PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN


PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Buya, apa yang harus dipersiapkan bagi setiap muslim menghadapi bulan Ramadhan? Sebab saya sadar bahwa banyak yang harus dilakukan dibulan suci ini.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Bulan agung segera tiba, bulan mulia segera datang, di bulan itulah Allah SWT memuliakan banyak sekali dari hamba-hamba-Nya. Yang akan mendapatkan kemuliaan di bulan suci Ramadhan adalah hamba-hamba yang tahu keagungan Ramadhan. Yang mendapatkan keagungan di bulan suci Ramadhan adalah hamba-hamba yang benar-benar menyambut berita gembira kabar datangnya bulan suci Ramadhan, bulan penuh pengampunan, bulan penuh rahmat dari Allah SWT, bulan yang Allah SWT membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka. Sungguh itu adalah bulan keberuntungan.

Sangat rugi orang yang bisa bertemu dengan bulan suci Ramadhan akan tetapi dia bukan termasuk orang yang diampuni, bukan termasuk orang yang mendapatkan rahmat dari Allah SWT, bukan termasuk orang yang mendapatkan keridhaan dari Allah SWT. Seperti yang pernah disabdakan oleh Nabi. Suatu ketika Rasulullah SAW berada di mimbar, lalu mengatakan kalimat, “Amin.” Lalu para sahabat Nabi bertanya, “Siapa yang didoakan dan siapa yang berdoa?” Rasulullah SAW menjawab: “Malaikat Jibril As berkata: Orang yang memasuki bulan ramadhan akan tetapi belum diampuni dosanya oleh Allah SWT, sungguh ia adalah hamba yang terkutuk.” Kemudian Aku (Nabi SAW) katakan “Amin.” Artinya, ada orang memasuki bulan suci Ramadhan akan tetapi tidak ada semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan. Maka orang-orang seperti ini termasuk orang-orang yang terkutuk dan tidak beruntung. Karena di bulan Ramadhan Allah SWT memberikan diskon besar-besaran kepada hamba-Nya. Semua amal kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT dengan lipat ganda yang tidak pernah ada kecuali di bulan suci Ramadhan.

Ini adalah termasuk kemuliaan dan keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW, seperti yang pernah diadukan oleh sahabat Nabi, bahwa umat Nabi Muhammad ini umurnya pendak-pendek, sementara umat-umat terdahulu umurnya panjang. Jika mereka itu shaleh tentu pangkat mereka akan tinggi karena bisa melakukan ibadah yang amat panjang. Akan tetapi dijawab oleh Rasulullah SAW dengan jawaban yang indah, “Memang umatku adalah usianya pendek, akan tetapi Allah telah memberikannya Ramadhan dan juga Allah telah memberikannya lailatul qadar yang Allah SWT akan melipat gandakan pahala amal ibadah umat islam pada bulan Ramadhan dan lailatullqadar.” Maka dari itu, jangan sampai ada dari kita yang tertinggal dari rombongan orang yang beruntung di bulan suci Ramadhan. Jangan sampai ada diantara kita ini orang yang lalai dengan Ramadhan.

Dalam menyambut bulan Ramadhan kita harus mempersiapkan dengan dua persiapan, persiapan lahir dan batin:

Pertama: Persiapan lahir. Persiapan lahir adalah dengan melihat di sekitar kita dan mencari sebab-sebab yang menjadikan kita dekat dan khusyuk kepada Allah SWT. Fasilitas dhahir mulai dari mushaf, baju, mushalla, termasuk kebutuhan-kebutuhan yang ada di rumah kita, jika ada yang kurang mari kita penuhi.

Persiapkan jadwal-jadwal untuk amal ibadah yang harus kita laksanakan di bulan suci Ramadhan. Jangan sampai waktu bulan suci Ramadhan ini berlalu begitu saja. Jika kita tidak berfikir apa yang akan kita lakukan, amat sulit bagi kita untuk melakukannya jika tiba waktunya. Akan tetapi tanda bahwa kita rindu dan mengagungkan bulan suci Ramadhan dan tanda bahwasanya kita ingin diagungkan oleh Allah SWT, maka saat ini harus kita rencanakan amal-amal ibadah yang akan kita lakukan. Termasuk urusan dunia yang harus kita lakukan pun harus dimasukan di dalam jadwal kita untuk melaksanakan amal akhirat. Kalau kita telah rinci dan rapi dalam menyusun sebuah rencana, maka sesungguhnya kita tinggal melaksanakannya. Rencana yang kita susun itu tidak lain adalah tanda bahwasanya kita rindu kepada Ramadhan, yang artinya juga rindu kepada Allah SWT.

Yang bekerja jangan sampai lupa, bahwa mencari nafkah adalah sangat mulia, kalau memang didasarkan atau niat yang benar karena Allah SWT. Kalau orang yang bekerja mungkin sulit untuk melakukan shalat atau membaca Al Qur’an, akan tetapi jangan sampai mulut ini diam dari dzikir kepada Allah SWT. Yang berada dipasar-pasar pun demikian, berhenti menghindari omongan yang kotor lalu merubah lidah kita dengan menyebut nama Allah SWT. Ini adalah tanda bahwa kita adalah orang yang mengerti keagungan bulan suci Ramadhan dan masih banyak yang lainnya. Kegiatan-kegiatan yang kita lakukan harus kita atur dan kita rapikan. Jangan sampai kita ini melakukan suatu pekerjaan yang tidak penting di saat-saat kita harus membaca al Qur’an dan melakukan ibadah tarawih dan sebagainya. Ini adalah termasuk tanda bahwasanya kita mengagungkan bulan suci Ramadhan.

Kedua adalah persiapan batin. Persiapan batin di sini artinya, kita harus benar-benar mempersiapkan hati kita, agar kita bisa beruntung di bulan suci Ramadhan.

Mempersiapkan hati dengan ketulusan mengabdi kepada Allah, menghilangkan ketakaburan dan menghilangkan rasa dengki. Karena takabur atau sombong, dengki dan iri itu hanya akan menjadikan kita melakukan ibadah puasa terasa berat dan tidak diterima oleh Allah SWT. Berat karena capek hati, sebab hati kita kotor, mendengki orang lain, melihat orang lain mendapat nikmat sakit hingga akhirnya menggunjing orang yang kita dengki. Takabur dengan merasa kita ini lebih dari yang lainnya, sehingga muncul di hati kita rasa mudah tersinggung, mudah marah, mudah emosi atau bahkan meremehkan orang lain. Hal yang semacam ini adalah sangat menyakitkan hati, karena penyakit-penyakit semacam ini biarpun kita tidak bersentuhan fisik dengan orang-orang yang kita benci atau orang yang kita dengki. Khususnya jika hal ini terjadi kepada orang-orang yang sangat dekat kepada kita, baik itu orang tua, suami, istri, saudara, anak dan lain sebagainya. Kedengkian, ketakaburan dan kebencian yang muncul di antara kita, di antara orang-orang yang dekat adalah sangat pedih dirasakan. Akan tetapi jika kita ingin menjadi orang yang beruntung di bulan suci Ramadhan, haruslah kita ini menyingkirkan yang demikian itu. Jangan sampai kita berlalut-larut di dalam kehinaan, berlarut-larut di dalam kekotoran hati seperti ini.

Maka mulai saat ini, mari kita membersihkan hati kita, kita pangkas kesombongan dan kita pangkas kedengkian dan dendam dengan cara seperti yang diajarkan oleh
Rasulullah SAW, yaitu:

Yang pertama adalah kita selalu koreksi ke dalam diri kita. Jangan merasa bahwasanya kita tidak punya penyakit
hati. Kita harus selalu terus mencermati hati kita dan mencermati hawa nafsu kita. Jangan sampai kita lalai mengontrol hawa nafsu kita. Yang lalai mengontrolnya maka akan terjerumus. Tetapi kalau kita selalu mengontrol, diri kita pun akan selamat. Lebih dari itu, ini adalah makna perintah Allah SWT yang dijelaskan oleh para ulama bahwa segala ilmu yang kita peroleh adalah untuk menjaga diri kita sendiri sebelum orang lain. Kalau sudah diri kita baik, kita menata diri kita, baru saat itu kita melihat orang-orang yang berada di sekitar kita.

Kemudian yang kedua adalah mari kita saling berdoa diantara kita, jangan sampai kita pelit berdoa. Termasuk marilah kita berdoa dengan segala kebaikan terhadap orang-orang yang bermasalah dengan kita. Orang yang kita dengki, orang yang kita benci, orang yang kita dendami, orang yang bermusuhan dengan kita, orang yang berbohong kepada kita, orang yang berbuat curang (dzalim) kepada kita, kita doakan semuanya dengan doa-doa yang baik-baik. Itu adalah pembersih hati kita dan lebih dari itu Allah SWT akan mengagungkan orang yang senantiasa berjuang untuk memerangi hawa nafsunya yang penuh dengan kekotoran itu. Disaat kita sudah berusaha membersihkan hati kita yang demikian ini, maka Ramadhan akan lebih bermakna. Kita akan merasakan keindahan dalam bulan Ramadhan. Diantara suami istri tetap mesra dan indah, sangat mudah untuk melakukan ibadah. Kakak beradik yang mesra sangat mudah untuk melakukan tegur menegur di dalam meningkatkan kualitas keimanan, ketaqwaan dan akhlak yang mulia. Begitu juga kita dengan tetangga. Kalau sudah hati kita tertata, tidak ada kesombongan tidak ada saling meremehkan, yang ada adalah kerinduan untuk menyampaikan kebaikan, maka sungguh di saat itu sangat mudah bagi kita untuk mewujudkan dan menghadirkan ibadah-ibadah di bulan suci Ramadhan.

Dengan begitu maka kita akan menjadi orang-orang yang beruntung di bulan suci Ramadhan. Keluar di bulan suci Ramadhan menjadi orang yang bertaqwa, yang hakikat taqwa itu adalah kita semakin baik kepada Allah dan semakin baik kepada sesama manusia. Yang baik kepada Allah SWT tidak baik kepada manusia, bukanlah orang yang bertaqwa dan yang baik kepada manusia saja, tapi ternyata tidak khusyuk kepada Allah SWT dan tidak rindu kepada Allah SWT bukanlah orang yang bertaqwa. Taqwa adalah gabungan dua makna keharmonisan dan keindahan kepada Allah SWT, sekaligus keharmonisan dan keindahan kepada sesama manusia yang dalam hal ini adalah buah manfaat puasa yang kita lakukan seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al Qur’an.

Wallahu a’lam bish-shawab.

HUKUM BERMAKMUM KEPADA IMAM YANG TIDAK FASIH

HUKUM BERMAKMUM KEPADA IMAM YANG TIDAK FASIH

HUKUM BERMAKMUM KEPADA IMAM YANG TIDAK FASIH

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Buya Yahya yang saya hormati, saya mau bertanya. Apa saja syaratnya menjadi imam dalam shalat berjamaah? Bolehkah anak muda mengimami jamaah yang lebih tua?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. 
Syarat menjadi imam adalah pertama: asalkan shalatnya sendiri sudah sah menurut dirinya sendiri dan kedua ; sah menurut makmum, maka dia bisa jadi imam untuk orang lain.

Adapun jika shalatnya sah menurut Imam dan tidak sah menurut makmum, maka dalam Mazhab Syafi’i ada dua pendapat yang keduanya bisa diambil:

Pendapat pertama: (Al’ibrah bi’tiqadil makmum), maksudnya jika shalat imam menurut makmum tidak sah seperti jika bacaan imam tidak fasih atau imam tidak membaca bismillah dalam fatihah, maka bagi makmum yang fasih atau biasa dengan bismillah tidak sah shalatnya jika bermakmum dengan imam tersebut.

Pendapat kedua: (Al’ibrah bi’tiqadil imam), maksudnya jika imam sudah sah menurut imam, maka siapapun boleh bermakmum dengannya, maka shalat makmum tetap sah biarpun dia biasa membaca bismillah dan imamnya ternyata tidak membacanya. Pendapat yang kedua inilah yang lebih layak dihadirkan saat ini untuk meredam perdebatan.

Ada beberapa tatakrama jadi imam yang harus diperhatikan diantaranya adalah tahu diri. Jika bacaan Anda tidak bagus sementara ada orang yang lebih bagus atau anda ikut pendapat Imam Malik yang mengatakan bismillah tidak wajib dibaca sementara makmum ikut pendapat yang mewajibkan bismillah, maka janganlah Anda memaksakan diri jadi imam, sebab hal itu hanya membuat gundah para makmum yang kebanyakan orang awam. Sebaliknya jika anda menemukan imam yang tidak bijak, maka anda jangan ikut-ikut tidak bijak, ambillah pendapat kedua dan sahlah shalat anda. Anak muda boleh jadi imamnya orang yang sudah tua, asalkan jangan wanita jadi imamnya orang laki-laki. Wallahu a’lam bish-shawab.

——————————————-
Dapatkan kumpulan tanya jawab bersama Buya Yahya dalam buku :
Buya Yahya Menjawab
Informasi : 082127812592 
——————————————-
Sampaikan kepada yang lain, Rosulullah Saw bersabda yang artinya :
“Barang siapa yg menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya” (HR. Imam Muslim)

NABI ISA VERSI ISLAM

NABI ISA VERSI ISLAM

NABI ISA VERSI ISLAM

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr Wb
Buya yang kami hormati, mohon diceritakan tentang kisah Nabi Isa versi Islam, soalnya masyarakat sudah banyak terpengaruh tentang kisah Nabi Isa versi yahudi dan nasrani, apalagi sekarang sudah menjelang hari natal?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Nabi Isa Al-Masih A.S. adalah seorang Nabi yang sangat mulia. Dengan kebesaran kuasa Allah SWT, Beliau A.S. terlahir dari rahim seorang ibu yang suci dan sangat mulia tanpa seorang bapak. Dilahirkan oleh Sayyidah Maryam yang rajin beribadah dan tidak pernah dijamah oleh seorang laki-laki pun. Di musim panas saat kurma berbuah bukan musim dingin dan salju.

Nabi Isa dan Sayyidah Maryam dalam Al-Qur’an lebih mulia daripada Nabi Isa dan Sayyidah Maryam dalam agama lain. Sebab dalam agama selain Islam disebutkan Sayyidah Maryam pernah dijamah oleh laki-laki. Nabi Isa dalam Islam tetap nabi sampai kapan pun. Seorang manusia suci yang sangat mulia dan kelak akan semakin mulia saat turun kembali membela agama Nabi Muhammad SAW. Wallahu a’lam bish-shawab.

——————————————
Dapatkan kumpulan tanya jawab bersama Buya Yahya dalam buku :
Buya Yahya Menjawab
Informasi : 082127812592
——————————————-
Sampaikan kepada yang lain, Rosulullah Saw bersabda yang artinya :
“Barang siapa yg menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya” (HR. Imam Muslim)

HUKUM MENCINTAI LAWAN JENIS & CARA AGAR TERHINDAR DARI ZINA

HUKUM MENCINTAI LAWAN JENIS & CARA AGAR TERHINDAR DARI ZINA

HUKUM MENCINTAI LAWAN JENIS & CARA AGAR TERHINDAR DARI ZINA

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya saya seorang siswi. Menginjak remaja sudah tidak asing lagi jika kita mengenal sosok laki-laki. Bagaimana hukumnya menyukai lawan jenis yang belum mahromnya? Lalu bagaimana cara untuk menghindarinya agar kita tidak terjerumus kepada zina? Syukron Buya

Jawaban:
Wa’alaikum Salam Wr. Wb.
Saudariku, rasa cinta dan suka adalah karunia dari Allah. Allah telah menjadikan ada daya tarik diantara lawan jenis bahkan Allah juga memerintahkan dan menuntun bagaimana agar diantara lawan jenis yang saling membutuhkan itu bisa saling memenuhi kebutuhannya. Artinya, cinta lawan jenis itu normal dan karunia dari Allah SWT. Akan tetapi yang akan menjadi masalah adalah jika kecenderungan, kebutuhan dan cinta kepada lawan jenis yang merupakan karunia dari Allah itu diumbar begitu saja tanpa dikontrol oleh syariat. Maka yang terjadi adalah kesalahan dan kepalsuan dalam mengabdikan cinta.

Cara baik untuk menyikapi cinta dan kecenderungan yang ada dalam hati adalah dengan:
1. Semakin dekat kepada Allah agar tidak terpeleset didalam perjalanannya mengabdikan cintanya.
2. Senantiasa sadar bahwa setiap orang ingin bahagia dengan cinta. Hanya Allah-lah pencipta kebahagiaan, maka tidak ada kebahagiaan dalam cinta yang sesungguhnya jika dibarengi dengan pelanggaran kepada sang Pencipta Cinta, Allah SWT.
3. Waspadalah dengan hawa nafsu dan syetan yang sering menyamar sebagai cinta, hingga banyaklah orang terjerumus dalam zina karena hawa nafsu dan bukan karena cinta yang sesungguhnya.
4. Berpikir praktis dan cerdas. Sudahkah tiba waktunya anda untuk mencintai? Sebab yang menuruti cinta sebelum waktunya ia akan tersiksa dan akan mudah terjerumus dalam hawa nafsu, semisal yang bermain cinta pada saat yang masih jauh dari masa pernikahan dan sebelum pernikahan.
5. Yakin bahwa kecenderungan lawan jenis yang mengajak kepada kemaksiatan adalah ajakan setan dan hawa nafsu, bukan cinta.
6. Mintalah perlindungan dari Allah agar dijauhkan dari zina. Wallahu a’lam bish-shawab.

——————————————-
Dapatkan kumpulan tanya jawab bersama Buya Yahya dalam buku :
Buya Yahya Menjawab
Informasi : 082127812592
——————————————-
Sampaikan kepada yang lain, Rosulullah Saw bersabda yang artinya :
“Barang siapa yg menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya” (HR. Imam Muslim)

AGAR SELALU DICINTAI SUAMI

AGAR SELALU DICINTAI SUAMI

AGAR SELALU DICINTAI SUAMI

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya Yahya yang terhormat dan semoga selalu dirahmati oleh Allah SWT, saya ingin bertanya kepada Buya. Bagaimanakah agar selalu dicintai oleh suami, sehingga suami kita tidak berpaling kepada orang lain dan selalu cinta kepada saya? Demikian pertanyaan saya semoga dapat dibantu, terimakasih.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Pertama dan yang paling utama harus anda sadari adalah cintailah suamimu karena Allah. Kemudian anda harus juga sadari bahwa cinta itu tentu ada sebab-sebabnya dan sebab cinta adalah nilai kebaikan baik lahir atau bathin. Kalau anda ingin dicintai oleh suami, tentu anda harus membuat sebab-sebab tersebut.

Mungkin secara fisik kecantikan anda tidak bisa dirubah lagi, akan tetapi anda bisa dengan modal fisik yang anda miliki bisa anda sempurnakan dengan memperbaiki perawatan terhadap kadar kecantikan anda. Misalnya agar anda tidak jorok, biasakan senantiasa bersih dan lebih banyak berdandan untuk suami.

Lalu anda tambahkan kecantikan perilaku anda, mulai dari tutur kata yang anda kontrol untuk bisa menyenangkan suami dan tidak menyakitinya, berlaku yang lembut bukan seenaknya.

Anda tingkatkan pengabdian anda, perhatian dengan apa yang disenangi suami dan apa yang diperintahkannya. Cintai dan berperilakulah yang baik pada keluarga suami.

Jangan banyak menuntut karena menuntut adalah upaya menunjukan kekurangan orang yang dituntut, dan hal ini menodai cinta.

Setelah ini semua, lakukan semua yang tersebut diatas karena Allah dengan penuh keikhlasan, kemudian memohonlah kepada Allah SWT maka setelah itu Allah akan menitipkan cinta di hati suami anda untuk anda. Wallahu a’lam bish-shawab.

——————————————-
Dapatkan kumpulan tanya jawab bersama Buya Yahya dalam buku :
Buya Yahya Menjawab
Informasi : 082127812592
——————————————-
Sampaikan kepada yang lain, Rosulullah Saw bersabda yang artinya :
“Barang siapa yg menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya” (HR. Imam Muslim)

MENYIKAPI ORANG-ORANG YANG SUKA MEMBID’AHKAN

MENYIKAPI ORANG-ORANG YANG SUKA MEMBID’AHKAN

MENYIKAPI ORANG-ORANG YANG SUKA MEMBID’AHKAN

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Apa yang harus kita lakukan jika ada orang yang selalu membid’ahkan terhadap amalan amalan yang sering kita lakukan?

Jawaban:
Wa’alaikum Salam Wr. Wb.
Seseorang tidak boleh merasa suci dan paling baik dan benar. Sikap kita jika ada orang yang membid’ahkan kita adalah koreksi diri, karena bisa saja apa yang dikatakan orang itu benar. Akan tetapi yang harus lebih koreksi diri adalah di saat kita ingin membid’ahkan orang lain. Karena di saat kita membid’ahkan itu artinya kita merasa lebih benar dari orang lain.

Jika kita sudah koreksi diri disaat dibid’ahkan dan ternyata kita salah kita harus segera insyaf dan jika kita dalam kondisi benar berdasarkan dalil dan hujjahnya menurut para ulama, maka penilaian baru kita arahkan kepada orang yang membid’ahkan. Sudahkah dia bertanya kepada yang dibid’ahkan (tentunya kepada ulamanya orang yang dibid’ahkan)? Jika belum, maka orang yang mudah membid’ahkan itu adalah ahli fitnah sekaligus ahli bid’ah.

Ada banyak amalan yang dilakukan kaum muslimin di Indonesia oleh sekelompok kecil umat Islam dikatakan bid’ah namun mereka yang membid’ahkan tidak pernah bertanya langsung kepada yang bersangkutan, itulah ahli fitnah pemecah belah umat. Wallahu a’lam bish-shawab.

——————————————-
Dapatkan kumpulan tanya jawab bersama Buya Yahya dalam buku :
Buya Yahya Menjawab
Informasi : 082127812592
——————————————-
Sampaikan kepada yang lain, Rosulullah Saw bersabda yang artinya :
“Barang siapa yg menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya” (HR. Imam Muslim)

SAHKAH JIKA TIDAK MEMBUKA KERUDUNG DI SAAT WUDHU KARENA BANYAK LAKI-LAKI?

SAHKAH JIKA TIDAK MEMBUKA KERUDUNG DI SAAT WUDHU KARENA BANYAK LAKI-LAKI?

SAHKAH JIKA TIDAK MEMBUKA KERUDUNG DI SAAT WUDHU KARENA BANYAK LAKI-LAKI?

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya yang dirahmati Allah, bagaimana jika wudhu kerudungnya tidak dilepas? Karena di tempat tersebut banyak kaum laki-laki. Apakah itu boleh? Bagaimana hukumnya?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Mengusap rambut kepala adalah wajib di dalam wudhu. Dalam Madzhab Imam Syafi’i cukup dan sah biarpun hanya satu rambut asalkan masih berada di bagian kepala (ini adalah kemudahan dalam Islam). Berbeda jika kita melihat madzhab yang lain. Jadi wanita yang pakai kerudung tidak perlu membuka kerudungnya khususnya jika disitu ada laki-laki yang bukan mahramnya. Cukup dengan membasahi ujung jari lalu dimasukkan di balik kerudung asal menyentuh rambut yang di kepala maka wudhunya sudah sah. Demi kesempurnaan (sunnah), jika tidak di hadapan kaum laki-laki yang bukan mahram dianjurkan untuk mengusap seluruh bagian kepala. Wallahu a’lam bish-shawab.

SHALAT JAMAAH DI MASJIDIL HARAM APA KEUTAMAANNYA?

SHALAT JAMAAH DI MASJIDIL HARAM APA KEUTAMAANNYA?

SHALAT JAMAAH DI MASJIDIL HARAM APA KEUTAMAANNYA?

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Saya mendengar dari seorang teman dari Mesir bahwasanya sebelum masa Sheikh Muhammad bin Abdul Wahab atau sebelum Makkah di bawah kekuasaan penguasa yang sekarang, ummat Islam mendirikan shalat berjama’ah secara berkelompok kelompok di dalam Masjidil Haram sesuai dengan madzhabnya. Misalnya Mazhab Imam Syafi’i membentuk jama’ah shalat sendiri dengan seorang Imam, begitu juga tiga madzhab yang lainnya. Mohon penjelasannya,

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Shalat berjamaah di Masjidil Haram dari semula dilakukan dengan satu imam, dan cara seperti itu adalah kebenaran yang disepakati oleh ulama 4 Mazhab, Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali. Kemudian terjadi kerancauan pada abad ke 5 hijriyah yaitu munculnya shalat berjamaah sesuai dengan Madzhab masing-masing. Bersama itu juga muncul fatwa-fatwa pengingkaran akan hal tersebut dari pembesar ulama 4 Madzhab. Akan tetapi usaha mereka belum menuai hasil. Dikatakan oleh Ibnu Abidin seorang alim dalam Mazhab Hanafi dalam kitab Ad-Durrul Mukhtar, hal itu karena ada sebagian ulama yang dikuasai hawa nafsu dan cinta pangkat.

Kejadian semacam ini terus berlangsung hingga pada abad ke-13 tepatnya tahun 1345 hijriyah terjadilah shalat berjamah dengan satu imam dengan memperhatikan semua Madzhab untuk menjadi imam. Ada imam dari madzhab Hanafi, ada yang dari Madzhab Maliki, ada juga dari Madzhab Syafi’i dan juga ada yang dari Madzhab Hanbali yaitu pada masa Raja Abdul Aziz. Termasuk menjadi imam pada zaman itu adalah As-Sayyid Abbas bin Abdul Aziz Al-Hasani Al-Maliki kakek dari Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliky. Jadi masa Syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang lahir pada tahun 1115 Hijriyah problem ini masih ada bahkan sampai 200 tahun kemudian.

Memang ada bahasa fitnah yang ditebarkan oleh kelompok ekstrim yang anti bermadzhab ingin merendahkan para penganut madzhab seolah-olah problem ini adalah karena adanya madzhab.

Padahal ulama 4 Madzhab juga mengingkari. Jadi problem berjamaah yang berkelompok-kelompok sesuai dengan madzhab masing-masing adalah hal yang tidak diinginkan oleh semua Madzhab dan yang mereka inginkan adalah saling mengerti dan saling memahami perbedaan dalam urusan furu.

Justru fitnah yang amat besar lagi adalah pada akhir-akhir ini yaitu disaat tidak ada Imam kecuali dari kelompok tertentu, seperti yang terjadi di Masjidil Haram saat ini. Bahkan majlis ilmu yang ada di Masjidil Haram pun tidak ada kecuali harus pendukung kelompok tertentu. Fitnah ini lebih besar dari fitnah yang saat ini kita bicarakan. Bahkan kelompok ini cenderung picik melihat ulama bermadzhab yang seolah-olah dimata mereka adalah ahli bid’ah karena taqlid mereka, hingga program kajian ilmiah yang semula marak dengan para ulama dari berbagai madzhab akan tetapi semua itu saat ini sudah tidak ada lagi. Hal ini adalah karena cara pandang yang salah dari kelompok tersebut seolah-olah mereka saja yang benar dan yang lainnya adalah salah dan tidak layak menjadi imam atau mengajar di Masjidil Haram. Semoga Allah menjauhkan kita semua dari fitnah dalam dunia dan agama. Wallahu a’lam bish-shawab

HUKUM ISTERI KELUAR RUMAH TANPA IZIN SUAMI

HUKUM ISTERI KELUAR RUMAH TANPA IZIN SUAMI

HUKUM ISTERI KELUAR RUMAH TANPA IZIN SUAMI

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum, maaf ustadz saya ini seorang istri yang bisa di katakan termasuk istri yang taat kepada suami saya akan tetapi suami kurang perhatian kepada saya sehingga saya sering keluar rumah tanpa izin darinya, apakah saya mendapatkan dosa dari perbuatan saya tersebut

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Seorang istri yang shalehah adalah seorang istri yang tidak sekedar dia itu menyenangkan suami, akan tetapi juga sabar akan kekurangan sang suami. Jika permasalahannya adalah masalah perhatian, sekarang yang perlu dipertanyakan adalah: Perhatian seperti apa yang anda inginkan? Kadang ada orang yang (mohon ma’af) selalu berlebihan di dalam mengharap perhatian. Karena mungkin melihat orang lain mendapat perhatian yang lebih dari suaminya, dia ingin mendapatkan seperti itu juga dari suaminya.

Akan tetapi kaidah dalam hidup berumah tangga adalah “Lakukan kewajibanmu, dan jangan banyak menuntut!” Apa tugas anda sebagai seorang istri? Kemudian bagaimana sebaiknya seorang istri jika menemukan pasangannya tidak melaksanakan kewajiban atau kurang dalam melaksanakan kewajibanya?

Kita harus bisa menata hati. Dalam hidup berumah tangga ada saatnya kita bersyukur dan ada saatnya kita bersabar. Yang tidak mengerti syukur dan terimakasih akan selalu menuntut lebih kepada pasangan. Kesabaran juga sangat penting untuk meredam emosi dan memperkecil tuntutan. Jangan sampai sedikit – sedikit protes atau menuntut. Anda katakan bahwa anda adalah wanita yang taat. Akan tetapi bagaimana seorang istri yang patuh pada suami keluar tanpa izin hanya karena tidak atau kurang diperhatikan? Lalu apa yang anda lakukan diluar? Wanita sholehah tidak akan keluar rumah kecuali atas izin seorang suami.

Jika menemukan suami yang tidak perhatian mungkin bisa dibuka komunikasi yang baik. Sampaikan dengan baik apa yang anda inginkan. Rata-rata suami akan merasa senang dan bangga jika istrinya manja dan minta untuk dimanja dan disayang. Tentunya hal itu dalam batas yang wajar dan bertahap sesuai dengan kemampuan seorang suami. Sebab ada suami yang memang tidak biasa mesra, hal itu jangan diartikan benci atau tidak perhatian. Akan tetapi itu hanya karena belum biasa.

Jangan protes dengan melanggar. Protes dengan melanggar adalah bukan kepatuhan. Tidak menarik hati suami. Itu adalah bertentangan dengan kepatuhan. Hukumnya adalah dosa dan haram di hadapan Allah SWT. Kepada para suami hendaknya menjadi suami yang pandai dalam seni bercinta dengan istri. Seorang istri tidak hanya membutuhkan materi akan tetapi sanjungan, rayuan, perhatian dan sentuhan tangan lembut seorang suami adalah obat penat dalam menjalani kewajiban sebagai seorang istri. Wallahu a’lam bish-shawab

HUKUM BERSUJUD DI LUAR SHALAT

HUKUM BERSUJUD DI LUAR SHALAT

HUKUM BERSUJUD DI LUAR SHALAT

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya, saya ibu rumah tangga. Seringkali kita melihat di TV orang yang bergembira tiba-tiba bersujud dengan spontan, sementara dia tidak dalam keadaan shalat. Adakah sujud selain dalam shalat? Haruskah menghadap kiblat? Bagaimana apabila tidak tahu arah kiblat? Mohon penjabaran dari Buya, terima kasih.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Tentang sujud selain dalam shalat itu ada rinciannya. Ada empat macam sujud yang diperkenankan, yaitu sebagai berikut:
1. Sujud Dalam Shalat
2. Sujud Sahwi (sebenarnya ini juga termasuk sujud dalam shalat)
3. Sujud Tilawah
4. Sujud Syukur

Barangkali yang ditanyakan adalah macam sujud yang ke-4 yaitu sujud syukur. Dalam hal sujud syukur ini, sebelum para ulama berbeda pendapat tentang cara melaksanakannya mereka telah berbeda pendapat tentang ada dan tidak adanya sujud syukur. Hampir disepakati oleh ulama Syafi’iyah (Imam Syafi’i) dan Hanabilah (Imam Hanbali) bahwa sujud syukur adalah dianjurkan disaat mendapatkan nikmat atau terhindar dari musibah.

Ada juga pendapat sebagian kecil ulama Hanafiyah (Imam Hanafi) dan Malikiyah (Imam Malik). Hanya kebanyakan ulama Malikiyah dan Hanafiyah mengatakan sujud syukur tidak dianjurkan. Ulama yang menganjurkan sujud syukur mereka berbeda pendapat akan cara pelaksanaannya.

Menurut kebanyakan ulama Syafi’iyah dan Hanabilah bahwasanya sujud syukur itu harus memenuhi syarat-syarat dalam shalat (seperti : Menghadap kiblat, bersuci dan menutup aurat). Artinya jika ada orang sujud syukur tanpa menghadap kiblat atau tanpa wudhu atau tanpa menutup aurat maka sujud syukur tersebut tidak sah bahkan haram, jika ia sadar dan tahu kalau itu tidak sah.

Akan tetapi, ada pendapat sebagian kecil dari pengikut Madzhab Hanbali yang mengatakan bahwa sujud syukur bisa dilakukan tanpa bersuci dan menurut sebagian kecil dari pengikut Madzhab Malik bisa dilakukan tanpa menutup aurat.

Adapun menghadap kiblat telah disepakati oleh ulama bagi yang tahu kiblat hukum menghadap kiblat adalah wajib dan jika tidak menghadap kiblat maka sujudnya tidak sah dan hukumnya haram.

Ada lagi perbedaaan di antara ulama, yaitu haruskah dengan takbirotul ihrom, tasyahud dan salam? Kebanyakan ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah mengatakan sujud syukur adalah dengan takbirotul ihrom dan salam tanpa ada Tasyahud. Ada sebagian kecil ulama yang mengatakan tanpa takbirotul ihrom dan tanpa salam. Adapun masalah tasyahud hampir disepakati bahwa sujud syukur tidak ada tasyahudnya.

Dari yang telah diuraikan tentu bisa dimengerti, bahwa apa yang ditanyakan akan adanya orang sujud di TV adalah tidak benar jika mereka memang tidak berwudhu atau tidak menutup aurat atau tidak menghadap kiblat. Namun, jika masih menutup aurat dan menghadap kiblat hal itu masih bisa dianggap sah menurut sebagian kecil ulama, akan tetapi karena masyarakat kita umumnya bermadzhab Syafi’i orang tersebut harus dibimbing agar amalannya bisa sesuai dengan amalan Madzhab Syafi’i.

Adapun pertanyaan yang ketiga, bagi orang yang tahu arah kiblat dan mampu menghadap kiblat lalu tidak menghadap kiblat maka disepakati oleh para ulama hal itu adalah tidak sah dan haram hukumnya. Keharamannya tidak sampai derajat kafir karena ia masih sujud kepada Allah akan tetapi yang salah caranya.
Wallahu a’lam bish-shawab
————————————————
Dapatkan kumpulan tanya jawab bersama Buya Yahya dalam buku :
Buya Yahya Menjawab
Informasi : 082127812592
——————————————-
Sampaikan kepada yang lain, Rosulullah Saw bersabda yang artinya :
“Barang siapa yg menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya” (HR. Imam Muslim)