAN PARA CALON PEMIMPIN

TUGAS ULAMA DI HADAPAN PARA CALON PEMIMPIN

TUGAS ULAMA DI HADAPAN PARA CALON PEMIMPIN
(Oase Iman Buya Yahya)
www.buyayahya.org

Wahai para Ulama, Anda di tengah-tengah umat adalah lentera yang harus menerangi jalan mereka. Penentu di tengah kebingungan mereka, seteguk air disaat dahaga mereka dan penyejuk hati di kala mereka gundah. Maka Anda pun tidak boleh membuat mereka bingung, tak menentu arah, sesak dada dan akhirnya saling bermusuhan.

Di hadapan Anda adalah para calon pemimpin yang siap beradu dan bersaing mencari pendukung demi kemenangan mereka. Tidak semua yang mereka lakukan adalah benar dan tidak semua yang mereka lakukan adalah salah. Disaat para calon pemimpin itu berbuat benar dalam meraih kemenangan tidaklah ada suatu kekhawatiran terhadap umat ini. Akan tetapi, disaat mereka melakukan kesalahan maka korbannya adalah ummat. Maka disini fungsi Ulama harus jelas sebagai guru umat dan guru semua para calon pemimpin tanpa terkecuali. Anda bertanggung jawab di hadapan Allah SWT jika teledor kepada langkah mereka. Anda harus tampil sebagai guru yang sesungguhnya. Nilai Anda sangat mahal, fungsi Anda tidak bisa di tukar dengan rupiah, bangunan atau janji-janji para calon pemimpin.

Semestinyalah Anda menjadi pembimbing mereka semua menuju kepemimpinan yang baik. Anda harus dekat kepada semuanya. Sebab mereka semua adalah hamba-hamba Allah SWT yang juga rindu syurga Allah SWT akan tetapi kadang buta jalan menujunya. Anda jangan menjadikan mereka semakin jauh dari Ulama, karena fungsi Anda tertutup oleh sikap dukung mendukung Anda yang salah. Apalagi jika dukungan yang Anda berikan adalah imbalan dari sebuah materi. Anda tidak boleh membuat dinding pemisah dengan peran memihak. Apalagi jika memihaknya Anda karena kepentingan pribadi atau pesantren dan yayasan Anda. Anda memihak bukan karena kebaikan yang Anda lihat demi umat dan calon pemimpin.

Ajarilah mereka kejujuran dan ketulusan kepada Allah SWT. Sayangilah mereka, sebab jalan mereka amat terjal dan penuh godaan. Jika mereka atau siapapun dari mereka yang menjadi pemimpin jauh dari Anda, maka sungguh dikhawatikan mereka benar-benar terjerumus dalam ketersesatan. Ulama dan pemimpin harus dekat. Dekat dalam irama rindu kepada Allah SWT. Ulama dekat dengan pemimpin karena ingin membimbing mereka dan bukan karena tamak pemberian dari mereka. Dan para pemimpin harus dekat dengan para Ulama dalam irama mencari bimbingan menuju ridho Allah SWT dan bukan karena membeli Ulama demi rencana busuk yang tersimpan di dalam hatinya.

Marilah kita bersama-sama menghadap kepada Allah SWT, memohon dengan sungguh-sungguh dan penuh kekhusyu’an agar kita diberi pemimpin yang cinta kebaikaan. Dan semoga Allah SWT menjaga kita semua dari terjerumus dalam pengkhianatan. Khianat dari para pemimpin, khianat dari ummat yang memilih pemimpin dan khianat dari Ulama yang tidak tulus membimbing umat dan para pemimpin.

Wallahu a’lam bissawab.

ARTI SEBUAH HARAPAN

Oleh: Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah
buyayahya.org – albahjah.tv – radioqu.com

Alangkah banyaknya pekerjaan yang telah kita kerjakan dari pagi hingga petang dan kadang berlanjut hingga tengah malam, bahkan ada yang bersambung hingga pagi berikutnya. Akan tetapi, adakah itu semua telah dibarengi dengan sesuatu yang amat penting yang akan menjadikan semua aktivitas kita bermakna? Ia adalah niat, maksud dan tujuan. Ia adalah ruh dari semua amal perbuatan kita. Disitulah tempat pandang dan penilaian Allah SWT.

Kemuliaan seseorang tergantung pada apa yang ada dikandung hatinya. Penarik becak, penjual bakso, seorang Ustadz, pejabat, semua sama-sama jelek di hadapan Allah SWT jika yang terkandung di dalam hatinya adalah rencana busuk, niat yang jelek dan tujuan yang tidak baik. Begitu juga sebaliknya, mereka sama-sama mulia di hadapan Allah SWT jika yang terkandung di dalam hatinya maksud yang mulia.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa: “Karena niat yang terkandung di hatilah ada beberapa pekerjaan yang terlihat sebagai pekerjaan dunia, akan tetapi dinilai oleh Allah SWT sebagai amal akhirat. Ada amal yang terlihat sebagai amal akhirat, akan tetapi dinilai Allah SWT sebagai amal dunia yang buahnya tidak bisa di petik di Akhirat.”

Yang lagi shalat, berdakwah dan berinfaq mendapatkan nilai maksiat jika semua itu dilakukan tidak disertai niat baik yang tulus dalam mengabdi kepada Allah SWT. Yang hanya berurusan dengan pasar, sawah dan perusahaan akan mendapatkan nilai jihad dan kemuliaan karena ketulusan hatinya dalam merindu ridho Allah SWT dipenghujung harapannya.

Marilah kita insyafi makna ini agar aktivitas kita ada nilainya di hadapan Allah. Sebelum kita pergi melaksanakan aktivitas marilah menghadap kepada Allah SWT dengan air wudhu lalu shalat hajat dua raka’at, kemudian memohon kepada Allah SWT agar mempermudah urusan kita, lalu kita tutup dengan merenungi apa yang ada di hati kita.

Sudahkah kita berniat yang baik dan rindu ridho Allah SWT dalam aktivitas ini? Kemudian senantiasa sertakan makna ini sepanjang kita beraktivitas? Jika kita benar-benar serius dan tulus dalam merenungi ini, sungguh sepanjang kita beraktivitas akan terjauh dari pelanggaran kepada Allah SWT. Sebab yang menuju Allah SWT akan senantiasa mengambil cara yang di ridhoi Allah SWT agar sampai kepada tujuan. Tujuan sebaik apapun jika cara yang kita ambil untuk sampai ke tujuan tidak baik, itu pertanda bahwa niat dan tujuan kita bukanlah yang baik. Dan bagaimanapun juga kita tidak akan sampai kepada tujuan yaitu ridho Allah SWT.

Wallahu a’lam Bish-Showab.

AGAR ILMU BERMANFAAT

Oleh: Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah
buyayahya.org – albahjah.tv – radioqu.com

Biasanya ilmu didapat di sebuah majelis ilmu. Majelis ilmu adalah sebuah majelis yang digunakan untuk mencari ilmu agar bisa beramal dengan benar dan puncaknya adalah mendapakan ridho Allah SWT. Rasulullah SAW telah menyebut banyak hadits berkenaan dengan kemuliaan majelis ilmu.

Pernah Beliau menyebut majelis ilmu sebagai taman surga, jalan menuju surga, tempat malaikat melebarkan sayapnya tanda kerelaan kepada yang hadir di majelis tersebut, tempat Allah menurunkan rahmat dan pengampunan-Nya dan masih banyak sanjungan Rasulullah SAW akan kemuliaan majelis tersebut. Itulah pendidikan dari Rasulullh SAW kepada kita agar kita memuliakan majelis ilmu.
Hanya orang yang bisa memuliakan majelis ilmu itulah orang yang mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan akan merasakan keindahan sebuah majelis ilmu.

Dengan ilmu yang bermanfaat seseorang akan semakin baik kepada sesama dan kepada Allah SWT. Kehadirannya di majelis ilmu akan dirasakan sebagai kehadiran yang ia rindukan dan ia nikmati.

Makna memuliakan majelis adalah menyadari dengan hati bahwa semua yang ada di majelis adalah yang akan menghantarkan kita kepada kemuliaan di hadapan Allah SWT. Artinya menginsyafi tentang siapapun yang ada di tempat itu adalah tim sukses kita menuju ridho Allah SWT.

Maka harus diperhatikan unsur-unsur majelis ilmu ini agar benar-benar kita bisa memuliakan majelis ilmu dan akhirnya mendapatkan ilmu yang bermanfaat.Di dalam majelis ilmu harus ada guru, murid dan ilmu yang disajikan. Memuliakan majelis ilmu adalah memuliakan semua unsur tersebut diatas. Artinya harus kita perhatikan tatakrama berikut ini
1. Tatakrama guru terhadap murid
2. Tatakrama murid terhadap guru
3. Tatakrama guru terhadap sesama guru
4. Tatakrama murid dengan sesama murid
5. Tatakrama guru dan murid terhadap ilmu

1. Tatakrama Guru Terhadap Murid

Seorang guru yang datang ke majelis ilmu harus mempunyai tatakrama kepada murid-muridnya. Tatakrama ini tidak lain adalah kelanjutan dari ketulusan seorang guru dalam mengajar. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang guru berkenaan dengan tatakramanya terhadap muridnya:

a. Melihat Murid Sebagai Ladang Akhiratnya
Melihat murid sebagai ladang pahala akan melahirkan sebuah kesungguhan dalam mendidik dan tidak akan kenal putus asa. Tidak akan membeda-bedakan mana yang kaya dan mana yang miskin, mana yang berpangkat dan mana yang tidak berpangkat.

Kegagalan seorang guru dalam menyampaikan ilmu yang bermanfaat adalah di saat seorang guru melihat murid sebagai ladang mencari dunia. Dunia disini bisa dalam bentuk materi atau pangkat dan sanjungan.

Seorang guru ketika melihat murid sebagai ladang mencari dunia akan menjadikan tolak ukur dalam mengajar sang murid adalah keuntungan dunia. Selagi menguntungkan di dunia akan diperhatikan dan jika tidak menguntungkan tidak diperhatikan. Guru semacam ini kelihatannya mengajar ilmu dan mengajak kepada kebaikan akan tetapi sebenarnya ia menyeru orang agar membawa dunianya kepadanya. Dari sinilah muncul kedengkian seorang guru dengan guru yang lainnya, hilangnya kerjasama yang baik antara guru dengan guru dan lebih dari itu seorang guru akan mudah berputus asa di dalam mengajarkan ilmunya.
b. Melihat Murid Dengan Mata Kasih Sayang
Seorang guru yang tulus akan selalu melihat murid dengan mata kasih sayang. Mata yang penuh kerinduan agar sang murid menjadi baik dan mendapatkan ridho Allah SWT. Seorang guru yang melihat muridnya dengan penuh kasih sayang akan selalu terlihat santun dalam mengajar, indah dalam berinteraksi dan penuh kebijakan di saat menyampaikan kebenaran dan melarang kebathilan.

Guru yang penuh kasih sayang akan selalu koreksi diri dalam menyampaikan kebenaran dan di saat sang murid belum bisa menerima kebenaran tidak akan terburu-buru menyalahkan muridnya. Akan tetapi ia akan selalu melihat dirinya kenapa orang lain belum bisa menerima kebenaran yang disampaikan. Apakah dirinya kurang lembut dalam bertutur kata atau tidak memberi contoh yang baik dalam perilaku atau kurang berserah dan memohon kepada Allah SWT dan lain sebagainya, yang intinya adalah mengoreksi kekurangannya yang sangat mungkin menjadi sebab ditolaknya sebuah kebenaran oleh sang murid.

Hal yang amat membahayakan seorang guru adalah di saat melihat murid dengan mata picik dan merendahkan, itulah hakikat kesombongan. Guru yang sombong tidak akan bisa menyampaikan ilmu yang bermanfaat.

c. Memberi teladan yang baik kepada murid
Dikatakan “lisanulhal afsoh min lisanilmaqol”, bahwa suri tauladan dalam bertingkah laku itu lebih mengena di hati seseorang dari pada omongan yang diucapkan lidah. Seorang guru yang berusaha menularkan ilmunya kepada murid harus bisa memberi contoh yang baik kepada muridnya. Hal ini disebut Rasulullah SAW dengan sabdanya “ibda’ binafsik”, artinya memulai mengamalkan ilmu untuk dirinya sendiri. Inilah kunci sang guru untuk membuka hati muridnya agar mudah menerima ilmunya.

2. Tatakrama Murid Terhadap Guru

Agar ilmu bermanfaat seorang murid harus bertatakrama kepada gurunya. Tatakrama disini adalah:

a. Datang Kepada Guru Dengan Tujuan Baik
Seorang murid yang datang kepada seorang guru harus punya tujuan baik. Tujuannya adalah untuk mendapatkan bimbingan dan ilmu dari sang guru agar semakin dekat kepada Allah SWT. Tidak beruntung seorang yang datang ke majelis ilmu hanya ingin mencari kesalahan sang guru atau mencari keuntungan dunia. Murid dengan tujuan yang salah itulah yang akan di jauhkan dari ilmu yang bermanfaat dan barokah.

b. Melihat Guru Sebagai Pembimbing Menuju Keselamatannya di Akhirat.
Inilah yang menjadikan seorang murid amat menghargai seorang guru. Penghargaan inilah yang menghantarkannya untuk senantiasa serius dan bersungguh-sunguh dalam menimba ilmu dari sang guru.

c. Patuh Kepada Nasehat Guru
Sungguh jauh dari keberhasilan jika seorang murid tidak membiasakan patuh kepada sang guru. Patuh disini tidak terbatas pada urusan ilmu saja akan tetapi segala isyarat dan anjuran yang disampailkan sang guru seorang murid sebisa mungkin mematuhinya asalkan tidak dalam hal yang dilarang Allah SWT.

d. Mengabdi Kepada Guru
Pengabdian disini maknanya adalah adanya kesiapaan hati untuk mengutamakan sang guru dari kepentingan dirinya sendiri, memperhatikan kebutuhan sang guru dan berusaha untuk mencari kerelaan hati dari sang guru.

3. Tatakrama Guru Terhadap Sesama Guru

Bertatakrama sesama guru adalah sebagian dari tanda ketulusan seorang guru. Guru yang belum bisa melihat guru yang lainnya sebagai mitra dalam perjuangannya belumlah pantas dianggap sebagai guru. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan Tatakrama ini.

1. Saling Membantu Antar Guru
Tujuan guru mengajar murid adalah agar murid tersebut mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan mendapatkan ridho Allah SWT. Seorang guru yang sesungguhnya harus bisa merasa bangga dan selalu mendukung jika melihat ada guru yang mendidik para muridnya. Seorang guru sejati akan senantiasa membuka pintu kesempatan untuk maju bagi guru-guru yang lainnya. Karena tujuan para guru sebenarnya adalah kemajuan kemajuan keberhasilan dalam mendidik.

2. Tidak Saling Mendengki
Ini adalah hal yang amat penting untuk diperhatikan oleh seorang guru. Sebab mendengki kepada sesama guru tidak akan muncul kecuali karena busuknya niat di hati disaat belajar dahulu dan mengajar sekarang. Mengajar adalah berdakwah artinya mengajak kepada Allah SWT. Semakin banyak guru-guru yang berjuang adalah karunia dan pertolongan dari Allah dalam sebuah perjuangan. Artinya semakin banyak pasukan-pasukan di dalam mendidik semakin ringanlah tugas seorang guru. Kedengkian sesama guru adalah paling busuknya kedengkian dan yang akan jadi korban adalah para murid.

4. Tatakrama Murid Dengan Sesama Murid

Seorang murid yang menutut ilmu dengan tulus karena Allah SWT akan tampak di dalam perjalanannya di dalam mencari ilmu penuh dengan tatakrama kepada sesama kawan seperjuangannya. Semua itu akan terlihat dalam hal-hal berikut ini.

a. Saling Menghormati Sesama Murid.
Di dalam mencari ilmu yang bermanfaat seorang murid tidak cukup hanya dengan menghafal dan baik kepada guru. Akan tetapi ada rahasia ketulusan yang tersembunyi di balik persahabatannya dengan teman-temannya. Yang belum bisa menghargai temannya artinya telah tersembunyi di hatinya kesombongan dan sungguh hati yang sombong amat susah untuk menerima ilmu yang bermanfaat.

b. Tolong-Menolong Dalam Mencapai Keberhasilan.
Seorang murid yang tulus harus merasa berbangga dan bergembira jika melihat temannya berhasil. Seorang murid yang tidak menginginkan keberhasilan sahabatnya adalah murid yang menyimpan dengki di dalam hatinya. Murid yang mendengki jika menjadi ustadz kelak akan menjadi ustadz yang pendengki. Mereka itu bukanlah orang-orang yang akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

c. Berkhidmah Kepada Sahabat
Akhlaq yang tidak baik dalam menuntut ilmu adalah murid yang gemar memerintah sahabatnya untuk urusan pribadinya. Sementara ia sendiri orang yang paling malas membantu sahabatnya. Memperbudak sahabat adalah ciri orang yang tidak mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barokah. Begitupun sebaliknya, yang ringan tangan serta mudah di dalam mengabdi kepada sesama sahabat adalah ciri orang-orang yang akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barokah.

 

5. Tatakrama Guru dan Murid Terhadap Ilmu
Tatakrama terhadap ilmu disini adalah Tatakrama yang harus dimiliki seorang guru dalam menyampaikan ilmu dan yang harus dimiliki seorang murid dalam mengambil ilmu.

Seorang guru dalam menyajikan ilmu harus dengan akhlaq yang mulia karena ilmu adalah cahaya hidayah. Jangan sampai di saat menyampaikan ilmu di barengi dengan kata-kata kotor, jorok atau tingkah laku yang tidak sesuai dengan kemuliaan ilmu dan majelis ilmu. Sungguh akan dicabut barokahnya ilmu dan majlis ilmu jika disitu terdapat kata-kata kotor atau tingkah laku guru yang tidak baik dalam menyampaikan ilmu.

Seorang murid hendaknya menjaga kemuliaan ilmu dan majelis ilmu dengan cara duduk yang baik dan beradab, menghadap kepada guru dengan baik dan menjaga dari berucap dan bertingkah laku yang tidak baik. Bahkan jika ia mendengar ilmu yang disampaikan seorang guru adalah sesuatu yang telah lama ia ketahui atau ia dengar untuk yang ke-seribu kalinya, akan tetapi tatakrama seorang murid dalam mendengar adalah seperti murid yang pertama kali mendengar ilmu tersebut. Menjaga kitab dan merawatnya dengan baik, serta meletakannya di tempat yang mulia adalah bentuk Tatakrama dalam menuntut ilmu. Dan membiasakan mengambil ilmu dalam keadaan ia mempunyai wudhu adalah kesempurnaan dalam menghormati ilmu dan pembuka hati untuk menerima ilmu yang bermanfaat.

Wallahu A’lam Bishshowab..

AGAR ANAK BAHAGIA

Oleh: Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah
buyayahya.org – albahjah.tv – radioqu.com

Anak adalah nikmat besar yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada kita. Akan tetapi tidak semua dari kita mengerti bagaimana menjaga nikmat tersebut. Menjaga akhlaq dan keimanan mereka adalah yang harus diutamakan. Itulah yang diharap dan diinginkan oleh anak biar tidak diucap oleh lidah mereka. Orang tua cerdas dan bijak adalah orang yang senantiasa tahu apa yang dibutuhkan oleh anak-anaknya. Diantara hal yang dibutuhkan oleh anak tidak ada yang melebihi dari pentingnya keselamatannya kelak setelah kehidupan di dunia ini.

Jika ada orang tua yang begitu semangat menyekolahkan anaknya dipendidikan tinggi dengan harapan agar anaknya kelak mendapatkan pekerjaan yang layak dan menguntungkan dari segi materi atau seorang tua membekali modal besar untuk anaknya agar bisa mandiri dan makmur dalam kehidupannya di dunia ini. Sungguh ia adalah orang tua yang cerdas, senantiasa berfikir akan masa depan sang anak. Akan tetapi seorang tua tersebut akan menjadi tidak bijak lagi jika ternyata melupakan masa depan yang lebih lama lagi yaitu kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.

Ada masa depan nanti di alam Barzakh yang tidak hanya enam puluh atau seratus tahun akan tetapi ribuan tahun dan bersama penantian itu sang anak akan menuai apa yang diperbuat saat di dunia dulu. Nanti setelah kehidupan alam Barzakh akan dilanjutkan menuju kebahagiaan yang hakiki atau kesengsaraan yang hakiki di surga atau di neraka. Siapa yang rela jika anaknya disiksa di alam Barzakh dan di akhirat nanti? Disiksa karena kita sebagai orang tua tidak pernah memikirkan masa depan mereka setelah kehidupan ini. Disiksa karena kita sebagai orang tua telah tidak memikirkan bekal anak-anak kita di kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.

Kita mungkin akan mudah tanggap jika anak kita gagal ujian akhir di sekolah atau universitas atau gagal dalam sebuah usaha dagangnya. Akan tetapi kenapa kita tidak mudah tanggap dengan anak kita yang malas melakukan shalat atau mulai melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah? Sungguh bahasa cinta adalah amat indah dan akan menghadirkan keindahan. Cinta yang sesungguhnya kepada anak akan diterjemahkan dengan kepedulian terhadap masa depan anak. Tidak ada masa depan yang sesungguhnya selain masa depan di akhirat. Bukan cinta yang sesungguhnya bagi orang tua yang hanya ingin membahagiakan anaknya selama enam puluh tahun sepanjang hidupnya di dunia lalu melupakan kehidupan yang lebih lama setelah di dunia ini.

Yang berani membiayai sekolah anaknya untuk mencari ilmu dunia dengan biaya mahal tentu akan rela membiayai anaknya untuk mengambil bekal di akhirat dengan biaya yang lebih mahal. Jika masih ragu untuk yang demikian itu maka sangat diragukan kecintaan orang tua tersebut terhadap anaknya bahkan sangat mungkin diragukan keimanannya kepada kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.

Dan tidak sampai disini, orang tua yang lalai memikirkan kebahagian anaknya kelak di akhirat akan menemukan kesengsaran yang amat sangat seperti yang pernah dikisahkan oleh Rasulullah SAW. Kisah orang ahli ibadah yang hendak menuju ke surga akan tetapi tiba-tiba ada yang menyeru dari dasar neraka jahannam menginginkan agar orang yang hendak masuk surga itu di masukkan ke neraka bersamanya.

Melihat kejadian seperti ini, Malaikat menghadap kepada Allah SWT dan Allah SWT memerintahkan Malaikat agar menggiring orang tersebut ke neraka. Ia adalah orang tua yang ahli ibadah, ahli sedekah dan ahli kebaikan akan tetapi telah membiarkan sang anak tanpa ada bimbingan agar semakin dekat kepada Allah dan tanpa pembekalan untuk di akhirat. Maka disebabkan keteledorannya dalam mempersiapkan masa depan anaknya di akhirat maka ia pun ikut rugi bersama sang anak di neraka jahannam.

Wallahu a’lam Bish-Showab.