*DO’A KHUSUS BULAN RAMADHAN* Oleh : Buya Yahya

*DO’A KHUSUS BULAN RAMADHAN* Oleh : Buya Yahya

*DO’A KHUSUS BULAN RAMADHAN*
Oleh : Buya Yahya
(Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه ومن والاه.

Tentang doa di bulan Ramadhan yaitu doa :

اَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله. اَسْتَغْفِرُ الله, أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ (3x) اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ, تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ (3x)

Untuk menjelaskan tentang doa tersebut, yang pertama adalah :

Doa tersebut diatas adalah doa yang diambil dari gabungan beberapa riwayat dari Nabi SAW. Telah datang riwayat – riwayat yang banyak agar kita memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan, termasuk di dalamnya adalah beristighfar, berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT. Masalah doa yang biasa dibaca di bulan Ramadhan, mari kita rinci satu persatu.

1. Mengucapkan : لا اله الا الله (Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan
selain Allah) adalah kalimat Thoyyibah.
Dalam hal ini telah datang riwayat yang sangat banyak dari Nabi SAW tentang لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ .

Laa ilaaha illallah ( لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ) adalah kalimat thoyyibah yang Nabi SAW menghimbau untuk selalu memperbanyak لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, seperti disebutkan oleh Rasulullah SAW :

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( مَنْ كَانَ آخِرُ كَلامِهِ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ ) .رواه أبو داود )
“Barangsiapa di akhir hayatnya membaca laa ilaaha illallah maka ia
masuk surga.” (H.R. Abu Daud)

Juga himbauan Nabi SAW :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: جَدِّدُوا إِيْمَانَكُمْ . قِيْلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيْمَانَنَا ؟ قَالَ : أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ) ( مسند أحمد ” (2/359))

Artinya :
Nabi SAW bersabda : “ Perbaharuilah iman kalian”. Sahabat menjawab : “ Yaa Rasulallah ! Bagaimana kami memperbaharui iman kami?” Rasulullah SAW menjawab : “Perbanyaklah engkau untuk membaca : ” لاَ إِلَهَ إِلا الله” َّ
Musnad Ahmad : 2 / 359)

Bahkan juga dikatakan :

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : أَفْضَلُ الذِّكْرِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ للهِ (رواه الترمذي)

Dari Jabir bin Abdillah r.a. berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW berkata : “ Sebaik – baik dzikir adalah : Kalimat : “Laa ilaa illallah” dan sebaik – baik do’a : “Alhamdulillah”. (H.R. At-Tirmidz)

2. Masalah Istighfar

Sangat banyak perintah dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi agar kita memperbanyak istighfar.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُمْ مَدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَ بَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) (نوح : 10 – 12)
Artinya :
“ Maka aku katakan kepada mereka : ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak – anakmu, dan mengadakan untukmu kebun – kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai – sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah SWT”. (Q.S. Nuh : 10 – 12)

Dalam Al-Qur’an disebutkan :

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ (هود:52)
Artinya :
Dan (dia) berkata : “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambah kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”
(Q.S. Hud : 52)

Allah juga menolak bala bencana dengan istighfar :

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (الأنفال : 33)
Artinya :
“ Dan Allah SWT sekali – kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada diantara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.” (Q.S. Al-Anfal : 33)

Dan Allah juga menurunkan rahmat :

قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُوْنَ بِا لسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (النمل : 46)

Artinya :
“Dia berkata : ‘Hai kaumku, mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah SWT agar kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Naml : 46)

Ini adalah tentang keutamaan istighfar di dalam Al-Qur’an, yaitu : Disamping pengampunan Allah SWT, dengan istighfar kita akan mendapatkan curahan hujan, keturunan, rizqi, dijauhkan dari bencana dan diberi curahan rahmat dari Allah SWT

Adapun hadits Nabi tentang keutamaan istighfar.

Disebutkan dalam riwayat yang banyak tentang istighfar diantaranya :
1.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول: (( والله إني لاستغفر الله وأتوب إليه في اليوم أكثر من سبعين مرة))(57) ( رواه البخاري)

“ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih dari 70 kali.” (HR.Bukhari)

2.
2- وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ (رواه النسائي في “السنن الكبرى” (6/114)
Artinya :
Dari Abu Hurairah r.a. : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah Azza Wa Jalla dan bertaubat kepadanya setiap hari seratus kali.” (H.R. An-Nasa’i)

Nabi SAW tidak pernah meninggalkan suatu tempat kecuali beristighfar 70 kali .

3. Masalah Keutamaan Memohon Kepada Allah Agar Diberi Surga

Adapun masalah keutamaan memohon kepada Allah agar diberi surga telah
banyak riwayat yang datang dari Nabi SAW, diantaranya :

a. Hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidina Annas bin Malik, beliau berkata :

عن أنس بن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما سأل رجل مسلم الله عز وجل الجنة ثلاثاً إلا قالت الجنة: اللهم أدخله الجنة، ولا استجار من النار مستجير ثلاث مرات إلا قالت النار: اللهم أجره من النار

“Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah seorang muslim meminta kepada Allah SWT surga 3 kali kecuali surga akan berkata” Ya Allah masukkan dia ke surga. Dan tidak meinta perlindungan kepada Allah dari api neraka kecuali api neraka mengatakan “Jauhkan mereka dariku Ya Allah” (H.R Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Nasai, Imam Ahmada, Imam Hakim.

b. Imam Bukhari juga meriwayatkan : Rasulullah SAW bersabda :

إذا سألتم اللَّه فاسألوه الفردوس (البخاري برقم 2790)
“Jika memina (berdo’a. ” (H.R. Bukhori)

Kita minta kepada Allah surga, dianjurkan oleh Allah SWT dan ini tidak ada terikat dengan waktu, kapan saja. Memang disana ada himbauan agar kita minta kepada Allah dijauhkan dari fitnah api neraka.

c. Imam Muslim juga meriwayatkan tentang doa saat kita membaca tasyahud :

إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ. (رواه مسلم)

“Jika salah satu dari kalian membaca tasyahud hendaknya memohon perlindungan kepada Allah SWT dari 4hal. Ya Alloh sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari sikas neraka jahannam, dari siksa kubur, fitnah dalam hidup dan setelah mati dan dari fitnahnya dajjal.”

Inilah sekelumit riwayat – riwayat tentang keutamaan mengucapkan kalimat Laailaah illallah (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ), beristighfar, dan himbauan kepada kita agar memohon surga dan dijauhkan dari api neraka.

Himbauan doa Khusus di Bulan Ramadhan

Kalau seandainya tanpa riwayat – riwayat yang khusus. Sungguh dzikir dan doa tersebut di atas bukanlah sesuatu yang dilarang bahkan tetap dihimbau dan dianjurkan untuk kita mengucapkan kalimat syahadat, membaca لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , memperbanyak istighfar, memohon kepada Allah SWT surga dan meminta perlindungan dari api neraka.

Adapun tentang kekhususan doa tersebut di bulan Romadhon. Yaitu hadits Nabi SAW yang berbunyi :

وَاسْتَكْثَرُوْا فِيْهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ خَصْلَتَيْنِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ وَخَصْلَتَيْنِ لاَ غِنًى بِكُمْ عَنْهُمَا فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ فَشَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَتَسْتَغْفِرُوْنَهُ وَأَمَّا اللَّتَانِ لاَ غِنًى بِكُمْ عَنْهَا فَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الْجَنَّةَ وَتَعُوْذُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ

“Perbanyaklah di bulan romadhon dengan 4 hal. Dua hal akan menjadi sebab keridhoan Alloh kepadamu.dua hla yang engkau sangat membutuhkanya.bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh dan memohon ampun kepadaNya.engkau memohon surga dan agar di jauhkan dari neraka.”

Ini adalah hadits khusus, dan hadits tersebut memang sebagian Ulama mengatakan hadits itu dhoif. Akan tetapi kita harus tahu bahwasanya : “ Tidak semua hadits yang dikatakan Ulama itu dhoif lalu dikatakan oleh Ulama lain juga juga dhoif. ” Sebab dikalangan ulama ada perbedaan pendapat di dalam menilai sebuah hadits. Sangat mungkin sekali sebuah hadits dikatakan shohih oleh seorang pakar hadits, akan tetepi dikatakan dhoif atau lemah oleh yang lainnya. Itu sudah umum di dalam masalah pemahaman tentang kekuatan atau derajat keshohihan sebuah Hadits. Maka bagi yang mengatakan tidak shohih mereka tidak mengambil, bagi yang mengatakan hadits itu shohih atau hasan maka itu diambil. Dari sinilah diantara sebab adanya masalah khilafiyah yaitu yang bermula dari Perbedaan diantara Para Ulama di dalam menilai sebuah Hadits.

Dalam hadits tersebut di atas sebagian Ulama mengatakan hadits ini shohih. Kalaupun Anda mendengar dari ulama hadits yang lainnya mengatakan hadits itu adalah dhoif, jika Anda mempercayai itu Anda tetap bisa membaca doa tersebut dengan hadits yang lainnya yaitu berdasarkan hadits – hadits yang umum tadi.

Adapun bagi yang mengatakan hadits itu adalah benar derajatnya, bukan dhoif dan palsu yaitu seperti penilain sebagian para ulama hadits bahwa hadits tersebut adalah hadits hasan dan hasan shohih. Seperti Ibnu Huzaimah memasukkan Hadits dalam kitab Shohihnya biarpun di akhirnya mengatakan ini Shohhal Khobar. Kalimat In Shohhal khobar artinya jika berita ini benar itu adalah kalimat yang sangat wajar di ungkapkan oleh ulama hadits. Kalimat itu bukan untuk menghukumi kalau hadits itu adalah lemah.

Kemudian ulama yang mengatakan hadits ini dhoif adalah karena hadits ini diriwayatkan melalui seorang perawi yang bernama Ali Ibn Zaid Ibn Jud’an. Yang mengatakan riwayat Ali Ibn Zaid Ibn Jud’an adalah lemah mereka langsung melemahkan hadits tersebut. Harus diketahui bahwasanya kelemahan Ali Ibn Zaid Ibn Jud’an bagi yang mengatakan itu lemah bukan karena beliau seorang pendusta. Selagi kelemahan hadits bukan karena dusta maka dianggap tidak parah kelemahannya.

Adapun bagi yang mengatakan bahwasanya Ali Ibn Zaid Ibn Jud’an bukanlah orang yang dikatakan lemah. Seperti yang dikatakan oleh Al-Haitsami, kemudian juga Imam Al-Bazzar. Imam Bazzar mengatakan bahwa hadits ini adalah hasan. Kemudian juga Imam Al-Haitsami dalam Majma’ Zawaidnya mengatakan bahwasanya hadits ini juga hasan. Hadits yang melalui orang ini (Ali bin Zaid bin Jud’an) adalah hasan. Kemudian juga Imam At-Tirmidzi mengatakan orang ini adalah Shoduuq, bisa dipercaya dalam urusan hadits. Bahkan beliau menghukumi hadits yang perawinya melalui Ali Ibn Zaid Ibn Jud’an adalah hadits hasan. Ini adalah perbedaan diantara para Ulama Muhadditsin.

4. Do’a Menyambut Lailatul Qodar

Nabi SAW mengajarkan kepada Sayyidatina Siti Aisyah r.a. bacaan untuk menyambut malam Lailatul Qodar yaitu :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: قُلْتُ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟”، قَالَ: “قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي”(أخرجه الترمذي))

Diriwayaytkan dari Sayyidatina Aisyah r.a.h. Beliau berkata : “ Wahai Rasulallah, jika aku melihat Lailatul Qodar apa kiranya yang aku baca di malam itu?” Nabi SAW menjawab : “ Bacalah : Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Pemurah, Dzat yang senang member pengampunan. Maka ampunilah aku Ya Allah ” . (H.R. At-Tirmidzi)

Ini adalah sekelumit doa doa yang dianjurkan atau dibaca di bulan Ramadhan dan disana masih ada doa – doa yang sangat banyak yang bisa dibaca di bulan Ra,amdhan. Intinya adalah mari kita perbanyak di bulan Ramadhan ini amal baik, dari dzikir, istighfarm doa, sholat, membaca Al-Qur’an, sedekah dan lain-lainya sebagai bukti kerindua kita untuk menjadi orang yang Berjaya di bulan Ramadhan.

Semoga Allah memberikan kepada kita pemahaman yang benar, ilmu yang manfaat dan menjadikan kita hamba yang kembali kepada Allah SWT dengan pengampunan di bulan Ramadhan dan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
Wallahu a’lamu bisshowab

CATATAN PENTING DI BALIK KISAH ISRO’ MI’ROJ

CATATAN PENTING DI BALIK KISAH ISRO’ MI’ROJ

*CATATAN PENTING DI BALIK KISAH ISRO’ MI’ROJ*
(Risalah Buya Yahya)

Segala puji bagi Alloh yang Maha Kuasa. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW berserta keluarga dan sahabatnya.

Di bulan Rajab banyak sekali kegiatan kaum muslimin yang sudah mengakar dari masa kemasa seperti merayakan Isro’ Mi’roj atau berpuasa di bulan Rajab.

Isro’ Mi’roj adalah kejadian yang luar biasa atau mu’jizat yang diberikan oleh Alloh kepada Nabi Muhammad SAW yang di dalamnya terdapat hikmah-hikmah serta ilmu yang amat luar biasa bagi orang yang merenunginya. Kejadian Isro’ disebutkan oleh Alloh dalam Al-Qur’an surat Al-Isro ayat 1. Adapun kejadian Mi’roj disebutkan dalam riwayat-riwayat yang shohih di antaranya riwayat yang disebutkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam hadits panjang yang menceritakan tentang perjalanan Nabi SAW saat isro mi’roj.

Ada beberapa hal yang harus dicermati di dalam pelajaran Isro’ Mi’roj.

Pertama; Nabi Muhammad di perjalankan oleh Alloh dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqso hingga ke atas langit ke tujuh adalah dengan badan dan ruhnya. Dan badan Nabi SAW masih tetap dalam bentuk aslinya dan tidak berubah menjadi cahaya seperti yang diceritakan oleh sebagian penulis-penulis yang kurang berakal. Sebab yang namanya Mu’jizat adalah kejadian yang luar biasa dan jika Nabi SAW berubah menjadi cahaya maka kejadian itu menjadi tidak luar biasa lagi. Maka di dalam memahami istilah ilmiah seperti ini hendaknya dikembalikan oleh Ulama terdahulu dan jangan menghayal dengan berdalih disesuaikan dengan kajian-kajian ilmiah.

Yang harus dipahami bahwa penemuan ilmiah tidak akan bertentangan dengan syari’at, kalau ada pertentangan antara kajian ilmiah dengan syariat tentu karena salahnya kajian ilmiah atau salahnya seseorang dalam memahami syari’ah. Dan perjalanan Isro’ Mi’roj Nabi tidak bertentangan dengan penemuan ilmiah karena perjalanan Nabi SAW adalah tidak bisa patuh dan tunduk kepada riset dan kajian ilmiah. Akan tetapi kejadian Isro’ Mi’roj adalah terjadi karena kuasa Alloh SWT yang menciptakan waktu dan tempat.

Kedua, perayaan Isro’ Mi’roj maknanya adalah mengagungkan dan menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW, karena perayaan Isro’ Mi’roj akan selalu mengangkat tema kisah Isro’ Mi’roj Nabi, dengan pembahasan panjang lebar dan ditekankan pada pemahaman akan kewajiban sholat, makna-makna sesuatu yang diperlihatkan oleh Alloh kepada Nabi SAW. Dan hal semacam ini tidak bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi SAW. Justru hal-hal semacam inilah yang diperintahkan oleh Rasululloh SAW. Maka sungguh aneh jika tiba-tiba ada orang yang mengatakan perayaan Isro’ Mi’roj adalah bid’ah. Bagaimana mengagungkan kejadian agung, membacakan riwayat dari Nabi SAW serta menjelaskannya agar umat semakin paham tentang Isro’ Mi’roj, hikmah Isro’ Mi’roj, ilmu Isro’ Mi’roj, pesan kesan dibalik Isro’ Mi’roj dan lain sebagainya akan dikatakan sebagai bid’ah? Dan sungguh alangkah indahnya di sebuah acara Isro’ Mi’roj tiba-tiba ada seorang anak kecil menyenandungkan syair untuk Nabi SAW kemudian diikuti dengan santunan untuk anak yatim, kemudian setelah itu berdirilah beberapa Ustadz menjelaskan dengan detail tentang sholat tentang apa yang dilihat oleh Nabi SAW dalam isro mi’roj .

Memang ada sebagian perayaan Isro’ Mi’roj yang dibarengi dengan pelanggaran syari’at, seperti berkumpulnya laki-laki dan perempuan yang saling berdesakan atau mungkin adanya tontonan yang membuka aurat. Akan tetapi orang yang berfikir dan berilmu akan tahu bahwasanya Isro’ Mi’roj bukan seperti itu. Itu adalah pelanggaran-pelanggaran dalam Isro’ Mi’roj yang harus dipangkas. Bukan Isro’ Mi’roj nya yang harus dihentikan.
Adapun hari dan tanggal terjadinya Isro dan Mi’roj memang Ulama berbeda pendapat dalam hal ini .Ada yang mengatakan tanggal 27 Rojab ada yang mengatakan selain tanggal tersebut.
Masalah hari dan tanggal tidak penting, yang jelas dan pasti bahwa Rasululloh SAW telah benar-benar isro’ mi’roj dan kita tidak merayakan hari dan tanggal akan tetapi kita merayakan kejadian dan pesan yang ada di dalam kisah isro’ mi’roj .

Ketiga; di saat Nabi Muhammad SAW dimi’rojkan oleh Alloh SWT (diangkat keatas langit ketujuh). Disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW berbicara langsung dengan Alloh SWT. Yang harus dipahami bahwa menurut jumhur ulama bahwa Nabi Muhammad SAW di saat itu tidak melihat Alloh dengan mata kepala beliau, akan tetapi beliau melihat Alloh SWT dengan mata hatinya. Dan memang benar Alloh berbicara dengan Nabi Muhammad adalah dengan hakikat berbicara yang hanya Alloh dan Rasululloh-lah yang tahu caranya. Akan tetapi yang harus kita ketahui bahwa di saat Nabi Muhammad berbicara dengan Alloh bukan berarti Nabi harus melihat dengan mata kepala beliau, ini yang harus kita yakini. Memang ada sebagian para ulama yang mengatakan Nabi Muhammad melihat dengan mata kepala beliau seperti pendapat yang di nukil dari Imam an-Nawawi, Imam Qodi’iyadh dan Imam al-Farro’. Akan tetapi para pakar aqidah Ahlisunnah waljamaah menjelaskan bahwasanya pendapat itu adalah pendapat lemah.

Keempat; Nabi Muhammad SAW berbicara dengan Alloh SWT di atas Mustawa. Mungkin ada sebagian kaum muslimin yang setelah membaca kisah Isro’ Mi’roj dan kisah Nabi SAW berbicara dengan Alloh SWT di atas Sidratul Muntaha dan di atas Mustawa lalu berangan-angan bahwa Alloh ada di atas langit sana. Maka yang harus dijelaskan bahwa atas Mustawa bukanlah tempatnya Alloh, akan tetapi tempatnya Nabi SAW. Alloh tidak butuh kepada tempat. Maka jangan dikatakan Alloh di atas, sebab atas dan bawah adalah ciptaan Alloh SWT.

Disebutkan juga di dalam Al-Qur’an, Alloh mengajak bicara Nabi Musa As , di saat Nabi Musa berada di atas bukit Tursina, maka yang harus dipahami adalah bahwa bukit Tursina adalah tempatnya Nabi Musa, bukan tempatnya Alloh. Lalu “Alloh dimana?” Jawabnya adalah karena Alloh tidak butuh tempat, maka jangan bertanya dengan pertanyaan “Alloh dimana?”. Karena Alloh tidak butuh mana-mana, Alloh tidak serupa dengan makhluknya .

Kepercayaan bahwa Alloh di atas langit adalah kesesatan dalam beraqidah. Hal-hal semacam itu harus diluruskan, bahkan ada di beberapa sekolahan yang siswa-siswi mereka, ditanya oleh gurunya dengan pertanyaan “Alloh dimana ?” Itu adalah pertanyaan fitnah yang tidak membangun aqidah. Dan itu karena mana-mana adalah ciptaan Alloh , dan Alloh tidak butuh kepada ciptaanNya.

Ada diriwayatkan dari Imam Muslim tentang pertanyaan Rasulullah kepada seorang budak, dengan pertanyaan “Alloh dimana?” dan hal itu sudah dijelaskan oleh para Ulama panjang lebar dengan mendatangkan kisah budak tersebut dari riwa yat para Imam Ahli Hadits yang lainnya, hingga tidak menyisakan keraguan apapun bahwa Alloh tetap tidak butuh tempat.

Kelima; Rosululloh SAW yang dalam keadaan hidup bertemu dengan para Nabi dan Rasul yang telah meninggal dunia dan berdialog. Itu adalah mukjizat dan yang di fahami para Ulama bahwa orang yang hidup saat ini bisa saja bertemu dengan Nabi Muhammad SAW sebagai karomah yang diberikan oleh Alloh kepada orang tersebut. Dan inilah pengalaman para kekasih Alloh yang sangat banyak jumlahnya bertemu dengan Nabi SAW setelah Nabi Muhammad wafat.

Akan tetapi ada hal yang perlu diperhatikan bahwa berdusta atas nama Rasululloh adalah dosa besar dan ancamanya adalah neraka jahanam. Orang yang mengaku bertemu Rasululloh atau bermimpi bertemu Rasululloh dengan dusta tempatnya adalah neraka jahannam.

Penjelasan tentang kemungkinan seorang sholih bertemu Rasululloh SAW jangan membuka celah pendusta dan dajjal kecil untuk mengaku bertemu Rosululloh SAW karena gila pangkat penghormatan, maqom kemulyaan didunia dan ingin dianggap sebagai waliyulloh. Itulah wali syetan yang pendusta.

Semoga Alloh mempertemukan kita dengan Rasulullah SAW di lahir dan batin kita di dunia, di alam barzah, di padang makhsyar dan di surga Alloh SWT. Wallohu A’lam bishshowab

SYARIAT ISLAM MENGHUKUMI VALENTINE DAY

SYARIAT ISLAM MENGHUKUMI VALENTINE DAY

SYARIAT ISLAM MENGHUKUMI VALENTINE DAY
Oleh : Buya Yahya ( Pengasuh LPD Al-Bahjah )

Sebelum menjelaskan hukum merayakan valentine day kita harus tahu hakikat Valentine Day. Sebab slogan yang di angkat dalam valentine day adalah cinta atau hari kasih sayang, yang hal itu juga sangat diajarkan oleh Islam. Hal ini sangat mengundang kerancauan atau kesalah pahaman hingga banyak dari kaum muslimin tergesa-gesa menerima bahkan mengokohkan, membela dan ikut memeriahkannya. Padahal kalau kita cermati dengan seksama dan kita renungi permasalahannya maka akan sangat gamblang dan jelas hukumnya.
Dikatakan oleh para ulama “Alhukmu Ala Syaiin Far’un An Tasowwurihi” artinya menghukumi sesuatu itu harus tahu terlebih dahulu gambaran dari permasalahan yang akan di hukumi. Maksudnya ” Jikalau orang ingin menghukumi sesuatu maka tentunya ia harus tahu benar akan sesuatu yang akan dihukumi supaya tidak salah.” Gambaran sederhananya adalah : Seseorang yang menjelaskan hukum halal dan haram diharuskan tahu dua hal. Pertama : Tahu hakikat halal dan haram. Halal adalah sesuatu yang direstui atau diizinkan oleh Allah SWT sedangkan haram adalah sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT dan mengundang murkaNya . Kedua : Tahu hakekat sesatu yang dihukumi halal atau haram. Dalam hal ini adalah masalah valentine day.

Valentine day adalah perayaan kejadian yang asal-usulnya sangat bertentangan dengan aqidah Islam. Sebelum orang nasrani merayakannya, valentine adalah hari memperingati “ kelahiran tuhan ” di Rumania yang mereka yakini. Kemudian di dalam sebagian masyakat nasrani valentine adalah hari untuk mengenang seorang tokoh nasrani Santo Valentino yang mati di hari itu yang akhirnya di abadikan dan dirayakan sebagai hari Valentine. Asal usul valentine banyak perbedaan hingga sebagian kaum nasrani Itali menolak perayaan hari valentine. Lebih dari itu Valentine Day itu sudah menjadi tradisi dan budaya yang dibesarkan oleh sekelompok orang dengan acara yang diwarnai dengan hal yang bertentangan dengan syariat Islam, mulai dari hura-hura, mabuk-mabukan dan bercampurnya laki-laki dan perempuan. Dan itu semua bukan budaya dan syiarnya orang yang beriman. Budaya semacam ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh sebab itu maka merayakan Valentine Day berada di luar rambu-rambu ajaran Islam. Jadi jika ada orang Islam yang mengikuti budaya itu berarti hukumnya adalah HARAM dengan dua keharaman.

– Pertama : Mengagungkan tokoh kafir Santo Valentino.
– Kedua : Membesarkan syiarnya orang fasiq dan orang yang tidak beriman.

Semoga Alloh memberi kepada kita kesadaran untuk menjauhi segala yang haram dan semoga mengampuni kita semua. wallahu a’lam bishshowab.

ADAKAH TARAWIH YANG BID’AH?

ADAKAH TARAWIH YANG BID’AH?

Muqaddimah
بِسْمِ اللّٰه الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, الَّذِيْ أَكْرَمَنَا بِشَهْرِ رَمَضَانَ, وَجَعَلَنَا مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ, وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَفْضَلِ الصَّائِمِيْنَ وَأَحْسَنِ الْقَائِمِيْنَ. حَبِيْبِنَا وَشاَفِعِنَا وَمَوْلاَناَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ “ إِنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيْكُمْ صِيَامَ رَمَضَانَ وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah mewajibkan kepada kalian puasa di bulan Ramadhan dan aku menganjurkan kepada kalian untuk menghidupkan (malamnya dengan ibadah), maka barang siapa yang berpuasa di siang harinya dan menghidupkan dengan ibadah di malam harinya karena iman dan mengharap pahala (dari Allah SWT), maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.”

Di saat menjelang bulan Ramadhan, mari kita beri semangat diri kita dalam menyambut Ramadhan. Sehingga ketika kita memasuki bulan Ramadhan benar-benar penuh dengan kesiapan lahir dan batin untuk menggapai kemenangan dan kejayaan di hadapan Allah SWT sebagai orang yang:
“مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ ”
“Kembali kepada Allah dengan pengampunan dan mendapat keberuntungan dan pahala yang besar”. Amin
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Ada amalan sunnah yang sangat dianjurkan bagi kaum Muslimin, yaitu shalat Tarawih. Namun ada sedikit keteledoran dan kesalahpahaman di dalam memahami shalat tarawih sehingga kadang shalat tarawih ini jadi sebab permusuhan di antara kaum Muslimin.
Sebenarnya masalah shalat tarawih sangat jelas, jadi kita tidak perlu membahas shalat tarawih akan tetapi tinggal mengamalkannya. Sebab para ulama terdahulu telah tuntas membahas cara, waktu dan bilangan rakaatnya.
Namun di saat terjadi perbedaan pendapat tentang bilangan dan caranya yang dimunculkan oleh segelintir orang akhir zaman, yang akhirnya menimbulkan fitnah, maka wajib bagi yang paham tentang Tarawih untuk menjelaskan dan memberi tahu yang belum paham. Padahal jika ada seseorang yang tidak mengerjakan shalat tarawih pun tidak menjadi masalah karena ini amalan sunnah.
Yang menjadi masalah lebih besar lagi adalah karena adanya sebuah fatwa yang disebutkan oleh orang yang baru meninggal sekitar beberapa tahun lalu, bahwasanya shalat tarawih lebih dari 11 rakaat adalah bid’ah. Maka dari itu kita berkewajiban menjelaskan dan membela orang yang dianggap melakukan sesuatu yang bid’ah padahal tidak demikian. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua, Amin.

BILANGAN SHALAT WITIRNYA RASULULLAH SAW

Shalat witir adalah amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW, baik di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan, dan sekaligus ini adalah amalan yang sangat sunnah bagi umat beliau lebih khusus lagi adalah jika dilakukan pada malam-malam bulan Ramadhan.
Untuk menyatakan bahwasanya ini adalah sunnah yang dikukuhkan, mari kita lihat riwayat-riwayat dari Rasulullah SAW tentang shalat witir beliau:
Hadits riwayat Imam Al-Bukhari No. 990 jilid 2 hal. 404: عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلاَةِ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَم صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى.

Dari Ibnu Umar RA seorang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Shalat malam, maka Rasulullah SAW bersabda: “Shalat malam itu 2 rakaat-2 rakaat, akan tetapi apabila salah seorang di antara kalian khawatir akan masuk waktu shalat Shubuh, maka shalatlah 1 rakaat sebagai witir.”

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari No. 995 jilid 2 hal. 409:
حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ سِيرِينَ قَالَ قُلْتُ لاِبْنِ عُمَرَ أَرَأَيْتَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ أُطِيلُ فِيهِمَا الْقِرَاءَةَ فَقَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى وَيُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَيُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ وَكَأَنَّ اْلأَذَانَ بِأُذُنَيْهِ قَالَ حَمَّادٌ أَيْ سُرْعَةً.

Telah bercerita kepada kami Sayyidina Anas bin Sirin RA beliau berkata: “Aku bertanya kepada Ibnu Umar RA shalat apakah 2 raka’at sebelum shalat Shubuh dan aku memperpanjang bacaan di 2 rakaat tersebut? Maka Ibnu Umar RA berkata “Rasulullah SAW melakukan shalat malam 2 rakaat – 2 rakaat kemudian menutupnya dengan witir 1 rakaat, kemudian beliau shalat 2 rakaat sebelum Shubuh dan seolah-olah adzan Shubuh (terdengar) di kedua telinganya”. Hammad berkata: “Yakni cepat” (jarak antara shalat 2 rakaat terakhir Rasulullah SAW dengan masuknya waktu Shubuh sangat dekat sekali).
Hadits riwayat Imam Al-Bukhari No. 997 jilid 2 hal. 411:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَأَنَا رَاقِدَةٌ مُعْتَرِضَةً عَلَى فِرَاشِهِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ أَيْقَظَنِي فَأَوْتَرْتُ.
Dari Sayyidah Aisyah RA beliau berkata: “Rasulullah SAW melakukan shalat sedangkan aku tidur melintang di atas kasurnya, ketika beliau hendak melakukan shalat witir beliau membangunkanku kemudian aku melakukan shalat witir”.

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 998 jilid 2 hal. 412 :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا.
Dari Abdullah Bin Umar ra dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda: “Jadikanlah Witir sebagai penutup Shalat malam kalian”.

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari No. 999 jilid 2 hal. 413:
عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ أَسِيرُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بِطَرِيقِ مَكَّةَ فَقَالَ سَعِيدٌ فَلَمَّا خَشِيتُ الصُّبْحَ نَزَلْتُ فَأَوْتَرْتُ ثُمَّ لَحِقْتُهُ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ أَيْنَ كُنْتَ فَقُلْتُ خَشِيتُ الصُّبْحَ فَنَزَلْتُ فَأَوْتَرْتُ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ أَلَيْسَ لَكَ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أسْوَةٌ حَسَنَةٌ فَقُلْتُ بَلَى وَاللَّهِ قَالَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ عَلَى الْبَعِيرِ.
Dari Said bin Yasar RA sesungguhnya beliau berkata: “Dahulu aku berjalan pada malam hari bersama Abdullah bin Umar di salah satu jalan di Makkah, kemudian beliau (Sa’id) berkata: “Ketika aku khawatir waktu Shubuh (menjelang), maka aku turun kemudian melakukan shalat witir kemudian aku menyusul Abdullah Bin Umar lalu beliau bertanya “Kemana saja kamu?”, kemudian aku menjawab “Aku khawatir masuk waktu Shubuh, maka dari itu aku turun dan melakukan shalat witir.” Kemudian Abdullah bin Umar berkata: “Bukankah Rasulullah SAW suri tauladan yang baik?” Maka aku menjawab: “Ya, demi Allah.” Abdullah Bin Umar berkata: “Sungguh Rasulullah SAW pernah melakukan shalat witir di atas unta.”

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari No. 1000 jilid 2 hal. 414:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي السَّفَرِ عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ يُومِئُ إِيمَاءً صَلاَةَ اللَّيْلِ إِلاَّ الْفَرَائِضَ وَيُوتِرُ عَلَى رَاحِلَتِهِ.
Dari Ibnu Umar RA beliau berkata: “Nabi Muhammad SAW melakukan shalat di saat bepergian di atas untanya kemana pun untanya tersebut menghadap, beliau melakukan shalat malam (dengan cara seperti itu) selain shalat fardhu kemudian melakukan shalat witir di atas untanya.”

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari 1094 jilid 4 hal 334:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِاللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ يُصَلِّي إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ بِالصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ.

Sayyidah Aisyah RA berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah melakukan shalat malam 13 rakaat, kemudian Rasulullah SAW melakukan Shalat 2 rakaat yang ringan ketika mendengar adzan Shubuh.”

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 1079 jilid 4 hal. 319:
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي.

Dari Abu Salamah bin Abdurrahman, suatu ketika beliau bertanya kepada Sayyidah Aisyah RA tentang shalatnya Rasulullah SAW di bulan Ramadhan, maka Sayyidah Aisyah RA menjawab. “Rasulullah SAW tidak menambah lebih dari 11 raka’at baik di bulan Ramadhan atau diluar ramadhan, beliau melakukan shalat 4 rakaat dan jangan engkau bertanya tentang kebagusan dan panjangnya Shalat beliau, kemudian beliau melakukan shalat 4 rakaat lagi, dan jangan engkau bertanya kebagusan dan panjangnya, kemudian beliau melakukan shalat 3 rakaat”. Kemudian Sayyidah Aisyah RA berkata: “Wahai Rasulullah SAW apakah engkau tidur sebelum melakukan shalat witir? Maka Rasulullah SAW SAW menjawab: “Wahai Aisyah, memang benar mataku tertidur, akan tetapi hatiku tidak tidur”.

Hadits riwayat Imam Muslim no. 1222 jilid 4 hal. 92:
عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ تَقُولُ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اللَّيْلِ عَشَرَ رَكَعَاتٍ وَيُوتِرُ بِسَجْدَةٍ وَيَرْكَعُ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فَتِلْكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

Dari Al-Qosim bin Muhammad, beliau berkata: “Aku mendengar Sayyidah Aisyah RA berkata: “Shalatnya Rasulullah SAW pada malam hari itu 10 rakaat dan ditutup dengan 1 rakaat, kemudian beliau melakukan shalat 2 rakaat maka terkumpulah shalat beliau menjadi 13 rakaat.”

Hadits riwayat Imam At-Tirmidzi no. 240 jilid 2 hal 263:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً فَلَمَّا كَبِرَ وَضَعُفَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ.

Dari Ummu Salamah RA beliau berkata: “Nabi Muhammad SAW melakukan shalat witir 13 rakaat, namun ketika beliau mulai lanjut usia dan lemah, maka beliau melakukan shalat witir 7 rakaat”.

Keterangan:
Kalau kita lihat dari hadits-hadits tersebut di atas, sungguh Rasulullah SAW begitu menghimbau untuk melakukan shalat witir dan menghimbau kita untuk memperbanyak melakukan shalat witir hingga 11 rakaat bahkan sampai 13 rakaat.
Adapun bagi orang yang ingin mengurangi dari bilangan tersebut hendaknya diupayakan tidak kurang dari 3 rakaat.

Sampai dikatakan oleh para ulama bahwasanya 3 rakaat adalah derajat kesempurnaan shalat witir yang paling rendah (أَقَلُّ الْكَمَالِ) , kecuali bagi seseorang yang memiliki waktu yang sempit dan tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan shalat witir 3 rakaat, maka hendaknya ia melakukan shalat witir 1 rakaat. Yang terpenting adalah jangan sampai tidak melakukan shalat witir sama sekali.

Kesimpulan:
1. Pendapat yang dikukuhkan kebanyakan ulama, bahwa bilangan witir terbanyak adalah 11 rakaat, inilah yang dilazimi oleh Rasulullah SAW.
2. Witir 13 rakaat adalah pendapat sebagian kecil para ulama.
3. Paling sedikitnya witir adalah 1 rakaat.

BILANGAN SHALAT TARAWIHNYA RASULULLAH SAW

Tidak ada riwayat tentang batasan shalat tarawihnya Rasulullah SAW di malam bulan Ramadhan, yang jelas pada malam-malam di bulan Ramadhan Rasulullah SAW memperbanyak ibadah dengan ibadah-ibadah yang tidak pernah Rasulullah SAW lakukan di luar bulan Ramadhan.
Hadits-hadits yang berkenaan dengan ibadah malam Ramadhan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW:

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 1061 jilid 4 hal 290 dan Imam Muslim no. 1270 jilid 4 hal. 148:
وَقَالَتْ السَّيِّدَةُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوْا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ :” قَدْ رَأَيْتُ الَّذِيْ صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِيْ مِنَ الْخْرُوْجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّيْ خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ “ وَذَلِكَ فِيْ رَمَضَانَ.
Sayyidah Aisyah RA berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam melakukan shalat di masjid, kemudian ada orang-orang yang mengikutinya melakukan shalat (berjama’ah), kemudian malam berikutnya Nabi Muhammad SAW melakukan shalat lagi dan orang-orang bertambah banyak, lalu pada malam ke 3 atau 4 orang-orang berkumpul dan Nabi Muhammad SAW tidak keluar kepada mereka (untuk melakukan shalat), ketika menjelang pagi hari Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sungguh aku tahu apa yang kalian lakukan (semalam: yakni berkumpul untuk shalat). Sungguh tak ada yang mencegahku untuk keluar melainkan aku khawatir shalat tersebut diwajibkan kepada kalian”. Hal ini terjadi pada bulan Ramadhan (yakni shalat tarawih).

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 689 jilid 3 hal 165:
عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ حُجْرَةً قَالَ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ مِنْ حَصِيرٍ فِي رَمَضَانَ فَصَلَّى فِيهَا لَيَالِيَ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَلَمَّا عَلِمَ بِهِمْ جَعَلَ يَقْعُدُ فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ قَدْ عَرَفْتُ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ صَنِيعِكُمْ فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ.

Dari Zaid Bin Tsabit RA, “Sesungguhnya Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan masuk ke kamar yang terdapat di dalamnya tikar kemudian Rasulullah SAW shalat di kamar tersebut selama beberapa malam, kemudian orang-orang dari para sahabat ikut shalat, setelah Rasulullah SAW mengetahui akan hal tersebut (mengikutinya shalat), maka beliau duduk (tidak keluar untuk sementara) kemudian keluar menemui mereka dan bersabda: “Sungguh aku telah tahu dan melihat apa yang kalian perbuat, maka shalatlah kalian di rumah kalian karena sebaik-baik shalatnya seseorang adalah di rumahnya selain shalat fardhu.”

Hadits riwayat Imam Muslim no. 1271 jilid 4 hal 149:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَتْ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلاَتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ يَتَحَدَّثُونَ بِذَلِكَ فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةِ فَصَلَّوْا بِصَلاَتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ يَذْكُرُونَ ذَلِكَ فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ فَصَلَّوْا بِصَلاَتِهِ فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَفِقَ رِجَالٌ مِنْهُمْ يَقُولُونَ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى خَرَجَ لِصَلاَةِ الْفَجْرِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ ثُمَّ تَشَهَّدَ فَقَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ شَأْنُكُمْ اللَّيْلَةَ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ صَلاَةُ اللَّيْلِ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا.
DarI Sayyidah Aisyah RA beliau berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar di tengah malam dan melakukan shalat di masjid, kemudian orang-orang dari para sahabat Nabi mengikutinya Shalatnya Rasulullah SAW (berjamaah), di keesokan harinya orang-orang pada membicarakan hal tersebut, maka orang-orang yang berkumpul makin banyak kemudian Rasulullah SAW keluar pada malam yang ke-2 dan esok harinya orang-orang membincangkan hal tersebut, hingga pada malam ke-3 orang-orang di masjid bertambah banyak kemudian Rasulullah SAW keluar untuk shalat bersama mereka, akan tetapi pada malam ke-4 masjid tidak mampu menampung (para sahabat), maka Rasulullah SAW tidak keluar, kemudian ada seseorang yang berkata: Shalat!!! Namun demikian Rasulullah SAW tidak keluar sampai pada akhirnya beliau keluar di waktu shalat Shubuh, setelah melakukan Shalat beliau menghadap kepada orang-orang kemudian membaca Syahadat dan bersabda: “Sungguh aku mengetahui apa yang kalian lakukan semalam, akan tetapi aku khawatir shalat malam (tarawih) tersebut diwajibkan atas kalian kemudian kalian tidak mampu melaksanakannya.”
Dari riwayat-riwayat tersebut di atas sangat jelas bahwa bilangan shalat malam Rasulullah SAW di bulan Ramadhan (tarawih) tidak ditentukan bilangannya dan tidak ada riwayat khusus yang dinukil dari Rasulullah SAW tentang bilangan rakaat shalat tarawih.

BILANGAN SHALAT TARAWEH PADA MASA SAHABAT

Bilangan rakaat shalat tarawih pada masa sahabat RA yaitu dimulai dari masa Sayyidina Umar bin Khaththab RA yang perlu dicermati:
Pertama, beliau (Sayyidina Umar) mengambil bilangan 20 rakaat sementara tidak ada riwayat dari Rasulullah SAW yang menjelaskan bilangan tersebut.
Kedua, kita semua juga mengenal siapa Sayyidina Umar bin Khaththab RA, Sayyidina Utsman bin ‘Affan RA, Sayyidina Ali bin Abi Thalib beserta ribuan sahabat Nabi yang lainnya.
Ketiga, pada kenyataan dan sudah benar-benar terbukti akan kebenaran riwayat tentang Shalat Taraweh 20 rakaat itu dari Sayyidina Umar bin Khaththab RA. seperti yang akan kami sebutkan dalam pembahasan selanjutnya.
Maka tidak ada lagi bagi kita kecuali harus mengikutinya. Itulah yang dilakukan oleh para Imam 4 Mazhab. Mengikuti para Khulafaur Rasyidin adalah termasuk mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوْا عَلَيْهَا
بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ (رواه أبو داود والترمذي وقال: حديث حسن صحيح)

“Hendaknya kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khalifah yang bijak dan yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah dengan sunnah tersebut dan berhati-hatilah kalian dengan perkara yang diada-ada karena setiap bid’ah itu sesat”.
(HR Imam Abu Daud dan Imam Tirmidzi, Imam Tirmidzi berkata hadits tersebut Hasan Shahih.)

Rasulullah SAW bersabda:
“اِقْتَدُوْا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِيْ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ” (رَوَاهُ اَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهٍ عَنْ حُذَيْفَةَ)
“Ikutilah 2 orang setelahku yaitu Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar”. (HR Imam Ahmad, Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah dari Hudzaifah)

Riwayat-riwayat tentang shalat tarawihnya para sahabat Nabi:
Hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 2012 jilid 5 hal. 142:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ الْقَارِىِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ- رضى الله عنه – لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ، إِلَى الْمَسْجِدِ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّى الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ، وَيُصَلِّى الرَّجُلُ فَيُصَلِّى بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ أَنِّيْ أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ. ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ، ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ، قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ، وَالَّتِى يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ ، وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ.
Dari Abdurrahman bin Abdul Qari beliau berkata: “Aku keluar bersama Sayyidina ‘Umar bin Khaththab RA pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang pada melakukan shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang melakukan shalat sendiri dan ada yang melakukan shalat kemudian diikuti oleh makmum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka Sayyidina Umar berkata: “Aku berpikir bagaimana seandainya mereka aku kumpulkan semuanya agar berjamaah dengan dipimpin oleh satu orang imam, tentu hal itu akan lebih baik.”. Kemudian Sayyidina Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jamaah yang dipimpin oleh Sayyidina Ubay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jamaah dengan dipimpin seorang Imam, lalu Sayyidina Umar berkata, “ini adalah Sebaik-baik bid’ah” (hal baru yang diadakan). Dan mereka yang tidur terlebih dahulu (kemudian Shalat) itu lebih baik daripada yang shalat di awal malam (kemudian tidur).”

Hadits riwayat Imam Al-Baihaqi no. 4801 jilid 2 hal. 496:
عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ : كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً – قَالَ – وَكَانُوا يَقْرَءُونَ بِالْمِئِينِ، وَكَانُوا يَتَوَكَّئُونَ عَلَى عُصِيِّهِمْ فِى عَهْدِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ شِدَّةِ الْقِيَامِ.

Diriwayatkan dari As-Saib bin Yazid RA, beliau berkata: “Mereka (para sahabat) melakukan Qiyam Ramadhan (shalat tarawih) pada masa Sayyidina Umar bin Al-Khatthab RA sebanyak 20 rakaat”, beliau berkata: “Mereka membaca surat yang ayatnya 100 ayat lebih, sedangkan pada masa Sayyidina Utsman bin Affan RA mereka bersandaran pada tongkat mereka dikarenakan lamanya berdiri.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik no. 252 jilid 1 hal 115:
عَنْ يَزِيْدَ بْنِ رُوْمَانَ قَالَ :“ كَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ فِيْ زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – بِثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ رَكْعَةً ”. يَعْنِيْ يُصَلُّوْنَ التَّرَاوِيْحَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً وَيُوْتِرُوْنَ بِثَلاَثِ رَكَعَاتٍ.

Dari Yazid bin Ruman beliau berkata: “Orang-orang pada masa Sayyidina Umar bin Khatthab melakukan qiyam (shalat tarawih) 23 rakaat”. Yakni mereka shalat tarawih 20 rakaat dan shalat witir 3 rakaat.

SHALAT TARAWIH 8 RAKAAT

Bagi orang yang mengenal hadits-hadits Nabi Muhammad SAW dan perkataan para ulama, tentu amat sangat mudah untuk mengetahui bahwasanya bilangan shalat tarawih 8 rakaat itu bukan bilangan shalat tarawihnya Nabi Muhammad SAW dan juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat-sahabat beliau khususnya para Khulafaur Rasyidin.

Maka, jika ada yang mengikuti pendapat (tarawih 8 rakaat) lalu berhujjah ini adalah bilangan tarawih Nabi Muhammad SAW, sungguh ini adalah hal yang tidak dibenarkan, apalagi hujjah yang mereka keluarkan adalah hujjah yang tidak semestinya digunakan untuk shalat tarawih, yaitu hujjah tentang shalat witirnya Rasulullah SAW, seperti yang telah kami sebutkan dalam pembahasan shalat witir di awal risalah ini.
Sungguh sangat mengherankan lagi jika muncul orang yang memilih shalat tarawih hanya 8 rakaat kemudian dengan serta merta menyalahkan orang yang melakukan shalat tarawih 20 rakaat bahkan membid’ahkannya.

Kalau kita cermati, bahwasanya shalat tarawih 20 rakaat atau yang 8 rakaat bukanlah bilangan tarawihnya Rasulullah SAW dan keduannya adalah sunnah Nabi SAW, dalam arti sama-sama shalat malam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW di bulan Ramadhan. Akan tetapi ada sedikit perbedaan bahwa 8 rakaat bukan bilangan yang dilakukan Sahabat Nabi dan 20 rakaat adalah bilangan yang dilakukan para sahabat.
Kesimpulannya, yang melakukan 8 rakaat telah menjalankan sunnah Nabi SAW dalam qiyamullail dan yang melakukan 20 rakaat telah melakukan sunnah Nabi dan sunnah Khulafaur Rasyidin.

Yang harus disadari fitnah perpecahan terjadi bukan karena seseorang tidak melakukan tarawih atau melakukan tarawih dengan bilangan tertentu, akan tetapi perpecahan terjadi karena kesombongan sebagian orang yang begitu mudah menyalahkan dan membid’ahkan orang lain dan ulama terdahulu.
Risalah ini dihadirkan bukan untuk menghujat orang yang melakukan shalat tarawih 8 rakaat. Sebab berapa pun rakaat yang dilakukan seseorang akan masuk dalam ibadah (qiyamullail) yang diterima di bulan Ramadhan.

Karena munculnya kesalah-pahaman sebagian orang yang beranggapan bahwa tarawihnya Rasulullah SAW adalah hanya 8 rakaat kemudian menganggap yang lebih dari itu adalah salah bahkan kadang dengan anggapan bid’ah, maka kami perlu untuk menghadirkan pemahaman ulama terdahulu (salaf) agar ada pencerahan bagi semua yang sering berprasangka buruk kepada sesama kaum Muslimin.

HADITS YANG DIANGGAP HUJJAH SHALAT TARAWIH 8 RAKAAT

Hadits riwayat Imam Ibnu Hibban dan Imam Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dalam Kitab shahihnya:
عَنْ جَابِرٍ: ”أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ ثَمَانِ رَكَعَاتٍ وَالْوِتْرَ ثُمَّ انْتَظَرُوْهُ فِي الْقَابِلَةِ يَخْرُجُ إِلَيْهِمْ”
Dari Jabir: “Sesungguhnya Rasulullah SAW melakukan shalat tarawih bersama para sahabat sebanyak 8 rakaat kemudian shalat witir, kemudian mereka menunggu Rasulullah SAW keluar di malam berikutnya”.

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 1079 jilid 4 hal. 319:
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي.
Dari Abu Salamah bin Abdurrahman, suatu ketika beliau bertanya kepada Sayyidah Aisyah RA tentang shalatnya Rasulullah SAW di bulan Ramadhan, maka Sayyidah Aisyah RA menjawab: “Rasulullah SAW tidak menambah lebih dari 11 rakaat baik di bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan, beliau melakukan shalat 4 rakaat dan jangan engkau bertanya tentang kebagusan dan panjangnya Shalat beliau, kemudian beliau melakukan shalat 4 rakaat lagi, dan jangan engkau bertanya kebagusan dan panjangnya, kemudian beliau melakukan shalat 3 rakaat”. Kemudian Sayyidah Aisyah RA berkata: “Wahai Rasulullah SAW apakah engkau tidur sebelum melakukan shalat witir?” Maka Rasulullah SAW menjawab: “Wahai Aisyah, memang benar mataku tertidur akan, tetapi hatiku tidak tidur.”
Dari 2 riwayat tersebut, mereka menyimpulkan bahwa shalat tarawih Rasulullah SAW adalah 11 rakaat, 8 rakaat shalat tarawih dan 3 shalat witir.

PENJELASAN ULAMA TENTANG HADITS SHALAT TARAWIH 8 RAKAAT
Adapun hadits yang pertama yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Ibnu Khuzaimah dari Jabir Bin Abdullah, ini menurut para ulama adalah sangat lemah (dha’if) sekali. Sebab dalam hadits ini ada ‘Isa bin Jariyah, menurut Ibnu Ma’in dan Daud ia adalah perawi “Munkar Al-Hadits”, Ibnu Adi berkata bahwasanya hadits-hadits yang diriwayatkan dari ‘Isa bin Jariyah tersebut tidak bisa diambil untuk dijadikan landasan amal, maka dari itu As-Saji dan Al-‘Aqili memasukkan hadits ini ke dalam hadits yang dha’if.
Disebutkan dalam kitab At-Tahdzib karya Imam Ibnu Hajar jilid 8 hal. 207 bahwasanya dalam sanad hadits tersebut terdapat Ya’qub bin Abdullah Al-Qummi, Imam Ad-Daruqutni berkata: “Ya’qub bin Abdullah Al-Qummi bukanlah perawi yang kuat hafalannya”.

Maka dari itu, hadits tersebut sangat tidak bisa dijadikan hujjah. Oleh sebab itulah, Imam Ash-Shan’ani menukil dari Imam Az-Zarkasyi dalam Kitab Al-Khadim, beliau mengatakan:
“ بَلِ الثَّابِتُ فِي الصَّحِيْحِ الصَّلاَةُ مِنْ غَيْرِ ذِكْرٍ بِالْعَدَد“
“Adapun yang shahih (benar) tentang shalat tarawih adalah tidak ada penyebutan bilangannya (yakni tidak ada batasan raka’atnya)”. (Subulus Salam jilid 2 hal. 10)

Seandainya hadits ini benar, ini hanya sekedar berandai-andai, maka yang sesuai dengan riwayat-riwayat yang lain menunjukkan bahwa hadits ini berisi berita tentang shalat witirnya Rasulullah SAW dengan salah satu dari 2 kemungkinan:
Rasulullah SAW melakukan witir 8+1= 9 rakaat
Rasulullah SAW melakukan witir 8+3= 11 rakaat
Makna ini sungguh sangat tepat dan sesuai dengan hadits-hadits yang lainnya. Sementara sudah sangat jelas bahwa di dalam hadits tersebut tidak menjelaskan shalat tarawih Rasulullah SAW adalah 8 + 3 =11 rakaat.
Akan tetapi dalam riwayat tersebut Nabi Muhammad SAW melakukan shalat 8 rakaat ditutup dengan 1 witir.
Makna witir pada asalnya digunakan untuk 1, seperti disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim:
إِنَّ اللهَ وِتْرٌ
“Sesungguhnya Allah adalah witir (satu)”.
Witir baru bisa digunakan untuk makna 3, 5 dan seterusnya jika ada keterangan (qarinah).
Jika kita maknai witir dalam hadits tersebut adalah 1 rakaat, kemudian yang 8 rakaat adalah shalat tarawih, ini berarti shalat witirnya Rasulullah SAW hanya 1 rakaat dan ini sungguh tidak seiring dengan hadits yang lainnya khususnya hadits Sayyidah Aisyah RA.
Jadi kesimpulannya kalau seandainya hadits itu benar maka maknanya adalah berita tentang shalat witirnya Rasulullah SAW dengan cara 8+1 = 9 rakaat atau 8+3 = 11 rakaat.

Akan tetapi karena hadits tersebut adalah lemah, maka semestinya tidak perlu dibahas. Sebab sudah ada hadits yang lebih kuat dan lebih jelas maknanya.
Sedangkan hadits yang ke-2 yaitu hadits riwayat Sayyidah Aisyah, hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah bahwa shalat tarawih adalah 8 rakaat dan witir adalah 3 rakaat. Karena hadits tersebut hanya berbicara tentang witirnya Rasulullah SAW yang 11 rakaat dan bukannya Rasulullah SAW melakukan shalat tarawih 8 rakaat dan shalat witirnya 3 rakaat.

Sebuah pertanyaan yang harus direnungi: Darimana datangnya pemahaman bahwa di sini Rasulullah SAW melakukan shalat witir hanya 3 rakaat, lalu yang 8 rakaat adalah shalat tarawih?
Berarti seolah-olah Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan yang seharusnya Rasulullah memperbanyak shalat, justru mengurangi bilangan rakaat shalat witirnya dari 11 rakaat menjadi 3 rakaat. Anggaplah shalat tarawih Rasulullah adalah 8 rakaat dan3 rakaat witir.

Padahal sudah jelas dalam hadits riwayat Sayyidah Aisyah RA tersebut di atas Rasulullah SAW melakukan shalat 4 + 4 + 3 rakaat = 11 rakaat, kemudian Sayyidah Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah SAW, apakah engkau tidur sebelum melakukan shalat witir?”
Sangat jelas bahwa ini adalah pertanyaan tentang shalat witirnya Rasulullah SAW secara umum bukan keterangan tentang witir Rasulullah SAW 3 rakaat. Sebab di situ Sayyidah Aisyah RA tidak bertanya: “Wahai Rasulullah SAW apakah engkau tidur sebelum melakukan shalat witir 3 rakaat?”
Dari mana mana hadits tersebut disimpulkan bahwa shalat witir Rasulullah SAW adalah 3 rakaat? Kenapa tidak disimpulkan dengan riwayat lain yang shahih bahwa Rasulullah SAW sering melakukan shalat witir 11 rakaat agar antara hadits dengan hadits yang lain seiring dan seirama?
Adapun cara melakukan shalat witir 11 rakaat bisa dilakukan dengan cara berikut ini:
2+2+2+2+2+1 = 11 rakaat
2+2+2+2+3 = 11 rakaat
4+4+3 = 11 rakaat
4+4+2+1 = 11 rakaat
8+3 = 11 rakaat
10+1 = 11 rakaat

Dalam riwayat lain disebutkan:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ : لاَ تُوتِرُوْا بِثَلاَثٍ، أَوْتِرُوْا بِخَمْسٍ أَوْ سَبْعٍ وَلاَ تُشَبِّهُوْا بِصَلاَةِ الْمَغْرِبِ. رَوَاهُ الدَّارُ قُطْنِيُّ
Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian shalat witir 3 rakaat, akan tetapi shalat witirlah 5 atau 7 rakaat dan jangan kalian serupakan dengan shalat Maghrib”. Hadits riwayat Imam Ad-Daruqutni (no. 1 jilid 2 hal 24) dengan sanad dan perowi yang tsiqah (dapat dipercaya). Dipahami para ulama bahwa hadits ini bukan larangan shalat witir 3 rakaat akan tetapi larangan menyerupai shalat maghrib, sekali himmbauan untuk memperbanyak shalat witir.

Bagaimana mungkin Rasulullah SAW melakukan shalat witir 3 rakaat terus-menerus khususnya di bulan Ramadhan, sedangkan beliau sendiri menganjurkan agar kita tidak hanya melakukan witir 3 rakaat. Sungguh hal ini sangat jauh dari kesempurnaan dan kecintaan Rasulullah SAW kepada ibadah. Adapun riwayat yang mengatakan Rasulullah SAW melakukan shalat witir 3 rakaat atau kurang dari 11 rakaat itu untuk menjelaskan bahwa yang 11 rakaat bukanlah sebuah keharusan, akan tetapi tetap boleh kurang dari 11 rakaat bahkan 1 rakaat pun juga boleh.
“Telah diriwayatkan bahwasanya shalat witirnya Rasulullah SAW sampai 13, atau 11, 9, 7, 5, 3 dan 1 rakaat.”

Sehingga bisa diambil kesimpulan bahwasanya shalat witirnya Rasulullah SAW di luar bulan Ramadhan saja hingga sampai 11 rakaat seperti yang dikatakan oleh kebanyakan ulama atau sampai 13 rakaat seperti yang dikatakan oleh sebagian kecil ulama. Pemahaman ini diambil dari hadits-hadits Nabi yang sangat jelas dan shahih seperti yang kami sebutkan dalam pembahasan bilangan shalat witirnya Rasulullah SAW.

Di luar Ramadhan saja witir Nabi Muhammad SAW sampai 11 rakaat, bagaimana di bulan Ramadhan di bulan ibadah Nabi Muhammad SAW mengurangi shalat witir hingga 3 rakaat? Sungguh ini sangat bertentangan dengan himbauan Rasulullah SAW untuk memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan.

Ada dua hal yang harus dicermati:
Pertama; Bahwa 11 rakaat adalah shalat witir di dalam bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan. Ungkapan di luar Ramadhan ini sangat jelas maknanya bahwa Siti Aisyah RA bukan berbicara tentang tarawih, karena di luar Ramadhan tidak ada tarawih.
Kedua; Setelah Siti Aisyah melihat Shalat Rasulullah SAW 11 rakaat, kemudian Siti Aisyah bertanya: “Apakah engkau tidur sebelum melakukan shalat witir Ya Rasulullah SAW?” Siti Aisyah adalah orang cerdas tidak mungkin beliau bertanya sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan apa yang dilihatnya. Artinya jelas-jelas saat itu Siti Aisyah bertanya tentang shalat yang bilangannya 11 yang dilakukan oleh Nabi SAW setelah tidur. 11 rakaat itu disebut oleh Siti Aisyah dalam pertanyaanya dengan “witir”.

Riwayat dari Sayyidah Aisyah berbeda-beda dalam permasalahan ini, dalam satu riwayat beliau mengatakan: “Rasulullah SAW tidak pernah menambah di bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan hingga melebihi 11 rakaat”, seperti tersebut diatas.
Akan tetapi dalam riwayat lain dari Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim Sayyidah Aisyah RA berkata:
كَانَ يُصَلِّيْ مِنَ اللَّيْلِ عَشَرَ رَكَعَاتٍ وَيُوْتِرُ بِسَجْدَةٍ.
“Rasulullah SAW melakukan shalat pada malam hari dengan 10 rakaat dan dengan 1 rakaat”.
Apakah dengan hadits ini lalu kita katakan shalat tarawehnya Rasulullah SAW berubah menjadi 10 rakaat dan witirnya 1 rakaat? Tentu tidak, karena hadits ini tidak menjelaskan shalat tarawih dan witir, akan tetapi tentang shalat witir dengan bilangan 10 + 1 = 11 rakaat.

Dalam riwayat yang lainnya Sayyidah Aisyah ra berkata:
أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّيْ مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةٍ رَكْعَةً ثُمَّ يُصَلِّيْ إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيْتَيْنِ فَكَانَتْ خَمْسَ عَشْرَةٍ رَكْعَةً
“Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah melakukan shalat malam 13 rakaat, kemudian Rasulullah SAW Shalat 2 rakaat yang ringan ketika mendengar Adzan Shubuh, maka Shalat malam Rasulullah SAW menjadi 15 rakaat” (HR. Imam Muslim).

Hadits ini sangat sesuai dengan riwayat yang mengatakan bahwa shalat witirnya Rasulullah SAW adalah sampai 13 rakaat Imam As-Shan’ani berkata di dalam kitab Subulus Salam:
“ إِعْلَمْ أَنَّهُ قَدِ اخْتَلَفَتْ الرِّوَايَاتُ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فِيْ كَيْفِيَّةِ صَلاَتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلِ وَعَدَدِهَا فَقَدْ رُوِيَ عَنْهَا سَبْعٌ وَتِسْعٌ وَإِحْدَى عَشْرَةَ سِوَى رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ“
“Ketahuilah bahwsanya riwayat-riwayat dari Sayyidah Aisyah RA banyak yang berbeda berkenaan dengan cara shalat malam dan bilangan rakaatnya Rasulullah SAW, dan telah diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA bahwa bilangan rakaat shalat malamnya Rasulullah SAW adalah 7, 9 dan 11 rakaat selain 2 rakaat shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh)”.

Ini adalah bilangan rakaat shalat malam yang tidak hanya 11 rakaat, shalat malam disini adalah shalat witir. Inilah yang menguatkan bahwasanya riwayat 11 rakaat dari Sayyidah Aisyah itu adalah shalat witirnya Rasulullah SAW bukan shalat tarawih. Maka dari itu Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menghadirkan riwayat dari Sayyidah Aisyah tersebut dalam kitab Bulugh Al-Maram diletakkan pada Bab shalat witir.

Jika kita perhatikan bahwa riwayat-riwayat yang berhubungan dengan shalat tarawih dan witir sangat banyak dan berbeda-beda. Yang lebih bisa untuk menjelaskan adalah apa yang dilakukan para sahabat Nabi SAW berkenaan dengan masalah tersebut. Kita telah menemukan riwayat yang benar tentang bilangan shalat taraweh yang 20 rakaat dari para sahabat Nabi SAW dan juga riwayat shalat witir mulai dari 1 rakaat sampai 11 rakaat. Maka bisa disimpulkan dengan pasti bahwa riwayat dari Sayyidah Aisyah RA itu adalah tentang shalat witirnya Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW pernah melakukan shalat witir atau mengajari shalat witir dengan 1, 3, 5, 7, 9, dan 11 rakaat bahkan sampai 13 rakaat itu semua untuk menunjukkan bahwa shalat witir adalah shalat yang amat penting, jangan sampai ditinggalkan walaupun hanya 1 rakaat dan tidak harus 11 rakaat.

Namun yang sering dilakukan oleh Rasulullah SAW baik di Ramadhan atau di luar Ramadhan adalah 11 rakaat. Nah, bagaimana Rasulullah SAW yang shalat witirnya di luar Ramadhan saja mengambil yang banyak (11 rakaat) akan tetapi justru di saat bulan Ramadhan Rasulullah SAW mengurangi witir tersebut menjadi 3 rakaat. Sungguh ini bertentangan dengan himbauan beliau sendiri agar kita memperbanyak ibadah termasuk shalat di malam Ramadhan.

PENDAPAT ULAMA 4 MAZHAB TENTANG SHALAT TARAWIH

Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab:
صَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ مِنَ النَّوَافِلِ الْمُؤَكَّدَةِ كَمَا دَلَّتْ عَلَى ذَلِكَ اْلأَحَادِيْثُ الشَّرِيْفَةُ الْمُتَقَدِّمَةُ وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً مِنْ غَيْرِ صَلاَةِ الْوِتْرِ، وَمَعَ الْوِتْرِ تُصْبِحَ ثَلاَثًا وَعِشْرِيْنَ رَكْعَةً … عَلَى ذَلِكَ مَضَتِ السُّنَّةُ وَاتَّفَقَتِ اْلأُمَّةُ، سَلَفًا وَخَلَفًا مِنْ عَهْدِ الْخَلِيْفَةِ الرَّاشِدِ “ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ” رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ – إِلى زَمَانِنَا هَذَا … لَمْ يُخَالِفْ فِيْ ذَلِكَ فَقِيْهٌ مِنَ اْلأَئِمَّةِ اْلأَرْبَعَةِ الْمُجْتَهِدِيْنَ إِلاَّ مَا رُوِيَ عَنْ إِمَامِ دَارِ الْهِجْرَةِ”مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ “ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – اَلْقَوْلُ بِالزِّيَادَةِ فِيْهَا ، إِلَى سِتٍّ وَثَلاَثِيْنَ رَكْعَةً فِي الرِّوَايَةِ الثَّانِيَةِ عَنْهُ – مُحْتَجًّا بِعَمَلِ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ فَقَدْ رُوِيَ عَنْ ناَفِعٍ أَنَّهُ قَالَ : “ أَدْرَكْتُ النَّاسَ يَقُوْمُوْنَ رَمَضَانَ بِتِسْعٍ وَثَلاَثِيْنَ رَكْعَةً يُوْتِرُوْنَ مِنْهَا بِثَلاَثٍ “ … أَمَّا الرِّوَايَةُ الْمَشْهُوْرَةُ عَنْهُ، هِيَ الَّتِيْ وَافَقَ فِيْهَا الْجُمْهُوْرُ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ عَلَى أَنَّهَا “ ٢٠ “عِشْرُوْنَ رَكْعَةً وَعَلَى ذَلِكَ اِتَّفَقَتِ الْمَذَاهِبُ اْلأَرْبَعَةُ وَتَمَّ اْلإِجْمَاعُ
Mari kita kembali kepada Syaikhul Mazhab, Imam di dalam Mazhab Imam Syafi’i, Imam besar yaitu Imam An-Nawawi, Imam An-Nawawi sudah menjelaskan dalam kitab Syarah Muhadzdzab-nya, bahwasanya:
”Shalat tarawih adalah satu shalat sunnah yang sangat dikukuhkan sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits-hadits yaitu “20” (dua puluh rakaat) selain witir dan jika ditambah dengan 3 rakaat witir, maka jadilah 23 rakaat. Dengan itulah, umat telah sepakat baik salaf maupun khalaf dari zaman Khulafaur Rasyidin, yaitu Sayyidina Umar bin Khaththab RA sampai zaman sekarang tidak ada satu ulama pun yang berbeda dari para Imam Mazhab yang 4, kecuali yang diriwayatkan dari Imam Malik bin Anas yang mengatakan hingga 36 rakaat dengan hujjah pengamalan penduduk Madinah. Telah diriwayatkan dari Nafi’ beliau berkata: Aku melihat orang-orang di bulan Ramadhan shalat (tarawih) 39 rakaat dengan witir 3 rakaat. Namun riwayat yang masyhur dari Imam Malik adalah yang senada dengan pendapat jumhur dari kalangan Ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah yaitu 20 rakaat, maka dari itu Ulama 4 madzhab sudah sepakat dan telah sempurna menjadi Sebuah ijma’ (Kesepakatan ulama) bahwa shalat tarawih adalah 20 rakaat”.

Imam An-Nawawi juga menyebutkan dalam kitab tersebut:
“ مَذْهَبُنَا أَنَّهَا عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ غَيْرَ الْوِتْرِ وَذَلِكَ خَمْسُ تَرْوِيْحَاتٍ وَالتَّرْوِيْحَةُ أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيْمَتَيْنِ “.وَبِهِ قَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ وَأَصْحَابُهُ وَ أَحْمَدُ وَدَاوُدَ وَغَيْرُهُمْ وَنَقَلَهُ الْقَاضِيْ عِيَاضُ عَنْ جُمْهُوْرِ الْعُلَمَاءِ. وَقَالَ مَالِكٌ: التَّرَاوِيْحُ تِسْعُ تَرْوِيْحَاتٍ وَهِيَ سِتَّةٌ وَثَلاَثِيْنَ رَكْعَةً غَيْرُ الْوِتْرِ.
“Mazhab kami (Syafi’i) shalat tarawih adalah 20 rakaat dengan 10 salam selain witir dan itu 5 istirahatan, 1 tarawihan 4 rakaat dengan 2 kali salam, dan ini yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah dan Ashabnya, Imam Ahmad, Dawud dan Qadi Iyadh menukilnya dari jumhur ulama. Imam Malik berkata: tarawih itu 9 istirahatan dan jumlahnya 36 rakaat.”

Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab Al-Khulashah bahwa sanad hadits tersebut shahih, begitu juga Imam Khotib Asy-Syirbini Asy-Syafi’i menyebutkan dalam kitab Syarh Al-Minhaj hal. 226:
“ Shalat tarawih itu 20 rakaat dengan 10 kali salam pada setiap malam bulan Ramadhan berdasarkan hadits riwayat Imam Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih, yaitu: “Sesungguhnya mereka (para sahabat Nabi) melakukan shalat tarawih 20 rakaat di bulan Ramadhan pada masa Sayyidina Umar bin Khatthab RA.”

Disebutkan dalam Mukhtashor Muzani bahwa Imam Syafi’i berkata:
“ رَأَيْتُهُمْ بِالْمَدِيْنَةِ يَقُوْمُوْنَ بِتِسْعٍ وَثَلاَثِيْنَ وَاَحَبُّ إِلَيَّ عِشْرُوْنَ لِأَنَّهُ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ وَكَذَلِكَ بِمَكَّةَ يَقُوْمُوْنَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً يُوْتِرُوْنَ بِثَلاَثٍ”.
“Aku melihat penduduk Madinah shalat taraweh 36 rakaat, dan aku lebih senang 20 rakaat karena itu diriwayatkan dari Sayyidina Umar RA begitu juga di Makkah 20 rakaat ditambah witir 3 rakaat.”

Ibnu Qudamah pakar fiqih dalam Mazhab Hanbali yang sangat masyhur menyebutkan dalam kitab Al-Mughni juz 1 hal. 457:
وَالْمُخْتَارُ عِنْدَ أَبِيْ عَبْدِ الله ( يَعْنِيْ اْلإِمَامِ أَحْمَدَ ) رَحِمَهُ اللهُ، فِيْهَا عِشْرُوْنَ رَكْعَةً، وَبِهَذَا قَالَ الثَّوْرِيْ، وَأَبُوْ حَنِيْفَةَ، وَالشَّافِعِيُّ، وَقَالَ مَالِكُ: سِتَّةٌ وَثَلاَثُوْنَ.
“Yang dipilih menurut Abi Abdillah, yang dimaksud di sini adalah Imam Ahmad bin Hanbal “20 rakaat”, begitu juga pendapat Imam Tsauri, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Malik mengatakan: tiga puluh enam rakaat.”

Imam As-Sarkhasi Al-Hanafi menyebutkan dalam kitab Al-Mabsuth juz 2 hal. 45:
فَإِنَّهَا عِشْرُوْنَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ عِنْدَنَا.
“Menurut kami shalat tarawih itu 20 rakaat selain witir.”

Imam Al-Hashkafi Al-Hanafi menyebutkan dalam kitab Ad-Durrul Mukhtar:
وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ.اهـ
“Tarawih adalah dua puluh rakaat dengan sepuluh salam”.

Ibnu Abidin Al-Hanafi mengomentari perkataan Imam Al-Haskafi :
وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً هُوَ قَوْلُ الْجُمْهُوْرِ وَعَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ شَرْقًا وَغَرْبًا. اهـ
“20 rakaat Itu pendapat jumhur dan dilakukan oleh manusia dari bumi belahan timur sampai bumi belahan barat ”.

Al-Allamah Muhammad Ulaisy Al-Maliki, pakar fiqih dalam Mazhab Maliki mengatakan dalam kitab Minahul Jalil Ala Mukhtasar Khalil:
وَهِيَ ثَلاَثُ وَعِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِالشَّفْعِ وَالْوِتْرُ وَهَذَا الَّذِيْ جَرَى بِهِ عَمَلُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ ثُمَّ جُعِلَتْ… فِيْ زَمَنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ بَعْدَ وَقْعَةِ الْحُرَّةِ بِالْمَدِيْنَةِ الْمُنَوَّرَةِ، فَخَفَّفُوْا فِي الْقِيَامِ وَزَادُوْا فِي الْعَدَدِ لِسُهُوْلَتِهِ فَصَارَتْ تِسْعًا وَثَلاَثِيْنَ) باِلشَّفْعِ وَالْوِتْرِ كَمَا فِيْ بَعْضِ النُّسْخِ، وَفِيْ بَعْضِهَا سِتَّا وَثَلاَثِيْنَ رَكْعَةً غَيْرَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ، وَاسْتَقَرَّ الْعَمَلُ عَلَى اْلأَوَّلِ.اهـ
“Shalat tarawih itu 20 rakaat ditambah witir, dan ini yang sudah dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in kemudian di zaman Sayyidina Umar bin Abdul Aziz setelah terjadi tragedi pembantaian di Madinah dengan meringankan berdiri dan menambah bilangan menjadi 39 (sudah termasuk witir di dalamnya) sebagaimana disebutkan dalam sebagian redaksi, sedangkan dalam redaksi yang lain shalat taraweh adalah 36 rakaat selain witir, akan tetapi yang kuat adalah pendapat yang pertama.”

Ibnu Rusydi, pakar fiqih dalam Mazhab Maliki mengatakan dalam kitab Bidayatul Mujtahid:
“ اِخْتَارَ مَالِكٌ – فِيْ أَحَدِ قَوْلَيْهِ – وَأَبُوْ حَنِيْفَةَ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ الْقِيَامَ بِعِشْرِيْنَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ.”
“Imam Malik telah memilih dalam salah satu pendapatnya, dan juga Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bahwa tarawih adalah 20 rakaat selain witir.”

Imam At-Tirmidzi menyebutkan dalam Sunannya juz 3 hal 169:
“وَأَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى مَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ وَعَلِيٍّ وَغَيْرِهِمَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَهُوَ قَوْلُ الثَّوْرِيِّ وَابْنِ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيِّ . وقَالَ الشَّافِعِيُّ وَهَكَذَا أَدْرَكْتُ بِبَلَدِنَا بِمَكَّةَ يُصَلُّونَ عِشْرِينَ رَكْعَةً .
“Mayoritas ahli ilmu sebagaimana yang diriwayatkan dari Sahabat Umar adalah 20 rakaat dan ini adalah pendapatnya Imam Ats-Tsauri, Ibnu Mubarok dan Imam Syafi’i. Berkata Imam Syafi’i: Beginilah aku melihat di negaraku Makkah shalat tarawih adalah 20 rakaat.”

Imam Al-‘Aini menyebutkan dalam kitabnya Umdatul Qori Syarh Shohih Al-Bukhari :
عَنْ زَيْدٍ بْنِ وَهْبٍ قَالَ: “ كَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ يُصَلِّيْ لَنَا فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيَنْصَرِفُ وَعَلَيْهِ لَيْلٌ” قَالَ اْلاَعْمَشُ : “كَانَ يُصَلِّيْ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً وَيُوْتِرُ بِثَلاَثٍ ”
Dari Zaid bin Wahab beliau berkata: “Dahulu Sayyidina Abdullah bin Mas’ud shalat (tarawih) bersama kami pada bulan Ramadhan, kemudian beliau bubar (pergi) akan tetapi beliau pada satu malam, dikatakan oleh Al-A’masy bahwa: Sayyidina Abdullah melakukan shalat taraweh 20 rakaat dan shalat witir 3 rakaat.”

Hadits ini dinilai shahih oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya Majmu’ Syarh Muhadzdzab, begitu juga Imam Al-‘Aini ketika mensyarahi kitab Shahih Al-Bukhari, kemudian Imam As-Subuki dalam kitabnya Syarh Al-Minhaj, Imam Zainuddin Al-Iraqi dalam kitabnya Syarh At-Taqrib, Imam Al-Qasthalani ketika mensyarahi kitab Shohih Al-Bukhari, dan Imam Al-Kamal bin Al-Humam ketika mensyarahi kitab Al-Hidayah.

Imam Ibnu Al-Humam Al-Hanafi berkata:
ثَبَتَتِ الْعِشْرُوْنَ فِيْ زَمَنِ عُمَرَ وَالْمَشْهُوْرُ فِيْ مَذْهَبِ اْلإِمَامِ مَالِكٍ أَنَّهَا عِشْرُوْنَ رَكْعَةً كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ الشَّيْخُ الدَّرْدِيْرُ فِيْ كِتَابِ أَقْرَبُ الْمَسَالِكِ عَلَى مَذْهَبِ اْلإِمَامِ مَالِكٍ.
“Telah ditetapkan (shalat tarawih itu) 20 rakaat pada masa Sayyidina Umar RA, sedangkan yang masyhur dalam Mazhab Imam Malik sesungguhnya shalat tarawih itu 20 rakaat sebagaimana yang disebutkan oleh Syeikh Ad-Dardir dalam kitab Aqrab Al-Masalik ‘Ala Madzhab Al-Imam Malik.

Ibnu Taimiyah menyebutkan dalam kitabnya Majmu’ Fatawa juz 23 hal. 112:
“ثَبَتَ أَنَّ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ كَانَ يَقُوْمُ بِالنَّاسِ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً فِيْ قِيَامِ رَمَضَانَ، وَيُوْتِرُ بِثَلاَثٍ، فَرَأَى كَثِيْرٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ ذَلِكَ هُوَ السُّنَّةُ ؛ لِأَنَّهُ أَقَامَهُ بَيْنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَاْلاَنْصَارِ وَلَمْ يُنْكُرْهُ مُنْكِرٌ، وَاسْتَحَبَّ آخَرُوْنَ تِسْعَةً وَثَلاَثِيْنَ رَكْعَةً ، بِنَاءً عَلَى أَنَّهُ عَمَلُ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ الْقَدِيْمِ” .
“Telah menjadi ketetapan bahwa Ubay bin Ka’ab shalat bersama orang-orang dengan 20 rakaat dalam tarawih dengan witir 3 rakaat. Maka para ulama berpendapat bahwa itu adalah sunnah karena Sahabat Ubay melakukannya di hadapan kaum Muhajirin dan Anshar dan tidak ada satu pun yang mengingkarinya. Bahkan sebagian ulama mengatakan 39 rakaat karena mengikuti amaliyah penduduk Madinah.

 

KESIMPULAN
Yang mula-mula harus kita ketahui bahwa shalat tarawih (qiyam Ramadhan) adalah shalat sunnah yang sangat dikukuhkan. Rasulullah SAW sendiri memberi contoh dan menghimbau umatnya agar memperbanyak shalat di malam-malam Ramadhan.
Jangan sampai ada yang berkata bahwa di bulan Ramadhan shalat Rasulullah SAW menurun seperti dugaan sebagian orang yang mengatakan tarawih Nabi hanya 8 rakaat dan shalat witirnya hanya 3 rakaat saja.

Apa yang dilakukan oleh para sahabat Nabi tentang shalat tarawih 20 rakaat adalah sesuai dengan himbauan Nabi SAW, Sayyidina Umar bin Khaththab, Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali serta para sahabat yang lainnya. Itu seperti sudah menjadi kesepakatan (Ijma’) para ulama bahwasanya shalat tarawih adalah 20 rakaat.

Maka yang sungguh harus diperhatikan dan dicermati adalah orang-orang yang dengan sengaja menjauhkan hamba-hamba Allah dari memperbanyak qiyamul lail pada bulan Ramadhan khususnya dalam shalat tarawih yaitu mereka yang beranggapan bahwa shalat taraweh 20 rakaat adalah bid’ah.
Maka dari itu, kami menghimbau kepada pengurus masjid yang di Masjidnya sudah didirikan shalat tarawih 20 rakaat agar terus dipertahankan dan jangan sampai berubah. Jika ada masjid yang melakukan qiyamullail kurang dari 20 rakaat hendaknya ditingkatkan agar hingga sampai 20 rakaat, demi menghidupkan malam ramadhan dengan memperbanyak shalat.
Setelah ini semua, kita tidak usah bingung dengan perbedaan yang terjadi di lapangan karena yang berbeda dengan pendapat bahwa Shalat taraweh 20 adalah sangat lemah.

Akan tetapi ada hal lain yang amat perlu untuk diperhatikan yaitu kebiasaan terburu-buru dalam melaksanakan shalat tarawih serta berbangga diri ketika shalat tarawihnya selesai terlebih dahulu. Sehingga tidak jarang karena terlalu cepatnya shalat tarawih yang mereka lakukan mengakibatkan ada sebagian kewajiban yang tidak dilaksanakan, seperti melaksanakan ruku`, i`tidal dan sujud dengan thuma`ninah. Atau karena membaca Al-Fatihah dengan sangat cepat sehingga menggugurkan salah satu hurufnya atau menggabungkan dua huruf menjadi satu. Dengan begitu shalat yang mereka laksanakan menjadi tidak sah yang menyebabkan mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa capek dan dosa.

Sebagaimana Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an hal. 89, bahwasanya: “Bagi orang yang sudah bisa membaca Al-Qur’an haram membaca Al-Qur’an dengan lahn yaitu terlalu panjang dalam membacanya atau terlalu pendek sehingga ada sebagian huruf yang mestinya dibaca panjang malah dibaca pendek, atau membuang harakat pada sebagian lafadznya yang membuat rusak maknanya. Bagi yang membaca Al-Qur’an dengan cara demikian adalah haram dan pelakunya dihukumi fasiq. Sedangkan bagi yang mendengarnya juga berdosa jika ia mampu mengingatkan atau menghentikannya akan tetapi lebih memilih diam dan mengikutinya.”

Maka dari itu haram bagi kita mengikuti imam shalat tarawih yang membaca Al-Qur’an dengan bacaan terburu- buru hingga menghilangkan huruf atau salah harakat Al-Qur’an yang dibacanya. Wallahu a’lam bish-shawab.

KONTROVERSI HUKUM PUASA RAJAB: SUNNAH/BID’AH?

KONTROVERSI HUKUM PUASA RAJAB: SUNNAH/BID’AH?

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العلمين. وبه نستعين على أمور الدنيا والدين. وصلى الله على سيدنا محمد وآله صحبه وسلم أجمعين. قال الله تعالى: إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السماوات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم وقاتلوا المشركين كافة كما يقاتلونكم كافة واعلموا أن الله مع المتقين. الأية . وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدى هدى ‏ ‏محمد ‏وشر الأمور ‏ ‏محدثاتها ‏وكل بدعة ضلالة . أما بعد:

PENDAHULUAN

Ada 2 hal yang harus diperhatikan dalam membahas masalah puasa Rajab.

Pertama: Tidak ada riwayat yang benar dari Rasulullah SAWyang melarang puasa Rajab.
Kedua: Banyak riwayat tentang keutamaan puasa Rajab yang tidak benar dan palsu.

Dan di dalam masyarakat kita terdapat 2 kutub ekstrim.

Pertama: Adalah sekelompok kecil kaum Muslimin yang menyuarakan dengan lantang bahwa puasa bulan Rajab adalah bid’ah.
Kedua: Sekelompok orang yang biasa melakukan atau menyeru puasa Rajab, akan tetapi tidak menyadari telah membawa riwayat-riwayat tidak benar dan palsu.

Maka, dalam risalah kecil ini, kami ingin mencoba menghadirkan riwayat yang benar sekaligus pemahaman para ulama 4 mazhab tentang puasa di bulan Rajab.

Sebenarnya masalah puasa Rajab sudah dibahas tuntas oleh ulama-ulama terdahulu dengan jelas dan gamblang. Akan tetapi karena adanya kelompok kecil hamba-hamba Allah yang biasa menuduh bid’ah orang lain menyuarakan dengan lantang bahwa amalan puasa di bulan Rajab adalah sesuatu yang bid’ah.

Dengan Risalah kecil ini, mari kita lihat hujjah para ulama tentang puasa bulan Rajab dan mari kita juga lihat perbedaan para ulama di dalam menyikapi hukum puasa di bulan Rajab. Yang jelas bulan Rajab adalah termasuk bulan haram yang 4 (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) dan bulan haram ini dimuliakan oleh Allah SWT, sehingga tidak diperkenankan untuk berperang di dalamnya dan masih banyak keutamaan di dalam bulan-bulan haram tersebut khususnya bulan Rajab.

Di sini kami hanya akan membahas masalah puasa Rajab, untuk masalah yang lainnya seperti hukum merayakan Isra’ Mi’roj dan Shalat malam di bulan Rajab akan kami hadirkan pada risalah yang berbeda.

Tidak kami pungkiri adanya hadits-hadits dha’if atau palsu (maudhu’) yang sering dikemukakan oleh sebagian pendukung puasa Rajab. Maka dari itu, kami menjelaskan agar jangan sampai ada yang membawa hadits-hadits palsu biar pun untuk kebaikan seperti memacu orang untuk beribadah, hukumnya adalah haram dan dosa besar. sebagaimana ancaman Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّءْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa sengaja berbohong atas namaku, maka hendaknya mempersiapkan diri untuk menempati neraka.”

Perlu diketahui bahwa dengan banyaknya hadits-hadits palsu tentang keutamaan puasa Rajab itu bukan berarti tidak ada hadits yang benar yang membicarakan tentang keutamaannya bulan Rajab.

DALIL-DALIL TENTANG PUASA RAJAB

Dalil tentang Puasa Rajab secara Umum

Himbauan secara umum untuk memperbanyak puasa kecuali di hari-hari yang diharamkan yang 5 (lima). Bulan Rajab adalah bukan termasuk hari-hari yang diharamkan. Juga anjuran-anjuran memperbanyak di hari-hari seperti puasa hari Senin, puasa hari Kamis, puasa hari-hari putih, puasa Daud dan lain-lain yang itu semua bisa dilakukan dan tetap dianjurkan walaupun di bulan Rajab. Berikut ini adalah riwayat-riwayat tentang keutamaan puasa.

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari No. 5472:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ أَدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامُ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ

“Semua amal anak Adam (pahalanya) untuknya kecuali puasa maka aku langsung yang membalasnya.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim No. 1942:
لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Bau mulutnya orang yang berpuasa itu lebih wangi dari misik menurut Allah kelak di hari kiamat”

Yang dimaksud Allah akan membalasnya sendiri adalah pahala puasa tak terbatas hitungan, tidak seperti pahala ibadah shalat jamaah dengan 27 derajat. Atau ibadah lain yang satu kebaikan dilipat gandakan menjadi 10 kebaikan.

Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari No. 1063 dan Imam Muslim No. 1969 :
إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ كَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَ يُفْطِرُ يَوْمًا

“Sesungguhnya paling utamanya puasa adalah puasa saudaraku Nabi Daud, beliau sehari puasa dan sehari buka.”

Dalil-Dalil Puasa Rajab secara Khusus

Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim
أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ حَكِيْمٍ اْلأَنْصَارِيِّ قَالَ: “ سَأَلْتُ سَعِيْدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبَ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِيْ رَجَبَ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يَصُوْمُ”

“Sesungguhnya Sayyidina Ustman Ibn Hakim Al-Anshari, berkata: “Aku bertanya kepada Sa’id Ibn Jubair tentang puasa di bulan Rajab dan ketika itu kami memang di bulan Rajab”, maka Sa’id menjawab: “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: “Nabi Muhammad SAW berpuasa (di bulan Rajab) hingga kami katakan beliau tidak pernah berbuka di bulan Rajab, dan beliau juga pernah berbuka di bulan Rajab, hingga kami katakan beliau tidak berpuasa di bulan Rajab.”

Dari riwayat tersebut di atas, bisa dipahami bahwa Nabi SAW pernah berpuasa di bulan Rajab dengan utuh, dan Nabi pun pernah tidak berpuasa dengan utuh. Artinya, di saat Nabi SAW meninggalkan puasa di bulan Rajab itu menunjukan bahwa puasa di bulan Rajab bukanlah sesuatu yang wajib. Begitulah yang dipahami para ulama tentang amalan Nabi SAW. Jika Nabi melakukan satu amalan kemudian Nabi meninggalkannya itu menunjukan amalan itu bukan sesuatu yang wajib, dan hukum mengamalkannya adalah sunnah.

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah
عَنْ مُجِيْبَةَ الْبَاهِلِيَّةِ عَنْ أَبِيْهَا أَوْ عَمِّهَا أَنَّهُ: أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعْدَ سَنَةٍ وَقَدْ تَغَيَّرَتْ حَالَتُهُ وَهَيْئَتُهُ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَمَا تَعْرِفُنِيْ. قَالَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الْبَاهِلِيِّ الَّذِيْ جِئْتُكَ عَامَ اْلأَوَّلِ قَالَ فَمَا غَيَّرَكَ وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الْهَيْئَةِ قَالَ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا إِلاَّ بِلَيْلٍ مُنْذُ فَارَقْتُكَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ. ثُمَّ قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَ زِدْنِيْ فَإِنَّ بِيْ قُوَّةً قَالَ صُمْ يَوْمَيْنِ قَالَ زِدْنِيْ قَالَ صُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ قَالَ زِدْنِيْ قَالَ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلاَثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا. رواه أبو داود 2/322

“Dari Mujibah Al-Bahiliah dari ayahnya atau pamannya, sesungguhnya ia (ayah atau paman) datang kepada Rasulullah SAW kemudian berpisah dan kemudian datang lagi kepada Rasulullah SAW setelah setahun dalam keadaan tubuh yang berubah (kurus), dia berkata: Ya Rasulullah SAW, apakah engkau tidak mengenalku?” Rasulullah SAW menjawab: “Siapa Engkau?” Dia pun berkata: “Aku Al-Bahili yang pernah menemuimu setahun yang lalu.” Rasulullah SAW bertanya: “Apa yang membuatmu berubah sedangkan dulu keadaanmu baik-baik saja (segar bugar).” Ia menjawab: “Aku tidak makan kecuali pada malam hari (yakni berpuasa) semenjak berpisah denganmu, maka Rasulullah SAW bersabda: “Mengapa engkau menyiksa dirimu, berpuasalah di bulan sabar dan sehari di setiap bulan.” Lalu ia berkata: “Tambah lagi (ya Rasulallah) sesungguhnya aku masih kuat.” Rasulullah SAW berkata: “Berpuasalah 2 hari (setiap bulan).” Dia pun berkata: “Tambah lagi, ya Rasulullah SAW.” Rasulullah SAW berkata: “Berpuasalah 3 hari (setiap bulan).” Ia pun berkata: “Tambah lagi, (Ya Rasulullah SAW). Rasulullah SAW bersabda: “Jika engkau menghendaki berpuasalah engkau di bulan-bulan haram (Rajab, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram) dan jika engkau menghendaki, maka tinggalkanlah.” Beliau mengatakan hal itu tiga kali sambil menggenggam 3 jarinya kemudian membukanya.”
Imam Nawawi menjelaskan hadits tersebut.

قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ» صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ» إنما أمره بالترك ; لأنه كان يشق عليه إكثار الصوم كما ذكره في أول الحديث . فأما من لم يشق عليه فصوم جميعها فضيلة . المجموع ٦/٤٣٩

Sabda Rasulullah SAW:
صم من الحرم واترك

“Berpuasalah di bulan haram kemudian tinggalkanlah”.

Sesungguhnya Nabi SAW memerintahkan berbuka kepada orang tersebut karena dipandang puasa terus-menerus akan memberatkannya dan menjadikan fisiknya berubah. Adapun bagi orang yang tidak merasa berat untuk melakukan puasa, maka berpuasa di bulan Rajab seutuhnya adalah sebuah keutamaan (Majmu’ Syarh Muhadzdzab Juz 6 hal. 439).

Hadits riwayat Usamah bin Zaid

قال قلت : يا رسول الله لم أرك تصوم شهرا من الشهور ما تصوم من شعبان قال ذلك شهر غفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم. رواه النسائي ٤/٢٠١

“Aku berkata kepada Rasulullah SAW, Ya Rasulullah SAW, aku tidak pernah melihatmu berpuasa sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban.” Rasulullah SAW menjawab: “Bulan Sya’ban itu adalah bulan yang dilalaikan di antara bulan Rajab dan Ramadhan, dan bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah SWT dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaaan aku berpuasa”. HR. Imam An-Nasa’I Juz 4 Hal. 201.

Imam Syaukani menjelaskan:
ظاهر قوله في حديث أسامة: إن شعبان شهر يغفل عنه الناس بين رجب ورمضان أنه يستحب صوم رجب; لأن الظاهر أن المراد أنهم يغفلون عن تعظيم شعبان بالصوم كما يعظمون رمضان ورجبا به . نيل الأوطار ٤/٢٩١

Secara tersurat yang bisa dipahami dari hadits yang diriwayatkan oleh Usamah, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia di antara Rajab dan Ramadhan.” Ini menunjukkan bahwa puasa Rajab adalah sunnah, sebab bisa difahami dengan jelas dari sabda Nabi SAW bahwa mereka lalai dari mengagungkan Sya’ban dengan berpuasa karena mereka sibuk mengagungkan ramadhan dan Rajab dengan berpuasa.” (Nailul Author Juz 4 hal 291)

KOMENTAR PARA ULAMA TENTANG PUASA RAJAB

Dalam menyikapi tentang puasa di bulan Rajab, pendapat ulama terbagi menjadi 2. Akan tetapi 2 pendapat ini tidak sekeras yang kita temukan di lapangan pada saat ini yaitu dengan membid’ahkan dan memfasiqkan para pelaku puasa Rajab.

Jumhur ulama dari Mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan riwayat dari Imam Ahmad Bin Hanbal, mereka mengatakan bahwasanya disunnahkan puasa di bulan Rajab semuanya dan juga ada riwayat lain dari Imam Ahmad Bin Hanbal bahwasanya makruh mengkhususkan melakukan puasa sebulan penuh di bulan Rajab.
Akan tetapi di dalam Mazhab Imam Ahmad Bin Hanbal dijelaskan bahwasanya kemakruhan ini akan hilang dengan 4 hal:
Dibolong (berbuka) 1 hari di bulan Rajab, atau
Disambung dengan puasa di bulan sebelum Rajab, atau
Disambung dengan puasa di bulan setelah Rajab
Dengan puasa di hari apapun di selain bulan Rajab.

Mungkin ada yang mendengar dari salah satu stasiun radio atau selebaran yang dibagi-bagi yang mengatakan bahwasanya “Puasa Rajab adalah Bid’ah Dholalah” dengan membawa Riwayat dari Nabi SAW yang melarang puasa Rajab atau riwayat dari Sayyidina Umar Bin Khottob yang mengatakan “Kami akan memukul orang yang melakukan puasa di bulan Rajab”. Padahal riwayat tersebut adalah tidak benar dan palsu dan sungguh sangat aneh orang yang membid’ahkan puasa bulan Rajab dengan tuduhan riwayat puasa Rajab adalah hadits-haditsnya palsu akan tetapi mereka sendiri tidak sadar bahwa justru riwayat yang melarang puasa bulan Rajab adalah palsu.

Secara singkat para ulama empat madzhab tidak ada yang mengatakan puasa bulan Rajab adalah bid’ah. Bahkan mereka sepakat kalau puasa bulan Rajab adalah sunnah termasuk dalam madzhab Imam Ahmad bin Hanbal.
Berikut ini uraian ulama empat tentang puasa Rajab:

PENDAPAT DARI ULAMA MAZHAB HANAFI
Disebutkan dalam Fatwa Al-Hindiyah Juz 1 Hal. 202:
)المرغوبات من الصيام أنواع ( أولها صوم المحرم والثاني صوم رجب والثالث صوم شعبان وصوم عاشوراء ). اهـ
“Puasa yang disunnahkan itu bermacam-macam:
puasa Muharram, puasa Rajab, puasa Sya’ban, puasa ‘Asyuro’ (tgl. 10 Muharram).”

PENDAPAT DARI ULAMA MAZHAB MALIKI
Disebutkan dalam Syarh Al-Kharsyi ‘Ala Khalil Juz 2 Hal. 241:
أنه يستحب صوم شهر المحرم وهو أول الشهور الحرم , ورجب وهو الشهر الفرد عن الأشهر الحرم ). اهـ

“Sesungguhnya disunnahkan puasa di bulan Muharram dan puasa di bulan Rajab.”

Disebutkan dalam Hasyiah dari Syarh Al-Kharsyi ‘Ala Khalil:
بل يندب صوم بقية الحرم الأربعة وأفضلها المحرم فرجب فذو القعدة فالحجة ). اهـ

“Disunnahkan puasa di bulan-bulan haram yang 4, paling utamanya adalah puasa di bulan Muharram kemudian Rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah.”

Disebutkan dalam Muqoddimah Ibnu Abi Zaid serta Syarah Lil Fawaakih Al-Dawani Juz 2 hal. 272:
التنفل بالصوم مرغب فيه وكذلك , صوم يوم عاشوراء ورجب وشعبان ويوم عرفة والتروية وصوم يوم عرفة لغير الحاج أفضل منه للحاج. اهـ
“Melakukan puasa disunnahkan, begitu juga puasa di hari ‘Asyura’, bulan Rajab, bulan Sya’ban, hari ‘Arafah dan Tarwiyah. Sedangkan puasa di hari ‘Arafah itu lebih utama bagi orang yang tidak haji”.

Disebutkan dalam Syarh Ad-Dardir, syarah Muhtashor Kholil Juz 1 hal. 513 :
وندب صوم المحرم ورجب وشعبان وكذا بقية الحرم الأربعة وأفضلها المحرم فرجب فذوالقعدة والحجة). اهـ

“Dan disunnahkan puasa Muharram, Rajab, Sya’ban begitu juga bulan-bulan haram lainnya yang 4 dan paling utamanya adalah puasa Muharram kemudian Rajab, Duzulqo’dah dan Dzulhijjah”.

Disebutkan dalam At-Taj Wa Al-Iklil Juz 3 hal. 220 :
والمحرم ورجب وشعبان لو قال والمحرم وشعبان لوافق المنصوص . نقل ابن يونس : خص الله الأشهر الحرم وفضّلها وهي : المحرم ورجب وذو القعدة وذو الحجة . اهـ

“Dan disunnahkan puasa Muharram, Rajab dan Sya’ban, andaikan beliau berkata. “Puasa Muharram dan Sya’ban disunnahkan, maka akan mencocoki nashnya”. Dinukil dari Ibnu Yunus bahwasanya “Allah SWT mengkhususkan bulan-bulan haram dan mengutamakannya, yaitu: Muharram dan Rajab, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah.”

PENDAPAT DARI ULAMA MAZHAB SYAFI’I
Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Al-Majmu’ (Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab) Juz 6 hal. 439:
قال أصحابنا : ومن الصوم المستحب صوم الأشهر الحرم , وهي ذوالقعدة وذوالحجة والمحرم ورجب , وأفضلها المحرم. اه
Berkata ulama kami: “Dan dari puasa yang disunnahkan adalah puasa bulan-bulan haram yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab, sedangkan yang paling utama adalah Muharram.”

Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari menyebutkan dalam Asna Al-Mathollib Juz 1 hal. 433:
(وأفضل الأشهر للصوم) بعد رمضان الأشهر ( الحرم) ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب (وأفضلها المحرم) لخبر مسلم * أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ( ثم اقيها) وظاهره استواء البقية والظاهر تقديم رجب خروجا من خلاف من فضله على الأشهر الحرم). اه

“Paling utamanya bulan-bulan untuk puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan-bulan haram yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Sedangkan paling utamanya adalah Muharram berdasarkan riwayat dari Imam Muslim “Paling utamanya puasa setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram kemudian bulan haram yang lainnya. Secara dhahir keutamaan di antara bulan haram yang lainnya itu sama (selain Muharram). Dan secara dhahir mendahulukan keutamaan Rajab agar keluar dari Khilafnya ulama yang mengunggulkannya melebihi bulan-bulan Haram”

Imam Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fatwa-nya Juz 2 hal. 53:
… وأما استمرار هذا الفقيه على نهي الناس عن صوم رجب فهو جهل منه وجزاف على هذه لشريعة المطهرة فإن لم يرجع عن ذلك وإلا وجب على حكام الشريعة المطهرة زجره وتعزيره التعزير البليغ المانع له ولأمثاله من المجازفة في دين الله تعالى ويوافقه إفتاء العز بن عبد السلام إنه سئل عما نقل عن بعض المحدثين من منع صوم رجب وتعظيم حرمته وهل يصح نذر صوم جميعه فقال في جوابه : نذر صومه صحيح لازم يتقرب إلى الله تعالى بمثله والذي نهى عن صومه جاهل بمأخذ أحكام الشرع وكيف يكون منهيا عنه مع أن العلماء الذين دونوا الشريعة لم يذكر أحد منهم اندراجه فيما يكره صومه بل يكون صومه قربة إلى الله تعالى. اهـ

“Orang yang melarang puasa Rajab, maka itu adalah kebodohan dan ketidak-tahuan terhadap hukum syariat. Apabila ia tidak menarik ucapannya itu, maka wajib bagi hakim atau penegak hukum untuk menghukumnya dengan hukuman yang keras yang dapat mencegahnya dan mencegah orang semisalnya yang merusak agama Allah SWT.”

Sependapat dengan ini ‘Izzuddin Abdusssalam, sesungguhnya beliau ditanya dari apa yang dinukil dari sebagian ahli hadits tentang larangan puasa Rajab dan pengharamannya, dan apakah sah orang yang bernadzar puasa Rajab sebulan penuh? Maka beliau menjawab: “Nadzar puasa Rajab itu sah dan bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun larangan puasa Rajab itu adalah pendapat orang yang bodoh akan pengambilan hukum-hukum syariat. Bagaimana bisa dilarang sedangkan para ulama yang dekat dengan syariat tidak ada yang menyebutkan tentang dimakruhkannya puasa Rajab bahkan dikatakan puasa Rajab adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT (sunnah)”.
Disebutkan dalam Mughni Al-Muhtaj Juz 2 hal. 187:
أفضل الشهور للصوم بعد رمضان الأشهر الحرم , وأفضلها المحرم لخبر مسلم* أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ثم رجب , خروجا من خلاف من فضله على الأشهر الحرم ثم باقيها ثم شعبان ). اه

“Paling utamanya bulan-bulan untuk melakukan puasa setelah Ramadhan adalan bulan-bulan haram, sedangkan paling utamanya adalah Muharram berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim, “Paling utamanya puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah Muharram” kemudian Rajab agar keluar dari Khilaf tentang keutamaan Rajab terhadap bulan-bulan haram lainnya kemudian Sya’ban”.

Disebutkan dalam Nihayah Al-Muhtaj Juz 3 hal. 211:
(اعلم أن أفضل الشهور للصوم بعد رمضان الأشهر الحرم وأفضلها المحرم ثم رجب خروجا من خلاف من فضله على الأشهر الحرم ثم باقيها وظاهره الاستواء ثم شعبان) . اهـ

“Ketahuilah sesungguhnya paling utamanya bulan-bulan untuk melakukan puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan-bulan haram. Sedangkan paling utamanya adalah Muharram kemudian Rajab agar keluar dari khilaf tentang keutamaannya atas bulan-bulan Haram yang lainnya, yang jelas keutamaannya sama dengan bulan-bulan haram yang lainnya kemudian Sya’ban”.

PENDAPAT DARI ULAMA MAZHAB HANBALI
Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Al-Mughni Juz 3 hal. 53:
فصل : ويكره إفراد رجب بالصوم . قال أحمد : وإن صامه رجل , أفطر فيه يوما أو أياما , بقدر ما لا يصومه كله … قال أحمد : من كان يصوم السنة صامه , وإلا فلا يصومه متواليا , يفطر فيه ولا يشبهه برمضان ). اهـ
“Fasal: Dan dimakruhkan mengkhususkan Rajab dengan puasa. Imam Ahmad berkata. “Apabila seseorang berpuasa bulan Rajab, maka berbukalah sehari atau beberapa hari sekiranya ia tidak puasa sebulan penuh. Imam Ahmad berkata: “Barangsiapa terbiasa puasa setahun maka boleh berpuasa sebulan penuh kalau tidak biasa puasa setahun, janganlah berpuasa terus-menerus dan jika ingin puasa Rajab sebulan penuh hendaknya ia berbuka di bulan Rajab (biar pun sehari) agar tidak menyerupai Ramadhan”.

Dari keterangan tersebut sangat jelas bahwa Imam Ahmad tidak membid’ahkan puasa Rajab.

Disebutkan dalam Al-Furu’ Karya Ibn Muflih juz 3 hal. 118 :
فصل : يكره إفراد رجب بالصوم نقل ابن حنبل : يكره , ورواه عن عمر وابنه وأبي بكرة , قال أحمد : يروى فيه عن عمر أنه كان يضرب على صومه , وابن عباس قال : يصومه إلا يوما أو أياما. وتزول الكراهة بالفطر أو بصوم شهر آخر من السنة . اهـ

“Fasal : Dimakruhkan mengkhususkan Rajab dengan berpuasa berdasarkan apa yang dinukil dari Imam Ahmad Bin Hanbal dan diriwayatkan oleh Umar dan puteranya dan Abi Bakrah. Imam Ahmad berkata “Diriwayatkan dari Sayyidina Umar ra :” Sesungguhnya beliau memukul orang yang berpuasa Rajab, dan berkata Ibnu Abbas “Hendaknya berpuasa Rajab dengan berbuka sehari atau beberapa hari”. Dan kemakruhan puasa bulan Rajab akan hilang dengan berbuka (walaupun sehari) atau dengan berpuasa di bulan lain selain bulan Rajab.”

KESIMPULAN

Dari penjelasan ulama empat mazhab sangat jelas bahwa puasa bulan Rajab adalah sunnah, hanya menurut mazhab Imam Ahmad saja yang makruh. Kemakruhan puasa Rajab menurut madzhab Imam Hanbali itu pun jika dilakukan sebulan penuh. Adapun kalau berbuka satu hari saja atau disambung dengan sehari sebelumnya atau sesudahnya. Atau dengan melakukan puasa di selain bulan Rajab maka kemakruhannya akan hilang. Mereka tidak mengatakan puasa Rajab bid’ah sebagaimana yang marak akhir-akhir ini disuarakan oleh kelompok orang dengan menyebar selebaran, siaran radio atau internet.

Wallahu a’lam bish-showab.

MEMBENTENGI AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL-JAMAAH

MEMBENTENGI AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL-JAMAAH
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي حبَّب العبادة إلى المتقين، وحبَّب قلوبهم للانشغال بط ة رب العالمين وجنبهم من البدعة والضلالة, والصلاة والسلام على سيدنا ونبينا محمد وعلى آله وأصحابه والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين

MUQADDIMAH
Sesuatu yang paling berharga yang diberikan oleh Allah kepada seorang hamba adalah aqidah yang benar. Maka ilmu yang membahas tentang aqidah yang benar adalah ilmu yang amat penting dibandingkan ilmu-ilmu lainnya. Diskusi-diskusi yang diadakan jika hal itu untuk membela dan menjaga aqidah yang benar, maka itu adalah sebaik-baik diskusi. Saat ini kami sungguh sangat berbahagia, karena kami beserta para alim ulama begitu intens mendiskusikan aqidah dan bagaimana upaya kita untuk menjaga aqidah umat. Kami yakini bahwa kita semua akan senantiasa dalam lindungan dan pertolongan Allah sesuai janji Allah: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (العنكبوت:٦٩)
Artinya: “Dan mereka yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran-Ku, sungguh Aku akan memberi petunjuk kepada mereka.”

Menjaga aqidah umat adalah sebaik-baik hadiah yang diberikan oleh para ulama kepada kita. Lebih-lebih di saat merebaknya fitnah-fitnah yang menggerogoti aqidah seperti yang kita rasakan dan saksikan saat ini. Bahkan ada di antara kita yang sudah keropos aqidahnya, namun ia tidak merasa tergerogoti. Umat Islam adalah umat yang besar, tapi sering lengah dengan jumlah yang besar ini sehingga kadang-kadang kita kurang mencermati hal-hal yang disusupkan musuh-musuh Allah dalam tubuh umat Islam. Maka dalam kesempatan ini kami mengulas sekilas tentang aqidah yang benar untuk bisa menjadi bekal bagi kita di dalam menegakkan dan menjaga aqidah umat Islam dunia dan Indonesia khususnya yang alhamdulillah dari generasi ke generasi menganut aqidah yang benar yaitu Ahlussunnah wal-Jamaah.

 

PERTOLONGAN PERTAMA DI ZAMAN FITANAH AQIDAH
Maksud pertolongan pertama di zaman fitnah aqidah di sini adalah bagaimana kita menghadirkan hal terpenting dan mendesak yang dibutuhkan oleh umat dalam upaya membentengi aqidah yang benar. Ada dua hal yang secara subtansi dan maknawi tidak terlalu penting, tapi perlu diperhatikan lebih karena dari situlah kesesatan akan masuk. Dua hal tersebut yang pertama mengenal sebuah identitas dan yang kedua adalah mempertahankan manhaj talaqqi.

 

MENGENAL SEBUAH IDENTITAS
Bicara soal aqidah yang benar sangat sulit jika disampaikan hanya dalam ceramah yang singkat atau dalam pertemuan sesaat. Tapi dengan menyadari dan memahami identitas diri kebenaran aqidahnya, bisa dengan sangat mudah dijaga dan dikontrol agar seseorang tidak terbawa marus dalam kelompok aqidah yang salah atau sesat. Kita saksikan amaliyah keseharian mulai dari tawasulan, tahlilan, membaca kitab Maulid secara bersamaan (Asyraqalan atau Marhabanan), sungguh itu semua adalah amaliyah yang benar dan telah menjadi ciri khas aqidah yang benar.

Kalau kita cermati para ulama terdahulu dalam urusan aqidah dan amaliyah, mereka lebih mementingkan isi daripada kulit. Hingga terkadang seorang Muslim awam Ahlussunnah wal-Jamaah dengan kualitas aqidahnya yang sudah benar, akan tetapi dia tidak mampu untuk menjelaskan Ahlussunnah wal-Jamaah dengan panjang dan lebar dengan pemaparan ilmiah. Padahal sebetulnya penjabaran makna aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah secara panjang lebar sudah dihadirkan dan disosialikan oleh ulama-ulama terdahulu dengan metode yang sangat sederhana.

Cara penjabaran dan pemaparan luas dan halus amatlah tepat pada masa di saat fitnah aqidah belum banyak tersebar. Akan tetapi di saat fitnah aqidah merebak dimana-mana dan pergeseran nilai aqidah mudah terjadi, kita harus bisa mencermati sebab–sebab umat ini termakan fitnah. Kita bisa saksikan di saat munculnya ahli fitnah yang tidak henti-hentinya merendahkan dan mencaci aqidah Ahlusunnah wal-Jamaah. Orang-orang awam pun diam, karena tidak tahu kalau mereka sendiri yang dicaci karena mereka tidak mengenal identitas mereka sendiri.

Maka dari itu, kami perlu mengenalkan sebuah identitas diri yang sebenarnya memang itu hanya berurusan dengan kulit dan bukan substansi aqidah. Akan tetapi sebagai langkah awal membentengi aqidah dalam kondisi mendesak dan darurat, pengenalan identitas diri saat ini amat diperlukan, terutama saat ini fitnah dan pemalsu-pemalsu aqidah begitu gencar.

Di samping itu, kenapa mengenal identitas diri ini penting adalah karena banyaknya orang yang memusuhi aqidah para ulama ahlusunnah. Ironisnya, kelompok ini pun dengan lantang meneriakan syiar dan slogan Ahlussunnah wal-Jamaah dan menamakan diri dengan Ahlussunnah wal- Jamaah. Oleh karena itu pengenalan identitas ini sangat penting untuk membedakan Ahlussunnah wal-Jamaah yang sesungguhnya dengan ahlussunnah wal-jama’ah yang palsu. Setelah itu, dalam pembahasan berikutnya, akan coba dijelaskan perbedaan antara Ahlussunnah wal-Jamaah yang palsu dan Ahlussunnah yang sesungguhnya dengan kajian ilmiah. Identitas yang kami maksud adalah:

  1. Islam
  2. Ahlussunnah wal-Jamaah
  3. Asy’ariyah atau Maturidiyah.
  4. Sufiyyah
  5. Pengikut salah satu 4 mazhab

Seseorang yang beraqidah yang benar adalah seorang Muslim, Sunni, Asy’ari, Sufi dan bermazhab. Artinya di zaman fitnah ini tidak cukup seseorang itu dikatakan aqidahnya benar jika dia hanya menyebut dirinya sebagai seorang muslim saja. Sebab, Islam sekarang bermacam-macam dan alangkah banyaknya Islam yang dipalsukan oleh musuh-musuh Allah.

Sebagai pembuktian bahwa aqidahnya benar, maka seorang Muslim harus melanjutkan ikrar bahwa dirinya adalah Muslim Ahlussunnah wal-Jamaah.
Itupun sejatinya belum cukup mengingat banyaknya pemalsu Ahlussunnah wal-Jamaah yang dilakukan oleh musuh-musuh Ahlusunnah wal Jamaah. Maka dari itu, harus dilanjutkan ikrar bahwa dirinya adalah pengikut Ahlussunnah wal-Jamaah Asy’ariyah.

Orang yang mengatakan dirinya sebagai Asy’ari atau pengikut Imam Abul Hasan Al-Asy’ari juga belum cukup, sebab ada sekelompok orang yang sepertinya mengagungkan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari, ternyata mereka adalah musuh-musuh Abul Hasan Al-Asy’ari. Pengikut Imam Abul Hasan yang benar adalah mereka yang berani mengatakan dirinya pengikut para ahli Tasawuf (sufiyyah) di dalam ilmu mendekatkan diri kepada Allah. Maka seorang Asy’ari yang benar haruslah dia berkeinginan untuk menjadi seorang sufi dan mencintai ahli tasawuf.

Termasuk fitnah besar akhir-akhir ini dimunculkan adalah tuduhan sesat kepada ahli tasawuf. Memang kita akui ada segelintir orang yang menodai citra tasawuf. Itu tergolong orang yang sesat mengaku bertasawuf. Adapun tasawuf adalah ilmu untuk membersihkan hati dalam irama mencari ridha Allah.
Maka sangat sesat orang-orang yang memusuhi tasawuf biar pun dia mengaku Ahlusunnah dan biar pun juga mengakui Abul Hasan Al-Asy’ari.
Yang terakhir adalah identitas Ahlussunnah wal-Jamaah di dalam masalah fiqih mereka adalah orang-orang yang mengikuti kepada Imam Mazhab yang empat: Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad Bin Hanbal. Dalam bahasa fiqih, kita sering menyebut dengan istilah bertaqlid kepada salah satu dari imam 4 mazhab.

Identitas terakhir ini juga sangat perlu dihadirkan sebab pada zaman akhir ini telah muncul orang yang mengaku Ahlussunnah wal-Jamaah dengan kesombongannya mereka merendahkan dan membenci taqlid bahkan sampai mencaci-maki dan merendahkan para ulama yang bertaqlid. Bertaqlid adalah termasuk ciri aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah yang benar.
Maka orang sesat adalah orang yang mengaku Islam tetapi bukan Ahlussunah, membenci Asy’ariyah, membenci tasawuf, dan tidak mau bermazhab. Ini adalah cara pintas untuk mengenali orang-orang yang beraqidah benar di tengah-tengah kesesatan umat.

 

MANHAJ TALAQQI
Talaqqi adalah pengambilan ilmu dengan memperhatikan kedisiplinan, kesinambungan, keilmuan antara guru dengan murid. Hal yang semacam ini sangat berarti dalam irama menjaga dan mengkaji Ahlussunnah wal-Jamaah yang benar. Di sini bukan berarti seseorang tidak boleh memperluas ilmu dengan cara membaca, tetapi lebih menekankan agar seseorang mempunyai dasar-dasar aqidah yang benar yang diambil dari guru yang jelas terlebih dahulu, sebelum dia mengembara dengan akal pikirannya ke berbagai disiplin ilmu atau untuk menelaah pemikiran-pemikiran aqidah yang berbeda.
Pada dasarnya cara ini sudah mengakar dan membudaya di lingkungan pesantren-pesantren salaf yang diasuh oleh para ulama dengan metode sorogan atau memindah ilmu dengan membaca kitab secara kalimat per kalimat dari awal hingga akhir. Seperti yang sangat kita sering dengar dengan pengenalan kitab-kitab aqidah, seperti: Aqidatul Awam, Jauharatut Tauhid dan yang lainnya yang secara ilmiah terbukti itu adalah penjabaran dari aqidah Ahlusunnah wal-Jamaah. Nah, menjaga mata rantai dan kesinambungan keilmuan seperti ini adalah sangat penting. Dalam pengamatan kenyataan di zaman ini kita tidak menemukan kesesatan kecuali di saat seseorang tersebut meninggalkan buku-buku aqidah para pendahulunya dan cara yang dianut oleh pendahulunya dalam mengambil ilmu.

Ada 3 hal yang amat penting untuk kita cermati dalam masalah manhaj talaqqi terhadap kerusakan aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah.
Dari awal pendidikan agamanya memang tidak dikenalkan dengan aqidah yang benar melalui kitab-kitab yang benar dengan manhaj talaqqi. Dalam hal ini bisa dibuktikan bahwa jika ada pesantren atau lembaga pendidikan yang tidak berpegang kepada manhaj talaqqi sudah tidak ada lagi, maka yang terjadi adalah mudah tercemar oleh aqidah yang sesat.

Manhaj talaqqi masih diberlakukan, tapi itu hanya sekedar pembacaan rutin tanpa ditindaklanjuti kajian yang lebih dalam. Ini akan menjadikan seseorang akan mudah tercemar oleh aqidah-aqidah yang sesat karena di satu sisi mereka kurang mendalami aqidah yang mereka tekuni. Di sisi lain virus kesesatan bertebaran melalui media-media yang saat ini menjadi lebih dekat dengan masyarakat, seperti: televisi, radio dan buletin-buletin yang lebih mudah dibaca dan mudah dipahami seiring berkembangnya dunia tekhnologi. Sementara penyeru kesesatan pun sangat gigih dalam menyebarkan kesesatan.

Semangat ingin tahu kepada agama yang tinggi yang tidak dibarengi dengan bimbingan seorang guru dan hanya mengandalkan kemampuannya dalam membaca buku-buku yang ditemukannya di toko-toko buku atau yang dibaca melalui internet. Inilah salah satu penyebab aqidah kita semakin hari semakit keropos.
Kita bisa saksikan dengan para perusak aqidah telah dengan gigihnya membuat radio-radio, mencetak buku-buku murah dan gratis serta selebaran yang dibagi secara cuma-cuma.

Sebagai contoh, di kebanyakan kota kabupaten penyebar aqidah sesat itu berusaha untuk mempunyai radio karena mereka yakin dengan adanya radio mereka bisa mempengaruhi masyarakat luas yang sebenarnya di hati mereka ada kerinduan untuk mendalami ilmu agama. Dengan membuat stasiun radio ternyata tanpa kita sadari pengaruh mereka terhadap kesesatan sangatlah besar. Justru kita sebagai pembawa aqidah yang benar kita kurang berfikir maju untuk menguasai media informasi demi membendung arus penyesatan aqidah.

Hubungannya dengan manhaj talaqqi yang kami sebut adalah: Kita jangan memulai belajar aqidah kecuali dengan manhaj talaqqi. Kita harus berusaha agar media-media yang ada dan juga toko-toko buku bisa dipenuhi oleh orang-orang yang mempunyai aqidah yang benar dan menekuni manhaj talaqqi. Dan jangan membaca buku aqidah kecuali atas petunjuk guru yang mempunyai manhaj talaqqi.

 

HAKEKAT AHLUSSUNNAH WAL-JAMAAH
Ahlussunnah wal-Jamaah adalah manhaj beraqidah yang benar dengan dua ciri. Pertama, mereka sangat mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW. Kedua, mereka juga sangat mencintai sahabat Nabi Muhammad SAW. Tidak cukup orang mengaku beragama Islam, tetapi dengan mudah mereka mencaci para sahabat Nabi Muhammad SAW. Yang keluar dari Ahlussunnah wal-Jamaah model ini diwakili oleh kelompok Syi’ah (Syi’ah Imamiyah Itsnata ’Asyariyah) dengan ciri khas paling menonjol dari mereka adalah mengagungkan ahlu bait Nabi Muhammad SAW tetapi merendahkan para sahabat Nabi Muhammad SAW.

Begitu juga tidak cukup orang mengaku Islam, tetapi dia merendahkan ahlu bait Nabi Muhammad SAW. Yang keluar dari Ahlusunnah wal-Jamaah model ini diwakili oleh mereka yang mempunyai ciri khas yaitu yang tidak peduli dengan urusan ahlul bait Nabi Muhammad SAW, mencoba merendahkan Sayyidina Ali bin Abi Tholib biarpun di sisi lain mereka mengakui para sahabat Nabi Muhammad SAW .

Ringkasnya, Ahlussunnah wal-Jamaah adalah mereka yang memuliakan ahlu bait dan sekaligus mengagungkan para sahabat Nabi Muhammad SAW.
Ada di antara orang-orang yang mengaku mengagungkan dan memuliakan para sahabat Nabi Muhammad SAW dan ahlu bait Nabi Muhammad SAW, akan tetapi mereka punya penafsiran-penafsiran tentang aqidah yang jauh dari kitab Allah dan sunnah Rasulullah SAW, yaitu dari kaum Jabariyah dan Qodariyah.
Di saat seperti itu, munculah seorang yang dinobatkan sebagai Imam besar yang telah berusaha untuk membersihkan aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah yang benar dari unsur luar dan menjerumuskan. Munculah cetusan-cetusan ilmu aqidah yang benar yang dari masa ke masa dan menjadi pegangan umat Islam sedunia, yaitu: Aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah Asy’ariyah.

Asy’ariyah adalah sebuah pergerakan pemikiran pemurnian aqidah yang dinisbatkan kepada Imam Abul Hasan Al-Asy’ari. Beliau lahir di Bashrah tahun 260 Hijriyah bertepatan dengan tahun 935 Masehi. Beliau wafat di Bashrahpada tahun 324/975-6 M. Imam Al-Asy’ari pernah belajar kepada ayah tiri beliau yang bernama Al-Jubba’i, seorang tokoh dan guru dari kalangan Mu’tazilah. Sehingga Al-Asy’ari mula-mula menjadi penganut Mu’tazilah, sampai tahun 300 H. Namun setelah beliau mendalami paham Mu’tazilah hingga berusia 40 tahun, terjadilah debat panjang antara beliau dengan gurunya, Al-Jubba’i dalam berbagai masalah. Debat itu membuatnya tidak puas dengan konsep Mu’tazilah dan beliau pun keluar dari paham itu dan kembali kepada pemahanan Ahlusunnah wal jama’ah.

Imam Al-Asy’ari telah berhasil mengembalikan pemahaman sesat kepada aqidah yang benar dengan kembali kepada apa yang pernah dibangun oleh para salaf (ulama sebelumnya) dengan senantiasa memadukan antara dalil nash (naql) dan logika (‘aql). Dengan itu belaiu berhasil melumpuhkan para pendukung Mu’tazilah yang selama ini menebar fitnah di tengah-tengah ummat Ahlus Sunnah. Bisa dikatakan sejak berkembangya aliran Asy’ariyah inilah Mu’tazilah berhasil diruntuhkan.

Kaum Asya’irah, dari masa ke masa selalu mempunyai peran dalam membela aqidah yang benar, Aqidah Ahlusunnah wal Jamaah.
Terbukti dalam sejarah perkembangan Islam ulama Asya’irah-lah yang memenuhi penjuru dunia. Merekalah ahlussunnah yang sesungguhnya.
Adalagi pakar aqidah yang semasa dengan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari, yaitu Imam Abu Manshur Al-Maturidi. Secara umum tidak ada perbedaan di antara keduanya. Hanya karena yang tersebar di Indonesia adalah dari Imam Abul Hasan Al-Asy’ari, maka kami sebut lebih sering Asy’ariyah.
Wallahu a’lam bish-shawab.