MAKANAN SISA DI MULUT SAMPAI SIANG HARI RAMADHAN

MAKANAN SISA DI MULUT SAMPAI SIANG HARI RAMADHAN

MAKANAN SISA DI MULUT SAMPAI SIANG HARI RAMADHAN

Pertanyaan: Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Buya saya ingin menanyakan, kita sudah sikat gigi sebelum adzan subuh, kemudian pada pagi hari atau siang hari ternyata masih ada sisa makanan di mulut atau di sela-sela gigi. Ini bagaimana? Batalkah puasa saya, padahal saya sudah yakin mulut/gigi saya sudah bersih dengan sikat gigi sebelum subuh tadi?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Di saat kita melakukan puasa lalu kita menemukan sisa makanan di mulut kita hal itu tidak membatalkan puasa selagi tidak kita menelan dengan sengaja. Bahkan kalau kita memasukkan makanan ke mulut kita asal tidak kita telan, hal itu tidaklah membatalkan puasa, hanya saja hukumnya makruh. Makruh itu tidak baik dan tidak dosa dan tidak membatalkan puasa.

Begitu juga jika kita menyikat gigi dengan pasta gigi makahukumnyamakruhkecualijikakitasikatgigitanpapasta gigi, hal itu tidaklah makruh asalkan kita lakukan sebelum tergelincirnya matahari. Tetapi jika kita menyikat gigi tanpa pasta gigi atau kita menggunakan siwak setelah tergelincirnya matahari maka hukumnya makruh menurut mazhab Imam Syafi’i yang dikukuhkan, akan tetapi menurut imam Nawawi hal itu tidaklah makruh.

Hal lain yang perlu diketahui jika kita melakukan yang makruh, seperti : memasukkan makanan ke mulut tanpa ditelan (main-main) lalu tiba-tiba tertelan dengan tidak sengaja maka hal itu membatalkan puasa, sebab hal yang makruh adalah hal yang hendaknya kita hindari biarpun tidak membatalkan puasa. Berbeda kalau kita memasukkan air ke mulut karena hal yang sunnah (misalnya berkumur dengan wajar dalam wudhu) atau untuk suatu yang wajib (seperti berkumur untuk mensucikan najis yang ada di mulut) maka kalau tiba-tiba tertelan dengan tidak sengaja hal itu tidaklah membatalkan puasa.

Yang ditanyakan adalah tentang sisa makanan yang di mulut, memang benar tidak membatalkan asalkan tidak ditelan dan asalkan sudah bersih mulut kita biarpun dengan ludah, maka sudah tidak membahayakan puasa kita karena sesuatu yang suci bisa menjadi bersih cukup dengan ludah. Berbeda jika sesuatu yang ada di mulut kita itu adalah sesuatu yang najis. Misal tanpa sengaja kita menggigit barang najis atau ada darah di mulut kita maka hal tersebut harus disucikan terlebih dahulu dengan air sebelum menelan ludahnya, sebab jika mulutnya belum disucikan dengan air maka air ludahnya telah bercampur dengan sesuatu yang najis, maka jika ditelan akan membatalkan puasa. Ada najis yang dimaafkan di mulut seperti orang yang punya gusi tidak sehat sehingga sering keluar darah maka hal yang semacam itu dimaafkan, artinya tidak membatalkan puasa jika tertelan. Berbeda dengan orang yang tergigit bagian mulutnya sehingga keluar darah maka jika tertelan darah tersebut akan membatalkan puasa.
Wallahu a’lam bish-shawab.

APAKAH MEMBICARAKAN ORANG LAIN ITU MEMBATALKAN PUASA?

APAKAH MEMBICARAKAN ORANG LAIN ITU MEMBATALKAN PUASA?

APAKAH MEMBICARAKAN ORANG LAIN ITU MEMBATALKAN PUASA?

Pertanyaan: Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya Yahya, saya mau bertanya, saya kan sedang puasa tapi saya selalu membicarakan orang apakah puasa saya batal? Saya dapat dosa tidak? Padahal saya membicarakan kebagusan orang itu?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Membicarakan orang lain bukan termasuk 9 hal yang membatalkan puasa. Akan tetapi para Ulama menjelaskan bahwa membicarakan kejelekan orang lain menjadikan pahala puasa yang dilakukan akan habis.

Tidak hanya sampai di situ saja, akan tetapi dosa menggunjing adalah sungguh amatlah sangat besar. Jika perzinaan adalah hina dan sangat hina maka menggunjing adalah lebih hina dari itu semua. Oleh sebab itu mari kita senantiasa menjaga lidah kita dari menggunjing orang lain.

Adapun membicaran kebaikan orang lain jika maksudnya adalah baik misalnya sebagai contoh untuk ditiru maka hal itu adalah sesuatu yang sangat dianjurkan. Jadi membicarakan kebaikan orang lain bukanlah menggunjing yang dilarang, tidak membatalkan puasa dan tidak menghilangkan pahalanya bahkan justru menambah pahala. Untuk keterangan lebih jelas silahkan download buku Fiqih Praktis Puasa di www.buyayahya.org
Wallahu a’lam bish-shawab.

HUKUM PUASA TAPI BELUM MANDI BESAR (JUNUB)

HUKUM PUASA TAPI BELUM MANDI BESAR (JUNUB)

HUKUM PUASA TAPI BELUM MANDI BESAR (JUNUB)

Pertanyaan: Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya, saya mau bertanya: Bagaimana hukumnya puasa orang yang mandi besar setelah terbit matahari karena tertidur, lalu bagaimana shalat subuh yang ditinggalkannya?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Orang yang berhadats besar (junub) di malam hari kemudian tidak sempat mandi hingga masuk waktu subuh baik itu karena tertidur atau sengaja menunda mandi sampai subuh, maka puasa orang tersebut adalah tetap sah.

Adapun jika ada orang tertidur lalu bangun setelah matahari terbit, maka wajib baginya melakukan shalat subuh (mengqadha). Hanya yang perlu diketahui jika ada orang meninggalkan shalat karena teledor dan mengentengkan shalat, maka dosanya sangat besar biarpun bisa diqadha. Marilah kita jaga shalat kita agar terhindar dari murka Allah. Wallahu a’lam bish-shawab.

HUKUM MELIHAT KEMALUAN ISTRI SAAT BERPUASA

HUKUM MELIHAT KEMALUAN ISTRI SAAT BERPUASA

HUKUM MELIHAT KEMALUAN ISTRI SAAT BERPUASA

Pertanyaan: Assallamu’alaikum Wr. Wb. Buya, saya mau tanya bagaimana hukum melihat kemaluan istri atau suami hingga bersyahwat ketika puasa ramadhan?
Terimakasih

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Melihat (mohon maaf) kemaluan istri bagi seorang suami adalah tidak haram begitu juga sebaliknya, akan tetapi hanya makruh saja. Disaat di bulan Ramadhan hukumnya adalah sama tidak haram dan hanya makruh. Kecuali jika melihat akan membangkitkan syahwatnya hingga keluar air mani atau menjadi bersenggama maka saat itu menjadi haram.

Jika hanya melihat saja biarpun dengan syahwat asal tidak sampai menyebabkan keluar mani atau melakukan persenggamaan maka itu tidak diharamkan. Sebab bersenggama (biarpun tanpa keluar mani) dan mengeluarkan air mani dengan sengaja adalah membatalkan puasa dan haram hukumnya.

Maka jika melihat kemaluan pasangan menyebabkan keluar mani atau bersenggama maka hukumnya haram. Karena melihatnya tersebut menyebabkan keharaman maka hukumnya yang semula tidak haram menjadi haram.
Wallahu a’lam bish-shawab.

HUKUM WANITA BERPUASA YANG MENGELUARKAN DARAH

HUKUM WANITA BERPUASA YANG MENGELUARKAN DARAH

HUKUM WANITA BERPUASA YANG MENGELUARKAN DARAH

Pertanyaan: Assalamu’alaikum Wr. Wb. Bagaimana jika puasa masih saja mengeluarkan darah tapi itu bukan haid? Darah keluar akibat efek penggunaan KB sampai 6 bulan melahirkan masih keluar darah bagaimana puasanya?
Sedang itu bukan darah mens atau nifas. Terimakasih

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Untuk mengetahui haid/bukan haid, itu bukan dengan pil KB, tapi mengikuti rumus haid. Pil KB tidak akan merubah rumus haid. Untuk mengetauhi darah itu haid atau nifas adalah dengan rumus khusus haid dan nifas.
Rumus haid ada 5:
1. Dia telah berusia 9 tahun hijriah atau lebih.
2. Darah keluar setelah didahului suci 15 hari 15 malam atau lebih.
3. Darah tidak kurang dari 24 jam (dalam jangka 15 hari). 4.Darah tidak lebih dari 15 hari .
5.Darah tidak didahului oleh kelahiran.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui:
1. Paling sedikitnya nifas adalah setetes
2. Paling banyaknya nifas adalah 60 hari
3. Umumnya darah nifas adalah 40 hari

Kaedah-kaedah mengetahui darah nifas:
1. Darah keluar setelah kelahiran janin atau bakal janin.
2. Bersihnya rahim dari kandungan.
3. Darah keluar sebelum berlalunya 15 hari dari saat melahirkan.
4. Darah keluar tidak boleh melebihi 60 hari dari saat melahirkan.
5. Waktu darah terputus tidak boleh melebihi 15 hari.

Jika memang terbukti dengan rumus itu bukanlah darah haid dan bukan darah nifas maka hukum puasanya adalah tetap sah (berarti itu adalah darah istihadhah) dan jika itu darah istihadhah maka baginya tetap wajib berpuasa dan wajib shalat, karena pada hakikatnya dia tidak haid dan nifas. Dalam masalah haid hendaknya melihat buku kami “Fiqih Haid Praktis”. Wallahu a’lam bish-shawab.

APA HUKUM MEMASTURBASIKAN SUAMI DI SIANG RAMADHAN?

APA HUKUM MEMASTURBASIKAN SUAMI DI SIANG RAMADHAN?

APA HUKUM MEMASTURBASIKAN SUAMI DI SIANG RAMADHAN?

Pertanyaan: Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya Yahya yang saya hormati, saya ingin bertanya apakah hukumnya memasturbasikan suami di bulan Ramadhan? sebagai ganti karena saya menolak ajakan suami saya Buya. Syukron Buya.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Mengeluarkan mani di siang hari bulan Ramadhan adalah membatalkan puasa sedangkan membatalkan puasa tanpa ada udzur (sebab yang diperkenankan oleh syariat) hukumnya haram dan dosa besar.

Maka bagi istri yang menolak melayani suami bersenggama di bulan Ramadhan adalah benar, akan tetapi kalau beralih membantu suami mengeluarkan mani dengan tangannya atau yang lainnya tetap salah dan berdosa karena membantu suaminya membatalkan puasa.

Sebaiknya seorang istri harus cerdas jika menemukan suami mempunyai syahwat yang besar hendaknya bisa membantunya untuk menghindar dari dosa dengan sebisa mungkin untuk bisa melayaninya di malam hari agar di siang harinya saat berpuasa bisa terkurangi syahwat tersebut.
Wallahu a’lam bish-shawab.

HUKUM BERSETUBUH DI SIANG HARI RAMADHAN

HUKUM BERSETUBUH DI SIANG HARI RAMADHAN

HUKUM BERSETUBUH DI SIANG HARI RAMADHAN

Pertanyaan: Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya Yahya yang terhormat, izinkanlah saya untuk bertanya kepada anda. Bagaimana hukumnya apabila sepasang suami istri melakukam hubungan intim pada siang hari di bulan Ramadhan? Apakah saya sebagai istri boleh menolak ajakan suami tersebut? Tolong jawabannya Buya, terima kasih.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Bersenggama di siang hari di bulan Ramadhan adalah membatalkan puasa jika tidak karena udzur (karena 9 sebab memperkenankan berbuka), hukumnya haram dan dosa besar bagi suami dan istri.

Bagi seorang istri wajib hukumnya menolak permintaan suami untuk melayaninya di siang hari bulan Ramadhan dan kalau seorang istri melayani, maka berdosa besar karena menolong suami berbuat dosa.

Memang seorang istri tidak terkena denda dan hukuman di dunia (kaffarah), akan tetapi ia akan mendapat hukuman di akhirat yang sangat mengerikan. Sedangkan bagi sang suami dikenai hukuman di akhirat dan di dunia dengan memerdekakan 1 budak, jika tidak ada maka harus puasa 2 bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka harus memberi makan 60 orang fakir miskin dengan setiap orangnya 1 mud (setara dengan 6,7 0ns).

Dalam berumah tangga jangan sampai ada pelanggaran-pelanggaran syariat seperti ini, karena pelanggaran hanya akan menghilangkan rahmat Allah yang akhirnya hilanglah keindahan dalam berumah tangga. Carilah kesenangan dan kebahagiaan dengan cara yang Allah ridhai. Wallahu a’lam bish-shawab.

PEKERJA BERAT, BOLEHKAH TIDAK BERPUASA?

PEKERJA BERAT, BOLEHKAH TIDAK BERPUASA?

PEKERJA BERAT, BOLEHKAH TIDAK BERPUASA?

Pertanyaan: Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Buya, saya bekerja merantau sebagai seorang tukangbangunan di sebuah proyek gedung bertingkat. Saya merasa sangat payah dalam pekerjaan saya. Bolehkah saya tidak berpuasa Buya?
Apakah nanti wajib qadha dan fidyah juga?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Salah satu dari 9 orang yang boleh meninggalkan puasa, yaitu orang sakit (dengan ketentuan-ketentuannya). Namun, disini juga bisa dibahas tentang orang-orang yang bekerja berat/para pekerja berat. Para pekerja keras boleh meninggalkan puasa ramadhan di saat dia benar-benar merasa berat dalam menjalankan puasa, dengan syarat:

1. Malam harinya harus tetap niat berpuasa lalu berpuasa di siang harinya sampai benar-benar sekiranya merasakan lemah/berat sekali/tidak kuat, maka diperbolehkan berbuka dengan memakan/meminum sekedarnya saja. Sekiranya untuk membangkitkan tenaga. Nanti jika merasakan lagi kelemahan yang sangat, maka diperbolehkan lagi makan/ minum sekedarnya saja.

2. Dia wajib mengqadha hari yang ia batalkan puasanya tersebut setelah melewati hari raya.

Haram hukumnya jika pekerja berat tersebut sudah berbuka dari awal pagi/tidak mencoba menjalankan puasanya terlebih dahulu semampunya. Karena dalam hal ini dia bisa saja membatalkan pekerjaannya. Semoga kita bisa meraih kemuliaan Ramadhan di tahun ini. Aamin.
Wallahu a’lam bish-shawab.

APA BENAR SETELAH 15 SYA’BAN TIDAK BOLEH PUASA

APA BENAR SETELAH 15 SYA’BAN TIDAK BOLEH PUASA

APA BENAR SETELAH 15 SYA’BAN TIDAK BOLEH PUASA

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Buya, apakah benar kalau sudah lewat tanggal 15 Sya’ban kita tidak boleh puasa?

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Menurut mazhab Imam Syafi’i yang dikukuhkan adalah haram (makruh karohatattahrim). Adapun menurut jumhur ulama dari Madzhab Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Imam Malik hukumnya tidak haram.
Haram hukumnya puasa setelah nisyfu Sya’ban menurut mazhab Imam Syafi’i. Akan menjadi tidak haram dengan 3 perkara:

1. Karena kebiasaan puasa, seperti orang yang biasa puasa Senin dan Kamis, maka ia pun boleh melanjutkan puasa Senin dan Kamis meskipun sudah melewati nisyfu Sya’ban.
2. Untuk mengganti (qadha) puasa, misalnya seseorang punya hutang puasa belum sempat mengganti sampai nisyfu Sya’ban, maka pada waktu itu berpuasa setelah nisyfu Sya’ban untuk qadha hukumnya tidak haram.

3. Dengan disambung dengan hari sebelum nisyfu Sya’ban, misalnya dia berpuasa tanggal 16 Sya’ban kemudian disambung dengan hari sebelumnya (yaitu tanggal 15 Sya’ban). Maka puasa di tanggal 16 tidak lagi menjadi haram.
Pendapat ulama Syafi’iyah yang mengatakan haram dan akan menjadi tidak haram dengan 3 hal tersebut di atas karena mengamalkan semua riwayat yang bersangkutan dengan hal tersebut.
Seperti Hadits yang diriwayatkan oleh:
a. Imam Tirmidzi, Imam Abu Daud AS dan Imam Ibnu
Majah:
” إذا انتصف شعبان فل تصوموا“

“Apabila sudah pertengahan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa.” (H.R. Al-Tirmidzi)

b. Imam

Bukhori dan Imam Muslim yang artinya:

رجل

ي ن� إال وال ي ْوم

ُْو ِم ي ْو ٍم ص

ب رَمضاَن

” ال تقد ُ ُموا

ص ْمه ”

ْوًما فل َي ص

كن يصوم

“Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan, kecuali seseorang yang punya kebiasaan puasa sunah, maka bolehlah ia berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

c. Hadits riwayat Imam Muslim:

ال ق ِليل ”

ش ْع َبان إ

ُم صو

كن ي

ُه َّك

ش ْع َبان

ُم صو

ي كن ”

“Nabi SAW biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya dan hanya sedikit saja hari-hari berbuka beliau di bulan Sya’ban” (HR. Imam Muslim).

Dari hadits-hadits di atas, hadits pertama Rasulullah SAW melarang puasa setelah nisyfu Sya’ban dan hadis kedua Rasulullah melarang puasa setelah nisyfu Sya’ban kecuali orang yang punya kebiasaan puasa sebelumnya. Hadits yang ketiga menunjukkan bahwa Rasulullah SAW puasa ke banyak hari-hari di bulan Sya’ban.

Kesimpulannya:
Berpuasalahsebanyak-banyaknyadibulan Sya’ban dari awal Sya’ban hingga akhir. Jangan berpuasa setelah tanggal 15 Sya’ban, kecuali engkau sambung dengan hari sebelumya, atau untuk mengganti puasa atau karena kebiasaan berpuasa di hari-hari sebelumnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

APAKAH ORANG YANG MENJALANKAN HUKUM SELAIN ISLAM ITU MENJADI KAFIR?

APAKAH ORANG YANG MENJALANKAN HUKUM SELAIN ISLAM ITU MENJADI KAFIR?

APAKAH ORANG YANG MENJALANKAN HUKUM SELAIN ISLAM ITU MENJADI KAFIR?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum. Wr Wb.
Buya, saya Ramdhan mau bertanya, bagaimana hukumnya orang yang melaksanakan hukum di Indonesia yang bukan hukum Islam? Apakah kita akan menjadi kafir seperti orang yang menjalankan hukumnya orang jahiliyah?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Hukum Jahiliyah adalah semua hukum yang bertentangan dengan syariat Nabi Muhammad SAW. Bisa di zaman dahulu dan juga bisa di zaman sekarang, bisa di Indonesia dan juga bisa di luar Indonesia. Wajib bagi setiap Muslim untuk menegakkan syari’at Islam. Dimulai dari diri sendiri dan keluarganya. Sungguh omong kosong orang menyeru mendirikan Negara Islam namun aurat istri dan anaknya tidak tertutup atau shalat/puasanya sendiri tidak benar. Mari kita mulai menegakkan syari’at Islam pada diri sendiri kemudian keluarga baru nanti keluar. Sebab hukum Islam ada 3 macam:

1. Hukum Fard, yaitu hukum yang berkenaan dengan orang perorang dan setiap orang bisa menegakkannya seperti shalat dan menutup aurat.

2. Hukum Qodho, yaitu hukum antar sesama yang harus diselesaikan oleh seorang qodhi atau hakim seperti persengketaan jual beli dan perselisihan dalam pernikahan.

3. Hukum Imamah, yaituhukumyanghanyaboleh diterapkan oleh Imam (Negara) dan justru jika ditangani oleh orang perorang akan rancuh dan berantakan, seperti : Hukum potong tangan, cambuk dalam perzinaan dan hukum mati bagi yang murtad.

Bagi siapapun yang tidak menjalankan hukum Islam, tidak serta merta dikatakan kafir. Dikatakan kafir, jika ia tidak menjalankan syariat Islam karena:

a. Meyakini hukum Islam tidak benar.
b. Meyakini hukum selain Islam lebih baik. Sesuai dengan firman Allah SWT:

هم الْكافِرون
(Q.S. Al-Maidah : 44)

َوَم ْن لَ ْم يَ ْح ُك ْم بَِمآ أَنـَْزَل اهللُ فَأُولَئِ َك

Bagi yang tidak menjalankan hukum Islam namun masih meyakini kalau syariat Islam adalah syariat yang paling benar, maka :

1) Jika dia tidak menjalankan hukum padahal tidak ada udzur atau paksaan, maka ia fasik dan dzhalim.

2) Jika dia tidak menjalankan hukum karena ada udzur atau dipaksa maka ia dimaafkan dan tetap muslim serta tidak dosa (seperti Amar bin Yasin).

Wallahu a’lam bish-shawab.