HUKUM SHALAT TAHIYATUL MASJID 4 RAKAAT DI HARI JUM’AT DENGAN SATU SALAM

HUKUM SHALAT TAHIYATUL MASJID 4 RAKAAT DI HARI JUM’AT DENGAN SATU SALAM

*HUKUM SHALAT TAHIYATUL MASJID 4 RAKAAT DI HARI JUM’AT DENGAN SATU SALAM*

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya yang ana hormati ana mau tanya, shalat tahiyatul masjid yang dilakukan pada hari jum’at kan disunnahkan 4 rakaat. Kalau dikerjakan langsung 4 rakaat dengan satu salam, bolehkah tidak mengerjakan tasyahud awal?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Shalat Tahiyatul Masjid adalah shalat yang dilakukan oleh seseorang yang memasuki masjid berapa rakaat pun boleh. Hanya umumnya dengan 2 rakaat. Jika dilakukan dengan lebih dari 2 rakaat misalnya 4 rakaat juga boleh dan itu lebih bagus. Semakin banyak semakin baik.

Di saat melakukan 4 rakaat dianjurkan agar tidak pakai tasyahud awal. Jika pakai pun tetap sah. Yang harus diketahui juga bahwa tidak ada anjuran khusus Tahiyatal Masjid di hari jum’at dengan 4 rakaat. Kalau melakukan 4 rakaat boleh-boleh saja. Yang paling bagus di saat melakukan 4 rakaat adalah dengan 2 kali salam. Setiap 2 rakaat satu salam.
Hadits yang diriwayatkan oleh ibnu majah:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَهَا أرَبْعَا
“Bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan Shalat sebelumnya (maksudnya Jum’atan) 4 rakaat”. Riwayat ini bukan masalah Tahiyatul Masjid, akan tetapi itu masalah shalat sunnah sebelum Jum’at. Wallahu a’lam bish-shawab.

KETIKA TIDAK BISA MEMBAYAR HUTANG

KETIKA TIDAK BISA MEMBAYAR HUTANG

*KETIKA TIDAK BISA MEMBAYAR HUTANG*

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Buya saya mau bertanya. Bagaimana menyikapi orang yang yang meminjam uang tapi tidak mau membayarnya?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Islam adalah agama indah, mengajarkan keindahan dalam kehidupan bermasyarakat. Suatu hal yang sangat wajar dan yang dibenarkan jika terjadi pinjam meminjam dalam hidup bermasyarakat. Dalam hal ini Islam telah memberikan pengarahan agar pinjam-meminjam tetap indah.

Yang pertama adalah: Islam mengajarkan agar kita mencatat saat terjadi hutang piutang dan jangan sampai kita meremehkan perintah ini sekecil apapun dan seremeh apapun yang kita pinjam dan pinjamkan. Mencatat hutang adalah ibadah biarpun dengan teman dekat, orang tua atau saudara. Yang meninggalkan mencatat hutang ini adalah meninggalkan petunjuk dari Allah SWT.

Kedua: Bagi yang meminjam jika sudah jatuh tempo ia wajib mengembalikannya jika sudah mampu. Jika ia sudah mampu dan tidak membayar maka ini adalah termasuk dosa besar dan akan dihinakan oleh Allah di dunia dan di akhirat. Jika memang benar-benar belum mampu memang tidak wajib untuk membayar sampai ia mampu. Dalam hal ini seorang muslim dituntut untuk jujur kepada Allah jangan sampai ia mampu membayar akan tetapi ia berpura-pura tidak mampu, itu adalah kemunafikan dan itu adalah dosa besar, sungguh Allah maha mengetahui yang tersembunyi dihati hambanya.

Ketiga: Disisi lain bagi orang yang dipinjam uangnya, jika ia menemukan saudaranya tidak mampu membayar maka Islam mewajibkan baginya untuk memberikan tempo kepada orang yang meminjam tanpa imbalan apapun dan tanpa menambah sedikitpun. Imbalan dan tambahan tersebut sekecil apapun adalah riba yang menghantarkan ke neraka jahannam.

Adapun sikap anda yang bertanya, anda lihat jika orang yang meminjam uang tersebut tidak mampu maka anda do’akan dan tingkatkan kasih sayang kepada orang tersebut karena ia telah tidak mampu membayarnya. Jika ia adalah orang yang mampu akan tetapi teledor serahkan kepada Allah dan doakan agar Allah memberikan kesadaran kepadanya karena saat itu dia telah melakukan dosa besar.

Wallahu a’lam bish-shawab.

SUSAH SHALAT TAPI SELALU INGAT ALLAH

SUSAH SHALAT TAPI SELALU INGAT ALLAH

SUSAH SHALAT TAPI SELALU INGAT ALLAH

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya, Saya punya keluhan kalau mau shalat 5 waktu susah banget, tapi kalau yang namanya dzikir dalam hati selalu setiap saat tiap waktu. Keinginan taubatan nashuha sangat besar, tapi susah! Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Bersyukurlah kepada Allah yang telah memberi kepada anda rasa sesal dan keluh karena anda malas melakukan shalat. Itu adalah iman, sebab ada orang malas shalat akan tetapi sama sekali tidak pernah menyesal. Jika anda malas shalat lalu rajin berdzikir anda harus kembali koreksi keyakinan anda kepada Allah SWT.

Berdzikir kepada Allah adalah mengingat Allah. Jika anda yakin akan Allah sebagai Tuhan anda yang akan memberi anda pahala saat anda berbuat baik dan menyiksa anda saat anda melanggar perintahnya tentu amat susah bagi anda yang selalu ingat Allah untuk melanggarNya. Akan tetapi jika anda rajin berdzikir, tetapi malas shalat 5 waktu berarti anda belum ingat Allah yang sesungguhnya. Semoga Allah memudahkan kita untuk patuh dan taubat kepadaNya. Wallahu a’lam bish-shawab.

HUKUM MENGAMBIL PERSENAN DARI SUMBANGAN  UNTUK ANAK YATIM

HUKUM MENGAMBIL PERSENAN DARI SUMBANGAN UNTUK ANAK YATIM

HUKUM MENGAMBIL PERSENAN DARI SUMBANGAN
UNTUK ANAK YATIM

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Buya Saya mau nanya. Bagaimana hukumnya pencari dana buat Yayasan Yatim Piatu yang mengambil 10% dari sumbangan donatur? 10% memang di tentukan oleh Yayasan tersebut.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Pengurus yayasan berkewajiban menjaga amanat yang di bawah naungan yayasan lebih khusus lagi adalah masalah keuangan. Semua yang bekerja di Yayasan tersebut tidak boleh diberi gaji melebihi dari gaji rata-rata (ujrotul mitsl). Memberi persen adalah bukan cara yang benar dalam penggalangan dana di sebuah Yayasan. Itu artinya menyelewengkan amanat dan sebuah dosa besar. Memberi dengan persenan baru berlaku kalau di perusahaan untuk memacu pegawai meningkatkan produksi sebuah perusahaan atau dana sang pemilik perusahaan tersebut. Sumbangan dari donatur bukan hasil produksi akan tetapi urusannya adalah dengan para dermawan dan ini adalah amanat besar bagi para pengurus. Jika ada orang yang menyumbang 100 juta akankah kita kasihkan kepada perantara 10 juta yang mungkin juga didapat tanpa jerih payah? Cara memberi persenan adalah tidak bisa diberlakukan di Yayasan atau Masjid. Wallahu a’lam bish-shawab.

HUKUM OPERASI UNTUK MENGEMBALIKAN KEPERAWANAN

HUKUM OPERASI UNTUK MENGEMBALIKAN KEPERAWANAN

HUKUM OPERASI UNTUK MENGEMBALIKAN KEPERAWANAN

Pertanyaan: Ustadz yang saya hormati semoga selalu dalam lindungan Allah. Saya mau tanya, apa hukum mengoperasi vagina/ kemaluan saya (maaf) agar kembali perawan sedangkan saya mempunyai masa lalu yang buruk saat masih kecil dan saya takut menikah. Apa hukumnya dan saya harus bagaimana Ustadz? Apaakah saya tidak menikah sampai tua? Apa saya harus membohongi calon suami saya dengan cara melakukan operasi keperawanan?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Keindahan di dalam Islam bahwa siapapun yang terjerumus ke dalam dosa kepada Allah SWT seperti zina hendaknya ditutup rapat. Nabi pernah mengisyaratkan dalam kisah seseorang yang terjerumus ke dalam zina datang kepada Rasulullah SAW, ternyata Nabi menghimbau untuk bisa menutupnya.

Maka siapapun yang terjerumus ke dalam zina hendaknya ditutup. Jangan diceritakan kepada siapapun dari bangsa manusia. Kalaupun seandainya dia pernah berzina, cepatlah taubat dan menangis kepada Allah SWT. Tidak perlu membicarakan kepada siapapun termasuk orang yang akan menikahinya. Bahkan kalau menceritakan, itu tanda kebodohan seorang wanita. Bahkan haram untuk menceritakan kepada siapapun dalam urusan yang demikian ini. Bukan sesuatu yang dianjurkan. Tutup dan tutup dan tutup aib tersebut.

Adapun masalah operasi selaput dara adalah termasuk kebodohan yang lain lagi. Tidak diperkenankan operasi selaput dara dengan tujuan tersebut. Maka hukum operasi selaput dara adalah haram, karena dalam prosesnya pun akan membuka aurat besar. Itu hanya kebodohan saja yang direncanakan oleh orang – orang yang tidak kenal agama Allah SWT.

Pendidikan yang benar bagi siapapun yang terjerumus dalam zina adalah menutup aib. Jangan ceritakan kepada siapapun termasuk kepada orang yang akan menikahinya. Tutup, biar Allah saja Yang Tahu. Orang yang bakal menikahinya tidak bakal tahu kalau ia sudah tidak perawan. Karena keperawanan bisa saja robek karena jatuh, terpeleset dan lain sebagainya, tidak harus dengan berzina. Tidak diperkenankan berterus terang dalam urusan perzinaan karena zina adalah dosa kepada Allah SWT, yang seharusnya ditutup. Tidak boleh diceritakan. Bahkan jika seandainya seseorang telah terlanjur melakukan perzinaan kemudian ada yang tahu, kalau ternyata orang tersebut membuka dan bercerita kepada orang banyak maka bagi orang yang telah berzina tidak boleh terpengaruh. Harus tetap berprinsip untuk menutup dosa tersebut. Hendaknya menepis dengan tegas bahwa itu semua adalah fitnah dan tidak boleh mengakuinya.

Maka, kami himbau kepada siapapun yang mempunyai masalah seperti itu hendaknya menutub aib tersebut dan jika harus minta bantuan kepada orang lain karena beratnya permasalahan seperti terlanjur hamil dan lain-lain maka hendaknya meminta petunjuk kepada orang yang punya wawasan dalam hal ini dan dapat dipercaya untuk menutup aibnya.

Di lapangan kami telah menemukan banyak kesalahan dari sebagian orang di dalam memberikan solusi terhadap orang yang telah berzina. Sehingga kasus perzinaan menjadi tersebar dan yang demikian itu memberatkan bagi pezina untuk tobat dan menyakiti keluarga yang tidak berdosa dan masih banyak akibat buruk dari tersebarnya kisah perzinaan. Semoga Allah SWT mengampuni orang yang telah berzina dan menutup aib mereka. Menjauhkan kita dari membicarakan orang yang telah berzina. Wallahu a’lam bish-shawab

BERSALAMAN DENGAN ORANG YANG MEMEGANG ANJING 

BERSALAMAN DENGAN ORANG YANG MEMEGANG ANJING 

BERSALAMAN DENGAN ORANG YANG MEMEGANG ANJING
Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya Yahya saya mau bertanya, saya punya tetangga yang tahun kemarin tetangga tersebut memelihara anjing (najis mugholladhoh) harus bagaimana sikap saya kepada kepada tatangga tersebut? Apakah perlu tangan saya dibasuh dengan air 7x dan ditambah tanah pada salah satunya setiap setelah bersalaman dengan anggota tetangga tersebut?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Anjing menurut Mazhab Syafi’i, Hanafi dan Hambali adalah najis mugholadhoh atau najis berat dan cara mensucikanya adalah dengan 7 kali basuhan dan salah satunya dengan debu. Ada hal penting yang perlu diketauhui bahwa najis tersebut tidak akan pindah kepada kita kecuali jika anjing tersebut basah baik basah karena terkena air atau basahnya air liur lalu bersentuhan dengan kita biarpun kita dalam keadaan kering. Atau sebaliknya kita yang basah bersentuhan dengan anjing yang kering maka najis akan berpindah kepada kita. Berbeda jika anjing kering dan tubuh kita yang kering jika bersetuhan tidak memindah najisnya anjing ke tubuh kita. Artinya tubuh kita yang kering jika bersentuhan dengan anjing yang kering tidak menjadikan tubuh kita terkena najis.

Kemudian sesuatu akan dihukumi najis jika yakin terkena najis bukan sekedar dugaan. Tetangga anda mempunyai anjing lalu anda bersalaman denganya maka anda tidak terkena najis sebab anda tidak bersentuhan dengan anjing.

Adapun kemungkinan dia bersentuhan dengan anjing lalu bersalaman dengan anda itu adalah hal yang belum pasti. Kecuali jika ada melihat orang tersebut bersentuhan dengan anjing dalam keadaan basah lalu bersalaman dengan anda yang dalam keadaan basah maka saat itu najis berpindah pada anda maka wajiblah bagi anda mencuci tangan anda dengan 7 kali basuhan salah satunya dengan debu. Wallahu a’lam bish-shawab.

BENARKAH TEMPAT SHALAT WANITA ADALAH DI RUMAH? BAGAIMANA HUKUM SUARA WANITA

BENARKAH TEMPAT SHALAT WANITA ADALAH DI RUMAH? BAGAIMANA HUKUM SUARA WANITA

BENARKAH TEMPAT SHALAT WANITA ADALAH DI RUMAH? BAGAIMANA HUKUM SUARA WANITA

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya saya mau bertanya, ada hadist mengatakan: “Sebaik-baik perempuan shalat adalah di rumah.” Menurut Buya hadist itu shahih apa tidak? Suara perempuan adalah aurat, bagimana hukumnya seorang perempuan yang membaca Al-Qur’an di masjid pakai mic? Mohon penjelasnnya. Terima kasih

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Saudariku, memang benar bahwa sebaik-baiknya tempat shalat untuk wanita adalah rumahnya sendiri dan itu adalah riwayat yang benar dari Nabi SAW, akan tetapi itu semua jika memang seorang wanita bisa khusyuk shalat dalam rumahnya.

Akan tetapi bisa saja seorang wanita hidup dengan sebuah rumah yang padat dengan penduduk apalagi seperti masyarakat kita kadang bercampur atau banyak keluar masuk di rumah orang yang bukan mahram sehingga biarpun dalam rumahnya sendiri kadang tidak aman dan tidak terhormat maka di saat seperti itu jika seorang wanita melakukan shalat di masjid maka shalat di masjid asal ditemani mahramnya atau masjid yang luas dan disiapkan tempat khusus wanita maka di sana seperti itu shalat di masjid bisa lebih bagus dari pada shalat di rumah.

Adapun suara wanita aurat adalah pendapat Imam Malik, adapun menurut pendapat Imam lain seperti Imam Syafi’i suara wanita bukanlah aurat dan kita tidak haram mendengarnya asalkan masih wajar. Akan tetapi jika suara itu sudah berubah dengan suara yang dibuat-buat yang menggoda hati laki-laki, maka suara tersebut menjadi haram untuk didengar tetapi keharaman bukan sebab suaranya akan tetapi keharamannya karena suara itu dibuat-buat serta dilembutkan yang menggoda atau membangkitkan sahwat. Wallahu a’lam bish-shawab.

BEKERJA DENGAN ORANG-ORANG SYI’AH

BEKERJA DENGAN ORANG-ORANG SYI’AH

BEKERJA DENGAN ORANG-ORANG SYI’AH

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum. Wr. Wb. Saya mau tanya dan mohon penjelasannya, bagaimana hukumnya kalau kita bekerja dengan suatu lembaga milik orang-orang Syi’ah? Sejak Juni 2009 s/d sekarang saya mengajar di TK. Saya tahu bahwa pengurus yayasan semuanya adalah orang-orang Syi’ah. Setelah 1 tahun saya bekerja di situ, sejauh ini mereka tidak mencampuri aqidah guru-guru yang notabene bukan dari golongan Syi’ah.

Apa hukumnya saya mengajar di TK tersebut? Apakah ada mudharatnya buat saya? Saya sangat berharap ikhwah fillah sekalian dapat menanggapi pertanyaan saya ini. Karena Saya meyakini bahwa kita yang tergabung dalam forum Buya Yahya ini, semua satu aqidah, yaitu Ahlussunnah wal-Jamaah. Syukur Alhamdulillah kalau Ustad Buya Yahya juga dapat memberikan jawaban. Terima kasih banyak, mohon maaf bila ada yang gak berkenan. Jazakumullah kheir. Ditunggu sangat jawabannya.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Semoga Allah SWT senantiasa menambah kokoh iman anda. Pertanyaan anda mencerminkan kerinduan anda untuk menjaga iman dan aqidah anda. Bekerjasama dengan 25 siapapun Islam tidak melarang termasuk dengan agama lain, asalkan agama atau kelompok tersebut tidak merusak aqidah dan kemuliaan kita. Misal, sekelompok orang nasrani membuat sesuatu lembaga yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan keagamaan, seperti pelatihan kerja atau akutansi kita bisa saja kerjasama dengan mereka sebatas mereka tidak mengganggu dan merongrong aqidah anda dan anda bisa menjalankan agama anda secara penuh.

Akan tetapi kalau mereka ada tanda-tanda merusak aqidah dan moral kita maka kita pun jadi tidak boleh berurusan dengan mereka, karena saat itu mereka bukanlah orang yang terhormat, dan haram tolong menolong dengan mereka. Begitu juga dengan kelompok lain yang mengatasnamakan agama yang sama dengan kita.

Jika yang anda maksud adalah syiah ekstrim yang dengan ciri-ciri mengkafirkan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Sayyidina Umar bin Khattab juga merendahkan Sayyidah ’Aisah dan Sayyidah Khafsah, kedua istri Rasulullah SAW, menolak perawi hadits Sayyidina Abu Hurairah. Maka mereka adalah kelompok yang membahayakan yang jika kita kerjasama dengan mereka khususnya dalam bidang pendidikan, itu artinya anda telah membantu program mereka dalam menyebarkan penyelewengan mereka. Membantu dalam kebatilan adalah batil.

Kalaupun mereka tidak mempengaruhi anda, mereka tidak peduli dengan anda yang hanya satu orang akan tetapi target mereka adalah seluruh siswa. Kecuali anda disitu sebagai orang kuat yang akan memperkuat aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah. Lebih aman mengajarlah di tempat yang tidak beresiko bagi diri anda dan para siswa. Wallahu a’lam bish-shawab

 

STATUS PERNIKAHAN JIKA 6 BULAN SUAMI PERGI TANPA KABAR

STATUS PERNIKAHAN JIKA 6 BULAN SUAMI PERGI TANPA KABAR

*STATUS PERNIKAHAN JIKA 6 BULAN SUAMI PERGI TANPA KABAR*

Pertanyaan:
Ustadz, saya seorang ibu dengan dua orang anak. Sudah setengah tahun lamanya suami saya pergi tanpa meninggalkan kabar apapun. Hingga terkadang saya putus asa dalam penantian. Bagaimana hukum pernikahan saya? Apakah cerai dengan sendirinya atau bagaimana? Apakah saya bisa menikah lagi? Terimakasih

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Untuk menjawab pertanyaan ibu yang semoga dimuliakan oleh Allah SWT, ketahuilah bahwa seorang istri yang ditinggalkan suami seberapa lama pun jika sang suami belum menjatuhkan cerai maka tidak akan terceraikan. Maka ibu tetap menjadi istri yang sah bagi suami ibu.

Adapun jika ketidaksabaran ibu dalam penantian, ibu tidak bisa menceraikan ibu dengan diri sendiri. Akan tetapi ibu harus mengangkat permasalahan ibu ke hakim (Pengadilan Agama). Jika hakim telah melihat dan mempelajari permasalahan sudah memenuhi ketentuan syariat untuk dicerai maka hakim bisa menjatuhkan cerai atas ibu. Setelah tercerai dan masa iddah berakhir ibu baru bisa menikah dengan lelaki yang lain. Wallahu a’lam bish-shawab

APAKAH AQIDAH ASY’ARIYAH SAMA DENGAN AQIDAH SALAFI/WAHABI?

APAKAH AQIDAH ASY’ARIYAH SAMA DENGAN AQIDAH SALAFI/WAHABI?

APAKAH AQIDAH ASY’ARIYAH SAMA DENGAN AQIDAH SALAFI/WAHABI
(ULUHIYAH, RUBUBIYAH, ASMA’ WAS-SHIFAT)

Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Wr. Wb.
Buya, semoga hari-hari Buya dipenuhi dengan keberkahan dari Allah SWT. Saya ingin bertanya. Apakah sama Aqidah Asy’ariyah dengan Aqidah yang dibagi 3, yaitu Uluhiyah, Rububiyah dan Asma’ Was-shifat. Karena aqidah yang 3 ini biasa dianut oleh golongan yang biasa membid’ahkan, mengkafirkan sesama muslim. Mohon penjelasannya. Jazakallah khairon.

jawaban
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Saudaraku yang semoga dimuliakan Allah SWT. Paham Asy’ari tidak pernah membagi tauhid menjadi 3 bagian seperti tersebut dalam soal. Aqidah Asy’ariah adalah aqidah yang sudah dianut mayoritas ulama dunia diantaranya Amirul Mu’minin Filhadits Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam Nawawi yang kitab-kitab mereka sudah tersebar dan dibaca oleh umat islam di penjuru dunia. Pembagian tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma was-shifat adalah pembagian yang tidak ada di dalam aqidah Asy’ariyah.

Benar yang anda katakan pembagian tauhid ini adalah aqidahnya orang yang suka membid’ahkan orang lain dan telah terbukti secara ilmiah kebatilan cara pembagian tauhid menurut cara mereka ini. Ada maksud didalam pembagian ini, khususnya didalam masalah tauhid asma wasifat, yaitu karena kelompok sesat ini ingin mengeluarkan faham Asy’ariyah dari kelompok kaum Muslimin yang benar, khususnya berkenaan dengan ayat-ayat sifat atau ayat-ayat mutasabihat, berkenaan dengan masalah boleh tidaknya ta’wil. Wallahu a’lam bish-shawab.