ADAKAH TARAWIH YANG BID’AH?

ADAKAH TARAWIH YANG BID’AH?

Muqaddimah
بِسْمِ اللّٰه الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, الَّذِيْ أَكْرَمَنَا بِشَهْرِ رَمَضَانَ, وَجَعَلَنَا مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ, وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَفْضَلِ الصَّائِمِيْنَ وَأَحْسَنِ الْقَائِمِيْنَ. حَبِيْبِنَا وَشاَفِعِنَا وَمَوْلاَناَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ “ إِنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيْكُمْ صِيَامَ رَمَضَانَ وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah mewajibkan kepada kalian puasa di bulan Ramadhan dan aku menganjurkan kepada kalian untuk menghidupkan (malamnya dengan ibadah), maka barang siapa yang berpuasa di siang harinya dan menghidupkan dengan ibadah di malam harinya karena iman dan mengharap pahala (dari Allah SWT), maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.”

Di saat menjelang bulan Ramadhan, mari kita beri semangat diri kita dalam menyambut Ramadhan. Sehingga ketika kita memasuki bulan Ramadhan benar-benar penuh dengan kesiapan lahir dan batin untuk menggapai kemenangan dan kejayaan di hadapan Allah SWT sebagai orang yang:
“مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ ”
“Kembali kepada Allah dengan pengampunan dan mendapat keberuntungan dan pahala yang besar”. Amin
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Ada amalan sunnah yang sangat dianjurkan bagi kaum Muslimin, yaitu shalat Tarawih. Namun ada sedikit keteledoran dan kesalahpahaman di dalam memahami shalat tarawih sehingga kadang shalat tarawih ini jadi sebab permusuhan di antara kaum Muslimin.
Sebenarnya masalah shalat tarawih sangat jelas, jadi kita tidak perlu membahas shalat tarawih akan tetapi tinggal mengamalkannya. Sebab para ulama terdahulu telah tuntas membahas cara, waktu dan bilangan rakaatnya.
Namun di saat terjadi perbedaan pendapat tentang bilangan dan caranya yang dimunculkan oleh segelintir orang akhir zaman, yang akhirnya menimbulkan fitnah, maka wajib bagi yang paham tentang Tarawih untuk menjelaskan dan memberi tahu yang belum paham. Padahal jika ada seseorang yang tidak mengerjakan shalat tarawih pun tidak menjadi masalah karena ini amalan sunnah.
Yang menjadi masalah lebih besar lagi adalah karena adanya sebuah fatwa yang disebutkan oleh orang yang baru meninggal sekitar beberapa tahun lalu, bahwasanya shalat tarawih lebih dari 11 rakaat adalah bid’ah. Maka dari itu kita berkewajiban menjelaskan dan membela orang yang dianggap melakukan sesuatu yang bid’ah padahal tidak demikian. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua, Amin.

BILANGAN SHALAT WITIRNYA RASULULLAH SAW

Shalat witir adalah amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW, baik di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan, dan sekaligus ini adalah amalan yang sangat sunnah bagi umat beliau lebih khusus lagi adalah jika dilakukan pada malam-malam bulan Ramadhan.
Untuk menyatakan bahwasanya ini adalah sunnah yang dikukuhkan, mari kita lihat riwayat-riwayat dari Rasulullah SAW tentang shalat witir beliau:
Hadits riwayat Imam Al-Bukhari No. 990 jilid 2 hal. 404: عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلاَةِ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَم صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى.

Dari Ibnu Umar RA seorang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Shalat malam, maka Rasulullah SAW bersabda: “Shalat malam itu 2 rakaat-2 rakaat, akan tetapi apabila salah seorang di antara kalian khawatir akan masuk waktu shalat Shubuh, maka shalatlah 1 rakaat sebagai witir.”

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari No. 995 jilid 2 hal. 409:
حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ سِيرِينَ قَالَ قُلْتُ لاِبْنِ عُمَرَ أَرَأَيْتَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ أُطِيلُ فِيهِمَا الْقِرَاءَةَ فَقَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى وَيُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَيُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ وَكَأَنَّ اْلأَذَانَ بِأُذُنَيْهِ قَالَ حَمَّادٌ أَيْ سُرْعَةً.

Telah bercerita kepada kami Sayyidina Anas bin Sirin RA beliau berkata: “Aku bertanya kepada Ibnu Umar RA shalat apakah 2 raka’at sebelum shalat Shubuh dan aku memperpanjang bacaan di 2 rakaat tersebut? Maka Ibnu Umar RA berkata “Rasulullah SAW melakukan shalat malam 2 rakaat – 2 rakaat kemudian menutupnya dengan witir 1 rakaat, kemudian beliau shalat 2 rakaat sebelum Shubuh dan seolah-olah adzan Shubuh (terdengar) di kedua telinganya”. Hammad berkata: “Yakni cepat” (jarak antara shalat 2 rakaat terakhir Rasulullah SAW dengan masuknya waktu Shubuh sangat dekat sekali).
Hadits riwayat Imam Al-Bukhari No. 997 jilid 2 hal. 411:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَأَنَا رَاقِدَةٌ مُعْتَرِضَةً عَلَى فِرَاشِهِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُوتِرَ أَيْقَظَنِي فَأَوْتَرْتُ.
Dari Sayyidah Aisyah RA beliau berkata: “Rasulullah SAW melakukan shalat sedangkan aku tidur melintang di atas kasurnya, ketika beliau hendak melakukan shalat witir beliau membangunkanku kemudian aku melakukan shalat witir”.

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 998 jilid 2 hal. 412 :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا.
Dari Abdullah Bin Umar ra dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda: “Jadikanlah Witir sebagai penutup Shalat malam kalian”.

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari No. 999 jilid 2 hal. 413:
عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ أَسِيرُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بِطَرِيقِ مَكَّةَ فَقَالَ سَعِيدٌ فَلَمَّا خَشِيتُ الصُّبْحَ نَزَلْتُ فَأَوْتَرْتُ ثُمَّ لَحِقْتُهُ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ أَيْنَ كُنْتَ فَقُلْتُ خَشِيتُ الصُّبْحَ فَنَزَلْتُ فَأَوْتَرْتُ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ أَلَيْسَ لَكَ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أسْوَةٌ حَسَنَةٌ فَقُلْتُ بَلَى وَاللَّهِ قَالَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ عَلَى الْبَعِيرِ.
Dari Said bin Yasar RA sesungguhnya beliau berkata: “Dahulu aku berjalan pada malam hari bersama Abdullah bin Umar di salah satu jalan di Makkah, kemudian beliau (Sa’id) berkata: “Ketika aku khawatir waktu Shubuh (menjelang), maka aku turun kemudian melakukan shalat witir kemudian aku menyusul Abdullah Bin Umar lalu beliau bertanya “Kemana saja kamu?”, kemudian aku menjawab “Aku khawatir masuk waktu Shubuh, maka dari itu aku turun dan melakukan shalat witir.” Kemudian Abdullah bin Umar berkata: “Bukankah Rasulullah SAW suri tauladan yang baik?” Maka aku menjawab: “Ya, demi Allah.” Abdullah Bin Umar berkata: “Sungguh Rasulullah SAW pernah melakukan shalat witir di atas unta.”

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari No. 1000 jilid 2 hal. 414:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي السَّفَرِ عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ يُومِئُ إِيمَاءً صَلاَةَ اللَّيْلِ إِلاَّ الْفَرَائِضَ وَيُوتِرُ عَلَى رَاحِلَتِهِ.
Dari Ibnu Umar RA beliau berkata: “Nabi Muhammad SAW melakukan shalat di saat bepergian di atas untanya kemana pun untanya tersebut menghadap, beliau melakukan shalat malam (dengan cara seperti itu) selain shalat fardhu kemudian melakukan shalat witir di atas untanya.”

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari 1094 jilid 4 hal 334:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِاللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ يُصَلِّي إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ بِالصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ.

Sayyidah Aisyah RA berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah melakukan shalat malam 13 rakaat, kemudian Rasulullah SAW melakukan Shalat 2 rakaat yang ringan ketika mendengar adzan Shubuh.”

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 1079 jilid 4 hal. 319:
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي.

Dari Abu Salamah bin Abdurrahman, suatu ketika beliau bertanya kepada Sayyidah Aisyah RA tentang shalatnya Rasulullah SAW di bulan Ramadhan, maka Sayyidah Aisyah RA menjawab. “Rasulullah SAW tidak menambah lebih dari 11 raka’at baik di bulan Ramadhan atau diluar ramadhan, beliau melakukan shalat 4 rakaat dan jangan engkau bertanya tentang kebagusan dan panjangnya Shalat beliau, kemudian beliau melakukan shalat 4 rakaat lagi, dan jangan engkau bertanya kebagusan dan panjangnya, kemudian beliau melakukan shalat 3 rakaat”. Kemudian Sayyidah Aisyah RA berkata: “Wahai Rasulullah SAW apakah engkau tidur sebelum melakukan shalat witir? Maka Rasulullah SAW SAW menjawab: “Wahai Aisyah, memang benar mataku tertidur, akan tetapi hatiku tidak tidur”.

Hadits riwayat Imam Muslim no. 1222 jilid 4 hal. 92:
عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ تَقُولُ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اللَّيْلِ عَشَرَ رَكَعَاتٍ وَيُوتِرُ بِسَجْدَةٍ وَيَرْكَعُ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فَتِلْكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

Dari Al-Qosim bin Muhammad, beliau berkata: “Aku mendengar Sayyidah Aisyah RA berkata: “Shalatnya Rasulullah SAW pada malam hari itu 10 rakaat dan ditutup dengan 1 rakaat, kemudian beliau melakukan shalat 2 rakaat maka terkumpulah shalat beliau menjadi 13 rakaat.”

Hadits riwayat Imam At-Tirmidzi no. 240 jilid 2 hal 263:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً فَلَمَّا كَبِرَ وَضَعُفَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ.

Dari Ummu Salamah RA beliau berkata: “Nabi Muhammad SAW melakukan shalat witir 13 rakaat, namun ketika beliau mulai lanjut usia dan lemah, maka beliau melakukan shalat witir 7 rakaat”.

Keterangan:
Kalau kita lihat dari hadits-hadits tersebut di atas, sungguh Rasulullah SAW begitu menghimbau untuk melakukan shalat witir dan menghimbau kita untuk memperbanyak melakukan shalat witir hingga 11 rakaat bahkan sampai 13 rakaat.
Adapun bagi orang yang ingin mengurangi dari bilangan tersebut hendaknya diupayakan tidak kurang dari 3 rakaat.

Sampai dikatakan oleh para ulama bahwasanya 3 rakaat adalah derajat kesempurnaan shalat witir yang paling rendah (أَقَلُّ الْكَمَالِ) , kecuali bagi seseorang yang memiliki waktu yang sempit dan tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan shalat witir 3 rakaat, maka hendaknya ia melakukan shalat witir 1 rakaat. Yang terpenting adalah jangan sampai tidak melakukan shalat witir sama sekali.

Kesimpulan:
1. Pendapat yang dikukuhkan kebanyakan ulama, bahwa bilangan witir terbanyak adalah 11 rakaat, inilah yang dilazimi oleh Rasulullah SAW.
2. Witir 13 rakaat adalah pendapat sebagian kecil para ulama.
3. Paling sedikitnya witir adalah 1 rakaat.

BILANGAN SHALAT TARAWIHNYA RASULULLAH SAW

Tidak ada riwayat tentang batasan shalat tarawihnya Rasulullah SAW di malam bulan Ramadhan, yang jelas pada malam-malam di bulan Ramadhan Rasulullah SAW memperbanyak ibadah dengan ibadah-ibadah yang tidak pernah Rasulullah SAW lakukan di luar bulan Ramadhan.
Hadits-hadits yang berkenaan dengan ibadah malam Ramadhan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW:

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 1061 jilid 4 hal 290 dan Imam Muslim no. 1270 jilid 4 hal. 148:
وَقَالَتْ السَّيِّدَةُ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوْا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ :” قَدْ رَأَيْتُ الَّذِيْ صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِيْ مِنَ الْخْرُوْجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّيْ خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ “ وَذَلِكَ فِيْ رَمَضَانَ.
Sayyidah Aisyah RA berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam melakukan shalat di masjid, kemudian ada orang-orang yang mengikutinya melakukan shalat (berjama’ah), kemudian malam berikutnya Nabi Muhammad SAW melakukan shalat lagi dan orang-orang bertambah banyak, lalu pada malam ke 3 atau 4 orang-orang berkumpul dan Nabi Muhammad SAW tidak keluar kepada mereka (untuk melakukan shalat), ketika menjelang pagi hari Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sungguh aku tahu apa yang kalian lakukan (semalam: yakni berkumpul untuk shalat). Sungguh tak ada yang mencegahku untuk keluar melainkan aku khawatir shalat tersebut diwajibkan kepada kalian”. Hal ini terjadi pada bulan Ramadhan (yakni shalat tarawih).

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 689 jilid 3 hal 165:
عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ حُجْرَةً قَالَ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ مِنْ حَصِيرٍ فِي رَمَضَانَ فَصَلَّى فِيهَا لَيَالِيَ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَلَمَّا عَلِمَ بِهِمْ جَعَلَ يَقْعُدُ فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ قَدْ عَرَفْتُ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ صَنِيعِكُمْ فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ.

Dari Zaid Bin Tsabit RA, “Sesungguhnya Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan masuk ke kamar yang terdapat di dalamnya tikar kemudian Rasulullah SAW shalat di kamar tersebut selama beberapa malam, kemudian orang-orang dari para sahabat ikut shalat, setelah Rasulullah SAW mengetahui akan hal tersebut (mengikutinya shalat), maka beliau duduk (tidak keluar untuk sementara) kemudian keluar menemui mereka dan bersabda: “Sungguh aku telah tahu dan melihat apa yang kalian perbuat, maka shalatlah kalian di rumah kalian karena sebaik-baik shalatnya seseorang adalah di rumahnya selain shalat fardhu.”

Hadits riwayat Imam Muslim no. 1271 jilid 4 hal 149:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَتْ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلاَتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ يَتَحَدَّثُونَ بِذَلِكَ فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةِ فَصَلَّوْا بِصَلاَتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ يَذْكُرُونَ ذَلِكَ فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ فَصَلَّوْا بِصَلاَتِهِ فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَفِقَ رِجَالٌ مِنْهُمْ يَقُولُونَ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى خَرَجَ لِصَلاَةِ الْفَجْرِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ ثُمَّ تَشَهَّدَ فَقَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ شَأْنُكُمْ اللَّيْلَةَ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ صَلاَةُ اللَّيْلِ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا.
DarI Sayyidah Aisyah RA beliau berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar di tengah malam dan melakukan shalat di masjid, kemudian orang-orang dari para sahabat Nabi mengikutinya Shalatnya Rasulullah SAW (berjamaah), di keesokan harinya orang-orang pada membicarakan hal tersebut, maka orang-orang yang berkumpul makin banyak kemudian Rasulullah SAW keluar pada malam yang ke-2 dan esok harinya orang-orang membincangkan hal tersebut, hingga pada malam ke-3 orang-orang di masjid bertambah banyak kemudian Rasulullah SAW keluar untuk shalat bersama mereka, akan tetapi pada malam ke-4 masjid tidak mampu menampung (para sahabat), maka Rasulullah SAW tidak keluar, kemudian ada seseorang yang berkata: Shalat!!! Namun demikian Rasulullah SAW tidak keluar sampai pada akhirnya beliau keluar di waktu shalat Shubuh, setelah melakukan Shalat beliau menghadap kepada orang-orang kemudian membaca Syahadat dan bersabda: “Sungguh aku mengetahui apa yang kalian lakukan semalam, akan tetapi aku khawatir shalat malam (tarawih) tersebut diwajibkan atas kalian kemudian kalian tidak mampu melaksanakannya.”
Dari riwayat-riwayat tersebut di atas sangat jelas bahwa bilangan shalat malam Rasulullah SAW di bulan Ramadhan (tarawih) tidak ditentukan bilangannya dan tidak ada riwayat khusus yang dinukil dari Rasulullah SAW tentang bilangan rakaat shalat tarawih.

BILANGAN SHALAT TARAWEH PADA MASA SAHABAT

Bilangan rakaat shalat tarawih pada masa sahabat RA yaitu dimulai dari masa Sayyidina Umar bin Khaththab RA yang perlu dicermati:
Pertama, beliau (Sayyidina Umar) mengambil bilangan 20 rakaat sementara tidak ada riwayat dari Rasulullah SAW yang menjelaskan bilangan tersebut.
Kedua, kita semua juga mengenal siapa Sayyidina Umar bin Khaththab RA, Sayyidina Utsman bin ‘Affan RA, Sayyidina Ali bin Abi Thalib beserta ribuan sahabat Nabi yang lainnya.
Ketiga, pada kenyataan dan sudah benar-benar terbukti akan kebenaran riwayat tentang Shalat Taraweh 20 rakaat itu dari Sayyidina Umar bin Khaththab RA. seperti yang akan kami sebutkan dalam pembahasan selanjutnya.
Maka tidak ada lagi bagi kita kecuali harus mengikutinya. Itulah yang dilakukan oleh para Imam 4 Mazhab. Mengikuti para Khulafaur Rasyidin adalah termasuk mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوْا عَلَيْهَا
بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ (رواه أبو داود والترمذي وقال: حديث حسن صحيح)

“Hendaknya kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khalifah yang bijak dan yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah dengan sunnah tersebut dan berhati-hatilah kalian dengan perkara yang diada-ada karena setiap bid’ah itu sesat”.
(HR Imam Abu Daud dan Imam Tirmidzi, Imam Tirmidzi berkata hadits tersebut Hasan Shahih.)

Rasulullah SAW bersabda:
“اِقْتَدُوْا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِيْ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ” (رَوَاهُ اَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهٍ عَنْ حُذَيْفَةَ)
“Ikutilah 2 orang setelahku yaitu Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar”. (HR Imam Ahmad, Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah dari Hudzaifah)

Riwayat-riwayat tentang shalat tarawihnya para sahabat Nabi:
Hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 2012 jilid 5 hal. 142:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ الْقَارِىِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ- رضى الله عنه – لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ، إِلَى الْمَسْجِدِ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّى الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ، وَيُصَلِّى الرَّجُلُ فَيُصَلِّى بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ أَنِّيْ أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ. ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ، ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ، قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ، وَالَّتِى يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ ، وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ.
Dari Abdurrahman bin Abdul Qari beliau berkata: “Aku keluar bersama Sayyidina ‘Umar bin Khaththab RA pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang pada melakukan shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang melakukan shalat sendiri dan ada yang melakukan shalat kemudian diikuti oleh makmum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka Sayyidina Umar berkata: “Aku berpikir bagaimana seandainya mereka aku kumpulkan semuanya agar berjamaah dengan dipimpin oleh satu orang imam, tentu hal itu akan lebih baik.”. Kemudian Sayyidina Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jamaah yang dipimpin oleh Sayyidina Ubay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jamaah dengan dipimpin seorang Imam, lalu Sayyidina Umar berkata, “ini adalah Sebaik-baik bid’ah” (hal baru yang diadakan). Dan mereka yang tidur terlebih dahulu (kemudian Shalat) itu lebih baik daripada yang shalat di awal malam (kemudian tidur).”

Hadits riwayat Imam Al-Baihaqi no. 4801 jilid 2 hal. 496:
عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ : كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً – قَالَ – وَكَانُوا يَقْرَءُونَ بِالْمِئِينِ، وَكَانُوا يَتَوَكَّئُونَ عَلَى عُصِيِّهِمْ فِى عَهْدِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ شِدَّةِ الْقِيَامِ.

Diriwayatkan dari As-Saib bin Yazid RA, beliau berkata: “Mereka (para sahabat) melakukan Qiyam Ramadhan (shalat tarawih) pada masa Sayyidina Umar bin Al-Khatthab RA sebanyak 20 rakaat”, beliau berkata: “Mereka membaca surat yang ayatnya 100 ayat lebih, sedangkan pada masa Sayyidina Utsman bin Affan RA mereka bersandaran pada tongkat mereka dikarenakan lamanya berdiri.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik no. 252 jilid 1 hal 115:
عَنْ يَزِيْدَ بْنِ رُوْمَانَ قَالَ :“ كَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ فِيْ زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – بِثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ رَكْعَةً ”. يَعْنِيْ يُصَلُّوْنَ التَّرَاوِيْحَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً وَيُوْتِرُوْنَ بِثَلاَثِ رَكَعَاتٍ.

Dari Yazid bin Ruman beliau berkata: “Orang-orang pada masa Sayyidina Umar bin Khatthab melakukan qiyam (shalat tarawih) 23 rakaat”. Yakni mereka shalat tarawih 20 rakaat dan shalat witir 3 rakaat.

SHALAT TARAWIH 8 RAKAAT

Bagi orang yang mengenal hadits-hadits Nabi Muhammad SAW dan perkataan para ulama, tentu amat sangat mudah untuk mengetahui bahwasanya bilangan shalat tarawih 8 rakaat itu bukan bilangan shalat tarawihnya Nabi Muhammad SAW dan juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat-sahabat beliau khususnya para Khulafaur Rasyidin.

Maka, jika ada yang mengikuti pendapat (tarawih 8 rakaat) lalu berhujjah ini adalah bilangan tarawih Nabi Muhammad SAW, sungguh ini adalah hal yang tidak dibenarkan, apalagi hujjah yang mereka keluarkan adalah hujjah yang tidak semestinya digunakan untuk shalat tarawih, yaitu hujjah tentang shalat witirnya Rasulullah SAW, seperti yang telah kami sebutkan dalam pembahasan shalat witir di awal risalah ini.
Sungguh sangat mengherankan lagi jika muncul orang yang memilih shalat tarawih hanya 8 rakaat kemudian dengan serta merta menyalahkan orang yang melakukan shalat tarawih 20 rakaat bahkan membid’ahkannya.

Kalau kita cermati, bahwasanya shalat tarawih 20 rakaat atau yang 8 rakaat bukanlah bilangan tarawihnya Rasulullah SAW dan keduannya adalah sunnah Nabi SAW, dalam arti sama-sama shalat malam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW di bulan Ramadhan. Akan tetapi ada sedikit perbedaan bahwa 8 rakaat bukan bilangan yang dilakukan Sahabat Nabi dan 20 rakaat adalah bilangan yang dilakukan para sahabat.
Kesimpulannya, yang melakukan 8 rakaat telah menjalankan sunnah Nabi SAW dalam qiyamullail dan yang melakukan 20 rakaat telah melakukan sunnah Nabi dan sunnah Khulafaur Rasyidin.

Yang harus disadari fitnah perpecahan terjadi bukan karena seseorang tidak melakukan tarawih atau melakukan tarawih dengan bilangan tertentu, akan tetapi perpecahan terjadi karena kesombongan sebagian orang yang begitu mudah menyalahkan dan membid’ahkan orang lain dan ulama terdahulu.
Risalah ini dihadirkan bukan untuk menghujat orang yang melakukan shalat tarawih 8 rakaat. Sebab berapa pun rakaat yang dilakukan seseorang akan masuk dalam ibadah (qiyamullail) yang diterima di bulan Ramadhan.

Karena munculnya kesalah-pahaman sebagian orang yang beranggapan bahwa tarawihnya Rasulullah SAW adalah hanya 8 rakaat kemudian menganggap yang lebih dari itu adalah salah bahkan kadang dengan anggapan bid’ah, maka kami perlu untuk menghadirkan pemahaman ulama terdahulu (salaf) agar ada pencerahan bagi semua yang sering berprasangka buruk kepada sesama kaum Muslimin.

HADITS YANG DIANGGAP HUJJAH SHALAT TARAWIH 8 RAKAAT

Hadits riwayat Imam Ibnu Hibban dan Imam Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dalam Kitab shahihnya:
عَنْ جَابِرٍ: ”أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ ثَمَانِ رَكَعَاتٍ وَالْوِتْرَ ثُمَّ انْتَظَرُوْهُ فِي الْقَابِلَةِ يَخْرُجُ إِلَيْهِمْ”
Dari Jabir: “Sesungguhnya Rasulullah SAW melakukan shalat tarawih bersama para sahabat sebanyak 8 rakaat kemudian shalat witir, kemudian mereka menunggu Rasulullah SAW keluar di malam berikutnya”.

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 1079 jilid 4 hal. 319:
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي.
Dari Abu Salamah bin Abdurrahman, suatu ketika beliau bertanya kepada Sayyidah Aisyah RA tentang shalatnya Rasulullah SAW di bulan Ramadhan, maka Sayyidah Aisyah RA menjawab: “Rasulullah SAW tidak menambah lebih dari 11 rakaat baik di bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan, beliau melakukan shalat 4 rakaat dan jangan engkau bertanya tentang kebagusan dan panjangnya Shalat beliau, kemudian beliau melakukan shalat 4 rakaat lagi, dan jangan engkau bertanya kebagusan dan panjangnya, kemudian beliau melakukan shalat 3 rakaat”. Kemudian Sayyidah Aisyah RA berkata: “Wahai Rasulullah SAW apakah engkau tidur sebelum melakukan shalat witir?” Maka Rasulullah SAW menjawab: “Wahai Aisyah, memang benar mataku tertidur akan, tetapi hatiku tidak tidur.”
Dari 2 riwayat tersebut, mereka menyimpulkan bahwa shalat tarawih Rasulullah SAW adalah 11 rakaat, 8 rakaat shalat tarawih dan 3 shalat witir.

PENJELASAN ULAMA TENTANG HADITS SHALAT TARAWIH 8 RAKAAT
Adapun hadits yang pertama yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Ibnu Khuzaimah dari Jabir Bin Abdullah, ini menurut para ulama adalah sangat lemah (dha’if) sekali. Sebab dalam hadits ini ada ‘Isa bin Jariyah, menurut Ibnu Ma’in dan Daud ia adalah perawi “Munkar Al-Hadits”, Ibnu Adi berkata bahwasanya hadits-hadits yang diriwayatkan dari ‘Isa bin Jariyah tersebut tidak bisa diambil untuk dijadikan landasan amal, maka dari itu As-Saji dan Al-‘Aqili memasukkan hadits ini ke dalam hadits yang dha’if.
Disebutkan dalam kitab At-Tahdzib karya Imam Ibnu Hajar jilid 8 hal. 207 bahwasanya dalam sanad hadits tersebut terdapat Ya’qub bin Abdullah Al-Qummi, Imam Ad-Daruqutni berkata: “Ya’qub bin Abdullah Al-Qummi bukanlah perawi yang kuat hafalannya”.

Maka dari itu, hadits tersebut sangat tidak bisa dijadikan hujjah. Oleh sebab itulah, Imam Ash-Shan’ani menukil dari Imam Az-Zarkasyi dalam Kitab Al-Khadim, beliau mengatakan:
“ بَلِ الثَّابِتُ فِي الصَّحِيْحِ الصَّلاَةُ مِنْ غَيْرِ ذِكْرٍ بِالْعَدَد“
“Adapun yang shahih (benar) tentang shalat tarawih adalah tidak ada penyebutan bilangannya (yakni tidak ada batasan raka’atnya)”. (Subulus Salam jilid 2 hal. 10)

Seandainya hadits ini benar, ini hanya sekedar berandai-andai, maka yang sesuai dengan riwayat-riwayat yang lain menunjukkan bahwa hadits ini berisi berita tentang shalat witirnya Rasulullah SAW dengan salah satu dari 2 kemungkinan:
Rasulullah SAW melakukan witir 8+1= 9 rakaat
Rasulullah SAW melakukan witir 8+3= 11 rakaat
Makna ini sungguh sangat tepat dan sesuai dengan hadits-hadits yang lainnya. Sementara sudah sangat jelas bahwa di dalam hadits tersebut tidak menjelaskan shalat tarawih Rasulullah SAW adalah 8 + 3 =11 rakaat.
Akan tetapi dalam riwayat tersebut Nabi Muhammad SAW melakukan shalat 8 rakaat ditutup dengan 1 witir.
Makna witir pada asalnya digunakan untuk 1, seperti disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim:
إِنَّ اللهَ وِتْرٌ
“Sesungguhnya Allah adalah witir (satu)”.
Witir baru bisa digunakan untuk makna 3, 5 dan seterusnya jika ada keterangan (qarinah).
Jika kita maknai witir dalam hadits tersebut adalah 1 rakaat, kemudian yang 8 rakaat adalah shalat tarawih, ini berarti shalat witirnya Rasulullah SAW hanya 1 rakaat dan ini sungguh tidak seiring dengan hadits yang lainnya khususnya hadits Sayyidah Aisyah RA.
Jadi kesimpulannya kalau seandainya hadits itu benar maka maknanya adalah berita tentang shalat witirnya Rasulullah SAW dengan cara 8+1 = 9 rakaat atau 8+3 = 11 rakaat.

Akan tetapi karena hadits tersebut adalah lemah, maka semestinya tidak perlu dibahas. Sebab sudah ada hadits yang lebih kuat dan lebih jelas maknanya.
Sedangkan hadits yang ke-2 yaitu hadits riwayat Sayyidah Aisyah, hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah bahwa shalat tarawih adalah 8 rakaat dan witir adalah 3 rakaat. Karena hadits tersebut hanya berbicara tentang witirnya Rasulullah SAW yang 11 rakaat dan bukannya Rasulullah SAW melakukan shalat tarawih 8 rakaat dan shalat witirnya 3 rakaat.

Sebuah pertanyaan yang harus direnungi: Darimana datangnya pemahaman bahwa di sini Rasulullah SAW melakukan shalat witir hanya 3 rakaat, lalu yang 8 rakaat adalah shalat tarawih?
Berarti seolah-olah Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan yang seharusnya Rasulullah memperbanyak shalat, justru mengurangi bilangan rakaat shalat witirnya dari 11 rakaat menjadi 3 rakaat. Anggaplah shalat tarawih Rasulullah adalah 8 rakaat dan3 rakaat witir.

Padahal sudah jelas dalam hadits riwayat Sayyidah Aisyah RA tersebut di atas Rasulullah SAW melakukan shalat 4 + 4 + 3 rakaat = 11 rakaat, kemudian Sayyidah Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah SAW, apakah engkau tidur sebelum melakukan shalat witir?”
Sangat jelas bahwa ini adalah pertanyaan tentang shalat witirnya Rasulullah SAW secara umum bukan keterangan tentang witir Rasulullah SAW 3 rakaat. Sebab di situ Sayyidah Aisyah RA tidak bertanya: “Wahai Rasulullah SAW apakah engkau tidur sebelum melakukan shalat witir 3 rakaat?”
Dari mana mana hadits tersebut disimpulkan bahwa shalat witir Rasulullah SAW adalah 3 rakaat? Kenapa tidak disimpulkan dengan riwayat lain yang shahih bahwa Rasulullah SAW sering melakukan shalat witir 11 rakaat agar antara hadits dengan hadits yang lain seiring dan seirama?
Adapun cara melakukan shalat witir 11 rakaat bisa dilakukan dengan cara berikut ini:
2+2+2+2+2+1 = 11 rakaat
2+2+2+2+3 = 11 rakaat
4+4+3 = 11 rakaat
4+4+2+1 = 11 rakaat
8+3 = 11 rakaat
10+1 = 11 rakaat

Dalam riwayat lain disebutkan:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ : لاَ تُوتِرُوْا بِثَلاَثٍ، أَوْتِرُوْا بِخَمْسٍ أَوْ سَبْعٍ وَلاَ تُشَبِّهُوْا بِصَلاَةِ الْمَغْرِبِ. رَوَاهُ الدَّارُ قُطْنِيُّ
Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian shalat witir 3 rakaat, akan tetapi shalat witirlah 5 atau 7 rakaat dan jangan kalian serupakan dengan shalat Maghrib”. Hadits riwayat Imam Ad-Daruqutni (no. 1 jilid 2 hal 24) dengan sanad dan perowi yang tsiqah (dapat dipercaya). Dipahami para ulama bahwa hadits ini bukan larangan shalat witir 3 rakaat akan tetapi larangan menyerupai shalat maghrib, sekali himmbauan untuk memperbanyak shalat witir.

Bagaimana mungkin Rasulullah SAW melakukan shalat witir 3 rakaat terus-menerus khususnya di bulan Ramadhan, sedangkan beliau sendiri menganjurkan agar kita tidak hanya melakukan witir 3 rakaat. Sungguh hal ini sangat jauh dari kesempurnaan dan kecintaan Rasulullah SAW kepada ibadah. Adapun riwayat yang mengatakan Rasulullah SAW melakukan shalat witir 3 rakaat atau kurang dari 11 rakaat itu untuk menjelaskan bahwa yang 11 rakaat bukanlah sebuah keharusan, akan tetapi tetap boleh kurang dari 11 rakaat bahkan 1 rakaat pun juga boleh.
“Telah diriwayatkan bahwasanya shalat witirnya Rasulullah SAW sampai 13, atau 11, 9, 7, 5, 3 dan 1 rakaat.”

Sehingga bisa diambil kesimpulan bahwasanya shalat witirnya Rasulullah SAW di luar bulan Ramadhan saja hingga sampai 11 rakaat seperti yang dikatakan oleh kebanyakan ulama atau sampai 13 rakaat seperti yang dikatakan oleh sebagian kecil ulama. Pemahaman ini diambil dari hadits-hadits Nabi yang sangat jelas dan shahih seperti yang kami sebutkan dalam pembahasan bilangan shalat witirnya Rasulullah SAW.

Di luar Ramadhan saja witir Nabi Muhammad SAW sampai 11 rakaat, bagaimana di bulan Ramadhan di bulan ibadah Nabi Muhammad SAW mengurangi shalat witir hingga 3 rakaat? Sungguh ini sangat bertentangan dengan himbauan Rasulullah SAW untuk memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan.

Ada dua hal yang harus dicermati:
Pertama; Bahwa 11 rakaat adalah shalat witir di dalam bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan. Ungkapan di luar Ramadhan ini sangat jelas maknanya bahwa Siti Aisyah RA bukan berbicara tentang tarawih, karena di luar Ramadhan tidak ada tarawih.
Kedua; Setelah Siti Aisyah melihat Shalat Rasulullah SAW 11 rakaat, kemudian Siti Aisyah bertanya: “Apakah engkau tidur sebelum melakukan shalat witir Ya Rasulullah SAW?” Siti Aisyah adalah orang cerdas tidak mungkin beliau bertanya sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan apa yang dilihatnya. Artinya jelas-jelas saat itu Siti Aisyah bertanya tentang shalat yang bilangannya 11 yang dilakukan oleh Nabi SAW setelah tidur. 11 rakaat itu disebut oleh Siti Aisyah dalam pertanyaanya dengan “witir”.

Riwayat dari Sayyidah Aisyah berbeda-beda dalam permasalahan ini, dalam satu riwayat beliau mengatakan: “Rasulullah SAW tidak pernah menambah di bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan hingga melebihi 11 rakaat”, seperti tersebut diatas.
Akan tetapi dalam riwayat lain dari Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim Sayyidah Aisyah RA berkata:
كَانَ يُصَلِّيْ مِنَ اللَّيْلِ عَشَرَ رَكَعَاتٍ وَيُوْتِرُ بِسَجْدَةٍ.
“Rasulullah SAW melakukan shalat pada malam hari dengan 10 rakaat dan dengan 1 rakaat”.
Apakah dengan hadits ini lalu kita katakan shalat tarawehnya Rasulullah SAW berubah menjadi 10 rakaat dan witirnya 1 rakaat? Tentu tidak, karena hadits ini tidak menjelaskan shalat tarawih dan witir, akan tetapi tentang shalat witir dengan bilangan 10 + 1 = 11 rakaat.

Dalam riwayat yang lainnya Sayyidah Aisyah ra berkata:
أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّيْ مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةٍ رَكْعَةً ثُمَّ يُصَلِّيْ إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيْتَيْنِ فَكَانَتْ خَمْسَ عَشْرَةٍ رَكْعَةً
“Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah melakukan shalat malam 13 rakaat, kemudian Rasulullah SAW Shalat 2 rakaat yang ringan ketika mendengar Adzan Shubuh, maka Shalat malam Rasulullah SAW menjadi 15 rakaat” (HR. Imam Muslim).

Hadits ini sangat sesuai dengan riwayat yang mengatakan bahwa shalat witirnya Rasulullah SAW adalah sampai 13 rakaat Imam As-Shan’ani berkata di dalam kitab Subulus Salam:
“ إِعْلَمْ أَنَّهُ قَدِ اخْتَلَفَتْ الرِّوَايَاتُ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فِيْ كَيْفِيَّةِ صَلاَتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلِ وَعَدَدِهَا فَقَدْ رُوِيَ عَنْهَا سَبْعٌ وَتِسْعٌ وَإِحْدَى عَشْرَةَ سِوَى رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ“
“Ketahuilah bahwsanya riwayat-riwayat dari Sayyidah Aisyah RA banyak yang berbeda berkenaan dengan cara shalat malam dan bilangan rakaatnya Rasulullah SAW, dan telah diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA bahwa bilangan rakaat shalat malamnya Rasulullah SAW adalah 7, 9 dan 11 rakaat selain 2 rakaat shalat sunnah fajar (qabliyah shubuh)”.

Ini adalah bilangan rakaat shalat malam yang tidak hanya 11 rakaat, shalat malam disini adalah shalat witir. Inilah yang menguatkan bahwasanya riwayat 11 rakaat dari Sayyidah Aisyah itu adalah shalat witirnya Rasulullah SAW bukan shalat tarawih. Maka dari itu Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menghadirkan riwayat dari Sayyidah Aisyah tersebut dalam kitab Bulugh Al-Maram diletakkan pada Bab shalat witir.

Jika kita perhatikan bahwa riwayat-riwayat yang berhubungan dengan shalat tarawih dan witir sangat banyak dan berbeda-beda. Yang lebih bisa untuk menjelaskan adalah apa yang dilakukan para sahabat Nabi SAW berkenaan dengan masalah tersebut. Kita telah menemukan riwayat yang benar tentang bilangan shalat taraweh yang 20 rakaat dari para sahabat Nabi SAW dan juga riwayat shalat witir mulai dari 1 rakaat sampai 11 rakaat. Maka bisa disimpulkan dengan pasti bahwa riwayat dari Sayyidah Aisyah RA itu adalah tentang shalat witirnya Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW pernah melakukan shalat witir atau mengajari shalat witir dengan 1, 3, 5, 7, 9, dan 11 rakaat bahkan sampai 13 rakaat itu semua untuk menunjukkan bahwa shalat witir adalah shalat yang amat penting, jangan sampai ditinggalkan walaupun hanya 1 rakaat dan tidak harus 11 rakaat.

Namun yang sering dilakukan oleh Rasulullah SAW baik di Ramadhan atau di luar Ramadhan adalah 11 rakaat. Nah, bagaimana Rasulullah SAW yang shalat witirnya di luar Ramadhan saja mengambil yang banyak (11 rakaat) akan tetapi justru di saat bulan Ramadhan Rasulullah SAW mengurangi witir tersebut menjadi 3 rakaat. Sungguh ini bertentangan dengan himbauan beliau sendiri agar kita memperbanyak ibadah termasuk shalat di malam Ramadhan.

PENDAPAT ULAMA 4 MAZHAB TENTANG SHALAT TARAWIH

Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab:
صَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ مِنَ النَّوَافِلِ الْمُؤَكَّدَةِ كَمَا دَلَّتْ عَلَى ذَلِكَ اْلأَحَادِيْثُ الشَّرِيْفَةُ الْمُتَقَدِّمَةُ وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً مِنْ غَيْرِ صَلاَةِ الْوِتْرِ، وَمَعَ الْوِتْرِ تُصْبِحَ ثَلاَثًا وَعِشْرِيْنَ رَكْعَةً … عَلَى ذَلِكَ مَضَتِ السُّنَّةُ وَاتَّفَقَتِ اْلأُمَّةُ، سَلَفًا وَخَلَفًا مِنْ عَهْدِ الْخَلِيْفَةِ الرَّاشِدِ “ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ” رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ – إِلى زَمَانِنَا هَذَا … لَمْ يُخَالِفْ فِيْ ذَلِكَ فَقِيْهٌ مِنَ اْلأَئِمَّةِ اْلأَرْبَعَةِ الْمُجْتَهِدِيْنَ إِلاَّ مَا رُوِيَ عَنْ إِمَامِ دَارِ الْهِجْرَةِ”مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ “ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – اَلْقَوْلُ بِالزِّيَادَةِ فِيْهَا ، إِلَى سِتٍّ وَثَلاَثِيْنَ رَكْعَةً فِي الرِّوَايَةِ الثَّانِيَةِ عَنْهُ – مُحْتَجًّا بِعَمَلِ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ فَقَدْ رُوِيَ عَنْ ناَفِعٍ أَنَّهُ قَالَ : “ أَدْرَكْتُ النَّاسَ يَقُوْمُوْنَ رَمَضَانَ بِتِسْعٍ وَثَلاَثِيْنَ رَكْعَةً يُوْتِرُوْنَ مِنْهَا بِثَلاَثٍ “ … أَمَّا الرِّوَايَةُ الْمَشْهُوْرَةُ عَنْهُ، هِيَ الَّتِيْ وَافَقَ فِيْهَا الْجُمْهُوْرُ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ عَلَى أَنَّهَا “ ٢٠ “عِشْرُوْنَ رَكْعَةً وَعَلَى ذَلِكَ اِتَّفَقَتِ الْمَذَاهِبُ اْلأَرْبَعَةُ وَتَمَّ اْلإِجْمَاعُ
Mari kita kembali kepada Syaikhul Mazhab, Imam di dalam Mazhab Imam Syafi’i, Imam besar yaitu Imam An-Nawawi, Imam An-Nawawi sudah menjelaskan dalam kitab Syarah Muhadzdzab-nya, bahwasanya:
”Shalat tarawih adalah satu shalat sunnah yang sangat dikukuhkan sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits-hadits yaitu “20” (dua puluh rakaat) selain witir dan jika ditambah dengan 3 rakaat witir, maka jadilah 23 rakaat. Dengan itulah, umat telah sepakat baik salaf maupun khalaf dari zaman Khulafaur Rasyidin, yaitu Sayyidina Umar bin Khaththab RA sampai zaman sekarang tidak ada satu ulama pun yang berbeda dari para Imam Mazhab yang 4, kecuali yang diriwayatkan dari Imam Malik bin Anas yang mengatakan hingga 36 rakaat dengan hujjah pengamalan penduduk Madinah. Telah diriwayatkan dari Nafi’ beliau berkata: Aku melihat orang-orang di bulan Ramadhan shalat (tarawih) 39 rakaat dengan witir 3 rakaat. Namun riwayat yang masyhur dari Imam Malik adalah yang senada dengan pendapat jumhur dari kalangan Ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah yaitu 20 rakaat, maka dari itu Ulama 4 madzhab sudah sepakat dan telah sempurna menjadi Sebuah ijma’ (Kesepakatan ulama) bahwa shalat tarawih adalah 20 rakaat”.

Imam An-Nawawi juga menyebutkan dalam kitab tersebut:
“ مَذْهَبُنَا أَنَّهَا عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ غَيْرَ الْوِتْرِ وَذَلِكَ خَمْسُ تَرْوِيْحَاتٍ وَالتَّرْوِيْحَةُ أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيْمَتَيْنِ “.وَبِهِ قَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ وَأَصْحَابُهُ وَ أَحْمَدُ وَدَاوُدَ وَغَيْرُهُمْ وَنَقَلَهُ الْقَاضِيْ عِيَاضُ عَنْ جُمْهُوْرِ الْعُلَمَاءِ. وَقَالَ مَالِكٌ: التَّرَاوِيْحُ تِسْعُ تَرْوِيْحَاتٍ وَهِيَ سِتَّةٌ وَثَلاَثِيْنَ رَكْعَةً غَيْرُ الْوِتْرِ.
“Mazhab kami (Syafi’i) shalat tarawih adalah 20 rakaat dengan 10 salam selain witir dan itu 5 istirahatan, 1 tarawihan 4 rakaat dengan 2 kali salam, dan ini yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah dan Ashabnya, Imam Ahmad, Dawud dan Qadi Iyadh menukilnya dari jumhur ulama. Imam Malik berkata: tarawih itu 9 istirahatan dan jumlahnya 36 rakaat.”

Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab Al-Khulashah bahwa sanad hadits tersebut shahih, begitu juga Imam Khotib Asy-Syirbini Asy-Syafi’i menyebutkan dalam kitab Syarh Al-Minhaj hal. 226:
“ Shalat tarawih itu 20 rakaat dengan 10 kali salam pada setiap malam bulan Ramadhan berdasarkan hadits riwayat Imam Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih, yaitu: “Sesungguhnya mereka (para sahabat Nabi) melakukan shalat tarawih 20 rakaat di bulan Ramadhan pada masa Sayyidina Umar bin Khatthab RA.”

Disebutkan dalam Mukhtashor Muzani bahwa Imam Syafi’i berkata:
“ رَأَيْتُهُمْ بِالْمَدِيْنَةِ يَقُوْمُوْنَ بِتِسْعٍ وَثَلاَثِيْنَ وَاَحَبُّ إِلَيَّ عِشْرُوْنَ لِأَنَّهُ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ وَكَذَلِكَ بِمَكَّةَ يَقُوْمُوْنَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً يُوْتِرُوْنَ بِثَلاَثٍ”.
“Aku melihat penduduk Madinah shalat taraweh 36 rakaat, dan aku lebih senang 20 rakaat karena itu diriwayatkan dari Sayyidina Umar RA begitu juga di Makkah 20 rakaat ditambah witir 3 rakaat.”

Ibnu Qudamah pakar fiqih dalam Mazhab Hanbali yang sangat masyhur menyebutkan dalam kitab Al-Mughni juz 1 hal. 457:
وَالْمُخْتَارُ عِنْدَ أَبِيْ عَبْدِ الله ( يَعْنِيْ اْلإِمَامِ أَحْمَدَ ) رَحِمَهُ اللهُ، فِيْهَا عِشْرُوْنَ رَكْعَةً، وَبِهَذَا قَالَ الثَّوْرِيْ، وَأَبُوْ حَنِيْفَةَ، وَالشَّافِعِيُّ، وَقَالَ مَالِكُ: سِتَّةٌ وَثَلاَثُوْنَ.
“Yang dipilih menurut Abi Abdillah, yang dimaksud di sini adalah Imam Ahmad bin Hanbal “20 rakaat”, begitu juga pendapat Imam Tsauri, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Malik mengatakan: tiga puluh enam rakaat.”

Imam As-Sarkhasi Al-Hanafi menyebutkan dalam kitab Al-Mabsuth juz 2 hal. 45:
فَإِنَّهَا عِشْرُوْنَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ عِنْدَنَا.
“Menurut kami shalat tarawih itu 20 rakaat selain witir.”

Imam Al-Hashkafi Al-Hanafi menyebutkan dalam kitab Ad-Durrul Mukhtar:
وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْمَاتٍ.اهـ
“Tarawih adalah dua puluh rakaat dengan sepuluh salam”.

Ibnu Abidin Al-Hanafi mengomentari perkataan Imam Al-Haskafi :
وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً هُوَ قَوْلُ الْجُمْهُوْرِ وَعَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ شَرْقًا وَغَرْبًا. اهـ
“20 rakaat Itu pendapat jumhur dan dilakukan oleh manusia dari bumi belahan timur sampai bumi belahan barat ”.

Al-Allamah Muhammad Ulaisy Al-Maliki, pakar fiqih dalam Mazhab Maliki mengatakan dalam kitab Minahul Jalil Ala Mukhtasar Khalil:
وَهِيَ ثَلاَثُ وَعِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِالشَّفْعِ وَالْوِتْرُ وَهَذَا الَّذِيْ جَرَى بِهِ عَمَلُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ ثُمَّ جُعِلَتْ… فِيْ زَمَنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ بَعْدَ وَقْعَةِ الْحُرَّةِ بِالْمَدِيْنَةِ الْمُنَوَّرَةِ، فَخَفَّفُوْا فِي الْقِيَامِ وَزَادُوْا فِي الْعَدَدِ لِسُهُوْلَتِهِ فَصَارَتْ تِسْعًا وَثَلاَثِيْنَ) باِلشَّفْعِ وَالْوِتْرِ كَمَا فِيْ بَعْضِ النُّسْخِ، وَفِيْ بَعْضِهَا سِتَّا وَثَلاَثِيْنَ رَكْعَةً غَيْرَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ، وَاسْتَقَرَّ الْعَمَلُ عَلَى اْلأَوَّلِ.اهـ
“Shalat tarawih itu 20 rakaat ditambah witir, dan ini yang sudah dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in kemudian di zaman Sayyidina Umar bin Abdul Aziz setelah terjadi tragedi pembantaian di Madinah dengan meringankan berdiri dan menambah bilangan menjadi 39 (sudah termasuk witir di dalamnya) sebagaimana disebutkan dalam sebagian redaksi, sedangkan dalam redaksi yang lain shalat taraweh adalah 36 rakaat selain witir, akan tetapi yang kuat adalah pendapat yang pertama.”

Ibnu Rusydi, pakar fiqih dalam Mazhab Maliki mengatakan dalam kitab Bidayatul Mujtahid:
“ اِخْتَارَ مَالِكٌ – فِيْ أَحَدِ قَوْلَيْهِ – وَأَبُوْ حَنِيْفَةَ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ الْقِيَامَ بِعِشْرِيْنَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ.”
“Imam Malik telah memilih dalam salah satu pendapatnya, dan juga Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bahwa tarawih adalah 20 rakaat selain witir.”

Imam At-Tirmidzi menyebutkan dalam Sunannya juz 3 hal 169:
“وَأَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى مَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ وَعَلِيٍّ وَغَيْرِهِمَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَهُوَ قَوْلُ الثَّوْرِيِّ وَابْنِ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيِّ . وقَالَ الشَّافِعِيُّ وَهَكَذَا أَدْرَكْتُ بِبَلَدِنَا بِمَكَّةَ يُصَلُّونَ عِشْرِينَ رَكْعَةً .
“Mayoritas ahli ilmu sebagaimana yang diriwayatkan dari Sahabat Umar adalah 20 rakaat dan ini adalah pendapatnya Imam Ats-Tsauri, Ibnu Mubarok dan Imam Syafi’i. Berkata Imam Syafi’i: Beginilah aku melihat di negaraku Makkah shalat tarawih adalah 20 rakaat.”

Imam Al-‘Aini menyebutkan dalam kitabnya Umdatul Qori Syarh Shohih Al-Bukhari :
عَنْ زَيْدٍ بْنِ وَهْبٍ قَالَ: “ كَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ يُصَلِّيْ لَنَا فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيَنْصَرِفُ وَعَلَيْهِ لَيْلٌ” قَالَ اْلاَعْمَشُ : “كَانَ يُصَلِّيْ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً وَيُوْتِرُ بِثَلاَثٍ ”
Dari Zaid bin Wahab beliau berkata: “Dahulu Sayyidina Abdullah bin Mas’ud shalat (tarawih) bersama kami pada bulan Ramadhan, kemudian beliau bubar (pergi) akan tetapi beliau pada satu malam, dikatakan oleh Al-A’masy bahwa: Sayyidina Abdullah melakukan shalat taraweh 20 rakaat dan shalat witir 3 rakaat.”

Hadits ini dinilai shahih oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya Majmu’ Syarh Muhadzdzab, begitu juga Imam Al-‘Aini ketika mensyarahi kitab Shahih Al-Bukhari, kemudian Imam As-Subuki dalam kitabnya Syarh Al-Minhaj, Imam Zainuddin Al-Iraqi dalam kitabnya Syarh At-Taqrib, Imam Al-Qasthalani ketika mensyarahi kitab Shohih Al-Bukhari, dan Imam Al-Kamal bin Al-Humam ketika mensyarahi kitab Al-Hidayah.

Imam Ibnu Al-Humam Al-Hanafi berkata:
ثَبَتَتِ الْعِشْرُوْنَ فِيْ زَمَنِ عُمَرَ وَالْمَشْهُوْرُ فِيْ مَذْهَبِ اْلإِمَامِ مَالِكٍ أَنَّهَا عِشْرُوْنَ رَكْعَةً كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ الشَّيْخُ الدَّرْدِيْرُ فِيْ كِتَابِ أَقْرَبُ الْمَسَالِكِ عَلَى مَذْهَبِ اْلإِمَامِ مَالِكٍ.
“Telah ditetapkan (shalat tarawih itu) 20 rakaat pada masa Sayyidina Umar RA, sedangkan yang masyhur dalam Mazhab Imam Malik sesungguhnya shalat tarawih itu 20 rakaat sebagaimana yang disebutkan oleh Syeikh Ad-Dardir dalam kitab Aqrab Al-Masalik ‘Ala Madzhab Al-Imam Malik.

Ibnu Taimiyah menyebutkan dalam kitabnya Majmu’ Fatawa juz 23 hal. 112:
“ثَبَتَ أَنَّ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ كَانَ يَقُوْمُ بِالنَّاسِ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً فِيْ قِيَامِ رَمَضَانَ، وَيُوْتِرُ بِثَلاَثٍ، فَرَأَى كَثِيْرٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ ذَلِكَ هُوَ السُّنَّةُ ؛ لِأَنَّهُ أَقَامَهُ بَيْنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَاْلاَنْصَارِ وَلَمْ يُنْكُرْهُ مُنْكِرٌ، وَاسْتَحَبَّ آخَرُوْنَ تِسْعَةً وَثَلاَثِيْنَ رَكْعَةً ، بِنَاءً عَلَى أَنَّهُ عَمَلُ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ الْقَدِيْمِ” .
“Telah menjadi ketetapan bahwa Ubay bin Ka’ab shalat bersama orang-orang dengan 20 rakaat dalam tarawih dengan witir 3 rakaat. Maka para ulama berpendapat bahwa itu adalah sunnah karena Sahabat Ubay melakukannya di hadapan kaum Muhajirin dan Anshar dan tidak ada satu pun yang mengingkarinya. Bahkan sebagian ulama mengatakan 39 rakaat karena mengikuti amaliyah penduduk Madinah.

 

KESIMPULAN
Yang mula-mula harus kita ketahui bahwa shalat tarawih (qiyam Ramadhan) adalah shalat sunnah yang sangat dikukuhkan. Rasulullah SAW sendiri memberi contoh dan menghimbau umatnya agar memperbanyak shalat di malam-malam Ramadhan.
Jangan sampai ada yang berkata bahwa di bulan Ramadhan shalat Rasulullah SAW menurun seperti dugaan sebagian orang yang mengatakan tarawih Nabi hanya 8 rakaat dan shalat witirnya hanya 3 rakaat saja.

Apa yang dilakukan oleh para sahabat Nabi tentang shalat tarawih 20 rakaat adalah sesuai dengan himbauan Nabi SAW, Sayyidina Umar bin Khaththab, Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali serta para sahabat yang lainnya. Itu seperti sudah menjadi kesepakatan (Ijma’) para ulama bahwasanya shalat tarawih adalah 20 rakaat.

Maka yang sungguh harus diperhatikan dan dicermati adalah orang-orang yang dengan sengaja menjauhkan hamba-hamba Allah dari memperbanyak qiyamul lail pada bulan Ramadhan khususnya dalam shalat tarawih yaitu mereka yang beranggapan bahwa shalat taraweh 20 rakaat adalah bid’ah.
Maka dari itu, kami menghimbau kepada pengurus masjid yang di Masjidnya sudah didirikan shalat tarawih 20 rakaat agar terus dipertahankan dan jangan sampai berubah. Jika ada masjid yang melakukan qiyamullail kurang dari 20 rakaat hendaknya ditingkatkan agar hingga sampai 20 rakaat, demi menghidupkan malam ramadhan dengan memperbanyak shalat.
Setelah ini semua, kita tidak usah bingung dengan perbedaan yang terjadi di lapangan karena yang berbeda dengan pendapat bahwa Shalat taraweh 20 adalah sangat lemah.

Akan tetapi ada hal lain yang amat perlu untuk diperhatikan yaitu kebiasaan terburu-buru dalam melaksanakan shalat tarawih serta berbangga diri ketika shalat tarawihnya selesai terlebih dahulu. Sehingga tidak jarang karena terlalu cepatnya shalat tarawih yang mereka lakukan mengakibatkan ada sebagian kewajiban yang tidak dilaksanakan, seperti melaksanakan ruku`, i`tidal dan sujud dengan thuma`ninah. Atau karena membaca Al-Fatihah dengan sangat cepat sehingga menggugurkan salah satu hurufnya atau menggabungkan dua huruf menjadi satu. Dengan begitu shalat yang mereka laksanakan menjadi tidak sah yang menyebabkan mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa capek dan dosa.

Sebagaimana Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an hal. 89, bahwasanya: “Bagi orang yang sudah bisa membaca Al-Qur’an haram membaca Al-Qur’an dengan lahn yaitu terlalu panjang dalam membacanya atau terlalu pendek sehingga ada sebagian huruf yang mestinya dibaca panjang malah dibaca pendek, atau membuang harakat pada sebagian lafadznya yang membuat rusak maknanya. Bagi yang membaca Al-Qur’an dengan cara demikian adalah haram dan pelakunya dihukumi fasiq. Sedangkan bagi yang mendengarnya juga berdosa jika ia mampu mengingatkan atau menghentikannya akan tetapi lebih memilih diam dan mengikutinya.”

Maka dari itu haram bagi kita mengikuti imam shalat tarawih yang membaca Al-Qur’an dengan bacaan terburu- buru hingga menghilangkan huruf atau salah harakat Al-Qur’an yang dibacanya. Wallahu a’lam bish-shawab.