Kamis, 13 Ramadhan 1433 H / 02 Agustus 2012

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, الَّذِيْ أَكْرَمَنَا بِشَهْرِ رَمَضَانَ, الَّذِيْ جَعَلَنَا مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ, وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَفْضَلِ الصَّائِمِيْنَ وَأَحْسَنِ الْقَائِمِيْنَ حَبِيْبِنَا وَشاَفِعِنَا وَمَوْلاَناَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.  أَمَّا بَعْدُ
:

ULASAN PENGAJIAN AT-TIBYAN BERSAMA UST. AHMAD DIMYATI

PASAL
Fi Qira’atil Qur’an Yuradu Biha Al-Kalamu
Berbicara Dengan Bacaan Al-Qur’an

Ibnu Abi Daud menyebutkan ada perbedaan dalam masalah ini, di antaranya adalah apa yang diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakho’i rahimahullah (semoga Allah merahmati beliau) : “Sesungguhnya beliau tidak suka menjelaskan Al-Qur’an dengan ucapan yang berhubungan dengan Dunia”.

    وَعَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَرَأَ فِيْ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ بِمَكَّةَ – وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِ – وَطُوْرِسِيْنِيْنَ – وَرَفَعَ صَوْتَهُ وَقَالَ : وَهَذَا الْبَلَدِ اْلآمِيْنِ.

Dari Umar Bin Al-Khaththab ra : “Sesungguhnya beliau membaca Surat At-Tin pada saat melakukan Sholat Maghrib di Makkah, kemudian beliau mengeraskan suaranya ketika membaca :  وَهَذَا الْبَلَدِ اْلآمِيْنِ (Dan inilah negri yang aman : yakni Makkah)”.


Maksud beliau mengeraskan suranya ketika membaca :   وَهَذَا الْبَلَدِ اْلآمِيْنِ (Dan inilah negri yang aman : yakni Makkah) adalah sebagai maksud untuk pembicaraan dan hal ini menunjukkan dibolehkannya membaca ayat Al-Qur’an sebagai isyarat suatu pembicaraan akan tetapi ada sebagian Ulama’ yang mnegatakan Makruh.

Sayyidina Umar Bin Al-Khaththab ra adalah Sahabat yang berjasa dalam menghidupkan Syiar Sholat Taraweh yaitu dengan mengumpulkan orang-orang berjama’ah pada satu Imam yaitu Sayyidina Ubay Bin Ka’ab, mereka melakukan Sholat Taraweh sebanyak 20 rakaat dan Sholat Witir 3 rakaat dengan membaca sekitar 200 ayat.


وَعَنْ حُكَيْمِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ رَجُلاً مِنَ الْمُحَكَّمَةِ أَتَى عَلِيًّا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَهُوَ فِيْ صَلاَةِ الصُّبْحِ فَقَالَ : لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ (الزُّمَرُ : 65) فَأَجَابَهُ عَلِيٌّ فِي الصَّلاَةِ : فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ وَلاَ يَسْتَخِفَنَّكَ الَّذِيْنَ لاَيُوْقِنُوْنَ (الرُّوْمُ : 60)

Dari Hukaim Bin Sa’ad, “Sesungguhnya ada seorang lelaki menemui Sayyidina Ali ra yang sedang melakukan Sholat Shubuh, kemudian laki-laki tersebut berkata :
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ  (Jika engkau musyrik maka amalmu akan hancur – QS. Az-Zumar : 65 ),
kemudian Sayyidina Ali ra menjawab dalam Sholatnya :
 فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ وَلاَ يَسْتَخِفَنَّكَ الَّذِيْنَ لاَيُوْقِنُوْن (Bersabarlah sesungguhnya janji Allah itu benar dan janganlah orang-orang yang tidak beriman membuatmu gelisah – QS. Ar-Rum : 60)

Menjawabnya Sayyidina Ali ra menunjukkan bahwasannya membaca Al-Qur’an dengan tujuan berbicara kepada orang lain adalah diperkenankan, akan tetapi dijelaskan dalam Fiqih madzhab Syafi’i bahwasannya di antara hal yang membatalkan Sholat adalah berbicara, nah dalam berbicara ini ada yang membatalkan dan ada yang tidak, rinciannya adalah sebagai berikut  :
a.    Jenis bicara yang membatalkan Sholat  :
I.     Mengucapkan 4 kata (ada yang mengatakan sampai 6 kata) baik disengaja ataupun karena lupa.
II.    Mengucapkan sedikit (kurang dari 4 kata) yang disengaja.
b.    Jenis biacara yang tidak membatalkan Sholat :
I.     Mengucapkan kalimat kurang dari 4 kata karena lupa/keceplosan (latah) atau karena karena tidak tahu hukumnya (dan ini khusus bagi orang yang baru masuk islam atau jauh dari Ulama’).
Mengucapkan 1 huruf walaupun disengaja, namun bias membatalkan kalau 1 huruf tersebutkan dimaksudkan untuk main-main atau Hurufnya tersebut panjang (Mad) atau memberikan pemahaman seperti : قِ (artinya : jagalah) , رَ (artinya : lihatlah) dll.

Suatu saat di waktu Sholat Shubuh, Sayyidina Ali ra berjalan melewati satu lorong jalan menuju Masjid, ketika itu beliau berjumpa dengan seorang nenek tua (ternyata beliau adalah seorang Yahudi) yang berjalan akan tetapi ia tidak mau mendahuluinya karena mulianya budi pekerti beliau dan besar pernghormatannya kepada orang lain lebih-lebih yang sudah tua, padahal di saat itu Rasulullah SAW sedang melaksanakan Sholat berjama’ah bersama para Sahabatnya, akan tetapi karena akhlaq dan kemuliaan Sayyidina Ali ra akhirnya atas perintah Allah malaikat Jibril menemui Rasulullah SAW dan menyuruhnya agar tetap dalam Ruku’nya sampai Sayyidina Ali ra datang, setelah Sholat Shubuh berjama’ah selesai para sahabat pada bertanya sebab Rasulullah memperlama Ruku’nya.

Ulama’ Madzhab Syafi’i berkata :
“Apabila ada seseorang yang minta izin masuk rumah kepada seseorang yang sedang Sholat, kemudian orang yang Sholat tersebut menjawab : أُدُخُلُوْا هَا بِسَلاَمٍ آمِنِيْنَ (masuklah dengan keselamatan), kalau orang tersebut bermaksud hanya sekedar membaca Al-Qur’an atau bermaksud membaca dan pemberitahuan maka Sholatnya tidak menjadi batal, akan tetapi kalau ia hanya bermaksud pemberitahuan saja maka Sholatnya menjadi batal”.
    
PASAL

Ketika seseorang sedang membaca Al-Qur’an dengan berjalan kemudian ia bertemu dengan seseorang maka sunnah baginya untuk menghentikan bacaan kemudian mengucapkan salam kepada orang yang ia temui, setelah itu kembali meneruskan bacaanya, adapun kalau ia mengulang bacaan Ta’awwudz maka itu sangat baik.

Adapun ketika seseorang membaca Al-Qur’an kemudian ngobrol, baca lagi lalu ngobrol lagi, sungguh ini adalah salah satu bentuk tidak punya adab sama Al-Qur’an.

Sedangkan apabila ia sedang membaca Al-Qur’an sambil duduk kemudian ada orang yang berjalan melaluinya maka hal ini telah dijawab oleh Imam Abu Al-Hasan Al-Wahidi, beliau berkata :”Bagi seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an lebih utama untuk tidak mengucapkan Salam Karena ia sedang sibuk dengan bacaannya, akan ketika ada orang yang mengucapkan Salam kepadanya maka cukup baginya untuk menjawab dengan Isyarat saja, namun kalau ia ingin menjawabnya dengan kata-kata maka jawab saja, setelah itu ia meneruskan bacaannya lagi dengan membaca Ta’awwudz terlebih dahulu”. Akan tetapi pendapat Imam Abu Al-Hasan Al-Wahidi adalah pendapat yang lemah (Dho’if).

Ulama’ Madzhab Syafi’i berkata :
“Apabila ada seseorang yang masuk masjid ketika Khutbah sedang berlangsung kemudian ia mengucapkan salam, menurut mereka Diam (mendengar Khutbah) adalah sunnah dan menjawab Salam adalah wajib berdasarkan pedanpat yang paling benar di antara 2 pendapat”.

Jika mereka mengatakan Diam ketika mendengarkan Khutbah adalah wajib dan berbicara ketika Khutbah berlangsung adalah haram bersaman dengan hal itu masih ada perselisihan pendapat, sedangkan berbicara ketika membaca Al-Qur’an adalah tidak haram menurut Ijma’ (kesepakatan Ulama’), jadi lebih utama menjawab salam baik ketika ia mendengarkan Khutbah atau sedang membaca Al-Qur’an walaupun sambil duduk, karena salam itu Wajib tanpa ada Ulama’ yang berbeda pendapat, Wallahu A’lam.

Ada beberapa amalan sunnah yang pahalanya lebih besar dari pada amalan wajib yaitu :
A.    Mengucapkan salam adalah Sunnah dan menajwabnya adalah wajib, akan tetapi mengucapkan salam lebih besar pahalanya dari pada menjawabnya.
B.    Memberi tempo dalam membayar hutang adalah wajib sedangkan meembebaskannya adalah Sunnah, namun membebaskan hutang lebih besar pahalanya dari pada memberi tempo untuk membayar.

Apabila ada seseorang bersin ketika membaca Al-Qur’an maka tetap disunnahkan baginya mengucapkan : اَلْحَمْدُ لِلَّهِ begitu juga ketika ia sedang Sholat tetap disunahkan. Ketika ia sedang membaca Al-Qur’an di luar Sholat dan mendengar orang yang sedang bersin kemudian membaca اَلْحَمْدُ لِلَّهِ maka disunnahkan baginya untuk mengucapkan : يَرْحَمُكَ اللهُ , begitu juga ketika ia mendengar orang yang adzan di saat membaca Al-Qur’an maka disunnahkan baginya untuk memotong bacaannya dan menjawab Adzan begitu juga Iqomah kemudia kembali lagi ke bacaan, dan ini sudah disepakati oleh Ulama’ Madzhab Syafi’i.

Apabila ada seseorang yang memerlukan seseuatu padanya sedangkan ia sedang membaca, maka yang lebih utama adalah cukup baginya untuk memberi Isyarat yang memberi pemahaman, dan ini dilakukan jika yang memerlukannya tersebut tidak tersinggung atau tersakiti, akan tetapi kalau ia memotong bacaannya kemudian menjawab/memenuhi keperluan orang tersebut maka tidak apa-apa,  Seperti kalau ada seorang suami minta dibuatin kopi maka hendaknya sang isteri menghentikan bacaannya kemudian membuatkan kopinya, setelah selesai kembali lagi ke bacaannya. Begitu juga ketika ada keperluan atau hajat yang tidak cukup dengan isyarat maka diputus saja bacaannya lebih-lebih kebutuhan yang mendesak.Wallahu A’lam.

Pelajaran Yang Bisa Kita Ambil

1.    Membaca ayat Al-Qur’an dalam Sholat dengan tujuan berbicara kepada orang lain tidak membatalkannya asalkan ia bermaksud membaca Al-Qur’an atau membaca Al-Qur’an dan memberi isyarat, akan tetapi ketika ia membaca ayat Al-Qur’an di dalam Sholat hanya berniat memberikan Isyarat/berbicara kepada orang lain maka Sholatnya menjadi batal.

2.    Disunnahkan mengucapkan salam ketika membaca Al-Qur’an dengan memutus bacaannya terlebih dahulu ketika ia bertemu dengan seseorang baik ia membacanya dalam keadaan berdiri atau duduk, kemudian setelah mengucapkan salam baru ia kembali lagi ke bacaannya, dan di sini disunnahkan untuk membaca Ta’awwudz terlebih dahulu sebelum ia memulai kembali bacaannya. Namun untuk menjawab salam adalah wajib berdasarkan Ijma’ (kesepakatan) Ulama’ walaupun ia sedang mendengarkan Khutbah.

3.    Disunnahkan bagi orang yang bersin untuk mengucapkan اَلْحَمْدُ لِلَّهِ meskipun ia sedang membaca Al-Qur’an atau sedang Sholat, begitu juga ketika mendengar orang bersin yang mengucapkan اَلْحَمْدُ لِلَّهِ maka disunnahkan juga baginya untuk menjawab : يَرْحَمُكَ اللهُ ini kalau ia membaca Al-Qur’annya di luar Sholat.

4.    Disunnahkan bagi orang yang membaca Al-Qur’an untuk menahan bacaannya ketika mendengar Adzan, kemudian ia menjawabnya, setelah itu ia kembali lagi ke dalam bacaannya, namun dalam hal ini adzannya harus memenuhi syarat.

5.    ketika seseorang membaca Al-Qur’an kemudian ada orang yang punya hajat menemuinya, maka yang lebih utama adalah cukup baginya memberikan Isyarat, itu kalau tidak menyinggung atau menyakiti hatinya, kalau ia khawatir demikian maka lebih baik ia menghentikan bacaannya kemudian memenuhi hajat orang yang menemuinya, baik itu dengan ucapan ataupun perbuatan.

Forum Tanya Jawab

1.    Bagaimana hukumnya menggunakan obat tetes mata dan obat hiruk (Inhaler) untuk hidung bagi yang pilek?
Jawab :

a.    Di antara yang membatalkan puasa adalah masuknya seseuatu ke salah satu 5 lubang yaitu Mulut, Telinga, Hidung, Lubang depan dan belakang, sedangkan mata tidak termasuk, jadi walaupun memasukkan obat mata dan kerasa seolah-olah masuk ke dalam maka tetap tidak membatalkan puasa.

b.    Hal yang membatal puasa ketika masuk ke dalam badan adalah sesuatu yang memiliki Zat, yakni ada bentuk, rasa dan warnanya, sedang Inhaler tersebut hanya sekedar aroma/udara dan tidak mempunyai Zat, jadi walaupun masuk ke dalam hidung tetap tidak membatalkan puasa. Untuk keterangan lebih sempurna silahkan lihat di Buku Fiqih Puasa Praktis Buya Yahya pada pembahasan hal-hal yang membatalkan puasa.

2.    Ketika kita membaca Al-Qur’an kemudian mendengar Adzan maka lebih utama memutus bacaan dan menjawab Adzan, nah kalau adzan dari Radio atau TV apakah kita dianjurkan untuk menjawabnya?
Jawab :
Hanya Adzan dan Iqomah yang memenuhi syarat yang disunnahkan untuk dijawab yaitu:

Syarat Sahnya Adzan dan Iqomah ada 6 :

  1. Muwalah/sinambung antara kalimat
  2. Tertib/berurutan
  3. Masuk waktu
  4. Adzan dan Iqomah dari satu orang
  5. Menggunakan bahasa arab
  6. Mengeraskannya kalau Adzan dan Iqomahnya untuk berjama’ah, namum kalau untuk dirinya sendiri maka cukup dirinya saja yang mendengar.
  7. Begitu juga Adzan dan Iqomah yang bacaannya itu Lahn yakni tidak sesuai dengan kaidah Tajwid, baik itu terlalu panjang atau terlalu pendek

Syarat Mu’adzdzin ada 4 :

a.    Islam
b.    Tamyiz
c.    Laki-laki
d.    Mengetahui masuknya waktu

Nah bagi seorang perempuan Adzan tidak dianjurkan melainkan untuk jama’ah perempuan saja begitu juga Iqomah.
Nah kalau mendengar adzan dari TV/Radio tidak disunnahkan menjawab karena itu hanya rekaman bukan langsung orang yang mengumandangkannya, jadi bacaan Al-Qur’annya tidak usah diputus.

3.    Apa hukumnya melalaikan Sholat dengan tidak bersegera menunaikannya ketika waktunya sudah masuk?
Jawab :
Ketika waktu Sholat sudah masuk maka yang wajib dilakukan adalah segera menunaikannya atau bermaksud untuk melakukannya beberapa saat lagi sebelum keluarnya waktu, dan ketika ia tidak langsung menunaikannya serta tidak bermaksud untuk melakukannya di dalam waktunya maka ia berdosa lebih-lebih ia sholat di luar waktunya maka ini adalah termasuk dosa besar sampai-sampai disebtukan dalam hadits tentang siksaannya orang yang meinggalkan Sholat, yaitu : Di saat ia hidup, di saat ia sakaratul maut, di saat ia di alam kubur, di saat ia akhirat akan mendapatkan berbagai macam siksaan.
Yang salah adalah tidak ada niat untuk melakukan Sholat dan mengentengkannya inilah yang berdosa. Dan tidak berdosa kalau ia lalai tanpa sengaja dan bukan karena mengentengkannya.

Wallahu A’lam Bisshowab.

By : Tim Pustaka Al-Bahjah    
Sumber : Kajian Kitab At-Tibyan di Majelis Al-Bahjah bersama Ust. Ahmad Dimyati