BULETIN JUM’AT – YANG TERKUTUK DI BULAN RAMADHAN


YANG TERKUTUK DI BULAN RAMADHAN
Oleh: Buya Yahya

Suatu ketika Rasulullah SAW naik ke atas mimbar kemudian beliau mengucapkan kalimat “amin…“ yang pertama. Kemudian mengucapkan kalimat “amin” yang kedua. Kemudian mengucapkan kalimat “amin” yang ketiga. Setelah selesai berkhutbah para sahabat Nabi SAW bertanya tentang “amin” yang diucapkan oleh Rasul SAW: “Siapa yang berdoa dan didoakan sehingga Rasulullah mengamininya?”

Kemudian Nabi SAW menjawab bahwa beliau kedatangan malaikat Jibril, dan malaikat Jibril mengatakan: “Semoga akan masuk neraka dan terkutuk seseorang yang sempat menemui kedua orang tuanya akan tetapi tidak sempat untuk mengabdi dan memuliakannya.” Menjadi terkutuk dan masuk neraka karena orang tua adalah lahan pengampunan dari Allah SWT, maka yang tidak mengabdi kepada orang tua sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan pengampunan dari Allah SWT.

“Amin..” yang kedua adalah orang yang mendengar nama Nabi SAW disebutkan akan tetapi tidak mengucapkan sholawat kepada beliau. Maka orang tersebut adalah orang yang terkutuk. Karena sholawat kepada Nabi SAW adalah pintu yang amat lebar untuk mendapatkan syafa’at Nabi SAW.

Kemudian “amin”. yang ketiga adalah orang yang didoakan oleh malikat Jibril sebagai orang yang terkutuk karena orang tersebut sempat menemui bulan Ramadhan dan ia keluar dari bulan Ramadhan ternyata dosanya belum diampuni oleh Allah SWT. Sebab bulan Ramadhan adalah bulan pengampunan, bulan rahmat keridhoan Allah SWT. Akan tetapi di bulan Ramadhan dia tidak berusaha untuk meningkatkan kualiatas ibadahnya dan tidak ada usaha untuk mengurangi kemaksiatan.

Rasulullah saat itu bercerita tentang sesuatu yang akan terjadi di masa-masa mendatang, akan adanya orang celaka dan terkutuk di bulan suci Ramadhan. Yaitu orang yang tidak pernah peduli dengan bulan mulia ini. Sebelum Ramadhan tidak ada semangat untuk menyambutnya dan disaat Ramadhan tiba tidak bersyukur akan nikmat kesempatan bisa masuk bulan ramadhan ini. Sehingga amal baik pun tidak segera ditingkatkan dan maksiat pun tidak berusaha untuk dikurangi.

Disebutkan juga oleh para Ulama bahwa tanda orang yang akan mati dalam kemuliaan iman (khusnul khotimah) adalah orang yang berusaha untuk membuat perubahan dalam dirinya di dalam bulan suci Ramadhan agar menjadi lebih baik dari sebelum Ramadhan.

Dan tanda orang yang akan mati dalam keadaan celaka (su’ul khotimah) adalah orang yang di saat Ramadhan tiba tidak menghargai bulan mulia ini. Tidak ada upaya untuk menigkatkan amal baik di bulan Ramadhan. Segala kemaksiatan yang dilakukan di luar Ramadhan dengan mudahnya ia lakukan di saat berada di bulan suci Ramadhan.

Selagi ada kesempatan di bulan Ramadhan ini mari kita berusaha agar tidak tergolong sebagai orang yang celaka, terkutuk dan su’ul khotimah. Kita tingkatkan ibadah kita. Berjuang menjauhi kemaksiatan serta menjauhi kedhzoliman kepada sesama dengan bersabar melawan hawa nafsu yang senantiasa mengajak kepada kekejian.

Sebelum terlambat, umur ada batasnya dan nafas sudah ada jatahnya. Belum tentu kita bisa menemui Ramadhan di tahun depan. Dengan memohon kepada Allah SWT semoga Allah memberi kepada kita umur panjang dalam ketaatan serta sehat wal’afiat hingga bisa bertemu Ramadhan yang akan datang. Mari kita isi Ramadhan ini dengan renungan akan dosa-dosa kita kepada Allah, dosa pada sesama. Sekaligus berusaha memohon ampun kepada Allah dan kepada sesama. Serta kita tingkatkan ibadah kita dan menjalin keindahan dengan sesama. Wallahu a’lam Bish-Showab.

————————————————————————————————————

BULETIN JUM’AT MAJELIS AL-BAHJAH

Mari bergabung dalam program mulia dengan segala kemampuan kita untuk dakwah Risalah Nabi yang mulia!

DOWNLOAD -> PRINT -> PERBANYAK / CETAK -> SEBARKAN SELUAS-LUASNYA

Buletin Jum’at Majelis Al-Bahjah (Risalah Oleh: Buya Yahya) Klik link berikut dan Pilih Download:

087.BULETIN JUM’AT YANG TERKUTUK DI BULAN RAMADHAN

BULETIN JUM’AT MAJELIS AL-BAHJAH – PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

BULETIN JUM’AT MAJELIS AL-BAHJAH

Mari bergabung dalam program mulia dengan segala kemampuan kita untuk dakwah Risalah Nabi yang mulia!

DOWNLOAD -> PRINT -> PERBANYAK / CETAK -> SEBARKAN SELUAS-LUASNYA

Buletin Jum’at Majelis Al-Bahjah (Risalah Oleh: Buya Yahya)
Klik link berikut (Pdf File) :
086.BULETIN JUM’AT RAMADHAN

LIKE, TAG & SHARE…

PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

Bulan agung segera tiba, bulan mulia segera datang, di bulan itulah Allah SWT memuliakan banyak sekali dari hamba-hamba-Nya. Yang akan mendapatkan kemuliaan di bulan suci Ramadhan adalah hamba-hamba yang tahu keagungan Ramadhan. Yang mendapatkan keagungan di bulan suci Ramadhan adalah hamba-hamba yang benar-benar menyambut berita gembira kabar datangnya bulan suci Ramadhan, bulan penuh pengampunan, bulan penuh rahmat dari Allah SWT, bulan yang Allah SWT membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka. Sungguh itu adalah bulan keberuntungan.

Sangat rugi orang yang bisa bertemu dengan bulan suci Ramadhan akan tetapi dia bukan termasuk orang yang diampuni, bukan termasuk orang yang mendapatkan rahmat dari Allah SWT, bukan termasuk orang yang mendapatkan keridhaan dari Allah SWT. Seperti yang pernah disabdakan oleh Nabi. Suatu ketika Rasulullah SAW berada di mimbar, lalu mengatakan kalimat, “Amin.” Lalu para sahabat Nabi bertanya, “Siapa yang didoakan dan siapa yang berdoa?” Rasulullah SAW menjawab: “Malaikat Jibril As berkata: Orang yang memasuki bulan ramadhan akan tetapi belum diampuni dosanya oleh Allah SWT, sungguh ia adalah hamba yang terkutuk.” Kemudian Aku (Nabi SAW) katakan “Amin.” Artinya, ada orang memasuki bulan suci Ramadhan akan tetapi tidak ada semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan. Maka orang-orang seperti ini termasuk orang-orang yang terkutuk dan tidak beruntung. Karena di bulan Ramadhan Allah SWT memberikan diskon besar-besaran kepada hamba-Nya. Semua amal kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT dengan lipat ganda yang tidak pernah ada kecuali di bulan suci Ramadhan.

Ini adalah termasuk kemuliaan dan keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW, seperti yang pernah diadukan oleh sahabat Nabi, bahwa umat Nabi Muhammad ini umurnya pendak-pendek, sementara umat-umat terdahulu umurnya panjang. Jika mereka itu shaleh tentu pangkat mereka akan tinggi karena bisa melakukan ibadah yang amat panjang. Akan tetapi dijawab oleh Rasulullah SAW dengan jawaban yang indah, “Memang umatku adalah usianya pendek, akan tetapi Allah telah memberikannya Ramadhan dan juga Allah telah memberikannya lailatul qadar yang Allah SWT akan melipat gandakan pahala amal ibadah umat islam pada bulan Ramadhan dan lailatullqadar.” Maka dari itu, jangan sampai ada dari kita yang tertinggal dari rombongan orang yang beruntung di bulan suci Ramadhan. Jangan sampai ada diantara kita ini orang yang lalai dengan Ramadhan. Dalam menyambut bulan Ramadhan kita harus mempersiapkan dengan dua persiapan, persiapan lahir dan batin:

Pertama: Persiapan lahir. Persiapan lahir adalah dengan melihat di sekitar kita dan mencari sebab-sebab yang menjadikan kita dekat dan khusyuk kepada Allah SWT. Fasilitas dhahir mulai dari mushaf, baju, mushalla, termasuk kebutuhan-kebutuhan yang ada di rumah kita, jika ada yang kurang mari kita penuhi. Persiapkan jadwal-jadwal untuk amal ibadah yang harus kita laksanakan di bulan suci Ramadhan. Jangan sampai waktu bulan suci Ramadhan ini berlalu begitu saja. Jika kita tidak berfikir apa yang akan kita lakukan, amat sulit bagi kita untuk melakukannya jika tiba waktunya. Akan tetapi tanda bahwa kita rindu dan mengagungkan bulan suci Ramadhan dan tanda bahwasanya kita ingin diagungkan oleh Allah SWT, maka saat ini harus kita rencanakan amal-amal ibadah yang akan kita lakukan. Termasuk urusan dunia yang harus kita lakukan pun harus dimasukan di dalam jadwal kita untuk melaksanakan amal akhirat. Kalau kita telah rinci dan rapi dalam menyusun sebuah rencana, maka sesungguhnya kita tinggal melaksanakannya. Rencana yang kita susun itu tidak lain adalah tanda bahwasanya kita rindu kepada Ramadhan, yang artinya juga rindu kepada Allah SWT.

Yang bekerja jangan sampai lupa, bahwa mencari nafkah adalah sangat mulia, kalau memang didasarkan atau niat yang benar karena Allah SWT. Kalau orang yang bekerja mungkin sulit untuk melakukan shalat atau membaca Al Qur’an, akan tetapi jangan sampai mulut ini diam dari dzikir kepada Allah SWT. Yang berada dipasar-pasar pun demikian, berhenti menghindari omongan yang kotor lalu merubah lidah kita dengan menyebut nama Allah SWT. Ini adalah tanda bahwa kita adalah orang yang mengerti keagungan bulan suci Ramadhan dan masih banyak yang lainnya. Kegiatan-kegiatan yang kita lakukan harus kita atur dan kita rapikan. Jangan sampai kita ini melakukan suatu pekerjaan yang tidak penting di saat-saat kita harus membaca al Qur’an dan melakukan ibadah tarawih dan sebagainya. Ini adalah termasuk tanda bahwasanya kita mengagungkan bulan suci Ramadhan.

Kedua adalah persiapan batin. Persiapan batin di sini artinya, kita harus benar-benar mempersiapkan hati kita, agar kita bisa beruntung di bulan suci Ramadhan.

Mempersiapkan hati dengan ketulusan mengabdi kepada Allah, menghilangkan ketakaburan dan menghilangkan rasa dengki. Karena takabur atau sombong, dengki dan iri itu hanya akan menjadikan kita melakukan ibadah puasa terasa berat dan tidak diterima oleh Allah SWT. Berat karena capek hati, sebab hati kita kotor, mendengki orang lain, melihat orang lain mendapat nikmat sakit hingga akhirnya menggunjing orang yang kita dengki. Takabur dengan merasa kita ini lebih dari yang lainnya, sehingga muncul di hati kita rasa mudah tersinggung, mudah marah, mudah emosi atau bahkan meremehkan orang lain. Hal yang semacam ini adalah sangat menyakitkan hati, karena penyakit-penyakit semacam ini biarpun kita tidak bersentuhan fisik dengan orang-orang yang kita benci atau orang yang kita dengki. Khususnya jika hal ini terjadi kepada orang-orang yang sangat dekat kepada kita, baik itu orang tua, suami, istri, saudara, anak dan lain sebagainya. Kedengkian, ketakaburan dan kebencian yang muncul di antara kita, di antara orang-orang yang dekat adalah sangat pedih dirasakan. Akan tetapi jika kita ingin menjadi orang yang beruntung di bulan suci Ramadhan, haruslah kita ini menyingkirkan yang demikian itu. Jangan sampai kita berlalut-larut di dalam kehinaan, berlarut-larut di dalam kekotoran hati seperti ini. Maka mulai saat ini, mari kita membersihkan hati kita, kita pangkas kesombongan dan kita pangkas kedengkian dan dendam dengan cara seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu:

Yang pertama adalah kita selalu koreksi ke dalam diri kita. Jangan merasa bahwasanya kita tidak punya penyakit
hati. Kita harus selalu terus mencermati hati kita dan mencermati hawa nafsu kita. Jangan sampai kita lalai mengontrol hawa nafsu kita. Yang lalai mengontrolnya maka akan terjerumus. Tetapi kalau kita selalu mengontrol, diri kita pun akan selamat. Lebih dari itu, ini adalah makna perintah Allah SWT yang dijelaskan oleh para ulama bahwa segala ilmu yang kita peroleh adalah untuk menjaga diri kita sendiri sebelum orang lain. Kalau sudah diri kita baik, kita menata diri kita, baru saat itu kita melihat orang-orang yang berada di sekitar kita.

Kemudian yang kedua adalah mari kita saling berdoa diantara kita, jangan sampai kita pelit berdoa. Termasuk marilah kita berdoa dengan segala kebaikan terhadap orang-orang yang bermasalah dengan kita. Orang yang kita dengki, orang yang kita benci, orang yang kita dendami, orang yang bermusuhan dengan kita, orang yang berbohong kepada kita, orang yang berbuat curang (dzalim) kepada kita, kita doakan semuanya dengan doa-doa yang baik-baik. Itu adalah pembersih hati kita dan lebih dari itu Allah SWT akan mengagungkan orang yang senantiasa berjuang untuk memerangi hawa nafsunya yang penuh dengan kekotoran itu. Disaat kita sudah berusaha membersihkan hati kita yang demikian ini, maka Ramadhan akan lebih bermakna. Kita akan merasakan keindahan dalam bulan Ramadhan. Diantara suami istri tetap mesra dan indah, sangat mudah untuk melakukan ibadah. Kakak beradik yang mesra sangat mudah untuk melakukan tegur menegur di dalam meningkatkan kualitas keimanan, ketaqwaan dan akhlak yang mulia. Begitu juga kita dengan tetangga. Kalau sudah hati kita tertata, tidak ada kesombongan tidak ada saling meremehkan, yang ada adalah kerinduan untuk menyampaikan kebaikan, maka sungguh di saat itu sangat mudah bagi kita untuk mewujudkan dan menghadirkan ibadah-ibadah di bulan suci Ramadhan.

Dengan begitu maka kita akan menjadi orang-orang yang beruntung di bulan suci Ramadhan. Keluar di bulan suci Ramadhan menjadi orang yang bertaqwa, yang hakikat taqwa itu adalah kita semakin baik kepada Allah dan semakin baik kepada sesama manusia. Yang baik kepada Allah SWT tidak baik kepada manusia, bukanlah orang yang bertaqwa dan yang baik kepada manusia saja, tapi ternyata tidak khusyuk kepada Allah SWT dan tidak rindu kepada Allah SWT bukanlah orang yang bertaqwa. Taqwa adalah gabungan dua makna keharmonisan dan keindahan kepada Allah SWT, sekaligus keharmonisan dan keindahan kepada sesama manusia yang dalam hal ini adalah buah manfaat puasa yang kita lakukan seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al Qur’an. Wallahu a’lam bish-shawab.

BULETIN JUM’AT MAJELIS AL-BAHJAH

BULETIN JUM’AT MAJELIS AL-BAHJAH

Mari bergabung dalam program mulia dengan segala kemampuan kita untuk dakwah Risalah Nabi yang mulia!

DOWNLOAD -> PRINT -> PERBANYAK / CETAK -> SEBARKAN SELUAS-LUASNYA

Buletin Jum’at Majelis Al-Bahjah (Risalah Oleh: Buya Yahya)

Klik link berikut dan Pilih Download:

085.BULETIN JUM’AT RAMADHAN

PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

Bulan agung segera tiba, bulan mulia segera datang, di bulan itulah Allah SWT memuliakan banyak sekali dari hamba-hamba-Nya. Yang akan mendapatkan kemuliaan di bulan suci Ramadhan adalah hamba-hamba yang tahu keagungan Ramadhan. Yang mendapatkan keagungan di bulan suci Ramadhan adalah hamba-hamba yang benar-benar menyambut berita gembira kabar datangnya bulan suci Ramadhan, bulan penuh pengampunan, bulan penuh rahmat dari Allah SWT, bulan yang Allah SWT membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka. Sungguh itu adalah bulan keberuntungan.

Sangat rugi orang yang bisa bertemu dengan bulan suci Ramadhan akan tetapi dia bukan termasuk orang yang diampuni, bukan termasuk orang yang mendapatkan rahmat dari Allah SWT, bukan termasuk orang yang mendapatkan keridhaan dari Allah SWT. Seperti yang pernah disabdakan oleh Nabi. Suatu ketika Rasulullah SAW berada di mimbar, lalu mengatakan kalimat, “Amin.” Lalu para sahabat Nabi bertanya, “Siapa yang didoakan dan siapa yang berdoa?” Rasulullah SAW menjawab: “Malaikat Jibril As berkata: Orang yang memasuki bulan ramadhan akan tetapi belum diampuni dosanya oleh Allah SWT, sungguh ia adalah hamba yang terkutuk.” Kemudian Aku (Nabi SAW) katakan “Amin.” Artinya, ada orang memasuki bulan suci Ramadhan akan tetapi tidak ada semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan. Maka orang-orang seperti ini termasuk orang-orang yang terkutuk dan tidak beruntung. Karena di bulan Ramadhan Allah SWT memberikan diskon besar-besaran kepada hamba-Nya. Semua amal kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT dengan lipat ganda yang tidak pernah ada kecuali di bulan suci Ramadhan.

Ini adalah termasuk kemuliaan dan keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW, seperti yang pernah diadukan oleh sahabat Nabi, bahwa umat Nabi Muhammad ini umurnya pendak-pendek, sementara umat-umat terdahulu umurnya panjang. Jika mereka itu shaleh tentu pangkat mereka akan tinggi karena bisa melakukan ibadah yang amat panjang. Akan tetapi dijawab oleh Rasulullah SAW dengan jawaban yang indah, “Memang umatku adalah usianya pendek, akan tetapi Allah telah memberikannya Ramadhan dan juga Allah telah memberikannya lailatul qadar yang Allah SWT akan melipat gandakan pahala amal ibadah umat islam pada bulan Ramadhan dan lailatullqadar.” Maka dari itu, jangan sampai ada dari kita yang tertinggal dari rombongan orang yang beruntung di bulan suci Ramadhan. Jangan sampai ada diantara kita ini orang yang lalai dengan Ramadhan. Dalam menyambut bulan Ramadhan kita harus mempersiapkan dengan dua persiapan, persiapan lahir dan batin:

Pertama: Persiapan lahir. Persiapan lahir adalah dengan melihat di sekitar kita dan mencari sebab-sebab yang menjadikan kita dekat dan khusyuk kepada Allah SWT. Fasilitas dhahir mulai dari mushaf, baju, mushalla, termasuk kebutuhan-kebutuhan yang ada di rumah kita, jika ada yang kurang mari kita penuhi. Persiapkan jadwal-jadwal untuk amal ibadah yang harus kita laksanakan di bulan suci Ramadhan. Jangan sampai waktu bulan suci Ramadhan ini berlalu begitu saja. Jika kita tidak berfikir apa yang akan kita lakukan, amat sulit bagi kita untuk melakukannya jika tiba waktunya. Akan tetapi tanda bahwa kita rindu dan mengagungkan bulan suci Ramadhan dan tanda bahwasanya kita ingin diagungkan oleh Allah SWT, maka saat ini harus kita rencanakan amal-amal ibadah yang akan kita lakukan. Termasuk urusan dunia yang harus kita lakukan pun harus dimasukan di dalam jadwal kita untuk melaksanakan amal akhirat. Kalau kita telah rinci dan rapi dalam menyusun sebuah rencana, maka sesungguhnya kita tinggal melaksanakannya. Rencana yang kita susun itu tidak lain adalah tanda bahwasanya kita rindu kepada Ramadhan, yang artinya juga rindu kepada Allah SWT.

Yang bekerja jangan sampai lupa, bahwa mencari nafkah adalah sangat mulia, kalau memang didasarkan atau niat yang benar karena Allah SWT. Kalau orang yang bekerja mungkin sulit untuk melakukan shalat atau membaca Al Qur’an, akan tetapi jangan sampai mulut ini diam dari dzikir kepada Allah SWT. Yang berada dipasar-pasar pun demikian, berhenti menghindari omongan yang kotor lalu merubah lidah kita dengan menyebut nama Allah SWT. Ini adalah tanda bahwa kita adalah orang yang mengerti keagungan bulan suci Ramadhan dan masih banyak yang lainnya. Kegiatan-kegiatan yang kita lakukan harus kita atur dan kita rapikan. Jangan sampai kita ini melakukan suatu pekerjaan yang tidak penting di saat-saat kita harus membaca al Qur’an dan melakukan ibadah tarawih dan sebagainya. Ini adalah termasuk tanda bahwasanya kita mengagungkan bulan suci Ramadhan.

Kedua adalah persiapan batin. Persiapan batin di sini artinya, kita harus benar-benar mempersiapkan hati kita, agar kita bisa beruntung di bulan suci Ramadhan.
Mempersiapkan hati dengan ketulusan mengabdi kepada Allah, menghilangkan ketakaburan dan menghilangkan rasa dengki. Karena takabur atau sombong, dengki dan iri itu hanya akan menjadikan kita melakukan ibadah puasa terasa berat dan tidak diterima oleh Allah SWT. Berat karena capek hati, sebab hati kita kotor, mendengki orang lain, melihat orang lain mendapat nikmat sakit hingga akhirnya menggunjing orang yang kita dengki. Takabur dengan merasa kita ini lebih dari yang lainnya, sehingga muncul di hati kita rasa mudah tersinggung, mudah marah, mudah emosi atau bahkan meremehkan orang lain. Hal yang semacam ini adalah sangat menyakitkan hati, karena penyakit-penyakit semacam ini biarpun kita tidak bersentuhan fisik dengan orang-orang yang kita benci atau orang yang kita dengki. Khususnya jika hal ini terjadi kepada orang-orang yang sangat dekat kepada kita, baik itu orang tua, suami, istri, saudara, anak dan lain sebagainya. Kedengkian, ketakaburan dan kebencian yang muncul di antara kita, di antara orang-orang yang dekat adalah sangat pedih dirasakan. Akan tetapi jika kita ingin menjadi orang yang beruntung di bulan suci Ramadhan, haruslah kita ini menyingkirkan yang demikian itu. Jangan sampai kita berlalut-larut di dalam kehinaan, berlarut-larut di dalam kekotoran hati seperti ini. Maka mulai saat ini, mari kita membersihkan hati kita, kita pangkas kesombongan dan kita pangkas kedengkian dan dendam dengan cara seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu:

Yang pertama adalah kita selalu koreksi ke dalam diri kita. Jangan merasa bahwasanya kita tidak punya penyakit hati. Kita harus selalu terus mencermati hati kita dan mencermati hawa nafsu kita. Jangan sampai kita lalai mengontrol hawa nafsu kita. Yang lalai mengontrolnya maka akan terjerumus. Tetapi kalau kita selalu mengontrol, diri kita pun akan selamat. Lebih dari itu, ini adalah makna perintah Allah SWT yang dijelaskan oleh para ulama bahwa segala ilmu yang kita peroleh adalah untuk menjaga diri kita sendiri sebelum orang lain. Kalau sudah diri kita baik, kita menata diri kita, baru saat itu kita melihat orang-orang yang berada di sekitar kita.

Kemudian yang kedua adalah mari kita saling berdoa diantara kita, jangan sampai kita pelit berdoa. Termasuk marilah kita berdoa dengan segala kebaikan terhadap orang-orang yang bermasalah dengan kita. Orang yang kita dengki, orang yang kita benci, orang yang kita dendami, orang yang bermusuhan dengan kita, orang yang berbohong kepada kita, orang yang berbuat curang (dzalim) kepada kita, kita doakan semuanya dengan doa-doa yang baik-baik. Itu adalah pembersih hati kita dan lebih dari itu Allah SWT akan mengagungkan orang yang senantiasa berjuang untuk memerangi hawa nafsunya yang penuh dengan kekotoran itu. Disaat kita sudah berusaha membersihkan hati kita yang demikian ini, maka Ramadhan akan lebih bermakna. Kita akan merasakan keindahan dalam bulan Ramadhan. Diantara suami istri tetap mesra dan indah, sangat mudah untuk melakukan ibadah. Kakak beradik yang mesra sangat mudah untuk melakukan tegur menegur di dalam meningkatkan kualitas keimanan, ketaqwaan dan akhlak yang mulia. Begitu juga kita dengan tetangga. Kalau sudah hati kita tertata, tidak ada kesombongan tidak ada saling meremehkan, yang ada adalah kerinduan untuk menyampaikan kebaikan, maka sungguh di saat itu sangat mudah bagi kita untuk mewujudkan dan menghadirkan ibadah-ibadah di bulan suci Ramadhan.

Dengan begitu maka kita akan menjadi orang-orang yang beruntung di bulan suci Ramadhan. Keluar di bulan suci Ramadhan menjadi orang yang bertaqwa, yang hakikat taqwa itu adalah kita semakin baik kepada Allah dan semakin baik kepada sesama manusia. Yang baik kepada Allah SWT tidak baik kepada manusia, bukanlah orang yang bertaqwa dan yang baik kepada manusia saja, tapi ternyata tidak khusyuk kepada Allah SWT dan tidak rindu kepada Allah SWT bukanlah orang yang bertaqwa. Taqwa adalah gabungan dua makna keharmonisan dan keindahan kepada Allah SWT, sekaligus keharmonisan dan keindahan kepada sesama manusia yang dalam hal ini adalah buah manfaat puasa yang kita lakukan seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al Qur’an. Wallahu a’lam bish-shawab.

ARTI SEBUAH HARAPAN – BULETIN RISALAH – BUYA YAHYA

BULETIN JUM’AT MAJELIS AL-BAHJAH

Mari bergabung dalam program mulia dengan segala kemampuan kita untuk dakwah Risalah Nabi yang mulia!

DOWNLOAD -> PRINT -> PERBANYAK / CETAK -> SEBARKAN SELUAS-LUASNYA

APA BENAR SETELAH 15 SYA’BAN
TIDAK BOLEH PUASA

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Buya, apakah benar kalau sudah lewat tanggal 15 Sya’ban kita tidak boleh puasa?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Menurut mazhab Imam Syafi’i yang dikukuhkan adalah haram (makruh karohatattahrim). Adapun menurut jumhur ulama dari Madzhab Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Imam Malik hukumnya tidak haram.

Haram hukumnya puasa setelah nisyfu Sya’ban menurut mazhab Imam Syafi’i. Akan menjadi tidak haram dengan 3 perkara:

  1. Karena kebiasaan puasa, seperti orang yang biasa puasa Senin dan Kamis, maka ia pun boleh melanjutkan puasa Senin dan Kamis meskipun sudah melewati nisyfu Sya’ban.
  2. Untuk mengganti (qadha) puasa, misalnya seseorang punya hutang puasa belum sempat mengganti sampai nisyfu Sya’ban, maka pada waktu itu berpuasa setelah nisyfu Sya’ban untuk qadha hukumnya tidak haram.
  3. Dengan disambung dengan hari sebelum nisyfu Sya’ban, misalnya dia berpuasa tanggal 16 Sya’ban kemudian disambung dengan hari sebelumnya (yaitu tanggal 15 Sya’ban). Maka puasa di tanggal 16 tidak lagi menjadi haram. Pendapat ulama Syafi’iyah yang mengatakan haram dan akan menjadi tidak haram dengan 3 hal tersebut di atas karena mengamalkan semua riwayat yang bersangkutan dengan hal tersebut.

Seperti Hadits yang diriwayatkan oleh:
a. Imam Tirmidzi, Imam Abu Daud AS dan Imam Ibnu Majah:
“ إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلَا تَصُومُوا”

“Apabila sudah pertengahan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa.” (H.R. Al-Tirmidzi)
b. Imam Bukhori dan Imam Muslim yang artinya:
“ لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ “

“Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan, kecuali seseorang yang punya kebiasaan puasa sunah, maka bolehlah ia berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

c. Hadits riwayat Imam Muslim:

“ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً “

“Nabi SAW biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya dan hanya sedikit saja hari-hari berbuka beliau di bulan Sya’ban” (HR. Imam Muslim).

Dari hadits-hadits di atas, hadits pertama Rasulullah SAW melarang puasa setelah nisyfu Sya’ban dan hadis kedua Rasulullah melarang puasa setelah nisyfu Sya’ban kecuali orang yang punya kebiasaan puasa sebelumnya. Hadits yang ketiga menunjukkan bahwa Rasulullah SAW puasa ke banyak hari-hari di bulan Sya’ban.

Kesimpulannya:
Berpuasalah sebanyak-banyaknya di bulan Sya’ban dari awal Sya’ban hingga akhir. Jangan berpuasa setelah tanggal 15 Sya’ban, kecuali engkau sambung dengan hari sebelumya, atau untuk mengganti puasa atau karena kebiasaan berpuasa di hari-hari sebelumnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

CATATAN PENTING DI BALIK KISAH ISRA MIRAJ

CATATAN PENTING DI BALIK KISAH ISRA MIRAJ

BULETIN JUM’AT MAJELIS AL-BAHJAH

Mari bergabung dalam program mulia dengan segala kemampuan kita untuk dakwah Risalah Nabi yang mulia!

DOWNLOAD -> PRINT -> PERBANYAK / CETAK -> SEBARKAN SELUAS-LUASNYA

CATATAN PENTING DI BALIK KISAH ISRO’ MI’ROJ
(Risalah Buya Yahya)

Segala puji bagi Alloh yang Maha Kuasa. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW berserta keluarga dan sahabatnya.

Di bulan Rajab banyak sekali kegiatan kaum muslimin yang sudah mengakar dari masa kemasa seperti merayakan Isro’ Mi’roj atau berpuasa di bulan Rajab.

Isro’ Mi’roj adalah kejadian yang luar biasa atau mu’jizat yang diberikan oleh Alloh kepada Nabi Muhammad SAW yang di dalamnya terdapat hikmah-hikmah serta ilmu yang amat luar biasa bagi orang yang merenunginya. Kejadian Isro’ disebutkan oleh Alloh dalam Al-Qur’an surat Al-Isro ayat 1. Adapun kejadian Mi’roj disebutkan dalam riwayat-riwayat yang shohih di antaranya riwayat yang disebutkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam hadits panjang yang menceritakan tentang perjalanan Nabi SAW saat isro mi’roj.

Ada beberapa hal yang harus dicermati di dalam pelajaran Isro’ Mi’roj.

Pertama; Nabi Muhammad di perjalankan oleh Alloh dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqso hingga ke atas langit ke tujuh adalah dengan badan dan ruhnya. Dan badan Nabi SAW masih tetap dalam bentuk aslinya dan tidak berubah menjadi cahaya seperti yang diceritakan oleh sebagian penulis-penulis yang kurang berakal. Sebab yang namanya Mu’jizat adalah kejadian yang luar biasa dan jika Nabi SAW berubah menjadi cahaya maka kejadian itu menjadi tidak luar biasa lagi. Maka di dalam memahami istilah ilmiah seperti ini hendaknya dikembalikan oleh Ulama terdahulu dan jangan menghayal dengan berdalih disesuaikan dengan kajian-kajian ilmiah.

Yang harus dipahami bahwa penemuan ilmiah tidak akan bertentangan dengan syari’at, kalau ada pertentangan antara kajian ilmiah dengan syariat tentu karena salahnya kajian ilmiah atau salahnya seseorang dalam memahami syari’ah. Dan perjalanan Isro’ Mi’roj Nabi tidak bertentangan dengan penemuan ilmiah karena perjalanan Nabi SAW adalah tidak bisa patuh dan tunduk kepada riset dan kajian ilmiah. Akan tetapi kejadian Isro’ Mi’roj adalah terjadi karena kuasa Alloh SWT yang menciptakan waktu dan tempat.

Kedua, perayaan Isro’ Mi’roj maknanya adalah mengagungkan dan menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW, karena perayaan Isro’ Mi’roj akan selalu mengangkat tema kisah Isro’ Mi’roj Nabi, dengan pembahasan panjang lebar dan ditekankan pada pemahaman akan kewajiban sholat, makna-makna sesuatu yang diperlihatkan oleh Alloh kepada Nabi SAW. Dan hal semacam ini tidak bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi SAW. Justru hal-hal semacam inilah yang diperintahkan oleh Rasululloh SAW. Maka sungguh aneh jika tiba-tiba ada orang yang mengatakan perayaan Isro’ Mi’roj adalah bid’ah. Bagaimana mengagungkan kejadian agung, membacakan riwayat dari Nabi SAW serta menjelaskannya agar umat semakin paham tentang Isro’ Mi’roj, hikmah Isro’ Mi’roj, ilmu Isro’ Mi’roj, pesan kesan dibalik Isro’ Mi’roj dan lain sebagainya akan dikatakan sebagai bid’ah? Dan sungguh alangkah indahnya di sebuah acara Isro’ Mi’roj tiba-tiba ada seorang anak kecil menyenandungkan syair untuk Nabi SAW kemudian diikuti dengan santunan untuk anak yatim, kemudian setelah itu berdirilah beberapa Ustadz menjelaskan dengan detail tentang sholat tentang apa yang dilihat oleh Nabi SAW dalam isro mi’roj .

Memang ada sebagian perayaan Isro’ Mi’roj yang dibarengi dengan pelanggaran syari’at, seperti berkumpulnya laki-laki dan perempuan yang saling berdesakan atau mungkin adanya tontonan yang membuka aurat. Akan tetapi orang yang berfikir dan berilmu akan tahu bahwasanya Isro’ Mi’roj bukan seperti itu. Itu adalah pelanggaran-pelanggaran dalam Isro’ Mi’roj yang harus dipangkas. Bukan Isro’ Mi’roj nya yang harus dihentikan.

Adapun hari dan tanggal terjadinya Isro dan Mi’roj memang Ulama berbeda pendapat dalam hal ini .Ada yang mengatakan tanggal 27 Rojab ada yang mengatakan selain tanggal tersebut.

Masalah hari dan tanggal tidak penting, yang jelas dan pasti bahwa Rasululloh SAW telah benar-benar isro’ mi’roj dan kita tidak merayakan hari dan tanggal akan tetapi kita merayakan kejadian dan pesan yang ada di dalam kisah isro’ mi’roj .

Ketiga; di saat Nabi Muhammad SAW dimi’rojkan oleh Alloh SWT (diangkat keatas langit ketujuh). Disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW berbicara langsung dengan Alloh SWT. Yang harus dipahami bahwa menurut jumhur ulama bahwa Nabi Muhammad SAW di saat itu tidak melihat Alloh dengan mata kepala beliau, akan tetapi beliau melihat Alloh SWT dengan mata hatinya. Dan memang benar Alloh berbicara dengan Nabi Muhammad adalah dengan hakikat berbicara yang hanya Alloh dan Rasululloh-lah yang tahu caranya. Akan tetapi yang harus kita ketahui bahwa di saat Nabi Muhammad berbicara dengan Alloh bukan berarti Nabi harus melihat dengan mata kepala beliau, ini yang harus kita yakini. Memang ada sebagian para ulama yang mengatakan Nabi Muhammad melihat dengan mata kepala beliau seperti pendapat yang di nukil dari Imam an-Nawawi, Imam Qodi’iyadh dan Imam al-Farro’. Akan tetapi para pakar aqidah Ahlisunnah waljamaah menjelaskan bahwasanya pendapat itu adalah pendapat lemah.

Keempat; Nabi Muhammad SAW berbicara dengan Alloh SWT di atas Mustawa. Mungkin ada sebagian kaum muslimin yang setelah membaca kisah Isro’ Mi’roj dan kisah Nabi SAW berbicara dengan Alloh SWT di atas Sidratul Muntaha dan di atas Mustawa lalu berangan-angan bahwa Alloh ada di atas langit sana. Maka yang harus dijelaskan bahwa atas Mustawa bukanlah tempatnya Alloh, akan tetapi tempatnya Nabi SAW. Alloh tidak butuh kepada tempat. Maka jangan dikatakan Alloh di atas, sebab atas dan bawah adalah ciptaan Alloh SWT.

Disebutkan juga di dalam Al-Qur’an, Alloh mengajak bicara Nabi Musa As , di saat Nabi Musa berada di atas bukit Tursina, maka yang harus dipahami adalah bahwa bukit Tursina adalah tempatnya Nabi Musa, bukan tempatnya Alloh. Lalu “Alloh dimana?” Jawabnya adalah karena Alloh tidak butuh tempat, maka jangan bertanya dengan pertanyaan “Alloh dimana?”. Karena Alloh tidak butuh mana-mana, Alloh tidak serupa dengan makhluknya.

Kepercayaan bahwa Alloh di atas langit adalah kesesatan dalam beraqidah. Hal-hal semacam itu harus diluruskan, bahkan ada di beberapa sekolahan yang siswa-siswi mereka, ditanya oleh gurunya dengan pertanyaan “Alloh dimana ?” Itu adalah pertanyaan fitnah yang tidak membangun aqidah. Dan itu karena mana-mana adalah ciptaan Alloh , dan Alloh tidak butuh kepada ciptaanNya.

Ada diriwayatkan dari Imam Muslim tentang pertanyaan Rasulullah kepada seorang budak, dengan pertanyaan “Alloh dimana?” dan hal itu sudah dijelaskan oleh para Ulama panjang lebar dengan mendatangkan kisah budak tersebut dari riwa yat para Imam Ahli Hadits yang lainnya, hingga tidak menyisakan keraguan apapun bahwa Alloh tetap tidak butuh tempat.

Kelima; Rosululloh SAW yang dalam keadaan hidup bertemu dengan para Nabi dan Rasul yang telah meninggal dunia dan berdialog. Itu adalah mukjizat dan yang di fahami para Ulama bahwa orang yang hidup saat ini bisa saja bertemu dengan Nabi Muhammad SAW sebagai karomah yang diberikan oleh Alloh kepada orang tersebut. Dan inilah pengalaman para kekasih Alloh yang sangat banyak jumlahnya bertemu dengan Nabi SAW setelah Nabi Muhammad wafat.

Akan tetapi ada hal yang perlu diperhatikan bahwa berdusta atas nama Rasululloh adalah dosa besar dan ancamanya adalah neraka jahanam. Orang yang mengaku bertemu Rasululloh atau bermimpi bertemu Rasululloh dengan dusta tempatnya adalah neraka jahannam.

Penjelasan tentang kemungkinan seorang sholih bertemu Rasululloh SAW jangan membuka celah pendusta dan dajjal kecil untuk mengaku bertemu Rosululloh SAW karena gila pangkat penghormatan, maqom kemulyaan didunia dan ingin dianggap sebagai waliyulloh. Itulah wali syetan yang pendusta.

Semoga Alloh mempertemukan kita dengan Rasulullah SAW di lahir dan batin kita di dunia, di alam barzah, di padang makhsyar dan di surga Alloh SWT. Wallohu A’lam bishshowab

073. NASEHAT BUAT ANAK – BULETIN RISALAH – BUYA YAHYA

073. NASEHAT BUAT ANAK – BULETIN RISALAH – BUYA YAHYA

BULETIN JUM’AT MAJELIS AL-BAHJAH

Mari bergabung dalam program mulia dengan segala kemampuan kita untuk dakwah Risalah Nabi yang mulia!

DOWNLOAD -> PRINT -> PERBANYAK / CETAK -> SEBARKAN SELUAS-LUASNYA

[gview file=”https://buyayahya.org/wp-content/uploads/2018/12/073.-NASEHAT-BUAT-ANAK-BULETIN-RISALAH-BUYA-YAHYA.pdf”]

PERAYAAN TAHUN BARU MASEHI – BULETIN RISALAH – BUYA YAHYA

PERAYAAN TAHUN BARU MASEHI – BULETIN RISALAH – BUYA YAHYA

BULETIN JUM’AT MAJELIS AL-BAHJAH

Mari bergabung dalam program mulia dengan segala kemampuan kita untuk dakwah Risalah Nabi yang mulia!

DOWNLOAD -> PRINT -> PERBANYAK / CETAK -> SEBARKAN SELUAS-LUASNYA

[gview file=”https://buyayahya.org/wp-content/uploads/2018/12/072.-PERAYAAN-TAHUN-BARU-MASEHI-BULETIN-RISALAH-BUYA-YAHYA.pdf”]

071. ARTI SEBUAH HARAPAN – BULETIN RISALAH – BUYA YAHYA

071. ARTI SEBUAH HARAPAN – BULETIN RISALAH – BUYA YAHYA

BULETIN JUM’AT MAJELIS AL-BAHJAH

Mari bergabung dalam program mulia dengan segala kemampuan kita untuk dakwah Risalah Nabi yang mulia!

DOWNLOAD -> PRINT -> PERBANYAK / CETAK -> SEBARKAN SELUAS-LUASNYA[gview file=”https://buyayahya.org/wp-content/uploads/2018/12/071.-ARTI-SEBUAH-HARAPAN-BULETIN-RISALAH-BUYA-YAHYA.pdf”]

070. AGAR ILMU BERMANFAAT – BULETIN RISALAH – BUYA YAHYA

070. AGAR ILMU BERMANFAAT – BULETIN RISALAH – BUYA YAHYA

BULETIN JUM’AT MAJELIS AL-BAHJAH

Mari bergabung dalam program mulia dengan segala kemampuan kita untuk dakwah Risalah Nabi yang mulia!

DOWNLOAD -> PRINT -> PERBANYAK / CETAK -> SEBARKAN SELUAS-LUASNYA

[gview file=”https://buyayahya.org/wp-content/uploads/2018/11/070.-AGAR-ILMU-BERMANFAAT-BULETIN-RISALAH-BUYA-YAHYA-1.pdf”]