MENYIKAPI PERBEDAAN DALAM HUKUM QUNUT SHUBUH

MENYIKAPI PERBEDAAN DALAM HUKUM QUNUT SHUBUH

MENYIKAPI PERBEDAAN DALAM HUKUM QUNUT SHUBUH

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Buya, saya mau tanya tentang Qunut, bagaimana awalnya? kenapa ada yang pakai Qunut dan ada yang tidak pakai Qunut? Bagaimana dengan Rasulullah SAW sendiri, apakah Rasulullah menggunakan Qunut atau tidak?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Qunut subuh adalah masalah khilafiyah, artinya para ulama berbeda pendapat dalam hal itu. Para ulama pengikut Imam Syafi’i mereka mengatakan bahwa qunut saat shalat shubuh adalah sunnah. Ulama pengikut Imam Abu Hanifah mengatakan jika qunut subuh itu tidak sunnah. Masing- masing mempunyai hujjah yang bersumber dari Rasulullah SAW.

Kalau kita kembali kepada ilmu para ulama ada banyak sebab perbedaan pendapat para ulama yang akan menjadikan orang yang sadar akan semakin kagum dengan kinerja para ulama terdahulu. Bahkan mereka senantiasa saling menghormati tanpa harus mencela yang berbeda dengannya. Bagi kita adalah mengikuti mereka, bukan mencela. Yang mencela orang yang tidak berqunut itu sama artinya mencela Imam Abu Hanifah, begitu sebaliknya yang mencela orang yang berqunut itu sama artinya mencela Imam Syafi’i.

Menyikapi hal itu kita harus bijak, jangan membuat keanehan di masyarakat kita. Karena tidak semua orang awam tahu perbedaan ini. Maka jika anda hidup di negeri orang tidak berqunut seperti India, maka anda jangan memaksa mereka mengikuti anda yang berqunut. Karena hal itu akan membuat resah ummat. Begitu juga jika anda pengikut Imam Abu Hanifah lalu anda ke Indonesia yang masyarakatnya pengikut Imam Syafi’i jangan anda membuat resah mereka dengan anda memaksa mereka untuk tidak berqunut.

Wallahu a’lam bish-shawab.

MINTA MAAF DAN HUKUM TIDAK MENYAPA LEBIH DARI 2 HARI

MINTA MAAF DAN HUKUM TIDAK MENYAPA LEBIH DARI 2 HARI

MINTA MAAF DAN HUKUM TIDAK MENYAPA LEBIH DARI 2 HARI

Pertanyaan: Assalamu’alaikum Wr Wb.

Buya, saling memaafkan wajib hukumnya dan dilakukan setiap saat. Bagaimana hukum orang yang tidak mau tegur sapa lebih dari 2 (dua) hari?

 

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Minta ma´af adalah sifat yang sangat mulia. Dalam hadits disebutkan, bahwa orang yang lebih dulu meminta ma´af derajatnya di hadapan Allah SWT lebih tinggi dan lebih dicintai Allah SWT dari yang dimintai ma´af. Maka dari itu jangan minta ma´af hanya disaat kita bersalah. Jika kita bermasalah dengan saudara atau teman, maka bersegeralah meminta ma´af biarpun kita dalam posisi benar, itulah kemuliaan. Apalagi jika kita bersalah, maka kita harus segera meminta ma´af, khawatir nyawa kita dicabut sementara kita punya dosa dengan sesama yang Allah SWT tidak mengampuni kita kecuali orang yang kita sakiti dan salahi memaafkan kita. Adapun orang yang tidak tegur sapa lebih dari 3 (tiga) hari jika bukan karena permasalahan, hal itu tidak dosa. Akan tetapi jika karena ada permusuhan, maka itu adalah dosa besar dan menjadikan Allah murka. Kalau mati, mati dalam keadaan suul khatimah, mati yang tidak baik seperti orang jahiliyah. Marilah kita jauhi sebab-sebab kemurkaan Allah. Wallahu a’lam bish-shawab

MENGHADAPI SUAMI TEMPRAMENTAL/SUKA MARAH

MENGHADAPI SUAMI TEMPRAMENTAL/SUKA MARAH

MENGHADAPI SUAMI TEMPRAMENTAL/SUKA MARAH

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya Yahya yang saya hormati, saya minta tolong bantuanya. Suami saya adalah seorang yang tempramental, sering marah-marah walaupun tanpa sebab bahkan kadang-kadang kemarahannya dilampiaskan kepada saya ataupun kepada
anak-anak saya, bagaimana seharusnya yang harus saya perbuat? Apakah saya boleh untuk meminta cerai? Tolong jawabannya ya Buya

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Dalam menyikapi suami yang mudah marah adalah dengan koreksi diri dahulu sebab bisa saja seorang suami marah atau berbuat dzalim kepada istri karena keteledoran istri dalam melaksanakan kewajiban kepada suami, atau seorang istri melakukan sesuatu kesalahan yang tidak ia rasa namun amat menyakitkan suami.

Jika demikian adanya maka seorang istrilah yang perlu berbenah diri terlebih dahulu sebelum menuntut sang suami berbenah. Ini adalah cara pertama menyelesaikan masalah yang sering dilupakan.

Jika ternyata memang sifat dan perilaku suami adalah dzalim dengan marah tanpa sebab serta melampiaskanya amarah tersebut dengan cara dzalim (seperti memukul atau mencaci maki yang menyakitkan), hal yang demikian tentu amat mengganggu keindahan dalam berumah tangga.

Maka di saat seperti itu seorang istri mempunyai dua pilihan: Petama: bersabar dan berusaha untuk merubahnya dan sungguh ini adalah suatu kemuliaan yang agung.

Kedua: Jika memang tidak mampu untuk bersabar maka ia bisa minta cerai karena seseorang tidak boleh dipaksa untuk bertahan di bawah kedzaliman. Sebab salah satu sebab diperkenankannya seorang istri meminta cerai adalah jika ia benar-benar didzalimi suami. Wallahu a’lam bish-shawab.

Website artikel: www.buyayahya.org
Website mp3: www.buyayahya.net
RadioQu Network: www.radioqu.com

Sampaikan kepada yang lain, Rasulullah Saw bersabda yang artinya:
“Barang siapa yg menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya” (HR. Imam Muslim)

BOLEHKAH ANAK SUSUAN MENIKAH DENGAN ANAK SENDIRI?

BOLEHKAH ANAK SUSUAN MENIKAH DENGAN ANAK SENDIRI?

BOLEHKAH ANAK SUSUAN MENIKAH DENGAN ANAK SENDIRI?

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Ustadz. Dulu saya pernah menyusui keponakan saya sendiri. Hal itu saya lakukan karena dia menangis sejadi-jadinya setelah ditinggal ibunya pergi. Di saat yang sama pula saya menyusui anak kandung saya yang umurnya sebaya dengan keponakan saya tadi. Kini, saat mereka dewasa, mereka berdua saling mencintai dan bermaksud ingin merajut hubungan lebih lanjut ke ranah pernikahan. Bagaimana kasus saya menurut syariat Islam? Bagaimana hukum pernikahan anak saya nanti? Wassalamu’alaikum

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Menjawab pertanyaan ibu yang semoga dimuliakan oleh Allah SWT, yang harus difahami: Pertama adalah masalah menyusui. Seorang anak akan menjadi anak susuan ibu jika memenuhi 3 syarat yang berikut ini:
1) Anak tersebut disusui sebelum genap umur 2 tahun hijriyah.
2) Menyusuinya adalah tidak kurang dari 5 kali susuan yang memuaskan. Arti se-kali memuaskan adalah: Bayi tersebut menyusui kemudian dia melepas dengan sendirinya. Hal seperti itu terjadi 5 kali. Kalau menyusuinya tidak sampai 5 kali sususan maka tidak dianggap sebagai anak susu.
3) Air susu dikeluarkan dari seorang ibu yang masih hidup biarpun saat meminumkannya ke bayi adalah setelah sang ibu pemilik susu meninggal. Maka dari itu, bank susu yang ada di negeri – negeri maju harus benar – benar diperhatikan dan dicatat siapa yang membeli susu – susu tersebut.

Jika ternyata ibu benar – benar menyusui keponakan dengan 3 syarat diatas maka keponakan ibu menjadi anak susuan ibu. Secara otomatis karena itu menjadi anak susuan, maka dengan anak – anak ibu biarpun anak ibu tidak menyusu kepada ibu maka itu menjadi saudara sesusuan. Juga akan menjadi saudara sesusuan dengan siapapun anak – anak yang menyusu kepada ibu dengan 3 syarat tersebut.

Kedua adalah kisah cinta antara keponakan ibu dengan anak ibu. Kami selalu mengingatkan bahwasanya
jangan sampai ada jalinan cinta sebelum adanya pernikahan. Karena itu termasuk dalam larangan mendekati zina, “walaa taqrobuzzina.” Pembuka dan muqoddimah zina adalah dengan berpacaran. Sebagai orang tua seharusnya mendidik anak – anak agar jauh dari hal seperti itu.
Kemudian, jika memang anak kita sudah memerlukan kepada pernikahan, wajib bagi orang tua untuk mempermudah jalannya pernikahan. Jangan sampai anak kita terjerumus dalam cinta yang haram, yaitu cinta sebelum pernikahan yang mengarah kepada perzinahan.

Adapun pernikahan antara anak ibu dengan anak susuan ibu, itu tidak boleh dan tidak sah. Bahkan kalau
terlanjur menikah maka harus dipisahkan. Karena mereka berdua adalah saudara sesusuan (mahram sesusuan). Semoga Allah menjauhkan anak – anak kita dari keharoman, perzinahan dan segala kehinaan. Wallahu a’lam bish-shawab

HUKUM SHALAT TANPA MEMBACA DO’A IFTITAH

HUKUM SHALAT TANPA MEMBACA DO’A IFTITAH

*HUKUM SHALAT TANPA MEMBACA DO’A IFTITAH*

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Buya bagaimana hukumnya shalat jika tidak membaca doa Iftitah (Allhu akbar kabirawwalhamdulillah)?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Membaca doa iftitah dalam shalat adalah sunnah di setiap shalat kecuali shalat jenazah yang memang di anjurkan untuk dipercepat atau shalat yang waktunya sempit yang jika membaca doa iftitah sebagian pekerjaan shalat akan dikerjakan diluar waktu. Jadi jika ada orang shalat tidak membaca doa iftitah maka shalatnya adalah sah hanya saja ia tidak mendapatkan kesunahan doa iftitah.
Wallahu a’lam bish-shawab.

HUKUM SHALAT TAHIYATUL MASJID 4 RAKAAT DI HARI JUM’AT DENGAN SATU SALAM

HUKUM SHALAT TAHIYATUL MASJID 4 RAKAAT DI HARI JUM’AT DENGAN SATU SALAM

*HUKUM SHALAT TAHIYATUL MASJID 4 RAKAAT DI HARI JUM’AT DENGAN SATU SALAM*

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya yang ana hormati ana mau tanya, shalat tahiyatul masjid yang dilakukan pada hari jum’at kan disunnahkan 4 rakaat. Kalau dikerjakan langsung 4 rakaat dengan satu salam, bolehkah tidak mengerjakan tasyahud awal?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Shalat Tahiyatul Masjid adalah shalat yang dilakukan oleh seseorang yang memasuki masjid berapa rakaat pun boleh. Hanya umumnya dengan 2 rakaat. Jika dilakukan dengan lebih dari 2 rakaat misalnya 4 rakaat juga boleh dan itu lebih bagus. Semakin banyak semakin baik.

Di saat melakukan 4 rakaat dianjurkan agar tidak pakai tasyahud awal. Jika pakai pun tetap sah. Yang harus diketahui juga bahwa tidak ada anjuran khusus Tahiyatal Masjid di hari jum’at dengan 4 rakaat. Kalau melakukan 4 rakaat boleh-boleh saja. Yang paling bagus di saat melakukan 4 rakaat adalah dengan 2 kali salam. Setiap 2 rakaat satu salam.
Hadits yang diriwayatkan oleh ibnu majah:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَهَا أرَبْعَا
“Bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan Shalat sebelumnya (maksudnya Jum’atan) 4 rakaat”. Riwayat ini bukan masalah Tahiyatul Masjid, akan tetapi itu masalah shalat sunnah sebelum Jum’at. Wallahu a’lam bish-shawab.

KETIKA TIDAK BISA MEMBAYAR HUTANG

KETIKA TIDAK BISA MEMBAYAR HUTANG

*KETIKA TIDAK BISA MEMBAYAR HUTANG*

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Buya saya mau bertanya. Bagaimana menyikapi orang yang yang meminjam uang tapi tidak mau membayarnya?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Islam adalah agama indah, mengajarkan keindahan dalam kehidupan bermasyarakat. Suatu hal yang sangat wajar dan yang dibenarkan jika terjadi pinjam meminjam dalam hidup bermasyarakat. Dalam hal ini Islam telah memberikan pengarahan agar pinjam-meminjam tetap indah.

Yang pertama adalah: Islam mengajarkan agar kita mencatat saat terjadi hutang piutang dan jangan sampai kita meremehkan perintah ini sekecil apapun dan seremeh apapun yang kita pinjam dan pinjamkan. Mencatat hutang adalah ibadah biarpun dengan teman dekat, orang tua atau saudara. Yang meninggalkan mencatat hutang ini adalah meninggalkan petunjuk dari Allah SWT.

Kedua: Bagi yang meminjam jika sudah jatuh tempo ia wajib mengembalikannya jika sudah mampu. Jika ia sudah mampu dan tidak membayar maka ini adalah termasuk dosa besar dan akan dihinakan oleh Allah di dunia dan di akhirat. Jika memang benar-benar belum mampu memang tidak wajib untuk membayar sampai ia mampu. Dalam hal ini seorang muslim dituntut untuk jujur kepada Allah jangan sampai ia mampu membayar akan tetapi ia berpura-pura tidak mampu, itu adalah kemunafikan dan itu adalah dosa besar, sungguh Allah maha mengetahui yang tersembunyi dihati hambanya.

Ketiga: Disisi lain bagi orang yang dipinjam uangnya, jika ia menemukan saudaranya tidak mampu membayar maka Islam mewajibkan baginya untuk memberikan tempo kepada orang yang meminjam tanpa imbalan apapun dan tanpa menambah sedikitpun. Imbalan dan tambahan tersebut sekecil apapun adalah riba yang menghantarkan ke neraka jahannam.

Adapun sikap anda yang bertanya, anda lihat jika orang yang meminjam uang tersebut tidak mampu maka anda do’akan dan tingkatkan kasih sayang kepada orang tersebut karena ia telah tidak mampu membayarnya. Jika ia adalah orang yang mampu akan tetapi teledor serahkan kepada Allah dan doakan agar Allah memberikan kesadaran kepadanya karena saat itu dia telah melakukan dosa besar.

Wallahu a’lam bish-shawab.

SUSAH SHALAT TAPI SELALU INGAT ALLAH

SUSAH SHALAT TAPI SELALU INGAT ALLAH

SUSAH SHALAT TAPI SELALU INGAT ALLAH

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya, Saya punya keluhan kalau mau shalat 5 waktu susah banget, tapi kalau yang namanya dzikir dalam hati selalu setiap saat tiap waktu. Keinginan taubatan nashuha sangat besar, tapi susah! Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Bersyukurlah kepada Allah yang telah memberi kepada anda rasa sesal dan keluh karena anda malas melakukan shalat. Itu adalah iman, sebab ada orang malas shalat akan tetapi sama sekali tidak pernah menyesal. Jika anda malas shalat lalu rajin berdzikir anda harus kembali koreksi keyakinan anda kepada Allah SWT.

Berdzikir kepada Allah adalah mengingat Allah. Jika anda yakin akan Allah sebagai Tuhan anda yang akan memberi anda pahala saat anda berbuat baik dan menyiksa anda saat anda melanggar perintahnya tentu amat susah bagi anda yang selalu ingat Allah untuk melanggarNya. Akan tetapi jika anda rajin berdzikir, tetapi malas shalat 5 waktu berarti anda belum ingat Allah yang sesungguhnya. Semoga Allah memudahkan kita untuk patuh dan taubat kepadaNya. Wallahu a’lam bish-shawab.

HUKUM MENGAMBIL PERSENAN DARI SUMBANGAN  UNTUK ANAK YATIM

HUKUM MENGAMBIL PERSENAN DARI SUMBANGAN UNTUK ANAK YATIM

HUKUM MENGAMBIL PERSENAN DARI SUMBANGAN
UNTUK ANAK YATIM

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Buya Saya mau nanya. Bagaimana hukumnya pencari dana buat Yayasan Yatim Piatu yang mengambil 10% dari sumbangan donatur? 10% memang di tentukan oleh Yayasan tersebut.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Pengurus yayasan berkewajiban menjaga amanat yang di bawah naungan yayasan lebih khusus lagi adalah masalah keuangan. Semua yang bekerja di Yayasan tersebut tidak boleh diberi gaji melebihi dari gaji rata-rata (ujrotul mitsl). Memberi persen adalah bukan cara yang benar dalam penggalangan dana di sebuah Yayasan. Itu artinya menyelewengkan amanat dan sebuah dosa besar. Memberi dengan persenan baru berlaku kalau di perusahaan untuk memacu pegawai meningkatkan produksi sebuah perusahaan atau dana sang pemilik perusahaan tersebut. Sumbangan dari donatur bukan hasil produksi akan tetapi urusannya adalah dengan para dermawan dan ini adalah amanat besar bagi para pengurus. Jika ada orang yang menyumbang 100 juta akankah kita kasihkan kepada perantara 10 juta yang mungkin juga didapat tanpa jerih payah? Cara memberi persenan adalah tidak bisa diberlakukan di Yayasan atau Masjid. Wallahu a’lam bish-shawab.

HUKUM OPERASI UNTUK MENGEMBALIKAN KEPERAWANAN

HUKUM OPERASI UNTUK MENGEMBALIKAN KEPERAWANAN

HUKUM OPERASI UNTUK MENGEMBALIKAN KEPERAWANAN

Pertanyaan: Ustadz yang saya hormati semoga selalu dalam lindungan Allah. Saya mau tanya, apa hukum mengoperasi vagina/ kemaluan saya (maaf) agar kembali perawan sedangkan saya mempunyai masa lalu yang buruk saat masih kecil dan saya takut menikah. Apa hukumnya dan saya harus bagaimana Ustadz? Apaakah saya tidak menikah sampai tua? Apa saya harus membohongi calon suami saya dengan cara melakukan operasi keperawanan?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Keindahan di dalam Islam bahwa siapapun yang terjerumus ke dalam dosa kepada Allah SWT seperti zina hendaknya ditutup rapat. Nabi pernah mengisyaratkan dalam kisah seseorang yang terjerumus ke dalam zina datang kepada Rasulullah SAW, ternyata Nabi menghimbau untuk bisa menutupnya.

Maka siapapun yang terjerumus ke dalam zina hendaknya ditutup. Jangan diceritakan kepada siapapun dari bangsa manusia. Kalaupun seandainya dia pernah berzina, cepatlah taubat dan menangis kepada Allah SWT. Tidak perlu membicarakan kepada siapapun termasuk orang yang akan menikahinya. Bahkan kalau menceritakan, itu tanda kebodohan seorang wanita. Bahkan haram untuk menceritakan kepada siapapun dalam urusan yang demikian ini. Bukan sesuatu yang dianjurkan. Tutup dan tutup dan tutup aib tersebut.

Adapun masalah operasi selaput dara adalah termasuk kebodohan yang lain lagi. Tidak diperkenankan operasi selaput dara dengan tujuan tersebut. Maka hukum operasi selaput dara adalah haram, karena dalam prosesnya pun akan membuka aurat besar. Itu hanya kebodohan saja yang direncanakan oleh orang – orang yang tidak kenal agama Allah SWT.

Pendidikan yang benar bagi siapapun yang terjerumus dalam zina adalah menutup aib. Jangan ceritakan kepada siapapun termasuk kepada orang yang akan menikahinya. Tutup, biar Allah saja Yang Tahu. Orang yang bakal menikahinya tidak bakal tahu kalau ia sudah tidak perawan. Karena keperawanan bisa saja robek karena jatuh, terpeleset dan lain sebagainya, tidak harus dengan berzina. Tidak diperkenankan berterus terang dalam urusan perzinaan karena zina adalah dosa kepada Allah SWT, yang seharusnya ditutup. Tidak boleh diceritakan. Bahkan jika seandainya seseorang telah terlanjur melakukan perzinaan kemudian ada yang tahu, kalau ternyata orang tersebut membuka dan bercerita kepada orang banyak maka bagi orang yang telah berzina tidak boleh terpengaruh. Harus tetap berprinsip untuk menutup dosa tersebut. Hendaknya menepis dengan tegas bahwa itu semua adalah fitnah dan tidak boleh mengakuinya.

Maka, kami himbau kepada siapapun yang mempunyai masalah seperti itu hendaknya menutub aib tersebut dan jika harus minta bantuan kepada orang lain karena beratnya permasalahan seperti terlanjur hamil dan lain-lain maka hendaknya meminta petunjuk kepada orang yang punya wawasan dalam hal ini dan dapat dipercaya untuk menutup aibnya.

Di lapangan kami telah menemukan banyak kesalahan dari sebagian orang di dalam memberikan solusi terhadap orang yang telah berzina. Sehingga kasus perzinaan menjadi tersebar dan yang demikian itu memberatkan bagi pezina untuk tobat dan menyakiti keluarga yang tidak berdosa dan masih banyak akibat buruk dari tersebarnya kisah perzinaan. Semoga Allah SWT mengampuni orang yang telah berzina dan menutup aib mereka. Menjauhkan kita dari membicarakan orang yang telah berzina. Wallahu a’lam bish-shawab