MEMBERSIHKAN TELINGA, BATALKAH PUASANYA?

Pertanyaan: Assalamu’alaikum Wr. Wb
Buya yang kami hormati, apakah jika kita menggunakan korek api buat membersihkan telinga itu jadi batal puasanya?
Terimakasih.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Menjadi batal jika kita memasukan sesuatu ke dalam telinga kita. Yang dimaksud dalam telinga adalah bagian dalam telinga yang tidak bisa dijangkau oleh jari kelingking kita saat kita membersihkan telinga. Jadi memasukkan sesuatu ke bagian yang masih bisa dijangkau oleh jari kelingking kita hal itu tidak membatalkan puasa, baik yang kita masukkan itu adalah jari tangan kita atau yang lainnya. Akan tetapi kalau kitamemasukkansesuatumelebihidaribagianyangdijangkau jemari kita (seperti : korek kuping atau air) maka hal itu akan membatalkan puasa. Ini adalah pendapat kebanyakan para ulama.

Ada pendapat yang berbeda yaitu pendapat yang diambil oleh Imam Malik dan Imam Ghazali dari mazhab Syafi’i bahwa: “Memasukan sesuatu ke dalam telinga tidak membatalkan”, akan tetapi lebih baik dan lebih aman jika tetap mengikuti pendapat kebanyakan para ulama, yaitu pendapat yang mengatakan memasukkan sesuatu ke lubang telinga adalah membatalkan puasa. Wallahu a’lam bish-shawab

MAKANAN SISA DI MULUT SAMPAI SIANG HARI RAMADHAN

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya saya ingin menanyakan, kita sudah sikat gigi sebelum adzan subuh, kemudian pada pagi hari atau siang hari ternyata masih ada sisa makanan di mulut atau di sela-sela gigi. Ini bagaimana? Batalkah puasa saya, padahal saya sudah yakin mulut/gigi saya sudah bersih dengan  sikat gigi sebelum subuh tadi?

MAKANAN SISA DI MULUT SAMPAI SIANG HARI RAMADHAN

 

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Di saat kita melakukan puasa lalu kita menemukan sisa makanan di mulut kita hal itu tidak membatalkan puasa selagi tidak kita menelan dengan  sengaja. Bahkan kalau kita memasukkan makanan ke mulut kita asal tidak kita telan, hal itu tidaklah membatalkan puasa, hanya saja hukumnya makruh. Makruh itu tidak baik dan tidak dosa dan tidak membatalkan puasa.

Begitu juga jika kita menyikat gigi dengan  pasta gigi maka hukumnya makruh kecuali jika kita sikat gigi tanpa pasta gigi, hal itu tidaklah makruh asalkan kita lakukan sebelum tergelincirnya matahari. Tetapi jika kita menyikat gigi tanpa pasta gigi atau kita menggunakan siwak setelah tergelincirnya matahari maka hukumnya makruh menurut mazhab Imam Syafi’i yang dikukuhkan, akan tetapi menurut imam Nawawi hal itu tidaklah makruh.

Hal lain yang perlu di

ketahui jika kita melakukan yang makruh, seperti : memasukkan makanan ke mulut tanpa ditelan (main-main) lalu tiba-tiba tertelan dengan  tidak sengaja maka hal itu membatalkan puasa, sebab hal yang makruh adalah hal yang hendaknya kita hindari biarpun tidak membatalkan puasa. Berbeda kalau kita memasukkan air ke mulut karena hal yang sunnah (misalnya berkumur dengan wajar dalam wudhu) atau untuk suatu yang wajib (seperti berkumur untuk mensucikan najis yang ada di mulut) maka kalau tiba-tiba tertelan dengan  tidak  sengaja hal itu tidaklah membatalkan puasa.

Yang ditanyakan adalah tentang sisa makanan yang di mulut, memang benar tidak membatalkan asalkan tidak ditelan dan asalkan sudah bersih mulut kita biarpun dengan  ludah, maka sudah tidak membahayakan puasa kita karena sesuatu yang suci bisa menjadi bersih cukup dengan ludah. Berbeda jika sesuatu yang ada di mulut kita itu adalah sesuatu yang najis. Misal tanpa sengaja kita menggigit barang najis atau ada darah di mulut kita maka hal tersebut harus disucikan terlebih dahulu dengan air sebelum menelan ludahnya, sebab jika mulutnya belum disucikan dengan  air maka air ludahnya telah bercampur dengan  sesuatu yang najis, maka jika ditelan akan membatalkan puasa. Ada najis yang dimaafkan di mulut seperti orang yang punya gusi tidak sehat sehingga sering keluar darah maka hal yang semacam itu dimaafkan, artinya tidak membatalkan puasa jika tertelan. Berbeda dengan  orang yang tergigit bagian mulutnya sehingga keluar darah maka jika tertelan darah tersebut akan membatalkan puasa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

BOLEHKAH MENGIKUTI PENDAPAT 4 MADZHAB DALAM SUATU PERMASALAHAN?

Assalamu’alaikum. Wr. Wb. Salam sejahtera kepada Al-Mukarom Buya Yahya, semoga Buya selalu dilindungi oleh Allah SWT, dari segala macam keburukan. Saya ingin bertanya seputar keempat mazhab yaitu Mazhab Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali. Yang sedang saya pertanyakan adalah bolehkah kita mengikuti keempat mazhab tersebut dalam menentukan hukum dalam suatu permasalahan, sedangkan pendapat mereka terkadang ada yang berbeda?

Jawaban:

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Empat Imam madzhab adalah panutan kita dalam urusan hukum dan kita sebagai pengikut atau orang yang taqlid boleh mengikuti siapa saja dari mereka asal benar cara mengambil dan mengikutinya dan itu semua perlu ilmu.

Akan tetapi untuk memudahkan kita dalam menjelaskan hukum tentang suatu permasalahan maka caranya dengan  menekuni satu madzhab, baru akan menelaah kepada madzhab-madzhab lain jika sudah matang dalam 1  (satu) madzhab.

Belajar madzhab yang berbeda-beda amat merepotkan kita untuk menghafal dan mengingatnya. Seandainya kita melakukan shalat Dzuhur dengan  mazhab Syafi’i, Ashar dengan  mazhab Maliki, Maghrib dengan  mazhab Hanbali kemudian Isya dengan mazhab Hanafi, seperti ini sah-sah saja. Akan tetapi siapa yang bisa seperti ini? Tentu orang yang alim dengan  4 Madzhab.

Intinya, kita bisa ikut salah satu dari 4 madzhab tersebut asalkan dengan ilmu atau karena petunjuk dari guru yang mengajari kita. Kepada siapa pun kita ikut, kita tetap muqallid (orang yang bertaqlid). Hanya cara bertaqlid saja yang harus kita perhatikan, yaitu tatakrama dengan  cara mengikuti pembimbing dan guru.  Wallahu alam bish-shawab.

 

HUKUM BEKERJA DENGAN ORANG-ORANG SYIAH

HUKUM BEKERJA DENGAN ORANG-ORANG SYIAH

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum. Wr. Wb. Saya mau tanya dan mohon penjelasannya, bagaimana hukumnya kalau kita bekerja dengan suatu lembaga milik orang-orang Syi’ah?

Sejak Juni 2009 s/d sekarang saya mengajar di TK Islam Al-Husain. Saya tahu bahwa pengurus yayasan semuanya adalah orang-orang Syi’ah. Setelah 1 tahun saya bekerja di situ, sejauh ini mereka tidak mencampuri aqidah guru-guru yang notabene bukan dari golongan Syi’ah.

Apa hukumnya saya mengajar di TK tersebut? Apakah ada mudharatnya buat saya? Saya sangat berharap Buya dapat menanggapi pertanyaan saya ini. Karena Saya meyakini bahwa kita yang tergabung dalam forum Buya Yahya ini, semua satu aqidah, yaitu Ahlussunnah wal-Jamaah. Syukur Alhamdulillah kalau Ustad Buya Yahya juga dapat memberikan jawaban. Terima kasih banyak, mohon maaf bila ada yang gak berkenan. Jazakumullah kheir. Ditunggu sangat jawabannya.

 

Jawaban:

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Semoga Allah SWT senantiasa menambah kokoh iman anda. Pertanyaan anda mencerminkan kerinduan anda untuk menjaga iman dan aqidah anda. Bekerjasama dengan siapapun, Islam tidak melarang termasuk dengan agama lain, asalkan agama atau kelompok tersebut tidak merusak aqidah dan kemuliaan kita. Misal : Sekelompok orang nasrani membuat suatu lembaga yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan keagamaan (seperti : Pelatihan kerja atau akuntansi) kita bisa saja bekerjasama dengan mereka sebatas mereka tidak mengganggu dan merongrong aqidah kita dan kita bisa menjalankan agama kita secara penuh. Akan tetapi kalau mereka ada tanda-tanda merusak aqidah dan moral kita maka kita pun jadi tidak boleh berurusan dengan mereka, karena saat itu mereka bukanlah orang yang terhormat dan haram tolong menolong dengan mereka.

Begitu juga dengan kelompok lain yang mengatasnamakan agama yang sama dengan kita. Jika yang anda maksud adalah Syiah Ekstrim yang dengan ciri-ciri mengkafirkan  Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Sayyidina Umar bin Khattab juga merendahkan Sayyidah ’Aisah dan Sayyidah Khafsah (kedua istri Rasulullah SAW) serta menolak perawi hadits Sayyidina Abu Hurairah, maka mereka adalah kelompok yang membahayakan. Jika kita kerjasama dengan  mereka khususnya dalam bidang pendidikan, itu artinya anda telah membantu program mereka dalam menyebarkan penyelewengan mereka. Membantu dalam kebathilan adalah bathil. Kalaupun mereka tidak mempengaruhi anda, mereka tidak peduli dengan  anda yang hanya satu orang, akan tetapi target mereka adalah seluruh siswa. Kecuali anda disitu sebagai orang kuat yang akan memperkuat aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah. Lebih aman mengajarlah di tempat yang tidak beresiko bagi diri anda dan para siswa. Wallahu alam bish-shawab.

 

BEDANYA IMAN, KEYAKINAN DAN KEPERCAYAAN

BEDANYA IMAN, KEYAKINAN DAN KEPERCAYAAN

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum. Wr. Wb. Maaf ustad, saya mau nanya apa bedanya iman, keyakinan & kepercayaan? Padahal semua itu ghaib adanya. Apa yang bisa kita jadikan dasar untuk memperkuat ketauhidan kita? Surat apa dan ayat berapa beserta tafsir mana yang dapat dijadikan referensinya? terimakasih atas penjelasannya.

Jawaban:

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Tiga kalimat tersebut biasa diucapkan untuk maksud yang sama. Misal: Aku iman kepada Allah, sama Artinya dengan,  Aku percaya kepada Allah atau Aku yakin kepada Allah.” Hanya bedanya, kalau “yakin” dan “iman” adalah bahasa Arab yang sudah di-Indonesia-kan dan kata “percaya”  adalah bahasa Indonesia yang digunakan untuk menerjemakan kalimat yakin dan iman.

Semua ayat Al-Qur’an kalau dibaca akan menambah kuat iman kita, hanya barang kali yang anda perlukan adalah yang secara harfiah mengajak pikiran anda untuk merenung yang menumbuhkan keimanan. Anda bisa renungi semisal ayat 164 dari surat Al-Baqarah dan ayat lain yang mengajak anda berfikir. Itu semua akan menyuburkan keyakinan anda.

Wallahu alam bish-shawab.

 

APA MAKNA BERSAKSI PADAHAL KITA TIDAK MELIHAT ALLAH?

APA MAKNA BERSAKSI PADAHAL KITA TIDAK MELIHAT ALLAH?

APA MAKNA BERSAKSI PADAHAL KITA TIDAK MELIHAT ALLAH?
Pertanyaan:

Assalamu’alaikum. Wr .Wb. Buya, saya selalu menangis ketika ingat pertanyaan itu hadir pada saya. “Bagaimana kamu bisa bersaksi, sedangkan kamu tak melihat dan mendengar?” Demi Allah, yang menciptakan saya dari segumpal darah, saya beriman… Buya, bantu saya menjawab pertanyaan harfiah semacam ini. Terima kasih

 

Jawaban:

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Kami sering paparkan permasalahan ini dalam banyak majelis kami saat membahas tentang Aqidah. Kami sederhanakan dalam dialog ringan bahwa bagi seseorang untuk mempercayai sesuatu tidak harus melihat dan mendengar (barangkali maksud penanya adalah bukti yang bisa ditangkap oleh panca indra). Bahkan kami tegaskan hanya orang gila yang hanya bisa percaya kepada yang bisa ditangkap oleh panca indra. Sebagai contoh: Ada 3 dokter yang anda kenal baik dan jujur dalam tutur katanya. Suatu ketika datang ke kampus anda membicarakan beberapa hal yang ada sangkut pautnya dengan medis. Kemudian 3 dokter tersebut mengeluarkan sebotol air putih yang kebetulan anda sangat merasa kehausan. Lalu sang dokter meminta anda untuk membuangnya sambil berkata: Tolong air keras ini dibuang dan jangan diminum sebab kalau diminum orang tersebut akan hancur tenggorokan dan ususnya dan langsung mati.” Anda yang mendengar omongan dokter tersebut langsung mempercayai kemudian langsung anda buang, atau anda berkata: Tidak dokter, saya tidak percaya dengan omongan anda. Karena aku belum melihat langsung buktinya, dan kebetulan saya haus biar saya minum saja.”

Coba renungi dengan cermat! Semua orang berakal akan paham. Jika anda membuangnya berarti akal anda sehat. Akan tetapi kalau anda justru meminumnya hanya karena mata anda belum melihat bukti ada orang terkapar mati setelah meminum air keras tersebut, maka semua orang akan berkata bahwa anda telah gila.

Banyak contoh lain yang menunjukkan bahwa orang bisa mempercayai sesuatu sekalipun tidak melihatnya atau tidak merasakan dengan  panca indranya. Anda fikir! Dengan  indra apa saat anda merasakan lapar dan kerinduan?

Ini adalah pendekatan pemahaman tentang iman kepada Allah SWT. Bahwa kita sungguh bisa mengimani keberadaan Allah SWT dengan cipta-karya Allah SWT yang bertebaran di jagat raya. Mari kita simak kalimat sederhana orang badui namun penuh makna: “Jika ada bekas tapak kaki manusia di jalan itu artinya barusaja ada orang yang melewatinya. Jika ada kotoran unta tentu keluar dari perut unta, biarpun aku tidak melihat orang tersebut dan tidak melihat unta tersebut.”

 

Wallahu alam bish-shawab.

 

AMALAN BULAN MAULID

AMALAN BULAN MAULID | Oleh : Buya Yahya

amalan bulan maulid buya yahya

Assalamu ‘Alaikum WR. WB.

Buya Yang kami Hormati, sebentar lagi kan kita akan memasuki bulan MAULID, amalan apa saja yang utama yang dilakukan di bulan maulid ?
Wa’alaikum Salam WR. WB.

Bulan Maulid atau bulan Robiul Awwal adalah bulan yang menurut kebanyakan ulama adalah bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ada yang mengatakan kelahiran beliau di bulan Romadhon. Biarpun mereka berbeda pendapat yang jelas mereka bersepakat bahwa Nabi Muhammad SAW pernah terlahirkan. Jika kelahiran seorang anak saja ada artinya bagi sebuah keluarga, bagaimana dengan kelahiran manusia mulia Nabi Muhammad SAW. Inilah yang menjadikan para pecinta beliau untuk membuat acara yang mengingatkan mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Baik itu acara kecil-kecilan di keluarga, kampung atau acara besar-besaran di kota. Acara tersebut bisa saja dengan pembacaan sejarah Nabi Muhammad lalu dibarengi dengan silaturahmi dan makan bersama. Kadang juga santunan kepada faqir-miskin serta kajian keagaman yang di sampaikan oleh seorang ustadz.

Amalan yang perlu di lakukan adalah tidak beda dengan amalan di luar bulan maulid. Hanya qoidah yang dikukuhkan para ulama adalah semua amalan mubah jika diniatkan untuk sambung hati kepada Nabi Muhammad maka amalan mubah itu menjadi sunnah. Apalagi amalan yang jelas-jelas di anjurkan sepertii sedekah, silaturahmi dan pembacaan sejarah Nabi dalam irama mengingat nabi Muhammad sungguh itu semua adalah kemulyaan dan penyuburan makna cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Dari seperti inilah hakekat menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW akan terwujud.

Wallahu a’lam Bishshowab

Hukum Menggabung Puasa Jumat & Daud

PUASA HARI JUM’AT DAN PUASA DAUD AS DIGABUNG?
PUASA HARI JUM’AT DAN PUASA DAUD AS DIGABUNG?

PUASA HARI JUM’AT DAN PUASA DAUD AS DIGABUNG?

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan Rahmat dan hidayah-Nya kepada anda. Saya ingin bertanya tentang puasa Nabi Daud AS.

1. Saya pernah mendengar bahwa kita sebagai umat Muslim tidak diperbolehkan berpuasa pada hari Jum’at jika tidak diikuti puasa pada hari sebelum atau sesudahnya. Lalu bagaimana dengan puasa Nabi Daud AS? Karena jika kita berpuasa sehari dan tidak berpuasa sehari pasti kita menemui puasa pada hari Jum’at yang tidak disertai puasa pada hari sebelum atau sesudahnya. Bagaimana hukumnya?
2. Bolehkah kita menyatukan puasa Nabi Daud AS dengan puasa Senin-Kamis? Bukankah puasa Nabi Daud AS itu sehari puasa dan sehari tidak? Jika kita menggabungkannya dengan puasa Senin-Kamis, maka tidak sehari puasa dan sehari tidak. Bagaimana hukumnya ustad? Bolehkah berpuasa seperti itu?
3. Jika tidak diperbolehkan menggabungkan puasa seperti di atas, maka lebih utama yang mana, puasa sunnah Nabi Daud AS atau puasa sunnah seperti yang dicontohkan Rasulullah Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam?
Sekian pertanyaan dari saya. Mudah-mudahan Allah SWT selalu memberikan kemudahan dan kelapangan kepada anda.
Syukron.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
1. Puasa di hari Jum’at hukumnya makruh jika tidak disertai sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Kemakruhan ini akan menjadi hilang (tidak makruh lagi), jika bertepatan dengan kebiasaan puasa yang dijalani seperti yang anda tanyakan yaitu bertepatan saat puasa Daud AS, atau memang hari Jum’at itu bertepatan dengan hari disunnahkan puasa secara khusus seperti puasa Arafah atau karena mengqadha puasa wajib.

Artinya, jika anda puasa Daud AS di saat jatuh harinya berpuasa bertepatan hari jum’at, maka itu tidak makruh lagi atau anda ingin mengqadha puasa atau ingin puasa Arafah bertepatan di hari Jum’at maka saat itu tidak makruh lagi biar pun tidak disertai sehari sebelum dan sesudahnya.
2. Puasa Daud AS adalah puasa sehari dan buka sehari. Jika saat berbuka bertepatan hari disunnahkan puasa seperti hari Senin atau Kamis atau hari Arafah, maka puasa Daud AS tidak menghalangi puasa senin-kamis, arafah dan semisalnya yang memang telah disunnahkan secara khusus dengan keutamaan khusus seperti penghapus dosa setahun untuk puasa Arafah atau hari diangkatnya amal untuk puasa Kamis, bahkan justru puasa tersebut lebih berhak untuk dijalani. Oleh sebab itu tidak bertentangan bagi yang puasa Daud AS dan di saat semestinya berbuka bertepatan dengan puasa Senin atau Arafah, lalu ia puasa Arafah dan Senin dan hal itu tidak membatalkan makna puasa Daud AS.
3. Jawabannya boleh digabungkan. Ambilah keutamaan dua-duanya ! Wallahu a’lam bish-shawab.

HUKUM MEMBATALKAN PUASA SUNNAH

HUKUM MEMBATALKAN PUASA SUNNAH

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Bagaimana hukumnya membatalkan puasa sunnah karena menghadiri walimah atau karena hal lainya?

Jawaban:
Wa’alaikumsalam Wr Wb.
Puasa sunnah dalam Madzhab Imam Syafi’i boleh dibatalkan di pertengahan. Adapun masalah keutamaannya adalah tetap diteruskan, kecuali jika di dalam membatalkan adalah suatu hal yang amat perlu, seperti di saat menghadiri walimah yang wajib atau menjaga hati orang yang ingin menghormati kita sebagai tamu, yang dikhawatirkan jika kita menolak akan menjadikan hubungan persaudaraannya akan berubah. Anda pun lebih baik berbuka, jika anda anggap hal itu perlu untuk menjaga hati orang yang mengajak Anda berbuka.

Wallahu a’lam bish-shawab.

BENARKAH PUASA RAJAB ITU BID’AH?

BENARKAH PUASA RAJAB ITU BIDAH?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya, saya pernah mendengar sebagian orang,  mereka berkata kalau puasa di bulan Rajab itu bid’ah. Apakah benar seperti itu Buya? mohon penjelasannya.

Jawaban:

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Bulan Rajab adalah Bulan Haram yang dimuliakan Allah SWT. Puasa adalah sebaik-baik ibadah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Kapan saja, kecuali 5 hari yang dilarang. Hari -hari yang dilarang adalah 2 hari Raya dan 3 hari Tasyrik. Selain dari itu secara umum disunnahkan kita memperbanyak puasa. Adapun bulan Rajab adalah bulan mulia yang juga boleh kita berpuasa di dalamnya bahkan sangat dianjurkan seperti disebutkan dalam hadits shahih riwayat Abu Daud AS juz 2 hal. 322, petunjuk Rasulullah SAW untuk Abi Mujibah Al-Bahili seorang yang sangat rajin berpuasa agar berpuasa di bulan haram dengan sabdanya (yang artinya): Berpuasalah di bulan haram.” Ringkasnya, puasa di bulan Rajab adalah sangat dianjurkan dan ini adalah yang dikukuhkan oleh para ulama 4 Madzhab.

Adapun hadits-hadits tentang keutamaan puasa bulan Rajab yang sering dibawa oleh sebagian orang, banyak hadits-hadits palsu yang tidak boleh dihadirkan.

Kesimpulannya puasa bulan Rajab bukanlah bid’ah, akan tetapi sunnah. Justru yang  membid’ahkan itulah ahli bid’ah.

Untuk kesempurnaan jawaban ini, ada risalah kami yang berjudul KONTROVERSI PUASA RAJAB : SUNNAH ATAU BIDAH?”.

Wallahu alam bish-shawab.